
"Ketika kau melakukan sesuatu yang benar dan indah tapi tak seorang pun memperdulikan, janganlah bersedih karena matahari pun tampil cantik setiap pagi meski sebagian besar penontonnya masih tidur terlelap.
*****
Shinta memarkirkan mobilnya di Pratama Grup bagian basement area E dekat lift. Ketika ia keluar mobil seseorang wanita berpakaian rapi mneghampirinya dan menyapanya dengan sopan.
"Ibu Shinta... saya Nindy assisten pak Januar...mari saya antar menemui Pak David, " Sapa wanita itu dengan ramah.
"Terimakasih mbak Nindy.... Apakah Pak David sudah datang?" Apakah beliau sudah lama menunggu saya?" Tadi macet sekali menuju gedung ini.
"Beliau sedang menuju kemari dari rumah sakit tempat mertua beliau di rawat. Saya diminta menemani mbak, sampai beliau datang !" Nindy menjelaskan pada Shinta yang merasa tidak nyaman jika seorang pimpinan perusahaan harus menunggunya.
"Wah ... maaf ya mbak , Saya merepotkan mbak Nindy.
"Gak papa bu... mari kita keruang rapat di lantai 5!"
"Baik mbak NIndy.
Lift berhenti di lantai 5 dan Shinta diminta menunggu di ruangan rapat itu. Nindy pamit akan menyiapkan makanan dan minuman untuk peserta rapat. Ruangan itu cukup besar dan dapat menampung sekitar 50 orang peserta rapat. Shinta agak heran mengapa David memilih ruangan sebesar ini . Pikir Shinta , Dia akan melaporkan di ruangan kerja David yang biasa ditemuinya jika datang bersama Dilla. Ini seperti akan rapat terbatas dengan dihadiri beberapa orang.
Shinta masih termenung duduk di ruangan itu dan ia memilih mengambil handphone untuk mengisi waktunya ketika sedang menunggu seseorang . Dibukanya kembali pesannya di aplikasi WA pada Dilla beberapa saat yang lalu. Dilla yang semakin berubah beberapa bulan terakhir.
Sudah 3 hari setelah Dilla menemui Handoyo, sang biduan itu tidak pulang ke apartemennya. Shinta Khawatir pada artisnya, namun kekhawatirannya tidak ditanggapi . Artis itu semakin berubah semenjak kembali dari Ottawa. Percakapannya terakhir kemarin ketika ia mengingatkan Dilla untuk berfikir ulang untuk tindakannya yang makin melanggar batas norma -norma yang berlaku di masyarakat.
Shinta : " Mbak Dilla... ada dimana?
Shinta : "Mbak Dilla ... baik-baik saja? " Apakah aku perlu menjemput mbak Dilla di sana?
Shinta : Mbak Dilla... kumohon jawab pesanku... banyak yang mencari mbak Dilla... banyak yang masih mencintai mbak Dilla.... kita masih bisa bangkit, mbak !
Shinta : " Mbak Dilla... mohon dijawab mbak... ini banyak tawaran kerja untuk mbak Dilla
Dua jam kemudian Shinta menulis pesan kembali dan ada nada dering ketika dihubungi namun tidak ada jawaban dari nomor yang dituju. Dilla tidak mengangkat panggilannya dan tidak menjawab juga pesan-pesannya dari pagi dan tidak mengangkat telephonenya.
Biasanya Dilla cepat merespon terlebih jika ada jadwal Syuting hari ini. Pekerjaan untuk mengisi acara di stasiun TV3 sudah dibatalkan kemarin oleh Shinta atas permintaan Dilla. pinalty juga sudah dibayarnya. Ini sudah tidak seperti Dilla. Benar-benar berubah. Dilla seperti ingin menghancurkan hidupnya. Obsesinya pada David sudah mengalahkan logikanya.
Shinta Chat kembali pada Dilla dalam perjalanan ke tempat David. Ia tidak meyakini Dilla akan menjawabnya.
__ADS_1
Shinta : "Mbak Dilla... ini Ada undangan gladi bersih untuk mengisi acara di rapat tahunan PT Mobilindo Karya, sore ini jam 17.00 dan mereka tidak mau dicancel, ... tetap minta mbak Dilla dan tidak mau diganti artis lain, besok malam, acaranya Mbak... katanya gak papa , mbak Dilla gak hadir gladi tapi yang penting Mbak Dilla tetap datang pas acara....
Dilla akhirnya menghubungi Shinta setelah 1 jam pesan terakhir terkirim. Nada suara wanita itu seperti sedang kelelahan karena habis berlari. yang jauh Panggilan telephone itu langsung diangkat oleh Shinta.
"Mbak Dilla.. kamu baik-baik saja, "
"Tentu saja Shinta... aku baik-baik saja... kamu lupa pesanku kemarin... semua jadwalku di minggu ini kosongkan semua Shinta.... aku tidak mau diganggu apapun.... batalkan semua pekerjaanku.... aku sedang sibuk membakar diriku bersama Mas Handoyo.... ahhh.. sudah mas handoyo...tut.
Panggilan itu terputus. Shinta terkejut mendengar jawaban Dila. Ia merasa sayang pada Dilla dan tidak rela jika Dilla hancur karirnya. Kontrak dari PT Mobilindo itu sulit didapat dan pemilik perusahaan yang meminta agar Dilla harus datang. Dihubungi kembali nomor Dilla namun wanita itu berteriak pada Shinta dan membuatnya makin terkejut.
"Shinta jangan ganggu aku.... lakukan saja tugasmu!" Aku tidak mau kerja sampai masalah Soffie beres... jangan ganggu aku... lakukan tugasmu dan batalkan semua jadwalku!" Jangan hubungi aku... kalo kamu gak bisa kerja.. kenapa juga kamu gak berhenti menjadi assistenku... ini bukan masalah besar!' aku bisa cari yang lain... tut.
Shinta menghapus airmatanya mengingat ucapan Dilla tadi pagi dan wanita itu masih mengabaikan dirinya dan tidak menjawab pesannya. Terdengar pintu ruangan rapat dibuka dari luar. Beberapa pria berbadan tegap dan dua orang wanita memasuki ruangan dan mengambil duduk tidak jauh dari tempatnya duduk. Ia tidak mengenal siapa pria dan wanita itu.
Akhirnya David masuk dengan tiga orang pria lainnya masuk dan semuanya tersenyum ramah pada Shinta
'Selamat malam Shinta... maaf menunggu kami lama ya?" Sapa David. "Sudah makan belum, shinta ?" Nindy sudah siapkan snack untuk kita yang hadir disini.
'Saya sudah makan Pak David... ini memang mau rapat ya?" Apakah saya mengganggu waktu kerja Pak David ?" Apa saya tunggu saja setelah bapak selesai rapat gimana?"
'Tenanglah Dilla... mereka semua teman-temanku. Baiklah biar kamu tenang... saya perkenalkan dulu Dilla... Yang disebelahku ini adalah Bapak Iqbal dan Bapak Sonny. Dan ini assisenku Pak Michael. sementara yang lain itu adalah tim kepolisian yang juga akan ikut mendengarkan ceritamu... gak usah khawatir ataupun takut... mereka tahu bahwa kamu bukan kaki tangan dari "cepot berdarah".. katakan saja semua yang kamu ketahui. yuk bisa dimulai Shinta....
"Polisi... apakah saya akan ditangkap dan dipenjara, pak David?"
'Jangan takut Shinta... aku cukup mengenalmu... mereka semua akan membantumu... ceritakan saja yang kamu ketahui.
"Saya tidak terlibat apapun yang akan dilakukan Bu Dilla, Pak... saya hanya tidak ingin Bu Dilla makin terjerumus... saya takut dia makin kacau... saya sudah berusaha mencegahnya tapi dia marah pada saya bahkan ingin memecat saya1"
" Hei tenanglah Shinta....saya percaya kamu ingin Dilla kembali seperti dulu.. sekarang kamu minum dulu air putih ini... tenang... mereka akan membantumu... sekarang kamu cerita yang kamu tahu saja!"
"saya memang mengenal Pak Handoyo bahkan pernah menengok beliau ketika di penjara dulu... hal itu karena saya hutang budi pada beliau... saya tidak tahu persis apa yang akan dilakukan mbak Dilla... tapi Mbak Dilla sendiri yang meminta menemui Pak Handoyo dan meminta bantuannya, ini sudah 3 hari mbak Dilla belum pulang ke apartemen miliknya... Sepertinya ia masih bersama Pak Handoyo.
"Kenapa kamu hutang budi pada Pak handoyo, Shinta.... boleh saya tahu jika kamu tidak keberatan ?" Tanya Pak Irjenpol Iqbal dengan tenang dan tersenyum pada Shinta, sehingga membuat wanita itu lebih santai. Ia tidak mengetahui bahwa yang mewawancarainya adalah seorang petinggi di kepolisian.
"Keluarga saya di kampung adalah orang susah... ayah saya cuma buruh tani dan adikku banyak, ibu saya meninggal ketika melahirkan adik saya yang bungsu ... rumah kami bersebelahan......jadi saya sangat mengenal Pak Handoyo semenjak saya masih kecil. Istri Pak Handoyo dulu sering memberikan kami makanan dan itu dilakukan hampir setiap hari ... dan ketika saya tamat sekolah... saya diajak ke Jakarta dan dicarikan pekerjaan di salah satu kantor yang ada dibilangan mangga dua.. sehingga saya bisa mengirimkan uang di kampung. Karena itu saya merasa hutang budi padanya... dulu Pak handoyo adalah orang baik dan bukan seorang pembunuh bayaran... makanya ketika beliau di penjara.. memang saya sering menengoknya dan mengirimkan makanan padanya.... karena ketika kami dulu kelaparan... hanya keluarga beliau yang baik pak....saya takut dia tahu kalau saya yang melaporkannya... Pak Handoyo orang baik yang saya kenal.. tapi saya tahu pekerjaannya yang sekarang sangat jahat dan bu Dilla mau memakai jasanya...
"Jadi menurut kamu beliau dulu orang baik dan sekarang tidak baik ?" Tanya Pak Iqbal kembali
"Dulu pak... saya hanya mengenalnya dulu... ketika beliau dibebaskan dari penjara.. saya pernah bilang ke bu Dilla saya minta ijin untuk menjemputnya dan memberikan makanan untuknya... Jadi bu Dilla mengetahui bahwa saya mengenal baik beliau. makanya beberapa hari yang lalu Bu Dilla meminta telpon Pak Handoyo dan saya hanya diminta dibuatkan janji temu untuk Bu Dilla menemui Pak handoyo .. saya agak kuatir ini ..... Bu Dilla berubah drastis pak.... terlebih sudah 3 hari tidak pulang ke apartemen dan semua jadwalnya dicancel.
"Darimana kamu yakin bahwa Handoyo akan membunuh Sofie?"
'karena Bu Dilla yang bilang sendiri ... Pak Handoyo akan membereskan Soffie dan darah anak dalam kandungannya akan ditumpahkan... saya benar-benar takut mendengarnya.... dan tampaknya mereka sudah sangat akrab sehingga Bu Dilla saja sudah memanggilnya Mas handoyo dan sedang bersamanya.... katanya tidak ada satupun yang bisa lepas dari bidikan Pak Handoyo... apa itu bukan sebuah ancaman, Pak?"
__ADS_1
"Cuma info ni yang kamu punya Shinta?" Tanya Pak Iqbal lagi.
Shinta membuka kunci handphonenya dan menyerahkan handphonenya pada Pak Iqbal.
"Silahkan bapak periksa handphone saya... ini ada percakapan saya dengan bu Dilla dan saya sudah mengingatkan bu Dilla berulang kali untuk tidak melakukan tindakan yang tidak sesuai norma... oh iya ini saya ada foto ketika Bu Dilla menyerahkan uang kepada Agus untuk merusak mobil kakak Bu Soffie... katanya biar Soffie segera kembali ke Indonesia ... saya ada foto-fotonya... tapi saya tidak tahu kegiatan awalnya... karena menurut Bu Dilla , targetnya membuat Soffie pulang dan keluarga juga dibereskan sudah satu persatu berhasil... makanya dia membayar tunai 50 juta rupiah... saya yang mengambil uangnya di bank pak... tapi saya tidak tahu awalnya untuk apa... apakah saya salah?" Shinta benar- benar khawatir pada masa depannya.
"Saya tidak ingin dipenjara Pak... saya harus membiayai adik saya yang dikampung... adik saya ada empat dan semua masih membutuhkan biaya sekolah !" Saya bingung dari pertama membawa uang untuk Agus itu... saya bukan seorang pengkhiat tapi jika saya mengetahui dan saya diam saja maka saya bisa dianggap kaki tangan... saya bukan kaki tangan dari kejahatan, Pak .." Shinta masih menangis sementara Iqbal mengecek handphone Shinta dan menyerahkan kepada anak buahnya. Iqbal memberikan perintah kepada orang-orang yang berada di dalam ruangan itu.
"Tenanglah Shinta... kami pasti bisa membantumu... sekarang kamu minum lagi biar tenang... terus kamu pulang dan bekerja seperti biasa lakukan aktifitasmu seperti kamu belum bertemu kami... kami akan mencegah supaya Handoyo tidak akan berhasil dalam misinya. "Iqbal terus menenangkan hati Shinta, dan ia beranjak memilih berbicara dengan kelompoknya untuk mengatur strategi.
Sonny yang semula diam, akhirnya bertanya pada Shinta.
"Jika orang yang bernama Agus... apakah kamu punya kontaknya?"
"Tidak pak... saya hanya diminta menemani ibu Dilla ketika ia memberikan uangnya..... waktu itu di dekat studio Jeck TV, kurasa ada CCTV juga di sana , Pak..... Apakah saya bisa dipenjara karena hal ini Pak?"
"Shinta.. aku yang akan menjaminmu jika kamu di penjara... jangan takut... kamu sekarang bekerja saja dengan baik dan laporkan jika ada hal yang penting kembali !" Kamu tidak akan dipernjara... Sekarang pulanglah dan lakukan tugasmu seperti biasa !' David menenangkan Shinta yang begitu takut.
"Baik Pak David... terimakasih... apakah handphone saya bisa diambil atau bagaimana pak?"
"Bawalah pulang...setiap telephone yang masuk...maka akan masuk ke handphone assisten saya," Sahut pak Iqbal dengan ramah.
*****
Happy Reading guys!!... Bolehkah tinggalkan jejak disini ? Thanks sudah berbaik hati membacanya. Love you all.
__ADS_1