
Kenangan memang tetap ada tapi aku tidak terfokus di sana, Hidupku bukan untuk sebuah kenangan, tapi buat melangkah ke masa depan dan kamu adalah masa depanku.
Dia memang pernah menjadi bagian dari hidupku tapi itu telah menjadi kenangan., bukan kenangan terindah apalagi mantan terindah, karena bagiku tidak ada mantan yang terindah.... karena kalo memang indah akan aku perjuangkan..... dan aku tidak pernah memperjuangkannya karena aku telah memiliki kamu yang terindah dan mau menjadi akhir perjalanan. hidupku.
*****
Ardi baru saja menjalankan mobilnya meninggalkan rumah sakit tepat pukul 12.00 malam. Ekspresi lelah hadir di raut wajah Ardi dan Sabrina.
Ardi berusaha tetap semangat dan fokus dalam mengendarai kendaraannya. Ia baru pulang ketika David telah tiba di ruang perawatan Jeany. David datang dan telah mengijinkan semua yang berada di ruang peristirahatan untuk istrirahat di rumah masing-masing. Ardi dan Sabrina serta teman-teman Soffie segera berpamitan karena melihat David sudah datang dengan beberapa pria yang berbadan tegap dan siap menjaga keluarganya. , karena ia sudah selesai urusannya di kantor.
Sabrina masih terdiam duduk di samping Ardi yang masih fokus dengan kemudinya. lalu lintas Jakarta di tengah malam itu sudah sepi namun masih terlihat beberapa mobil lalu lalang di ibukota negara ini.
"Sa... capek sekali ya ?" Maaf tadi terpaksa aku langsung menyetujui permintaan David tanpa ijinmu ... maaf banget ya , Sa ...
"Sebenarnya tadi itu ada apa sih , mas Ardi?' Kalian semua aneh deh... Dari David yang tiba-tiba mengajakmu kumpul di luar ruang perawatan , kemudian Jajang dan Henry. yang bertingkah seperti penjaga pintu kamar .... aneh sekali kalian semua ... pekerjaan apa yang David berikan padamu, Mas Ardi?" Katakan dengan jujur... apakah kamu juga tidak mempercayaiku, Mas Ardi ?" Mau main rahasia juga denganku!" Sasa berkata sambil memandang tajam pada suaminya.
"Sa... aku tidak mungkin berbicara jelas di situ.... baik aku ceritakan, tapi kamu tenang saja dengarkannya... jangan jadi pikiran... Tadi itu David dapat ancaman untuk seluruh anggota keluarganya akan dibunuh dalam minggu ini .. dan David harus melapor ke polisi dan meminta perlindungan mereka ... Untuk itu karena mendesak harus membawa Kak Jeany pulang ke rumah malam hari ini juga... rupanya kecelakaan yang dialami Kak Jeany dan Dissy kemarin terjadi itu akibat bagian dari ancaman itu Kami diminta tidak membiarkan satu orangpun dari luar ataupun kita yang keluar ruangan... Katanya pembunuh sedang dalam mengamati.
"Oh... kenapa gak bilang dari tadi?' Kenapa pakai rahasia segala sih Mas ?" kan kita bisa saling dukung...
"David takut kak Jeany drop dan dia memang belum memberitahu juga pada Soffie... kamu pernah dengar penjahat yang mendapat julukan "Cepot berdarah" ?"
__ADS_1
"Maaf aku jarang menonton berita... emang siapa itu "Cepot Berdarah " ?'
"Sekitar 10 tahun yang lalu ada seorang pembunuh bayaran yang jago menembak dari jarak jauh, dia sering membunuh beberapa tokoh ataupun pengusaha yang diminta oleh orang yang membayarnya ... siapapun yang dibidiknya pasti kena dan mati di tempat... nah menurut informasi yang diterima oleh David, Si "Cepot Berdarah " itu yang sedang mengancam David dan keluarganya ... makanya Henry dan Jajang meminta kita menjauhi jendela dan berjaga di dekat pintu masuk atau keluar.... aku gak enak kalo tadi menolak... karena terlihat David begitu khawatir dan harus bertindak segera... maaf aku menyetujui permintaan David tanpa ijinmu...
"Oh.... menakutkan sekali... apakah polisi tidak pernah menangkapnya?"
"Dia sudah beberapa kali masuk dan keluar penjara... katanya dia sudah dibebaskan beberapa waktu yang lalu , jadi dia kembali ke pekerjaannya... Sa, ....aku tahu kamu lelah akibat keputusanku tadi tapi kurasa anakku pasti setuju dengan apa yang kulakukan untuk menolong orang lain.
"Tentu mas Ardi, tapi kenapa kita tidak membantu menjaga mereka sekarang... minimal memberikan kekuatan moril pada Kak Jeany... dia pasti ketakutan... kenapa kita gak kesana aja sekarang?" kenapa kita pulang ke rumah? Kasihan Kak Jeany...
"Tenanglah Sa... sekarang mereka dalam penjagaan yang berwajib.. mereka pasti aman... sekarang aku harus menjaga keluargaku...kalian yang terpenting, Sa.
"Mas Ardi... gak khawatir pada Soffie? Gak ingin menjaganya juga ?" Sasa memandang suaminya yang masih fokus menyetir.
Ardi menoleh dan terkejut. Ia baru tersadar bahwa Sabrina pasti sedang cemburu kembali padanya. Ardi berusaha tenang dan mengambil tangan kanan istrinya Ardi mencium punggung tangan istrinya itu berulang kali. Ia harus bersabar membujuk wanita hamil yang mungkin akan ngambek jika salah bicara.
"Sasa... aku itu tadi bukan karena khawatir pada Soffie saja... aku harus membantu siapa saja yang memang membutuhkan... kita harus menolong orang... bukan karena ada Soffie... Dia sekarang adalah keponakan kita dan tadi suami Soffie yang meminta tolong, rasanya tidak manusiawi jika kita mengabaikan mereka, sayang ......kamu sudah tahu dia itu hanya bagian dari masa lalu ... Jangan marah ya, Sayang !' Aku melakukan ini bukan karena ada Soffie disana...
"Kamu melakukannya bukan karena dia mantan terindahmu ?"
"Maafkan aku, mas Ardi... aku hanya takut kamu ingin kembali kepadanya dan tergoda kembali menjalin kasih dengannya... "Sabrina menjawab pelan dan sambil menunduk.
Ardi tersenyum dan masih menggenggam erat tangan istrinya.
"Aku tidak akan pernah berpaling darimu.... aku sangat sayang dan mencintai istriku.... terlebih di dalam rahimnya , ada anakku.... aku tidak mungkin melepaskan istriku... dan aku tidak ingin ada orang lain yang menggantikan peranku di kehidupan anakku kelak... Jangan kuatirkan itu sayang!"
Sabrina tersenyum dan memeluk suaminya yang masih menyetir kendaraannya.
"Aku sayang mas Ardi, terimakasih atas kesabarannya... aku gak tahu semenjak aku mengandung anakmu, mas Ardi , pemikiran ku terkadang pendek dan mudah cemburu ... maaf ya !"
"Kamu gak salah, sayang ... kamu itu sayang aku dan gak mau kehilangan aku seperti aku juga gak mau kehilangan kamu.... kita harus saling percaya dalam menjalankan rumah tangga kita, Sa... bisakah kau selalu bertanya padaku, jika memang ada yang mengganjal di hatimu dan tidak menyimpannya sendirian," Ardi menatap Sabrina yang bersandar di pundaknya.
__ADS_1
Sabrina mengangguk dan mengecup pipi suaminya.
"Mas Ardi... terimakasih selalu sayang dan mencintai aku. Ardi tersenyum dan masih tetap fokus menjalankan kendaraannya. Malam semakin larut ketika Ardi dan Sabrina tiba di rumah mereka.
*****
Happy Reading Guys !!!
Terimakasih masih berbaik hati membacanya.... bolehkah tinggalkan jejak disni? Thanks a lot guys !!
__ADS_1