
Seorang pria sejati dinilai bukan dari bagaimana penampilannya dan apa yang telah dicapainya tetapi yang terpenting adalah bagaimana ia bertanggungjawab pada keluarganya dan membahagiakan keluarganya.
*****
Ardi baru selesai tugas mengajar mahasiswa bisnis kelas malam dan ketika bersiap memasuki mobil yang terparkir di halaman kampus swasta di bilangan Jakarta Pusat. Namun dering handphonenya menghentikan langkahnya dan
dilihatnya panggilan dari istrinya. “ Sasa My wife” calling :
‘Ya sayang… aku baru mau pulang nih… “Jawab Ardi dengan santai dan melanjutkan langkahnya ke mobil dan membuka pintu mobilnya.
“ Mas Ardi , sudah selesai ngajar di kelas malamnya?” tanya Sabrina dengan riang.
“Sudah. Ini baru masuk mobil dan mau jalan pulang. Apakah ada yang mau dibeli malam ini, sayang?” Kamu lagi kepingin apa ?" tanya Jajang sambil memanaskan mobilnya.
Sudah beberapa kali setiap Ardi pulang malam, istrinya selalu minta dibelikan makanan di luar dan tempatnya yang spesifik di daerah seputar Jakarta. Terkdang membuat dia harus berputar dan mencari lokasi baru , untungnya teknologi mempermudahkan dalam mencari lokasi. Gunakan Google map dan tiba ditempat yang dituju tanpa nyasar. Di Keinginan Sabrina di mulai dari Bubur ayam Mangga besar di Jakarta Kota, Ayam bakar madu di
Panglima Polim, Bakso Malang di Cikini, Sate Kambing keroncong di Jatinegara dan berbagai makanan khusus lainnya yang membuat ia harus berputar keliling kota Jakarta dan membelikan pesanan istrinya yang lagi mengandung buah cintanya.
“ Emh... Aku lagi mau buah Alpukat ?”
“Alpukatnya beli dimana , Sayang ?’
“Beli di toko buah saja… bilang sama mbaknya… aku mau Alpukat Mentega… dan untuk dimakan malam ini, jadi matangnya pas…Mas Ardi pilihkan yang bagus ya !” Ingat mas, jangan mau dikasih Alpukat biasa...harus Alpukat mentega ... rasanya beda dengan Alpukat biasa.
“Oke sayang… tunggu aku mampir ke toko buah sebelum sampe rumah… Sabar ya… jangan tidur dulu sebelum aku pulang !”
“Makasih ya Mas Ardi.
‘Ya sayang..
Ardi menjalankan kendaraannya dan ketika tiba di toko buah yang berada tidak jauh dari rumahnya , ia mampir membeli Alpukat seperti pesanan Sasa. Sebenarnya ia tidak pandai memilih Alpukat, namun petugas di toko itu dengan ringan tangan membantunya memilihkan alpukat yang bisa dikonsumsi malam ini dan esok pagi sehingga ia dapat membeli Alpukat sebanyak 2 kg.
Tiba di depan rumahnya. Ardi terkejut sebuah motor terparkir di depan pintu gerbang rumahnya sehingga menghalanginya untuk masuk ke rumahnya. Akhirnya ia memilih memarkirkan mobilnya di luar pagar di belakang motor yang terparkir menutup jalan masuk ke rumahnya.
Ardi keluar dari mobil dengan membawa 1 kantong buah Alpukat pesanan Sasa. Memasuki ke dalam halaman rumahnya, seiring langkahnya yang kian dekat dengan ruang tengah, Ardi samar-samar mendengar suara gelak tawa Sabrina dengan seseorang. Dan semakin dekat hingga ia tiba di sana, rahang Ardi mengeras saat tahu Sabrina sedang tertawa riang bersama Budi, assisten di kampus utama dia bekerja.
“Ngapain kamu, Bud ? “ sentaknya sambil menjatuhkan tubuhnya hingga terduduk di sofa sebelah Sabrina. Mereka berdua begitu asyik ngobrol dan tertawa sehingga tidak mendengar langkahnya.
Tiba tiba ada rasa tidak suka pada Budi yang bisa ngobrol dekat dengan Sasa istrinya. Rasanya ia ingin segera mengusir assistennya yang begitu dekat dengan Sabrina Pandangan Ardi teralihkan pada dua piring kosong di atas meja tamu dan yang tersisa saos kacangdan gelas teh yang hampir habis di gelas Budi.
“Eh i bapak sudah pulang... ini pak… saya ngantarin pesanan Bapak… kan Bapak yang bilang jika saya sudah selesai dari rakor yang di Bandung, langsung ke rumah bapak untuk antarkan “Batagor Kingsley” ke rumah…. Kata Bapak waktu itu ibu seneng banget makan batagor ini… dan bapak titip uang ke saya untuk membelikan batagor … jadi sudah saya belikan dan tadi ibu nyuruh saya untuk nunggu Bapak dulu dan mencobanya...
dan ibu langsung goreng batagornya… jadi kami baru selesai makan… dan bapak baru datang.
Ya ampun dia ko lupa sama pesanan dia ke Budi kemarin. Apakah saat ini ia sedang cemburu pada Budi karena Sasa begitu akrab dengan assistennya. Astaga benar-benar memalukan sekali.
__ADS_1
‘oh…kapan kamu datang?” Gimana jadinya proposal kerjasama di Acc gak… bulan depan jadi kita tugas di Unpar setiap minggu ke dua dan 2 hari kita disana?”
“Jadi Pak kita mulai bulan depan, Pak. Bapak yang akan mengajar di 3 bulan pertama selanjutnya dari bagian teknik… Jadi jumlah pertemuan ada 6 pertemuan seluruhnya dan kita tugas disana dan mungkin kita dapat mess.... emh ngomong-ngomong bener kata Bapak lho,... batagor ini enak banget ya pak?” Budi menjelaskan hasil pertemuan rapat kordinasi yang harusnya dihadiri Ardi di Bandung, namun diwakili oleh sang assisten yang baru kena omelan tidak jelasnya.
“kamu sudah makan ?” Tanya Ardi untuk menetralkan kesalahpahaman yang tadi.
“Sudah tadi ibu Sasa langsung goreng, ternyata enak ya…
“Hemm… ya sudah kurang gak uang untuk membelinya? Kalo kurang bilang ntar aku ganti..
“Ini masih lebih sih pak ?” tapi saya lupa notanya... jadi besok aja ya Pak ...Berhubung bapak sudah pulang… saya mohon pamit ya!" …saya pamit pulang dulu, makasih ya bu, batagornya..
“Iya Budi… makasih ya sudah temenin tadi sampe mas Ardi datang. “jawab Sabrina sambil bangkit berdiri dan akan mengantar Budi keluar rumahnya. Namun langkahnya terhenti karena Ardi menggenggamnya seakan berkata. “kamu tunggu di sini.. biar aku saja yang keluar.
Ardi menyerahkan alpukat yang baru dibelinya pada Sasa dan ia langsung keluar mengantar keluar dari rumah serta memasukkan mobilnya yang masih di luar
“Saya mohon pamit Pak Ardi " Ujar Budi dengan Sopan dan menjalankan motornya.
“Thanks Bud… hati-hati ya…
Ardi memasukkan kembali mobil yang terparkir di luar dan menutup gerbang rumahnya sebelum masuk kembali ke dalam rumahnya. Ia tersenyum ketika Sasa sudah merapihkan sisa makan dengan Budi dan menggantinya dengan sepiring Batagor untuknya. Wanita itu sedang membelah alpukat dan mengeluarkan bijinya. Segera ia duduk
kembali di samping istrinya yang semakin berisi karena kehamilannya. Ternyata makin sexy jika Sabrina makin gemuk. entah hormon kehamilannya membuat makin cantik dan bersinar.
“Benar ini mas Ardi… pintar deh milihnya… lihat deh alpukatnya isinya kuning seperti mentega dan lembut …makasih ya… coba deh sesuap… ini enak lho,” Jawab Sabrina sambil memasukkan sesendok Alpukat ke mulut Ardi dan pria itu hanya mengunyahnya dalam diam.
:Hemm… kalo tadi batagornya enak gak ?”
“Wah enak banget mas apalagi pas tadi baru matang… wangi banget deh… tadi sore itu kan begitu si Budi bilang bahwa itu pesanan mas Ardi untukku, aku seneng banget dan langsung menggorengnya … tadi aku sudah
makan bareng budi … ini aku pisahkan untuk mas Ardi… cobain deh.. ini berasa ikannya dan saos kacangnya itu enak dan bumbunya pas..
“Batagornya yang enak apa karena Budi yang bawain dan nemenin kamu makan, jadi berasa enak banget ?” Tanya Ardi dengan penuh penekanan pada Sasa.
Sabrina mengernyit memandang suaminya. Ia baru menyadari bahwa suaminya tidak suka bahwa ia makan batagor bersama Budi. Sabrina bertanya dengan pelan takut membuat Ardi makin marah padanya.
“Kamu marah ya mas?” tanya Sabrina dengan pelan.
“Aku gak suka kamu dekat dekat dengan Budi… kamu tadi tertawa bahagia sekali sama dia… udah itu makan batagor berdua sama dia… kenapa sih gak tunggu aku ?” kenapa gak makannya bareng sama aku ?” Ardi mendengus kesal dan berpaling dari tatapan Sabrina.
“Kamu sepertinya sedang cemburu ya mas, “ Jawab Sabrina sambil tersenyum manja dan menaruh dagunya di pundak suaminya.
“Aku gak suka aja lihatnya… kamu itu istriku…. kamu gak boleh terlalu akrab sama assistenku.. apalagi tadi kalian makan berdua dan bahagia banget tadi sampai tertawa riang dan tidak menyadari aku sudah pulang dan memperhatikan kalian… “Sahut Ardi sambil membuang mukanya dan tidak mau melihat istrinya.
Sabrina tersenyum mendengar pengakuan Ardi. Diciumnya pipi Ardi yang sedang ngambek itu, sehingga membuat pria itu mengalihkan pandangannya dan memandang istrinya yang masih tersenyum manis.
__ADS_1
“Aku itu cuma sayang sama kamu, Mas Ardi… terimakasih atas batagornya… terimakasih atas alpukatnya… terimakasih selalu memperhatikan aku dan sayang sama aku…
Ardi akhirnya tersenyum mendengar perkataan istrinya dan mengambil piring batagor yang ada di atas meja dan memakannya. Bagaimana bisa terus marah jika Sasa begitu manja dan bilang sayang padanya. Rasa lapar yang tadi hilang karena marah tiba-toiba muncul lagi dan diambilnya setu sendok batagor dan dikunyahnya. Ia tadi tidak ingin makan batagor karena ketidaksukaan pada Budi yang sedang ngobrol mesra dengan Sabrina membuat ia melupakan laparnya.
"Sa.... Suapin donk , " Rengek Ardi manja.
Sabrina mengambil piring dan sendok dari tangan Ardi dan menyuapi bayi besarnya yang ngambek karena cemburu pada assistennya. Sabrina menyuapinya hingga batagor itu habis dan ia langsung memberikan segelas air putih yang langsung ditenggak oleh Ardi dalam hitungan detik
"Gimana anakku, Sa ? Apakah dia baik-baik saja Atau dia membuat kamu sakit hari ini ?" Tanya Ardi sambil mengelus perut Sabrina pelan.
" Gak . Dia baik-baik saja . gak rewel ketika aku bekerja... sekarang dia lagi kenyang karena makan alpukat dan batagor yang dibeliin papa... seneng deh ya sayang !" Sabrina berkata sambil mengelus perutnya
“Aku juga sayang dengan kamu, Sasa… maaf aku jarang ada waktu untuk menemani kamu… tapi aku ini kerja untuk keluarga aku yaitu kamu dan anakku… aku gak suka kamu baik ke orang lain selain aku…aku sayang banget sama istriku… aku ingin yang terbaik untuk istriku.. aku itu cinta banget kamu, Sasa… salahkah kalo aku marah padamu tadi?”
“Gak salah… aku senang ko… berarti kamu khawatir sama aku dan peduli sama aku…. Aku juga cinta kamu banget, mas Ardi.
Ardi mendekatkan wajahnya dengan wajah Sabrina. Lalu ia miringkan kepalanya agar dapat mencium bibir istrinya. Sabrina menikmati perlakuan lembut Ardi yang menggerakkan bibirnya dan memagutnya penuh cinta dan memberikan sedikit hisapan pelan,
Tangan Ardi bergerak diatas perut Sabrina berulang-ulang seraya menyapa anak dalam perutnya hingga ia pun menghentikan elusannya di atas perut ketika ada pergerakan disana. Ardi terkejut dan terus mengelus perut Sabrina.
“Hai anak papa… kamu seneng ya papa beliin batagor dan alpukat ?”
“Iya papa.. makasih ya, papa.
Ardi merasakan kelegaan yang luar biasa ketika anaknya sering bergerak dan menendang perut mamanya ketika ia mengelusnya. Anaknya tumbuh di dalam perut Sabrina dan ia harus menjaga istri dan anaknya yang belum dilahirkannya. Ia harus bertanggungjawab pada keluarga kecilnya. Anaknya yang ada di rahim istrinya dan merupakan penerus keluarganya kelak.
Teringat pesan Ayahnya ketika masih hidup bahwa seorang pria sejati itu dinilai bukan dari bagaimana penampilannya dan apa yang dicapainya tetapi yang lebih penting adalah bagaimana ia bertanggungjawab pada keluarganya. Semoga ia dapat menjadi pria sejati yang mampu bertanggungjawab pada keluarganya..
*****
Happy Reading Guys...Bolehkan tinggalkan komentar/ Like/ poin/ hadiah disini.... tapi diatas semuanya itu, terimakasih telah membacanya. Tuhan berkati kalian.
__ADS_1