Cinta Kan MembawaMu Kembali

Cinta Kan MembawaMu Kembali
S2: 64. Love isn't game


__ADS_3

Hidup itu bukan tentang menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan." (Moammar Emka)


Aku tidak tahu apakah aku mulai mencintainya tapi aku menunggunya dengan sebuah harapan bahwa ia memang tulus mencintaiku.


 


 


*****


Dilla membanting handphonenya. Jadwal  kerjanya berantakan semenjak Shinta mengundurkan diri dua hari yang lalu . Shinta hanya mengatakan bahwa ia harus menjaga ayahnya yang sakit-sakitan di kampung dan sang ayah mengharapkan ia ada di kampung di akhir hidup ayah Shinta. Semua jadwal di minggu ini menurut Shinta  sudah dicancel, namun beberapa EO ataupun  pihak dari stasiun televisi tetap ngotot  meminta Dilla tampil


Berbagai alasan dikemukakan Dilla, namun mereka tetap memaksa agar Dilla tampil di acara yang diselenggarakan oleh berbagai kegiatan dan rata-rata mereka sudah membayar uang muka. Dilla menawarkan kompensasi ataupun pemunduran jadwal, namun tidak berhasil.


Dilla sudah lupa pusingnya mengatur jadwal kerjanya karena ia selama ini selalu tinggal tampil di acara tanpa memusingkan permasalahan yang membelit sebelum ia maju diatas panggung pertunjukan ataupun di berbagai acara TV. Ia hanya perlu melatih vokal dan menyiapkan penampilan terbaiknya.


Shinta memang memberikan sejumlah nama untuk menjadi penggantinya, namun Dilla tidak ingin tampil di publik hingga masalah  yang ditangani Handoyo beres.  Diambilnya handphonenya kembali dan dipencetnya nomor pria itu.


Tidak ada nada sambung. Pria itupun  menghilang tanpa kabar. Kemana dia? Apakah dia lupa atau membohongiku?' Apakah dia tidak merindukanku seperti aku rindu akan sentuhannya.  Rasanya tidak mungkin ia dipermainkan oleh pria yang beberapa hari menjadi kekasih dan teman tidurnya. Ditekannya kembali nomor handphonenya, Masih tidak aktif. Sedih dan marah yang dirasa Dilla.


Dilla kesal dan segera mengambil catatan yang ditinggalkan Shinta untuk memilih satu nama yang direkomendasikan wanita itu untuk menjadi assisten yang mengurusnya.


"Farrah"


Dilihatnya wajah foto Farrah dan beebrapa catatan tulisan dari Shinta tentang Dilla, Wanita berkulit hitam manis dan sepertinya  tidak asing, ternyata wanita itu pernah menjadi salah satu tim kreatifnya. Bila pernah bekerjasama dengannya berarti minimal memahaminya. Shinta memberi kode bintang yang diartikan yang terbaik dari 4 nama yang disodorkan sebagai pengganti tugasnya.


Segera dipencetnya 12 angka di handhonenya, dan mulai terdengar nada sambung. Tut.... tut...  tut .... dan pada panggilan ke tiga, telephone itu tersambung.


'Hallo... "Sapa wanita itu ramah.


"Farrah?"


"Iya.... boleh tahu dengan siapa saya bicara?" Wanita itu tidak mengetahui bahwa yang menghubunginya adalah Dila Pratiwi. Ia menerima telephonenya sambil mengunyah makanan sehingga terdengar di telinga Dilla.


"Dilla Pratiwi... apakah kamu mengenal nama itu?"


"Hah... mbak Dilla? ini beneran Dilla Pratiwi yang penyanyi itu?" ini pasti mujizat....  ada apa mbak Dilla menelponku?" Farah terus berbicara dengan sangat riang.


"Iya... ini aku... kamu dengarkan saja suaraku... apakah berbeda dengan suara Dilla yang sering kamu dengar ?'


"Sama mbak... hanya saja aku benar-benar terkejut. Apakah Kak Shinta yang merekomendasikan aku?"


" Iya ..... Kamu mau menjadi assistenku?' Tanya Dilla langsung karena ia sangat membutuhkan assisten yang siap bekerja dengan segera.


"Mau mbak.  Aku mau banget .... apa syaratnya dan apa yang harus dilakukan?"

__ADS_1


"Baik kita ketemuan satu jam lagi di Restoran "Sham yang"  di Setiabudi Building One" Kamu tahu itu?" Kita bicara disana termasuk masalah penggajian.


"Tahu mbak.... itu restoran korea kan?"  Saya harus bawa apa, mbak? Saya belum buat surat lamaran untuk menjadi assisten Mbak Dilla.


"Kamu cukup temani aku makan disana dan bawa catatan untuk mulai mengatur jam kerja di minggu depan. Kita ketemu disana.... kuharap kamu bisa ontime !"


"Baik Mbak... Saya berangkat... jika tidak macet perjalanan dari tempat kost saya sekitar 30menit. Sampai ketemu, Mbak Dilla !


"Ya. " Jawab Dilla pendek.


Dilla segera bangkit dan menyiapkan diri untuk menemui assistennya. Ia harus mulai menata hidupnya dan mengatur kembali sang assisten baru yang diharapkan dapat seperti Shinta dan profesional seperti anak itu.


 


 


****


Pukul 5 sore Dilla kembali ke apartemennya setelah melakukan pertemuan dengan Farrah  dan membuat berbagai persyaratan dengan assisten barunya itu. Jadwal minggu ini berhasil di lobby oleh Farrah  sehingga ia dapat free hingga 5 hari ke depan.


Dilla menghempaskan tubuhnya di ranjang kamarnya. Ia merasa sepi di apartemennya. Biasanya Shinta selalu menemaninya melakukan apapun di ruang apartemennya, Tapi ia membuat peraturan dengan assistennya hanya menghubungi jika ada pekerjaan penting jadi tidak akan sedekat  seperti Shinta dahulu. Sebenarnya salah satu alasan Dilla mengijinkan Shinta keluar adalah Shinta yang pernah melihat adegan terlarangnya bersama Handoyo sehingga ia merasa tidak enak jika menatap wajah Shinta.


Dilla bangkit menuju kamar mandi dan memilih berendam dikamar mandi. Ia berfikir bahwa dirinya membutuhkan relaksasi untuk meregangkan otot-ototnya setelah mengatur ulang jadwalnya dan menyadari bahwa dirinya terasa sepi karena tidak memiliki siapapun.


Air hangat itu bercampur dengan sabun aroma aneka bunga yang wangi dan menenangkan hatinya, seakan mampu memijat dan menenangkannya. Dia teringat seorang pria yang hari-hari ini sering bersamanya dan menghangatkan hati dan tubuhnya.


Ditariknya nafasnya perlahan.   Rasanya rasa rindu untuk David sudah pudar berganti dengan pria lain yang dirasa Dilla benar-benar mencintainya.


Handoyo. Pria itu yang dirasa benar benar sayang padanya. Dilla benar-benar mengingat aroma pria itu dan berbagai tindakan liarnya ketika mencumbunya.  Dilla merindukan pria itu. Pria yang membuar dirinya merasa sangat nyaman beberapa hari ini.


Tiba-tiba air matanya mengalir tanpa bisa dicegahnya. Ia menangis sendirian karena merindukan pria yang tidak bisa dihubunginya. Bagaimana jika ia memanfaatkan tubuhku saja? Bagaimana jika ia memang berhubungan bersama Shinta dan  mereka menghilang bersamaan.


Berbagai pikiran buruk ada di otak Dila. Ah tidak mungkin Handoyo bukankah menginginkan dirinya hamil. Handoyo ingin ada anaknya di dalam kandungannya.   Bagaimana jika ia beneran hamil anak pria itu?"  Apakah ia berani menunjukkan pada dunia siapa ayah dari  anak dalam kandungannya.  Apakah karirnya berakhir jika ia menikahi pria itu.?  Salahkah dia merindukan pria itu?"  Pria itu mungkin dianggap sampah masyarakat, tapi pria itu mampu membuatnya merasa dibutuhkan dan dihargai secara tulus.


Tidak mungkin aku mencintainya. Aku dan dia hanya saling memanfaatkan keadaan. Aku ingin dia membunuh Soffie untukku. Wanita yang menghancurkan harapanku.


Dilla segera bangkit dari bathtub dan menggunakan jubah handuk komono warna pinknya. Tak lupa ia mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya. Ia tidak suka mengeringkan menggunakan hair dryer ketika tidak ada jadwal mendesak. Dilla memilih menggunakan handuk saja dan menutup rambutnya dengan handuk kecil yang digelung.


Keluar dari kamar mandi, Dilla merasa haus dan ingin meminum segelas teh melati. Rasanya akan menyegarkan meminumnya di malam hari.  Ketika ia sedang menuang teh di teko, bel pintu apartemennya berbunyi. dan mengalihkan perhatiannya pada minuman yang dibuatnya.


"Ting tong"


Dengan setengah malas Dilla meninggalkan dapur dan menuju pintu apartemennya. Tidak banyak tamu yang mengetahui alamat apartemennya. Ia ingin mengintip dari lubang kaca di  pintunya. Tidak ada orang yang dilihat. Oh mungkin anak kecil yang memencet pintu kamarnya. Dilla membuka pintunya.


Dilla menengok ke samping dan terkejut. Pria yang dicarinya beberapa hari sedang bersandar di dinding samping pintu apartemennya. Pria itu tersenyum manis padanya.

__ADS_1


"Mas Handoyo... kemana saja sih?: Aku menelponmu berulangkali,,, tapi telponmu selalu tidak aktif," Dilla langsung berbicara tanpa henti dan menarik pria itu masuk.


Handoyo membiarkan Dilla menarik tangannya dan menuntunnya masuk .   Hari ini Handoyo menggunakan kaos T Shirt Polo warna hitam lengan pendek, celana hitam dan topi hitam. Pria itu makin terlihat keren di mata Dilla.


Begitu pintu ditutup, Dilla langsung memeluk prianya. "Mas Han... aku kangen banget sama kamu" jahat banget sih gak pernah ngabarin... mas Handoyo gak kangen aku, ya?"


Handoyo tersenyum dan mengecup kening Dilla. " Sayang... dua jam lagi aku akan menjalankan misi darimu... semua sudah siap... tapi aku ingin melihat wajahmu dahulu sebelum mulai operasi...   Aku senang melihatmu baik-baik saja... Sekarang aku pergi ya... tim-ku sudah menunggu.   Ingat pesanku !" Jangan nakal ya!"  dan tidak ada yang boleh memasukimu selama aku gak ada," Handoyo mengelus pipi wanita itu.


Handoyo kembali memeluk wanitanya lama sekali, dan langsung melepasnya dan berbalik akan keluar dari apartemen. Dilla yang masih merindukan Handoyo sedikit terkejut akan tindakan handoyo yang akan langsung pergi.  Ditahannya pintu itu oleh Dilla dengan tubuhnya sehingga Handoyo tidak bisa keluar.


"Mas han... kenapa cuma sebentar?"


"Dilla ... misi kita sudah siap jalan dan dua jam lagi akan dimulai... aku ke sini hanya melihatmu sebentar.. aku takut tidak bisa melihatmu algi  jika gagal... "Handoyo melihat wajah Dilla dengan  lembut.


Wanita itu mulai berkaca-kaca dan menggelengkan kepalanya. Dilla tidak rela melepas Handoyo pergi.


"Bisakah dimundurkan besok hari, mas Handoyo? ' Aku masih kangen kamu... please !"


"Dilla... jika untuk mempersiapkan misi yang sukses , aku memang harus konsentrasi... dan aku tidak pernah menyentuh wanita selagi dalam missi.... nanti aku kembali ke sini, " Bujuk Handoyo sambil menghapus airmata Dilla.


Namun Dilla kembali memeluk handoyo. Ia tidak rela pria itu berangkat malam ini. Dilla mencium Handoyo berulangkali di bibir, leher  dan merangkul pria itu erat.


"Jangan pergi malam ini, Mas han..."Rengek Dilla manja.


"Sayang... jangan menggodaku, " Handoyo tidak bisa menghentikan Dilla yang terus menciumnya dan meremas bagian penting yang ada di tubuhku. "Sayang ... aku tidak pernah menyentuh wanita sebelum missiku terlaksana .....nanti aku gagal... kau tidak ingin gagal kan?"


"Kalau gitu batalkan saja missinya.... aku lebih ingin kamu ada disini daripada kamu pergi meninggalkanku, " Dilla berbicara santai tanpa menghentikan tangannya yang mulai membuka reseliting celana Handoyo.


Handoyo menghentikan tangan Dilla.Ia memandang tajam pada Dilla. Dan menggeleng dengan tegas.  Namun dering handphone mengalihkannya dari tindakan Dilla.


"Ya Din.... "Jawab Handoyo sambil menerima telephone dan mendengarkan perkataan tim-nya yang menyampaikan beberapa kendala di dalam pelaksanaan missi-nya.


Dilla yang merasa ini adalah kesempatan besar untuk menghentikan Handoyo pergi dari sisinya. ia tidak peduli lagi pada tujuan awalnya yang meminta Handoyo membunuh Soffie. Ia hanya ingin Handoyo menemaninya malam ini. Dilla segera berjongkok di depan Handoyo dan mulut Dilla langsung bekerja di ujung senjata milik Handoyo. perlahan dan menarik keluar senjata penting yang ada di balik celana Handoyo.  Dijilatnya senjata itu dan sedikit digigitnya bagian penting Handoyo itu.  Handoyo sedikit  terkejut atas tindakan Dilla dan membiarkan kelakuan Dilla karena ia mendengarkan penelpon itu  Mata Handoyo terpejam dan mulai menikmati hingga Handoyo tiba-tiba berteriak.


"Udin... batalkan rencana malam ini... ada hal penting yang harus aku lakukan," Teriak Handoyo yang hampir gila karena perbuatan Dilla padanya.  Dia sudah berhasil dipancing oleh Dilla. Dimatikan panggilan handphone itu dan langsung dilemparkan keatas sofa. Ia menikmati perlakuan Dilla.


"Kamu sangat nakal , Dilla... aku tidak mungkin berhenti jika kamu sudah membangkitkannya," Handoyo segera mengangkat Dilla ke kamar.


 


 


 


*****

__ADS_1


Happy reading guys....terimakasih telah berbaik hati membacanya. bentar lagi ya Final seasonnya. Love you All.


__ADS_2