
Aku memilih untuk membuat sisa hidupku menjadi lebih berarti dan kumohon bantu aku untuk mewujudkannya
Ada saatnya rindu kepadamu sampai ingin menjemputmu dari mimpi serta memelukmu didalam dunia nyata."
******
-----10 bulan setelah pertemuan Dilla dan David di rumah sakit -----
Warmen Amsterdam Sitompul, Sang pengacara fenomenal baru saja keluar meninggalkan Gedung utama penjara Salemba bersama seorang pria yang menggunakan kemeja hitam, dan celana jeans biru. Pria itu memiliki perawakan 167 cm,kulit sawo matang, berbadan kekar dan tegap. Saat ini sebagian wajah pria itu tidak terliha jelas karena wajahnya tertutup sebagian dengan kacamata hitam dan topi hitam.
Kedua pria itu berumur tidak jauh berbeda namun dari segi penampilan pria yang menggunakan kemeja hitam itu terlihat lebih muda daripada pria yang menggunakan jas hitam karena ia rajin berolahraga. Mereka sedang bercakap-cakap dengan sangat serius dalam perjalanan menuju mobil yang berada tidak jauh dari parkiran umum yang berada di halaman luar di depan penjara.
“Han…. Ingat berkas yang kau tanda tangani sebagai syarat pembebasanmu , mohon tidak menunjukkan diri di muka umum selama setahun ke depan, kamu bisa keluar sekarang dengan jaminanku dan nama baik istrimu,… dan ini langsung di ACC oleh Pak Wakil Mentri Hukum dan HAM.
“Hem….
“Beliau juga berterimakasih karena kamu sudah bersedia menemukan, membuka tokoh kunci dan memberikan rekaman bukti kejahatan mafia politik itu sehingga kasus dana penggelapan dana Bank SUMO yang terbengkalai bisa masuk pengadilan dan tokoh utama bisa diadili… itu semua berkat informasi akuratmu dan itu dijadikan dasar pengurangan hukumanmu, ” Warmen menjelaskan mendetail kebijakan Wakil mentri hukum dan HAM yang mengakibatkan Handoyo dapat pengurangan hukuman selama 1 tahun dan dibebaskan lebih cepat.
“Hem.. ini semua pasti berkat usahamu dan Adrian yang membantuku agar aku bisa cepat keluar …. Akan kulakukan apapun agar aku segera bebas dan bisa melihat anakku tumbuh besar… terimakasih atas bantuanmu Warmen, katakan saja jika kau masih perlu bantuanku, dan kau tahu dimana bisa menghubungiku!”
“Ya…. Minggu kemarin istrimu yang bertemu dengan pak Wakil mentri itu dan membahas bahwa habis ini kalian akan tinggal di Palembang, katanya ia sudah membeli rumah di sana.. Benarkah demikian?”
“Waktu Dilla akan melahirkan ,dia menitip pesan pada Adrian, katanya sudah membeli rumah di Kota Palembang… aku sendiri belum pernah ke kota itu , nanti kukabari lagi. nomor utamaku tidak berubah…kuharap pekerjaan yang diberikan olehmu adalah pekerjaan yang halal …jika aku tidak bisa dihubungi kau cari Adrian... dia pasti bisa menemukanku dimanapun.
“Pastinya… jangan kuatir itu, Han … !” Sahut Warmen ketika akan memasuki mobilnya dan Handoyo memutar langkahnya dan bersiap akan memasuki pintu mobil Warmen. “Hei… aku lupa bilang kau masuk mobil yang belakang itu ,Han !”
Handoyo melihat sebuah mobil Toyota Rush berwarna merah yang ditunjuk oleh rekan pengacaranya. Mobil itu menyalakan lampu sorot padanya, seakan memberi kode agar ia memasuki mobil itu.
“Oke… aku ke sana!” Terimakasih atas bantuanmu, warmen !” Sahut Handoyo sambil melangkahkan kaki menuju mobil berwarna merah itu. Ia melambaikan tangan pada Warmen namun tidak menengok ke pengacaranya. Warmen hanya tersenyum melihat kelakuan Handoyo, teman yang selalu mendukungnya,walaupun terkadang langkah pria itu suka melenceng dari jalur.
Handoyo berfikir bahwa salah satu anak buah Warmen akan mengantarnya seperti biasa ke kediaman Dilla seperti di masa awal sebelum ia ditetapkan menjadi terpidana Betapa terkejutnya Handoyo ketika membuka pintu mobil bagian depan yang di samping tempat duduk pengemudi itu dan ia melihatseraut wajah yang sedang duduk di balik kemudi mobil itu adalah Dilla Pratiwi.
“Surpraise …. “ Sapa Dilla dengan sedikit berteriak dan kedua tangannya direntangkan dan meminta sebuah pelukan dari pria kekar tersebut. “ Apa khabar sayangku, “
Handoyo yang masih terkejut dan belum memasuki pintu mobil . Ia terhenyak tidak menyangka wanita yang selama ini berada di hati dan pikirannya sekarang benar-benar menjemputnya.
“ Ayo masuk donk sayang !” Panggil Dilla lagi.
“Dilla… kamu yang menjemputku? “ Handoyo bahagia sekali ketika memasuki mobil itu dan langsung menarik kembali pintunya. Ia langsung memeluk wanita itu dan menarik wajah Dilla dan langsung mencium wajah kekasih hatinya bertubi-tubi.
“Mas Han…. Kangen aku kan?” Kalo gak kangen… aku langsung pulang nih dan mas Han boleh turun dari mobil ini.. dan pulang sama Pak Warmen.
“Aku kangen sekali sama kamu, Dilla… apalagi kangen dengan teriakanmu ketika kita bercinta dan ….” Sahut Handoyo yang langsung berhenti mencium istrinya itu ketika mendengar suara tangisan bayi di dalam mobil.
Oeee.... oeeeee....
Handoyo menengok ke arah sumber suara. Bayi itu menggunakan bedong bayi berwarna biru muda dan diletakkan dalam box bayi sehingga aman diletakkan di atas kursi penumpang. Handoyo terkesiap memandang bayi itu. Apakah ini anaknya? Dia kecil sekali...kulitnya putih kemerahan dan hidungnya mirip dengan Handoyo.
“Dia anakmu mas Han… Gendonglah dia …kurasa dia tahu papinya datang dan minta digendong oleh papi," Dilla berkata dengan lembut.
Handoyo masih tertegun melihat bayi itu menangis kencang, hingga Dilla yang mengambil bayi itu dari box yang terletak di atas kursi bagian tengah mobil. Dilla meletakkannya di tangan Handoyo yang kaku. Pria itu menatap dengan penuh haru bayi kecil itu. Anehnya bayi itu terdiam dalam pelukan Handoyo yang otomatis menggerak-gerakan tangannya menimang bayi itu.
__ADS_1
“ Jika mas Han tidak keberatan, aku sering memanggilnya Handi …maaf aku tidak bingung memberi nama…kupikir nama gabungan kita cukup baik…. Kami menunggu mas Han yang memberi nama… aku selalu memanggilnya Handi.
“Handi… Handoyo Dilla… aku suka nama ini… Hardi Cahyanto, sesuai namaku sayang… terimakasih Dilla…kamu menepati janjimu untuk menjaganya.... aku pasti menjaga kalian berdua... terimakasih sayang, " Ujar Handoyo sambil menangis dan mengecup anak bayi itu yang terlelap dalam gendongannya.
“Mas Han…. Sebelum kita ke Palembang…bolehkah aku menemui orang tuaku dahulu?” Aku akan berpamitan dengan mereka.... selama aku hamil dan melahirkan...aku belum pernah menemui mereka.
“Baiklah… aku juga belum pernah menemui mereka … apakah mereka akan keberatan jika mengetahui latar
belakangku?”
“Mamiku menunggumu dan ingin mengenalmu…aku pernah mengatakan kita sudah menikah, namun mami ingin kita menikah ulang dan agar pernikahan kita menjadi lebih sah…. Papi agak marah, mohon dimaafkan ya jika ia memarahimu dan mungkin menghajarmu !”
“Jangan kuatir Dilla…aku tahu bagaimana menghadapi mertua…kita hadapi bersama... aku bersedia dihajar oleh ayahmu, Dilla... asalkan mereka merestui kita.
“Aku bilang kamu seorang pekerja lepas sehingga jarang ada di Indonesia dan papi mengatakan akan menghajarmu karena membuatku bercerai dari Toshihiro dan menyentuhku tanpa ijinnya, " Handoyo tersenyum sambil menyerahkan anaknya dari gendongannya ke Dilla.
“Aku saja yang menyetir...kamu gendong Handi dan tunjukkan jalan ke rumahmu sayang ...," Sahut Handoyo dan Dilla tersenyum bahagia mendengarnya. Dilla segera turun dari mobil dan bertukar tempat duduk untuk menjalankan kendaraan itu menuju kediaman orang tua Dilla.
*****
Dua jam kemudian tibalah mereka di rumah orang tua Dilla yang cukup asri di Jakarta Selatan. Mereka memasuki ruangan tengah dimana Papi dan Mami Dilla menanti mereka bertiga karena Dilla telah mengabari sebelumnya akan ke rumah bersama suami dan anak lelakinya.
Handoyo memasuki ruangan tengah mengikuti langkah Dilla. Ia melihat kedua orang tua sedang duduk di sofa dan melihat kedatangan mereka, Mami Dilla langsung berdiri dan memeluk putrinya yang sedang menggendong baby Handi.
Dilla tersenyum dan mendadak kecut ketika melihat papanya yang menatap tajam pada Handoyo. Dilla memegang tangan Handoyo dan meremas jemarinya. Dilla khawatir Handoyo tidak dapat mengendalikan emosinya jika mendengar ucapan papi Dilla. Handoyo tersenyum dan seolah memberi ketenangan pada istrinya.
"Lala... kemari !" Teriak Papi Dilla pada putrinya. Dilla diam membeku di tempatnya hingga Handoyo menarik istrinya melangkah menuju tempat papinya duduk. Sementara mami Dilla terkejut dan masih menggendong bayi kecil itu.
Papi Dilla menatap Handoyo yang menghampirinya bersama Dilla yang bersembunyi di belakang tubuh suaminya. Dilla takut, karena papinya sangat marah ketika mendengar dan menonton di media cetak dan elektronik / infotainment tentang kasus perceraiannya dengan Toshihiro. Papi Dilla langsung berdiri ketika langkah mereka semakin dekat.
Dan...
Plak... Plak...
Pipi kanan Handoyo ditampar dua kali oleh papi Dilla. Handoyo terdiam dan sedikit menunduk. Ia menghormati posisi ayah Dilla, Ia mengerti kemarahan pria itu yang membuat putrinya bercerai dengan suaminya dan menikahinya. Sementara Dilla masih sembunyi di belakang tubuh kekar suaminya itu
"Maafkan saya... saya yang salah tanpa meminta ijin pada papi Dilla...saya mohon maafkan tindakan kami !" Handoyo berkata sungguh-sungguh dan tidak ada ekspresi marah karena ditampar oleh Papi Dilla.
"Sekarang kalian duduk ... saya mau bicara dengan kalian berdua !" Seru papi Dilla.
Handoyo dan Dilla segera duduk bersebelahan di sofa. Dilla maaih menunduk dan sangat takut melihat papinya. Sementara Handoyo duduk dengan posisi kaku menghadapi papi Dilla Handoyo yang biasa sangar di hadapan siapapun, kali ini ia merasa sedikit tidak nyaman menghadapi seorang Ayah yang merasa diabaikan oleh putrinya yang berani menikah tanpa restunya.
"Saya akan maafkan tindakan kalian jika........ kamu menikahi anak saya kembali di depan saya dan saya akan merestuinya !"
"Terimakasih papi, "Ujar Handoyo. Dila yang mendengar itu mengangkat kepalanya dan bangkit dari tempat duduknya memeluk papinya.
"Maafkan Dilla papi .... maafkan Dilla... terimakasih papi mau menerima Mas Handoyo dan putra Dilla !" Ujar Dilla sambil terisak.
__ADS_1
"Besok kalian menikah ulang... malam ini tidurlah disini La!"
"Tapi papi, besok kami.. "Dilla berusaha menolak tawaran papinya untuk tinggal di rumah orang tuanya karena ia mengingat perjanjian sebelumnya dengan wakil mentri dan pengacaranya.
'Terimakasih papi... kami malam ini menginap disini," Ujar Handoyo menyela keputusan Dilla.
Dilla memandang suaminya dan terlihat Handoyo begitu mantap untuk tinggal disini. Dilla berjanji untuk mematuhi apapun yang dikatakan Handoyo karena ia yakin prianya begitu bertanggungjawab dan memikirkan dalam setiap tindakannya.
******
Di kamar Dilla, baby Handi sudah terlelap di atas tempat tidur. Sementara Handoyo menatap kagum pada pria kecilnya yang terlelap dengan tenang. Handoyo mengecup pria kecilnya.
"Terimakasih telah hadir di kehidupanku, Handy !" Memilikimu membuatku berjanji untuk menjalani sisa hidupku menjadi lebih berarti dan kumohon bantu aku untuk mewujudkannya, anakku !" Handoyo berkata lirih dan mengecup anaknya kembali.
Dilla yang baru keluar dari kamar mandi segera menghampiri suaminya yang masih memeluk Handi, putra mereka.
"Mas Han... aku senang kamu memilih untuk membantu pemerintah untuk memecahkan kasus itu dan mengambil kebijakan pengurangan hukumanmu untuk keluarga kita .... terimakasih juga , mas Han.. mau mengalah untuk tidak melawan papiku, " Ujar Dilla sambil duduk di samping suaminya.
"Sayang ... papimu itu sayang sekali denganmu...aku mengerti tindakannya karena ia menyayangimu.... jika aku menjadi papimu juga akan menghajar pria yang membawa kabur anaknya," Ujar Handoyo sambil menarik tangan Dilla agar berbaring di sampingnya.
Handoyo berbalik memunggungi Handi yang masih terlelap. Dielusnya kepala Dilla yang sekarang berada di dadanya. Mereka masih saling berbicara dengan posisi berbaring di ranjang kamar Dilla.
"Mas Handoyo , gimana dengan perjanjiannya ...bukankah kita harus meninggalkan Jakarta malam ini..." Sahut Dilla dengan khawatir.
"Tenanglah sayang... Warmen mengurusnya... dia bilang tidak masalah jika untuk menikah ulang dan tidak ada media !" Handoyo segera mendekap Dilla dengan erat.
"Berarti Pak Warmen sudah tahu kita masih di Jakarta?"
"Dia akan melaporkan bahwa kita akan membereskan urusan kita di Jakata selama seminggu ini, sayang !' Sahut Handoyo dengan sambil mencumbu istrinya. Tangan dan mulut Handoyo sudah mulai bergerak cepat sesuai dengan kebiasaannya.. . "Aku merindukanmu Dilla.... aku rindu berada di dalammu, " Ujar Handoyo yang langsung bergerak cepat melepas pakaian Dilla dan membuat wanita itu mulai mendesah dalam kegiatan panas mereka.
"Mas.... mas Han......" Desah Dilla manja dan menikmati perlakuan suaminya yang memang merindukan aktifitas panas mereka.
"Lala..... Akh.....
"Mas Han.....
"Aku mencintaimu Lala.... aku akan melakukan apapun untuk keluargaku ....
*****
Happy reading guys...!!!
ini part khusus Dilla sesuai permintaan kalian dan xtra cukup sampe disini ya !" Jika memungkinkan ada cerita khusus yang lain tentang Dilla, Henry ataupun Jajang dalam judul yang berbeda.
__ADS_1
Thanks atas dukungannya selama ini. Tetap jaga kesehatan dan Tuhan berkati kalian semua di tiap langkah kehidupanmu !"