
Orang yang bersedia menemani kita dalam menghadapi hujan badai adalah orang yang pantas diperjuangkan, bukan orang yang hanya ada bersamaku ketika kita sedang berada di puncak kehidupan.
Orang yang bersedia menemani kita disaat kita sedang menghadapi kegagalan adalah orang yang pantas menemani kita disaat kita mencapai puncak keberhasilan.
******
Sabrina masih duduk di sofa ruang tamu rumahnya. Dia masih termenung memikirkan masalah rumah tangganya dengan Ardi yang tidak beralaskan kejujuran. Dia takut jika pria itu hanya memanfaatkannya. Dulu ketika Ardi tiba di Singapura, ia memang terpesona pada pria itu. Namun Ardi itu tidak jujur padanya bahwa ia memiliki kekasih di Jakarta. Bahkan kekasihnya adalah keponakannya sendiri. Atau dirinya yang begitu bodoh dan percaya pada semua ucapan manis dari pria itu.
Apakah Ardi benar-benar miskin dan memanfaatkan untuk tinggal bersamanya? Pada saat itu pria itu masih mengandalkan beasiswa untuk biaya hidup dirinya dan keluarganya. Sanggupkah aku bertanya padanya? Apakah Ardi akan meninggalkan dirinya ketika dia semakin tua dan dia tidak cantik lagi? Apakah pernah Ardi mencintainya? Tapi jika ia memang mencintai Soffie, seharusnya dulu tak bersamanya.
Deru mobil memasuki halaman parkir rumah dan menghentikan lamunan Sabrina. Ia masih terduduk di sofa dan menghentikan kebiasaannya menyambut suaminya yang pulang bekerja. Suatu kebiasaan yang berbeda hari ini Sabrina tidak menyambut dengan sukacita suaminya pulang.
Ia akan menghentikan kebiasaan baiknya untuk menyambut kepulangan Ardi. Kebiasaan seorang istri mulai memasak untuk makan malam, menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya bahkan air minum pun tidak dia siapkan.
Pekerjaan Sabrina memang tidak membuatnya harus pulang malam, sehingga jika sore hari , ia masih dapat merapihkan tempat tinggalnya tanpa jasa Asisten rumah tangga. Malam ini Sabrina akan berubah dan bersiap jika Ardi ingin meninggalkannya, maka ia sudah siap pergi. Ia tidak ingin melayani suaminya lagi. Pria itu terlanjur membuatnya sakit hati.
Langkah tegap lelaki itu terhenti ketika melihat dari pintu teralis yang memperlihatkan ruang tamu rumahnya, istrinya hanya duduk termenung. Ia terheran melihat istrinya dan tidak menyambut kedatangannya. tatapan wanita itu seperti kosong dan hanya memandang ke arah jendela.
Dibukanya pintu rumahnya, dan segera Ardi menjatuhkan tubuhnya di sofa samping istrinya. Dikecupnya pipi istrinya dan bertanya dengan lembut.
"Sayang... kamu kenapa? Apakah kamu sakit? Kamu kok berbeda?"
"Gak... aku cuma mau berhenti menjadi istrimu saja.... apakah boleh?"
"Hei... kenapa kamu bilang begitu? " Ada apa ? "
"Gak ada apa-apa.... aku cuma ingin kita berpisah saja... aku akan kembali bekerja di Singapura dan kupikir...
"Tidak akan kuijinkan.... Sa... apakah masalah yang kemarin itu... maaf jika itu melukaimu... aku menyesal... aku kan sudah minta maaf... katanya kamu memaafkanku.... bukankah... kamu bersedia untuk memulai dari awal denganku, " Ujar Ardi sambil memeluk tubuh istrinya.
Ardi terus memeluk tubuh istrinya... tubuh waita ini sangat panas dan di keningnya ada keringat... dia baru sadar... wajah Sabrina pucat, matanya agak kemerahan dan tubuhnya panas.
__ADS_1
"Sayang.. kamu sakit, ayo kita ke dokter!
"Gak usah... aku mau tidur saja...
Sabrina segera bangkit dan tiba-tiba kepalanya pusing dan hampir jatuh. Dengan Sigap Ardi memeluknya.
"sayang... kita ke dokter ya?"
"Gak mau... bikinkan aku teh manis hangat dan antar minumannya ke kamar !"
"Oke... aku akan buatin, tapi aku gendong kamu ke kamar ya?" Jawab Ardi lembut. dan langsung mengangkat tubuh istrinya tanpa menunggu jawaban Sabrina.
Ardi mengerti istrinya sedang ngambek padanya karena baru mengetahui kisah cinta masa lalunya dengan Soffie, keponakan Sabrina. ia tahu ia salah... tapi ia akan berubah dan setia pada istrinya .
Ardi berusaha menenangkan hati istrinya dengan melakukan hal yang membuat istrinya bahagia. Lelah... sudah pasti. Jalanan macet ditambah istri ngambek, tapi itu harus dihadapi dengan bijak karena ia tidak mau kehilangan istrinya. Sabrina terlalu berharga untuk dilepaskan.
Ketika Sabrina dibaringkan di ranjang. Ardi mengecup keningnya lama dan ia melihat ada butiran air mata di pipi Sabrina.
Sabrina terus memperhatikan Ardi yang meninggalkannya masih berbaring di kamar. Hatinya tersentuh dengan ucapan suaminya. Benarkah Ardi mengatakan yang sejujurnya. Dia tidak sedang berbohong kan...tiba-tiba rasa mual kembali menghampirinya dan ia ingin muntah... segera ia berlari menuju kamar mandi.
Di kamar mandi, Sabrina kembali berusaha memuntahkan isi lambungnya. Ardi yang baru memasuki kamar segera meletakkan teh hangat yang dibawanya dan berusaha menghampiri istrinya yang masih di kamar mandi. Ardi memijati tengkuk leher istrinya dan ketika Sabrina merasa sudah lebih baik dan memutuskan mengakhiri muntahannya. Sabrina segera berkumur dengan air khusus untuk berkumur yang bermerek tertentu.
Ketika akan menuju ranjangnya, kepala Sabrina terasa makin pusing dan pandangannya makin tidak jelas dan berputar. Sabrinapun kehilangan kesadarannya.dan hampir terjatuh kembali. Ardi yang berada di sampingnya segera mengangkat tubuh istrinya ke ranjang
Ardi segera menelpon salah satu dokter yang ada di dekat rumahnya untuk segera datang ke rumahnya. Tidak sampai 15 menit dokter Iwan yang kebetulan satu komplek dengan Ardi datang dan memeriksa istrinya. Pria paruh baya ini cukup aktif di kegiatan kemasyarakatan di komplek rumahnya, sehingga hubungan baik dengan tetangga sangat terjalin dengan baik.
Ketika Dokter Iwan memasuki kamar dan melihat wajah Sabrina yang pucat dan muka yang penuh keringat. Diperiksanya suhu dan denyut jantung sabrina, dan disentuhnya pergelangan tangan Sabrina oleh Dokter Iwan. Dahi dokter itupun berkerut. Ardi hanya memperhatikan tindakan dokter saja.
Dokter segera mengecek kembali denyut nadi di pergelangan tangan, di cek juga pergerakan jantung dan dokter memperhatikan dengan seksama. Denyut nadi ini agak berbeda dari biasanya. Ada 2 nada di dalam tubuh wanita ini menurut pemikiran dokter yang sudah setengah baya.
"Pak Ardi... sebaiknya besok membawa ibu ke dokter... jika saya memeriksa dari denyut nadi dan hasil pemeriksaan sekilas di beberapa alat vital... sepertinya ibu sedang hamil.. tapi untuk memastikan dengan pasti, besok bawa ke rumah sakit. ini cuma asam lambung naik dan sepertinya ibu belum makan nih... ayo Pak Ardi... istrinya harus lebih disayang.... ha.. ha...
"Benarkah dokter?" Sabrina hamil? "
__ADS_1
"kemungkinan besar begitu.... saya hanya resepkan vitamin penguat kandungan... atau gini... besok saya akan periksa lebih jelas dengan peralatan yang lebih lengkap di rumah sakit.. emh... ibu sudah mulai sadar nih..., " Jawab Dokter Iwan dengan tersenyum.
Sabrina berhasil disadarkan oleh dokter dan ia dapat membuka matanya dan yang pertama kali yang dilihatnya adalah wajah pria yang tidak familiar. Lelaki ini siapa, kenapa ada di kamarnya.
"Ibu Sabrina apa yang dirasakan? " Syukurlah ibu sudah sadar," Ujar Dokter Iwan . Pandangan Sabrina bergeser dan melihat seraut wajah suaminya yang penuh rasa kuatir. Lelaki itu tersenyum memandang istrinya yang sudah tersadar.
"Saya hanya pusing dan mual saja , dok... " Kata Sabrina yang berhasil mengingat wajah pria tetangganya yang berprofesi dokter. "Saya sakit apa, dok?"
"tidak apa-apa,... ibu harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran... terus harus banyak makan... besok kita akan bahas di rumah sakit ya... Mari Pak Ardi... saya pamit," Ujar Dokter Iwan.
Ardi mengantar dokter Iwan meninggalkan rumah mereka, dan meninggalkan Sabrina yang masih terbaring lemas di kamar. Ketika Ardi masuk kembali ke kamar mereka, ia membelai kepala Sabrina dan mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Sayang... terimakasih ya...
"Mas Ardi,... aku sakit apa? "
"Kamu gak sakit apa-apa, "Jawab Ardi santai sambil terus menciumi pipi dan kening istrinya.
'Hah... Kok bisa? Apa karena aku belum makan dari pagi....
"Sayang... dengarkan aku, kita akan mulai rumah tangga kita dengan langkah yang benar. Satu langkah menuju keluarga yang bahagia. Satu langkah yang pasti untuk masa depan kita.......Terimakasih telah memberikan Ardi Junior untukku... Sayang .... mohon jangan marah lagi, aku yang salah... jangan hukum anak aku... kamu mau makan apa?" Dia kelaparan di dalam sana... jangan marah lagi sayang... maafkan aku, sayang!"
"Maksudmu.. mas?"
"Sayang, kamu sedang hamil ... kamu hamil anak aku... terimakasih sayang...
Ardi memeluk tubuh istrinya dengan erat. Sabrina meneteskan air mata bahagianya. Ia tidak menyangka diberikan kesempatan dan kepercayaan oleh Tuhan untuk mengandung makhluk kecil , buah cintanya dengan pria yang dicintainya. Ia mulai percaya bahwa Ardi memang untuknya. Ardi akan menjadi kepala keluarganya. Ardi akan menjaga keluarga kecilnya.
"Terimakasih Tuhan... Engkau sungguh amat baik!: Ujar Sabrina dalam hati.
__ADS_1