Cinta Kan MembawaMu Kembali

Cinta Kan MembawaMu Kembali
S2 : 78. Yesterday is history


__ADS_3

"Cinta itu memang layak diperjuangkan, tetapi cinta  tidak pernah  berarti apa-apa jika yang memperjuangkan hanya diriku seorang saja."


"Karena kesalahankulah, aku kehilanganmu, tapi percayalah aku tidak pernah ada kata menyesal bagiku  untuk pernah mencintaimu, dan aku tak akan pernah melupakanmu karena kamu pernah menjadi orang yang mengisi hari-hari indahku dan yang menemani aku di masa kesusahanku. Terimakasih telah menjadi masa lalu yang indah.


 


 


 


*****


Di dalam lift rumah sakit,


"Papa...nanti Dean saja yang bilang pesanan ayam goreng itu.... papa cuma bayar ya!"


"Emangnya kamu bisa pesan sendiri?" David ragu melihat pria kecilnya yang penuh semangat untuk minta diantar berbelanja paket ayam goreng yang diiklankan salah satu stasiun televisi.


Awalnya Soffie sudah melarang keduanya untuk pergi ke restoran ayam goreng siap saji tetapi Dean susah sekali dilarang jika memiliki kemauan. Akhirnya Soffie mengijinkannya  dengan berbagai peraturan diantaranya dilarang berlarian, dilarang membuka masker, dilarang berada jauh dari papanya,  dan Dean  langsung menyanggupinya.


Bagi Dean yang penting bisa berjalan-jalan bersama papanya dan tidak di dalam gedung rumah sakit yang mengurungnya. Dean  ingin makan ayam goreng dan es krim corn yang coklat. Rasa makanan itu sudah berada di dalam mulut Dean.


"Bisa papa...kan cuma tinggal tunjuk saja dan berdiri depan mikrofon yang di dekat loket  drive thru "Sahut Dean santai.


"Kamu mau beli untuk siapa saja, De?" Tanya David memancing pemikiran anaknya.


"Ya untuk kita semua, Papa, Mama, Aku, Oma Jeany, Ibu Martini  dan adek bayi... jadi semuanya 6 ya pah... ade bayi gak usah pake minuman cola ya , papa!"


"Ade bayi belum bisa makan ayam goreng, jadi ade bayi gak usah dibelikan dahulu ya, De!"


"Oke, papa.


Begitu pintu lift dibuka, Dean langsung berlari menuju pintu keluar loby rumah sakit, David yang sedang menerima telephone, membiarkan pria kecilnya terus berlari dengan penuh riang gembira. Sesekali anak itu berhenti dan menengok papanya yang berada tidak terlalu jauh darinya. Dean berlari kembali di selasar dan loby rumah sakit yang  luas dan banyak orang berlalu lalang.


David hanya mengamati sambil terus berbicara di telephonenya, ia tersenyum jika mengingat janji anak itu pada Soffie yang melarangnya berlarian dan berada jauh dari papanya. Hingga ia terkejut ketika melihat anak itu terjatuh dan menabrak seorang wanita hamil  yang menggunakan selendang dan kacamata. Wanita itu juga menggunakan masker sehingga wajahnya tidak terlihat jelas..


Wanita yang ditabrak Dean hanya mengelus perutnya yang sakit karena ditabrak dengan sangat kencang oleh seorang anak kecil berusia 5 tahun dan berpegangan dengan tembok yang ada di dekatnya. Dean langsung bangkit dan memegang kepalanya yang tidak sakit. Dean hanya merasa malu karena ia melakukan kesalahan pada orang yang tidak dikenal.


"Maaf tante.... maaf ade bayi...aku tidak sengaja menabrak !" Dean berkata sambil menundukan wajahnya yang sudah merah padam menahan malu.


Wanita itu tersenyum dan memeluk pria kecil yang menabraknya. "Kamu sakit gak terjatuh tadi," Sahut wanita itu.


"gak tante... bagaimana dengan ade bayi di dalam perut tante?"


""Oh.... gak papa sih... kamu mau mengelus perut tante dan meminta maaf pada ade bayi ?"

__ADS_1


Dean mengangguk dan melakukan perkataan wanita itu. Dean mengelusnya berulang kali. " Maaf ya adek bayi... aku tadi berlarian... padahal mama sudah  bilang aku dilarang lari-lati... maaf ya !"


"Iya kaka ganteng yang pintar !" Wanita itu menjawab sambil mengelus kepalanya.


Sementara David yang berada tidak jauh dari situ cuma memperhatikan dan hingga ia menyadari ketika Dean mengelus perut wanita itu berulang kali dan membuatnya tersenyum karena tindakan anak lelakinya yang sopan dan berani meminta maaf.


Awalnya David merasa agak  familier dengan wanita itu karena kepalanya yang ditutup selendang sehingga sebagian rambut hitamnya tertutup dan mukanya menggunakan kacamata besar dan bermasker sehingga benar-benar tersamarkan.


Langkah  kaki David semakin dekat ketika mendengar percakapan keduanya. Suara itu rasanya sangat dia kenal. Suara yang pernah mengisi hatinya di masa lalu.  Kemudian ia menyadari siapa pemilik suara itu. Suara itu  adalah suara dari  mantan kekasihnya yang sering mengganggu kehidupan keluarganya.


"Dila.... kenapa kamu ada di sini ?" David bertanya dengan nada tidak suka.


"Daaaavid ... "Wanita itu menjawab dan ekspresinya menunjukkan keterkejutannya. "Kamu sendiri kenapa  bisa ada disini ?"


Dean yang berada diantara keduanya memandang interaksi kedua orang dewasa di depannya. "Tante.... tante juga  kenal papaku ?"


"itu papamu ?" Dilla bertanya kembali dan memandang anak kecil yang berada diantara dirinya dan David. Dean mengganggukkan kepala, sementara David hanya diam memperhatikan.


"Iya tante ....  ini papaku ...  Papa , tadi aku yang menabrak perut tante ini karena tadi aku berlari lari dan sering menengok ke belakang lihat papa dan nabrak deh.....jadi aku meminta maaf pada adek bayi!'  Dean berusaha menjelaskan kronologis kejadian tentang wanita itu pada papanya dan ia tidak menyadari bahwa keduanya saling kenal. Dean memegang tangan papanya dengan penuh riang dan tidak menyadari ekspresi papanya yang sedikit tegang ketika melihat wanita itu.


David memperhatikan perut Dilla dan ia berusaha menetralkan perasaan amarahnya pada wanita ini.  Huff. Dia memandang Dilla yang tersenyum hangat padanya.


"Apa khabar Dilla?' Sudah berapa bulan kandunganmu?" Tanya David dengan pelan sambil mengulurkan tangannya dan disambut oleh Dilla. Mereka berjabat tangan dan saling bertatapan. Dilla menyadari tatapan David yang sudah berbeda dibandingkan dengan David yang dulu pernah memujanya.


"Aku baik-baik saja... Maafkan sikap dan tindakanku di masa lalu,  ....aku sudah belajar melupakanmu, David.  Kandunganku sekarang sudah hampir 5 bulan. Apakah istrimu sudah melahirkan?"  Dilla mengingat terakhir kali Soffie sedang mengandung dan sekarang David berada di  lobby rumah sakit bersalin bersama anak lelakinya  berarti wanita itu sudah melahirkan anak keduanya.


"Sampaikan salamku pada istrimu, katakan padanya.....aku minta maaf....  " Dila berkata lirih.


"Hemm... ya akan kusampaikan padanya,  Sekarang  Aku harus pergi.... semoga kamu dan bayimu sehat-sehat saja.... emh mana Toshihiro ? Dia tidak mengantarmu , kamu ingin periksa kandungan kan?" David menatap sekeliling dan tidak ada tampak bayangan pria yang pernah ditendangnya beberapa waktu yang lalu di Ottawa.


"Dia hanya bagian dari  masa laluku...... sama seperti kamu juga masa laluku... tapi kamu  adalah masa lalu yang berbeda.  Maafkan kesalahanku di masa lalu dan upayaku yang salah di beberapa waktu yang lalu...kurasa kamu paham maksudku!' Dilla berkata pelan namun masih didengar oleh David.


"Hemm.... aku sudah memaafkanmu, Dilla. Kuharap kamu bahagia dengan pilihanmu... Siapapun dia yang menemanimu di kehidupanmu, kuharap kamu bisa bahagia menjalani hidupmu, keluargamu  dan karirmu tetap bersinar Dilla!" David berkata dengan tulus. Ia sudah tidak marah lagi pada wanita yang diduga hampir membunuh istrinya.


"Terimakasih Dav.... memang kamu adalah teman yang paling baik yang aku punya," Dilla berkata Lirih dan ia melihat  Dean berdiri diantara mereka dan terus memperhatikan interaksi keduanya.


Dean menatap tajam pada Dilla . Mata Dean mengingatkan Dilla pada mata Soffie. Dilla  merasa bersalah menatap Dean. Menurut hati Dilla , pandangan Dean menunjukkan ekspresi tidak suka. Padahal itu adalah ekspresi tidak mengerti darinya memandang interaksi kedua orang dewasa yang berada di dekatnya.   Wajah David di turunkan di Dean, namun mata yang dimilikinya adalah mata Soffie.


David menyadari tatapan anaknya  itu dan akhirnya ia menyudahi dengan sopan. "Dilla... anakku sudah kelaparan, ia mau makan ayam goreng... maaf tidak bisa menemanimu ke dokter.


"Terimakasih David dan Dean.... emh  apakah boleh tante peluk Dean ? " Tanya Dilla pada Dean. Pria kecil menganggukkan kepala. Ia merentangkan tangannya dan Dilla sedikit menunduk  untuk memeluk Dean.


Dilla memeluk Dean erat dan mencium keningnya. Maafkan aku .  Dalam hatinya, jika bukan karena kesalahannya, tentu pria kecil ini adalah anaknya. Tapi dirinya dan David memang tidak ditakdirkan bersama. Dilla tersenyum pada Dean.


"Sayang ...kamu anak yang pintar dan baik seperti papamu..... kapan-kapan kita bisa ngobrol lagi ya!'

__ADS_1


"Iya tante... sekarang kita mau beli ayam goreng dan es krim corn itu lho !" Jawab Dean dengan riang.


"Dav... terimakasih atas segalanya,  Karena kesalahankulah, aku kehilanganmu, tapi percayalah aku tidak pernah ada kata menyesal bagiku  untuk pernah mencintaimu, dan aku tak akan pernah melupakanmu karena kamu pernah menjadi orang yang mengisi hari-hari indahku dan yang menemani aku di masa kesusahanku. Terimakasih telah menjadi masa lalu yang indah dan maafkan aku !"


"Maafkan aku juga jika ada salahku, terimakasih telah memilih menjadi teman...aku mendoakan kebahagiaanmu, Dilla.


"Salam untuk istrimu.... aku pamit !"  Dilla berjalan meninggalkan kedua lelaki itu dan melewati mereka dalam diam. Lahkahnya mantap menuju meja  pendaftaran pemeriksaan kandungan.   Kedua pria itu melangkah menuju pintu keluar lobby tanpa menengok kembali.


David hanya mampu menghela nafas dalam diam. Ia tahu hubungan pertemanan macam apa yang akan dijalani dengan Dilla.  Teman yang saling memandang dari jauh demi hubungan baik dalam keluarga mereka masing-masing. Ingin tahu siapa suami Dilla sekarang, tapi rasanya tak mungkin. Tidak ada yang penting untuk diketahui lagi dari mantan kekasihnya. Ia cuma berharap Dilla bahagia dengan pilihannya.


 


 


 


 


*****


 


Happy Reading Guys!"


Benerkan masa lalu itu cuma kenangan, alias  cuma untuk sejarah. Yuk yang setuju ataupun yang  tidak setuju , bolehkah meninggalkan komentar/like/poin/hadiah/ apapun itu. Thanks telah membacanya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2