Cinta Kan MembawaMu Kembali

Cinta Kan MembawaMu Kembali
S2 :68.Eksekusi (2)


__ADS_3

Percayalah pada hati nuranimu,  meskipun kamu tidak dapat membuat alasan.untuk membuat orang lain percaya pada nalurimu .


 


*****


"Rief... Arief, " Suara John mencari arief di dapur kering, setelah sebelumnya mereka berpencar.  Tidak terlihat Arief di sudut dapur  kering ini. Di  arahkan senjatanya menuju  ruangan  lain yang tertutup itu. Gudang. John melihat sudah ada dua pembantu wanita yang tergeletak di lantai. Ia tidak menemukan partnernya. Arief , dimana kamu ?" John bergumam dalam hatinya. ia terus waspada dalam tindakannya.


John berbalik dan semakin yakin bahwa yang sedang menyerang mereka adalah "Cepot Berdarah". Pria yang pernah ditangkapnya sekitar dua belas tahun lalu yang lalu  bersama partnernya telah kembali menyerang mereka dalam tugas dan mungkin sudah mengalahkan sang sahabat yang telah bertugas bersama selama 20 tahun.


Arief. Dimana kamu rief?" Kamu baik-baik saja kan.... John masih berharap Arief baik-baik saja dan mampu membantunya melawan "Cepot berdarah"  Apa yang harus kulakukan jika kamu tidak ada sobat.?" Desis hatinya  sambil mengamati tiap ruangan.


Seharusnya pria yang memiliki julukan "Cepot berdarah" itu bertambah usia seperti dirinya.  Langkahnya seharusnya sudah tidak selincah dulu, masakah si cepot itu masih tetap lincah. John masih berputar menyelidiki dapur itu dan tidak ada siapapun selain kedua pembantu yang tidak sadarkan diri. John merasa ujung tombak menangkap penjahat itu berada di pundaknya.


Tiba-tiba ia merasa mendengar suara ledakan dari arah depan dan sepertinya ledakan itu berada di lantai dua rumah ini. Oh ..no... kenapa dia terjebak di sini. John segera berlari menuju ke arah sumber suara untuk melihat apa  yang bisa dilakukannya.  Ia yakin sekarang "Cepot Berdarah "telah berganti model serangan. Pria itu makin hebat, dia terus mengasah keahliannya tidak sebagai seorang sniper tetapi sudah belajar ledakan dan menyerang dalam senyap.   John merasa sedih, lemah dan kecil karena ia kalah dalam menghadapi "Cepot  berdarah" yang terus giat belajar dalam setiap serangannya.


Jhon sangat terkejut ketika  mendapati di lantai dua sudah penuh asap. DIlihatnya juga David baru datang di ruang tamu dan berlari ke arah tangga. Jhon juga melakukan hal yang sama menuju tangga untuk melihat efek ledakan itu. Tapi langkahnya tidak secepat David yang lebih muda belasan tahun darinya. Ia semakin tua dan tidak lincah. Semoga mereka yang berada di lantai dua bisa diselamatkan. "Tolong bantu kami, Tuhan !"


 


 


*****


Jam digital di mobil David menunjukkan pukul 19.07.  David sudah bergerak berulangkali bertanya pak Kidi, mengapa macet sekali menuju rumahnya. Ia benar-benar khawatir pada keluarganya terutama pada Soffie yang sedang mengandung buah cintanya yang ke dua.


Padahal Pak Kidi sudah beberapa kali memotong jalur untuk bisa lebih cepat sampai di rumah karena David sudah resah dan lebih emosional. Lokasi David memang sekarang sudah berada di daerah Kebayoran dan kendaraannya tetap berhenti dantidak bisa jalan karena lalu lintas begitu  macet dan padat akan kendaraan di seluruh jalan utama. Ini adalah jam pulang kerja bagi masyarakat yang berada di ibukota negara Republik Indonesia.


Telephone dari Sonny yang ada di rumah sedikit  mengalihkan David dari rasa kesalnya pada jalanan yang macet menuju rumahnya. Digesernya tombol hijau di handphone miliknya .


"Ya Son..."David menjawab dengan menyandarkan kepalanya ke kursi mobil yang nyaman.


"Elo dimana, Vid ?"


"Sudah dekat rumah... kenapa?"


"Rumah lagi di serang.... satpam di depan sudah tidak bergerak.. cepatlah pulang !"  Sonny  agak berteriak karena sesungguhnya ia sudah  panik melihat gelagat di rumahnya dan suaranya sangat terdengar di telephone dan itu  sangat mengejutkan David.

__ADS_1


"Aku akan lari saja  ke rumah, bentar lagi aku datang ..... bilang Soffie, aku segera pulang !"  David berkata dan memutuskan panggilan telephone dari Sonny, sambil keluar dari mobilnya tanpa pikir panjang dan meninggalkan Michael,  sang assisten yang masih membaca beberapa berkas di mobil.


Pak Kidi  juga langsung terkejut ketika  pintu mobil bagian belakang  dibuka oleh David.  Ia melihat David berlari dengan sangat cepat dan menembus kemacetan malam sehingga beberapa mobil membunyikan klakson akibat dilewati  ataupun bagian  kap mobilnya diinjak David.


Michael segera mengikuti boss-nya yang keluar mocil dan  meninggalkan semua berkas di kursi belakang dan mengikuti langkah bossnya berlari melewati  kemacetan. David berlari seperti orang kesetanan. Ia sangat khawatir pada keamanan keluarganya. Michael yang memang jarang olahraga berlari agak kerepotan mengikuti langkah David yang cepat. Ia tertinggal cukup jauh, namun ia tahu ke mana arah David berlari, pasti menuju rumahnya.


Ketika David  membuka gerbang rumahnya dengan kode mode suara otomatis yang telah distel khusus untuk memudahkan langkahnya memasuki seluruh bagian rumah, ia melihat satu orang satpam tergeletak di dekat pos jaga di bagian depan rumahnya dan satunya tergeletak di dekat pintu masuk rumah utama. David terus berlari menuju ke dalam rumahnya.


Saat langkah pertama  David  menginjak di teras , Ia mendengar sebuah bunyi  ledakan di dalam rumah. Bukan ledakan yang memiliki daya ledak besar namun pasti ledakan itu merusak bagian yang mendapat  lemparan di dalam rumahnya.  Aduh .... Tuhan tolong selamatkan keluargaku !"


David langsung membuka pintu rumahnya dan dilihatnya John polisi yang bertugas jaga berlari dari arah dapur menuju lantai dua rumahnya. David tidak sadar ia  begitu  takut sehingga tidak terasa air matanya mengalir  dan langsung reflek berteriak.


"Soffie... Soffie... Dean.... !'


David masih  berlari dan di belakangnya menysul John yang juga berlari menuju lantai dua rumahnya.  Dalam hati ia terus berdoa pada Tuhan.   Tolong selamatkan keluargaku... kasihanilah aku, ya Tuhan.....Soffie.... maaf aku terlambat datang.... kamu pasti tidak apa-apa... tunggu sebentar sayang... itu adalah kata-kata yang terus diucapkan David di dalam hatinya.


Lima langkah menuju lantai dua, ia melihat seorang pria yang berpakaian satpam sedang mengacungkan pisau yang panjang mirip dengan samurai. Pisau itu berkilat dan terkesan haus akan darah. Di bawah pria itu tertelungkup seorang wanita yang terbaring tidak sadarkan diri.


"Soffie !" Teriak David.  "Hei... kau ... Kau Hasanudin.... lepaskan istriku !" Teriak David dengan histeris sambil berlari menuju pria yang tersenyum dengan sinis pada David.


"Kau tidak mungkin menyelamatkannya David....!" Jawab Handoyo dibalik kostum satpam yang bernama Hasanudin.


Dor...........  Dor .....


Tubuh Hasanudin terpental ke belakang dan pisau itu terjatuh di samping wanita yang sebelumnya terbaring di lantai.  Dua tembakan bersarang di tubuhnya membuat ia  tidak mampu bergerak dan memandang si penembak yang ternyata seorang wanita.  Ia memandang penuh kebencian pada penembaknya.


Martini ... "Desisnya. Ia kecewa tertipu oleh wanita tua itu. Ia menyesal tidak membereskan wanita tua itu sebelumnya. Ia mengabaikan wanita yang diperkirakan tidak mampu bertindak apapun. Seharusnya ia memperkirakan bahwa David berani memperkerjakan wanita itu pasti karena ada kelebihannya. Bodohnya aku.


Wanita tua  itu pura-pura pingsan karena menggunakan masker di saat ledakan asap granat yang berisi "NT45" yang dapat membuat orang yang menghirupnya pingsan selama 3 hari. Tapi kenapa yang lain pingsan semua di ruangan ini... kenapa wanita tua ini bisa masih mampu  melawanku. Aku dikalahkan oleh seorang perempuan tua.


David tidak mampu berkata apapun. Ia menyaksikan di depan matanya secara langsung  wanita yang terbaring di lantai mengangkat senjata dan menembak Hasanudin dari jarak dekat. Apakah Soffie sudah mampu memegang senjata. Akh tidak mungkin...


"Bu Martini.... oh Ibu Martini... " Panggil David begitu tiba di samping ibu Martini. Ia melihat wanita itu mengeluarkan darah dari telinga dan hidungnya, meski tertutup masker. Dan Ibu Martini tersenyum ketika melihat kedatangan David  seakan menyatakan tugasku selesai.


"David.... " Ibu Martini menjawab lirih dan langsung pingsan tidak sadarkan diri.


"Bu Martini.... "Teriak David.

__ADS_1


 


 


*****


 


 


 


 


 


Happy Reading Guys.... semoga masih berbaik hati membacanya.


Bolehkah tinggalkan komentar/ Saran/ poin/ Hadiah/ Like, biar makin semangat nulisnya. Besok sambung lagi ya.... jangan lupa jaga imun tubuh. Tetap semangat dalam jalani aktifitas hari ini. Tuhan Berkati kalian semuanyaa..


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2