
Kamu tersenyum tapi sebenarnya kamu ingin menangis , betapa kamu ingin tunjukan kepada dunia bahwa kamu berbahagia atas kehidupanmu, tapi hati kecilmu tahu bahwa kamu sedang membohongi dunia.
*****
Dua minggu setelah peristiwa serangan yang terjadi di rumah David Pratama, Ibu Martini sudah pulih dan diijinkan untuk pulang dan dapat beraktifitas seperti sedia kala . Namun Ibu Martini meminta ijin kepada polisi yang bertugas menjaganya selama sakit untuk diijinkan melihat raut wajah asli "Cepot berdarah" dan bercakap cakap dengan pria itu. Setelah menunggu beberapa jam keputusan dari pihak kepolisian akhirnya dikeluarkan.
Ibu Martini sangat berbahagia ketika diijinkan melihat dan bertemu secara langsung dengan pria yang ditembaknya beberapa minggu yang lalu. Pria itu sudah lebih dahulu pulih keadaannya dan berada di dalam pengawasan polisi secara khusus.
Dalam ruangan khusus penyidikan Mabes Polri, ia duduk didampingi dua orang polisi yang sama-sama menemani Ibu Martini ketika bertugas di rumah David Pratama. Pria itu duduk dengan santai di ruangan itu sendirian. Ibu Martini masih memperhatikan di balik kaca bersama Pak Arief dan Pak John.
Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter ada kemungkinan pria itu mengalami gangguan jiwa dan sulit diprediksi tindkannya. Untuk itu Pak Arief meminta Ibu Martini tetap menanti di balik' kaca ruangan batas' yang tidak terlihat oleh pelaku sehingga aman untuk kondisi Ibu Martini. Namun wanita tua itu menolaknya dan bersikeras mau ikut masuk.
Setelah melakukan beberapa perjanjian dengan kedua polisi itu, Ibu Martini bersedia untuk duduk di posisi yang lebih jauh yaitu di dekat pintu kaca dan bertugas menekan bel tanda bahaya jika keadaan tidak kondusif. Mereka memasuki ruangan interograsi dan langsung mendapat tatapan tajam dari pria itu.
"Akhirnya kalian datang juga !" Handoyo berkata dengan gusar.
"Apakah kalian mewawancaraiku sampai harus membawa ibuku ?" Makin payah saja kerja kalian... bukan makin profesional !" Handoyo menatap tajam pada Ibu Martini dan melihat penampilan wanita yang menggunakan tongkat namun ada gurat ketegasan disana.
"Kau mengenalnya Pak Handoyo ?' Tanya Arief singkat tanpa mempedulikan cercaan pria itu.
"Ya... sudah tentu . Kenapa aku tidak mengenali wanita cerewet itu... setiap hari ia mengomeliku untuk hal yang tidak penting.... kenapa ibuk kemari?" Handoyo berkata dengan ketus pada Ibu Martini. "Bukankah hasil pencurianku sudah kuberikan padamu, ibuk?"
"Aku mau melihat bagaimana keadaanmu, nak?' Ibu Martini mengikuti sandirwara yang dibuat oleh Handoyo. "Apakah lukamu sudah sembuh?"
"Hem... seperti yang ibuk lihat... aku tidak mudah mati dan akan terus sehat... jangan pernah temui aku lagi buk!" Aku tidak suka ada yang menengokku kecuali pengacaraku !" Panggilkan dia Arief!" Aku tidak mau berbicara sampai pengacaraku datang !"
Handoyo langsung duduk santai dan menatap tajam pada Arief dan John. Sementara Ibu Martini terus memperhatikan Handoyo yang terlihat tidak mempedulikannya atau tidak mengingat bahwa ia adalah orang yang menembaknya beberapa waktu yang lalu.
"Pengacaramu sedang dalam perjalanan kemari... apakah kau ingat siapa pengacaramu ?"
"Tidak penting aku mengingatnya... yang pasti dia mengingatku... mungkin satu Indonesia ini mengingatku.... aku adalah .... " Handoyo terdiam dan menatap pada Arief dan John.
"Kenapa diam?" Lupa julukanmu ?" John berkata dengan nada meledeknya. Pria itu masih terdiam.
__ADS_1
"Arief... panggilkan pengacaraku!"
Kedua polisi itu terpaksa harus menghentikan penyidikan karena permintaan tersangka yang akan berbicara jika di dampingi pengacaranya. Dan itu merupakan salah satu hak seorang tersangka. Akhirnya kedua polisi dan Ibu Martini meninggalkan Handoyo yang masih duduk terdiam di kursinya.
*****
Malam itu Dilla telah selesai dari tugasnya bernyanyi di atas panggung Kota Bandung dan ia sedang bersiap untuk meninggalkan podium hingga seseorang pria berbaju hitam menghampirinya.
Awalnya Dilla menggeleng sambil tersenyum ramah karena berfikir bahwa pria itu adalah salah satu penggemarnya yang suka mengejarnya dimanapun berada dan Farrah, sang assisten yang baru bergabung beberapa waktu yang lalu, langsung menghentikan tindakan pria itu dengan meminta identitasnya karena pria itu seperti menjegal langkah artisnya.
Pria itu berumur sekitar tiga puluhan dan menggunakan kacamata. Terkesan pria yang serius dan baik-baik. Pria itu dapat menunjukkan kartu identitas bahwa ia seorang Crew Acara pentas tempat Dilla manggung. Dari yang terlihat jenis dan warna kartunya terlihat sama dengan kru lainnya, selain itu ia menggunakan kaos hitam seperti Crew yang lain, sehingga Farrah menganggukan kepalanya dan mengijinkan menghampiri Dilla.
"Mbak Dilla... bisa minta waktunya ?" Boleh berfoto berdua dengan Mbak DIlla ?" Sapa pria itu dengan penuh harap.
"Boleh... Ayo kita foto sekarang ...emh... bagaimana jika di dekat bunga-bunga itu biar cantik hasilnya , " Ajak Dilla sambil mengajak pria itu ke salah sudut.
Pria itu tersenyum bahagia menatap Dilla dan kemudian menyerahkan handphonenya pada Farrah untuk meminta memfoto mereka.Farrah mengambil posisi agak menjauh untuk memfoto mereka.
Dilla mengangguk dan mendekatkan tubuhnya ke pria yang meminta foto itu. Pria itu tersenyum ke arah kamera dan Farrah memperhatikan sambil mengambil gambar pria itu dan Dilla. Tanpa Curiga Dilla merangkulkan tangannya ke pinggang pria itu. Dilla dan pria itu tersenyum ke arah kamera handphone.
"Foto ini untuk mas Handoyo , mbak ?' Kata pria itu sambil berbisik. "Aku akan menemuinya jika ia sudah boleh dikunjungi... apakah kau ada pesan untuknya ? "
"Siapa kamu ?" Siapa Handoyo? " Dilla terkejut ketika pria itu menyebut nama Handoyo .
Dilla harus menutupi apapun yang berkaitan dengan Handoyo sesuai perkataan pria itu. Ingin berkata bahwa ia adalah kekasih Handoyo tapi Handoyo memintanya untuk menutup mulutnya.
"Bukankah kamu adalah wanita yang membuat bossku tertangkap, karena ulahmu yang membuat dia berganti rencana perampokan... kamu kan wanita yang memundurkan jadwal operasi kami... harusnya kamu yang dihukum bukan dia ," Pria itu masih tersenyum menatap kamera yang terus diambil oleh Farrah.
Dilla memperhatikan pria itu. Apakah pria ini adalah teman dari Handoyo? Dilla terdiam dan itu diperhatikan oleh Farrah, sehingga dianggap oleh asisten bahwa Dilla meminta sesi foto dihentikan.
"Maaf aku tak mengerti maksudmu...!" Killah Dilla.
"Tapi Handphone ini bisa menjelaskan beberapa kali kau menghubungi dan meminta dia ke apartemenmu.... dan aku bisa membuktikan sebelum operasi dia bersamamu...., " Pria itu menatap tajam dan seperti sedang marah. " Kau bertanya... mas Handoyo, datang donk ke apartemenku... mas handoyo, aku merindukanmu...." Pria itu menatap seakan mengejeknya.
__ADS_1
"Apa maumu ?" Dilla akhirnya mengalah dan meminta Farrah menjauh dengan memberikan kode pada pria itu.
"Jangan ganggu dia... dengarkan dia akan bebas tidak lama lagi tapi kau harus lepaskan dia dari pengaruhmu !" Kata pria itu lagi dan menatap dengan tidak suka pada Dilla.
"Tidak mungkin aku melepaskannya... karena aku sedang mengandung anaknya !" Dilla berbisik dan pria itu tersentak kaget. Ia melangkah mundur dan pergi meninggalkan Dilla. Pria itu melangkah pergi tanpa berkata apapun.
Pria itu adalah Adrian yang ikut membantu dalam menangani pengacauan sinyal internet, jaringan dan listrik di rumah David beberapa waktu yang lalu sehingga semua atraksi yang dilakukan Handoyo tidak terekam kamera dan tidak bisa dijadikan bukti kejahatan.
*****
Happy reading temans.... selamat membacanya semoga masih berbaik hati dan bersedia meninggalkan jejak disini dalam rangka cerita yang menuju final season. Thanks a lot all.
__ADS_1