Cinta Kan MembawaMu Kembali

Cinta Kan MembawaMu Kembali
S2. 15. Berikan kami restu !"


__ADS_3

Jangan kuatir ! Kita akan hadapi setiap prosesnya bersama-sama ! Jadi tetap pegang tanganku apapun yang terjadi dan kita akan mampu melewatinya dengan sukacita.


 


*****


Sudah 3 hari Henry dan Santika menikah di Bali. Dan setelah menikmati bulan madu yang tidak direncanakan, Mereka berdua packing barang-barang mereka dan berpamitan pada Bapak Made, untuk kembali ke Jakarta dan kembali ke aktifitas normal mereka. Santika sudah mengundurkan diri dari perusahaan yang baru saja menerimanya untuk bekerja selama di Denpasar. Ia akan mengikuti kemanapun Henry mengajaknya tinggal.


Setiba di Bandara  "Soetta " Jakarta, Santika menarik nafas lega karena tiba dengan selamat di Jakarta dan sesungguhnya  ada seraut kekhawatiran di hatinya. Ia terdiam dan menunggu Henry mengambil koper mereka. Ketika Henry datang dan membawa 2 koper besar, Santika tersenyum.


" Sayang... ayo jalan , " Kata Henry mengajak Santika meninggalkan terminal kedatangan penumpang dan menuju ke pool tempat memberhentikan taxi ataupun bus damri.


"Hen.... kita akan pulang ke mana?"  Santika bingung apakah kita berpisah di bandara dan pulang ke rumah masing-masing atau maukah Henry mencari kontrakan mengingat Santika tidak memiliki hubungan yang akrab dengan keluarga Henry.


"Ke rumahku dululah... besok kita ke rumahmu, besok aku akan temui ayahmu dan bicara padanya, " Jawab Henry santai.


"Hen... bagaimana jika bundamu tidak menyetujui aku , Hen... dan mungkin...


"Hei... jangan kebanyakan berfikir yang tidak-tidak tentang bundaku ... aku mengenalnya. Jangan khawatir sayang !" Kita akan hadapi setiap prosesnya bersama-sama! Dengar apapun yang terjadi tetap pegang tanganku dan kita akan lewati semuanya dengan sukacita!"


"Kamu yakin Hen ?"


"Ya.... ayo taxi- nya sudah datang.


Santika memasuki taxi yang distop oleh Henry dan sopir segera membantu Henry memasukan koper ke Bagasi dan meninggalkan Bandara Sukarno Hatta menuju Graha Pejanten.


Ketika tiba di depan rumah Henry, waktu sudah menunjukkan pukul 21.15. Rumah sudah tertutup rapat dan tampak penghuni sudah terlelap karena tidak terlihat aktifitas di dalam rumah. Henry membuka pintu samping dekat garasi mobilnya karena memang ia memiliki kunci.  ketika berhasil memasuki rumah segera lampu tengah dinyalakan dan tampak dari arah dapur mbak yanti baru terbangun dan terkejut melihat Henry datang membawa perempuan.


"Eh... den Henry sudah pulang ... apakah aden  sudah makan?" Mau makan apa den ...dan nona...


"Makasih mbak yanti, ntar saya dan istri saya bikin makanan sendiri aja... Oh ya.. non ini namanya tika, ntar besok aja ya kenalannya ini sudah malam... istirahatlah mbak yanti !"


"Oh... selamat datang nona tika... saya buatkan teh hangat saja ya, ntar saya antar ke kamar den Henry !"


"Terimakasih mbak, " Jawab Santika ramah.


Mereka memasuki kamar Henry dan Santika meminta ijin untuk membersihkan badan dahulu dan Henry merapihkan sebagian barang-barang. Ia mulai berfikir, ternyata kamar ini akan sempit jika ditempati berdua dengan istrinya, tapi mengajak Santika keluar rumah dan mengontrak rumah, tentu bunda tidak mengijinkan karena ia adalah anak tunggal. Orangtuanya tidak ingin berpisah tempat tinggal dengannya.


Dan ketika Santika di kamar mandi, Bunda dari Henry mengetuk kamarnya yang datang bersama mbak Yanti. Henry meminta mbak yanti menaruh minuman dimeja di dalam kamarnya.


"Henry, ... 'panggil Bunda sambil mengamati kamar Henry dan mencari perempuan yang katanya menantunya.


"Ya bunda.


"Bisakah kita makan bersama sekalian berkenalan dengan istrimu... bunda ingin melihat dan ngobrol dengannya?"


"harus sekarang bun?"


"besok kan kamu dan ayahmu bekerja, dan Bunda belum mengenalnya... bagaimana jika ia canggung terhadap bunda dan besok dia mengurung dirinya di kamar?"


"Baiklah bunda, aku takut bunda dan ayah lelah.. Bunda mengenalnya ko, dulu aku pernah mengajaknya berkenalan  tapi mungkin bunda lupa, jadi kupikir besok saja pas sarapan pagi!"  Bun...sebentar Santika lagi di kamar mandi, nanti aku ajak ke ruang makan bunda... emh ... bunda... ntar tanya tika jangan susah-susah ya...


"Jadi kamu takut Bunda menginterogasi istri kamu ?"


"Gak bunda.... sudahlah... sebentar aku ganti kaos dulu, "jawab Henry santai sambil meninggalkan bunda yang masih berdiri di depan kamar.


"Bunda siapkan makanan ya, hen.... cepatlah !"


"Ya....


 


*****


Bunda dan Ayah sedang duduk di meja makan menunggu pasangan pengantin yang baru pulang dari pernikahan mendadak. Sebenarnya sebelum pergi ke Bali, Henry sudah meminta ijin kepada orang tuanya untuk menyusul kekasihnya di Bali  yang menghindarinya bahkan memutuskan hubungan. Henry mengatakan pada bunda, jika ia tidak akan pulang jika tidak berhasil membawa Santika bahkan kalo perlu menikahinya di sana. jadi kedua orangtuanya sudah tidak terkejut dengan langkah anak lelaki satu-satunya.


" Bunda dan Ayah, aku membawa istriku kemari untuk tinggal bersama kita disini, semoga Bunda dan ayah tidak berkeberatan, " Kata Henry ketika menuju ke ruang makan melihat kedua orangtuanya yang terlihat memandang kearah menantunya. Santika menggenggam erat jemari suaminya seakan meminta perlindungan. Ia khawatir menghadapi mertuanya yang sedang menatapnya.

__ADS_1


"Sini nak tika... duduk di sebelah bunda, " Ujar Bunda dengan lembut.


Santika menarik nafas lega, ternyata sang ibu mertua tidak marah karena mereka menikah mendadak di Bali. Dahulu ketika Santika datang ke rumah ini pertamakali diajak Henry ,Bunda sedang ada banyak tamu karena sedang ada acara arisan keluarga besar sehingga mereka tidak terlalu dekat untuk ,mengobrol.


"Baik bunda


Santika duduk di sebelah bunda dan Henry diseberang nya. Santika malam itu hanya menggunakan piyama berlengan pendek berwarna hijau muda dan celana selutut.  Sementara Ayah hanya memandang wajah menantunya dan tersenyum. Ia memandang perut menantunya dan melirik anaknya.


"Tika... apakah kamu keberatan jika ayah akan mengadakan pesta pernikahan kalian karena Henry adalah anak tunggal dan ayah sangat berharap kita bisa menggelar pesta untuk menyambut menantu ayah dan sebelum perut kamu membuncit  dan jadi tidak cantik di pesta.


"Ayah.... apa-apan sih.... , " teriak Henry terkejut mendengar pernyataan pembuka dari ayahnya.


"Bukankah kamu karena menghamilinya jadi menikah dadakan?" Selidik ayah pada Henry.


"Santika tidak lagi hamil ayah, dan aku tidak pernah menyentuhnya selama ia masih menjadi kekasihku.


"Bunda.. kemarin dia bilang apa...., dia nyaris kelepasan dan hampir  melakukannya... bukan begitu sehingga ia memaksa kita  merestuinya?" tanya ayah lagi.


"Ayah... aku memang kemarin hampir kelepasan dan aku baru menyentuhnya setelah aku menikahinya... masalah pesta aku terserah ayah dan bunda saja... dan besok aku akan menemui Ayah Santika, yah... jadi kumohon restuilah kami, yah...


"Bagus nak... kamu harus bertanggungjawab atas perbuatanmu !" Tika... apakah kamu keberatan dengan rencanaku mengadakan pesta?"


"Emh... aku terserah Ayah, Bunda dan  Henry saja ,..aku yakin pasti kalian semua merencanakan yang terbaik, " jawab Santika sambil tersenyum. Henry puas mendengar jawaban Tika yang terdengar tulus.


"baiklah... pesta akan diselenggarakan bulan depan... Henry, kamu urus dulu masalah dengan  mertuamu, nanti ayah akan datang menemui ayah tika jika mereka sudah siap.


"Terimakasih ayah.... " Jawab Henry sambil menikmati makan malam dengan penuh semangat. Mereka menikmati makan malam dengan penuh kekeluargaan, tidak ada drama yang seperti dibayangkan oleh Santika.


 


 


 


*****


Hari menjelang sore, ketika mobil henry berhenti di pagar teralis putih  yang merupakan kediaman orang tua Santika. Ketika Henry turun   dari mobil, Santika masih terduduk di kursi penumpang. Ia sedikit ragu karena


orang tuanya.


Dibukanya pintu mobilnya dan digenggamnya  jemari tangan Santika.


“Jangan takut… aku yang akan bicara pada  Ayah.. Jika dimarahi, kita mengaku salah saja, dengarkan saja amarahnya, memang kita salah ko...


“Aku takut ayah tak memaafkan aku, Hen….  Ayah pasti marah padaku… Apa tidak lebih baik kita pulang saja ya?”


“Aku suamimu yang akan bertanggungjawab  pada ayahmu


Akhirnya Santika bersedia turun dari mobil  Henry dan turun memasuki halaman rumahnya. Dipencetnya bel di pintu rumahnya.  Padahal ia biasanya langsung masuk dan mengambil kunci cadangan yang berada di bawah pot sebelah kiri dekat rak penyimpanan sepatu.


Ketika pintu dibuka, seraut wajah wanita separuh baya membukanya dan wanita itu terkejut melihat siapa yang memencet bel.


“Tika….. tika… kamu akhirnya pulang nak !”  Airmata wanita itu turun dengan lancar dan langsung memeluk anaknya yang menghilang hampir dua minggu tanpa kabar.


“Maafkan aku, ibu… maafkan aku, “ Ujar  Santika sambil menangis di pelukan ibunya. Henry hanya melihat kedua ibu dan anak itu saling menangis berpelukan hingga tidak sadar bahwa sesosok suara yang keras terdengar.


“Masih ingat rumah ini, kau !”


Pelukan itu terlerai akibat terkejut  mendengar “Sang Penguasa “ rumah mengeluarkan teriakannya.


“Ayah….


“Masih ingat ayah… bukankah kamu pergi tanpa pamit dan membuat rumah ini didatangi banyak orang kantormu yang menghilang tanpa kabar dan membuat kami kerepotan !”… kenapa kau masih berani  pulang ?”


“Maafkan aku , Ayah  !”


“Pergilah… Aku tak mau melihat anak  durharka sepertimu!”

__ADS_1


Santika dan ibunya menangis mendengar  jawaban sang ayah yang begitu emosi. Henry yang semula diam, akhirnya ikut  bicara karena jika tidak maka Santika dan ibunya akan terus menangis dan tidak tahu kapan akan berakhir.


“Maafkan aku . Ayah… aku yang salah … Aku  dan Santika mau meminta restumu, kami sudah menikah empat hari yang lalu di  Denpasar… Maafkan kami melangkah tanpa meminta restumu, sekarang aku yang


bertanggungjawab atas Santika.


Lelaki separuh baya itu terhentak mendengar  pernyataan Henry. Lelaki yang beberapa hari yang lalu dikabarkan sudah putus  dengan Sabrina sekarang mengaku sudah menikahinya dan meminta restunya.


Ayah Santika terdiam memandang Santika yang masih menunduk. Kemudian ia memandang pria yang berani mengakui bahwa ia menikahi putrinya.


“Henry… apakah benar yang kamu katakan?


“Iya  Ayah. Maafkan kami, ayah… kami sudah menikah di Denpasar, empat hari yang  lalu dan kami sudah punya buku nikahnya , ayah!”


“Kamu sudah tahu  apa yang diperbuat oleh Santika di masa  lalunya?”


“Iya ayah… Aku tahu dan aku tetap  mencintainya… Aku tidak bisa jika aku harus berpisah dengannya. Memang dia terkadang mengesalkan, tapi aku merindukannya jika dia jauh dariku.  Aku tidak bisa hidup tanpanya, karena cuma dia yang mengerti aku, Ayah.... Aku yang menyusulnya ke Denpasar dan menikahinya di sana, Ayah.... maafkan aku... kumohon berikan kami restu, Ayah !"


Kesan Ayah Tika yang begitu dingin pada Henry dan memang Ayah belum menyetujui pernikahan mendadak yang tanpa seijinnya.  Rasanya ingin menolak pernikahan putri kesayangannya, tapi apa hendak dikata putrinya sudah menikah dan pria itu mau bertanggungjawab pada kehidupan putrinya.


“Santika dulu anak yang baik dan cerdas,  tapi karena ada masalah di pekerjaanku, maka Santika menjadi tulang punggung  keluarga ini ketika ia kuliah… aku yang juga ikut salah padanya, seandainya  dulu…


“Ayah…. Tidak salah… aku yang salah langkah  ayah, “Ujar Santika sambil berlari memeluk ayahnya.


Ayah, Ibu dan Santika  mereka saling berpelukan dan bertangisan dengan sangat sedih. Henry tersenyum melihat keluarga istrinya kembali   berbaikan dan langkahnya tidak terganjal restu. Terimakasih Tuhan.


"Ayah merestui pernikahan kalian nak... Tika, jangan pernah kabur lagi, apapun yang terjadi, kamu ini tetap anak ayah... jika kamu sakit, ayah juga akan sakit.... patuhi suamimu, belajarlah jadi istri yang patuh dan ingatlah kamu harus berubah jadi wanita yang sholeha... perbaiki Sholatmu!"


"Terimakasih  ayah...


"Henry, kuserahkan anak kesayanganku.... maafkan dia jika dia ada salah... jika kamu akhirnya bosan atau bagaiman, tolong kembalikan kepadaku saja... jangan sia-siakan dia... aku sangat menyayanginya... "Jawab Ayah Tika pada Henry.


"Ayah... aku akan bersama Tika selamanya, kami akan membesarkan  anak-anak kami bersama-sama, ayah hanya perlu merestui kami.. kumohon ayah, tolong restui kami !"


"Baiklah, Ayah merestui kalian berdua.  Henry.... maafkan Tika ya.... Ayah mohon terima dia dan cintai dia


'Terimakasih ayah telah merestui kami.... aku akan menjaga dan mencintai dia , Ayah..


 


 


*****


Henry dan Santika akhirnya pulang ke rumah Henry di Graha Pejaten. Setelah beberapa hari kemudian pertemuan keluarga pun terjadi, Keluarga Henry datang membahas rencana pesta pernikahan Henry dan Santika yang akan  mereka gelar dan merencanakan pernikahan bagi mereka berdua.  Bunda Henry dan Santika sibuk mempersiapkan pesta pernikahan, gaun, cincin dan dekorasi karena Henry harus membayar hutang pekerjaan akibat cuti sakit  dan cuti ke bali. Semoga pesta pernikahan mereka dapat berjalan dengan lancar ... Semoga !!


 


 


 


*****


Happy reading guys !! Bolehkah tinggalkan komentar/ ide/ masukan/ saran untuk karyaku ini.. like /hadiah/ favorit juga oke  ... thx temans sudah membaca karyaku !'


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2