
Jangan pernah menjadikan sebuah masalah menjadi beban hidupmu, jadikanlah masalah tersebut sebagai acuan untuk kamu bisa maju."
Ku tak akan menyerah pada apapun juga, sebelum kucoba semua yang kubisa...
*****
“Any David family here?” Said Doctor. ( **Apakah ada keluarga David disini**)
“ Yes.... his wife here… Mam Soffie\, please ! ’ Said Januar . ( **Ya ada…istri David disini… Silahkan ibu Soffie **)
Januar memegang lengan Soffie yang masih lemas tubuhnya untuk menghampiri dokter yang mencarinya. Tubuh Soffie sangat lemah dan ia sangat takut sehingga tidak memiliki tenaga untuk berjalan. Ditambah ia sedang dalam keadaan halil dan ia harus mendengar penjelasan dokter. Untung Januar adalah assisten David yang bertanggungjawab dan pengertian. Demikian madam Alice menggendong Dean juga bangkit untuk mendengar penjelasan dokter.
“ The patient needs surgery as soon as possible, the accident hit his head too hard and we have to stop his blood flow by surgery. Which family member should be responsible? “ Kata Dokter menjelaskan kepada Soffie dan keluarga yang membuat dada Soffie makin sesak. ( Pasien membutuhkan operasi secepatnya,kecelakaan
menghantam kepalanya terlalu keras dan kita harus menghentikan aliran darahnya dengan operasi. Manakah anggota keluarga yang harus bertanggungjawab?’)
Soffie terkejut mendengar penjelasan dokter dan ia dituntut untuk segera memberikan tanda tangan untuk mengijinkan tindakan medis pada suaminya. Soffie harus berani mengambil tindakan dan menyelamatkan nyawa suaminya yang sedang kritis dan harus segera dioperasi. Ia pun menandatangani dengan tangan gementar. Setelah berkas ditanda tangani dan dokter melakukan tindakan, Januar mengajak Soffie untuk duduk di selasar dekat ruang pasien operasi.
“Bu… apakah saya perlu telepon Pak Bagus dan PakSonny?” Tanya Januar sekaligus memintaijin pada istri pimpinannya.
“Oh … bener juga… aku akan mengabari Papa Bagus dan tolong kamu kabari Kak Sonny ya?’ JIka memungkinkan Kak Sonny untuk bersedia datang ke mari... katakan aku takut mengambil keputusan untuk tindakan medis pada David. "
“Baik bu…
*****
Soffie masih menanti hasil operasi dokter yang masih bekerja keras menangani David, Sementara di ruangan perawatan lainnya Haryanto masih duduk di ruang tunggu mendampingi “Dila” yang juga terluka tapi tidak separah David.
Januar menyembunyikan informasi ini dari Soffie, karena ia masih tidak tahu bagaimana menyampaikannya. Ia hanya menginformasikan keadaan sebenarnya kepada Sonny sehingga membuat Sonny menjadi emosi dan akan
segera pergi Kenada bersama orang tua David sore ini.
Januar menarik nafas… ini resiko menutupi kebohongan boss-nya. Ia melangkahkah kaki meninggalkan Soffie yang masih terduduk di depan kamar operasi, berfikir untuk mencaricoffie untuk menyegarkan pikiran.
__ADS_1
"Bu Soffie, saya keluar dahulu membeli coffe... apakah bu Soffie ada yang mau dibelikan.
Soffie terdiam dan menggeleng. Madam Alice hanya menunjukkan bekal makanan Dean yang dibawa sambil tersenyum. Januar meninggalkan Sofie , Dean dan madam Alice di depan ruangan operasi.
Dengan membawa 4 cup coffe dan 4 cup teh dan beberapa kotak makanan, langkahnya berbelok ke lantai sebelum tempat operasi David. Januar menghampiri Haryanto yang menanti di depan ruang perawatan Dila di lantai yang berbeda dengan ruang operasi David. Ia menarik nafas melihat pria itu tertidur sambil duduk di depan kamar pasien.
“Har… Hary.. “ Panggil Januar.
Pria itu terbangun dan melihat Januar yang menyerahkan segelas coffe. Diambilnya gelas itu. Diteguknya sehingga membuat sebagian kesadarannya kembali. Ia mengulet dan berkata dengan santai.
“Mbak Dila sudah sadar tadi dan menanyakan Pak David…
“Mbak Dila.. sok akrab luh,” Jawab Januar dengan santai duduk di sebelah Haryanto.
“Maksudku Ibu Dila… maaf… sebenarnya aku memang mengenal beliau…
“Ya iyalah, kamu mengenalnya.. orang dia penyanyi terkenal.. siapapun juga kenal tau!” Kamu bilang apa ketika Ibu Dila menanyakan Pak David?'
"Masih belum siuman dan masih dioperasi... dan kukatakan ada istrinya yang menjaganya...
“hemm… gimana keadaan pak David?”
“Masih kritis dan sedang ada tindakan operasi… aku gak tega melihatnya… aku berharap pak Sony cepat datang…. Aku bingung menceritakannya pada Bu Soffie… tunggu Pak Sonny aja deh yang bilang masalah ini!”
“ Jadi kamu udah cerita ke Pak Sonny?”
“Ya… semoga mereka bisa menenangkan bu Soffie. Sore ini juga mereka berangkat mungkin besok jam 4 sore sudah disini…. Kita harus bersiap kenal omel Boss besar.. karena membiarkan Pak David bertemu mantan pacarnya!”
“tapi emang kita bisa melarang Pak David kemarin… kita ini siapa,Jan..?” Seharusnya memang Pak David tetap bertahan tidak pergi dan mendengarkan bujukan Mbak Dila.. Jadi kita berdua yang kena akibatnya.
“Mbak Dila lagi… serasa akrab aja luh!”
“Sebenarnya … aku ini memang akrab… tapi sudahlah, kamu pasti tak percaya padaku.. gimana keadaan Bu Soffie,” Tanya Haryanto.
“Tadi sih sedang telpon bos besar… aku makanya cari minuman hangat… aku kesana ya… takut dicariin… kamu kabar-kabari jika Mbak Dila mencari Pak David dan cegah mereka saling bertemu dulu. .. bar Bu Soffie bertemu dengan Boss Besar dan Pak Sonny dulu… jadi kita gak perlu menjelaskan apapun.. “ Kata Januar sambil bangkit dari tempat duduknya dan beranjak meninggalkan Haryanto.
__ADS_1
“Ya…
Mereka berpisah dengan pikiran mereka masing-masing. Sebenarnya mereka kelelahan dan memikirkan pekerjaan yang belum beres dan harus terhenti karena musibah ini. Namun mereka tidak mungkin meninggalkan kedua korban di rumah sakit ini, sehingga mereka bekerja melalui saluran komunikasi dan teknologi.
*****
Ketika malam tiba, Soffie pulang untuk membersihkan diri dan berganti pakaian, ia meminta madam Alice untuk menjaga Dean malam ini karena ia memilih untuk menjaga David di rumah sakit.
Langkah kaki Soffie seolah berat saat menginjakkan kaki di rumah sakit ini. Ia berjalan dengan ditemani oleh Januar yang terus memaksa menemaninya. Januar berkata jika Pak David pulih dan mengetahui bahwa ia tidak mendampingi Ibu Soffie, ia bisa ditegur bahkan dipecar, Akhirnya Soffie membiarkan pria itu mengantarnya. Ia tidak melihat haryanto karena menurut Januar , pria itu ditugaskan untuk menangani pekerjaan yang harus mereka tinggalkan untuk menjaga Pak David.
David masih belum sadar dan sudah dipindahkan keruang perawatan khusus. Ruangan itu cukup besar dan memiliki Sofa untuk menunggu pasien .
Dokter menyarankan agar pasien dibiarkan istirahat dan tidak boleh membuat keributan yang mengganggu ketenangan pasien. Soffie memasuki ruang perawatan dan duduk di samping ranjang pria yang
sedang terbaring tidak sadarkan diri. Sementara Januar duduk di Sofa, ia membuka ipad-nya dan meneruskan pekerjaan kantor yang sedikit terbengkalai karena konsentrasi harus terpecah mengingat bos-nya sakit.
Sayup terdengan suara Soffie yang berdoa dan setengah berbisik di telinga pada David, namun terdengar jelas di dalam ruang perawatan.
"Tuhan...bantu suamiku untuk melewati sakitnya... beri kesembuhan dan kesadaran padanya, pulihkan segera David dari sakitnya, beri kami kekuatan untuk melewati badai ini Tuhan... Ajarkan kami untuk percaya dan berserah hanya padamu... Amien.
Soffie masih memandang suaminya sambil menangis dan setengah berbisik di telinga suaminya. "Jangan menyerah suamiku... kami menunggumu.. jangan menyerah pada apapun juga, kamu harus berusaha bangkit dan sadar... kami menunggumu !'
“Bie… cepat bangun donk… aku takut disini , kamu belum ajak aku dan Dean jalan-jalan… tapi kamu dapat musibah ini… cepat bangun ya sayang!” Dean mencarimu terus, Bie… ce[pat pulih ya bie... kami menunggumu.
Soffie membenamkan kepalanya di samping ranjang David yang masih dipenuhi kabel dan alat bantu pernafasan David. Digenggamnya jemari pria yang biasanya selalu menopang langkahnya. Soffie menangis pelan disamping David dan ia terus mendoakan agar suaminya segera sadar dan menyapanya kembali . Ia pun tertidur dengan membenamkan wajah disamping ranjang David terbaring .
*****
Happy reading Guys!! Bolehkah temans berikan komentar /like/ saran / sumbangsih ide/ hadiah/ atau kritik apapun itu.. ditunggu ya.... thx temans sudah berbaik hati membacanya.
__ADS_1
Tuhan berkati kalian semua. Salam sehat selalu