
Hal terindah dari persahabatan adalah memahami dan dipahami. Tanpa pernah memaksa dan ingin menang sendiri.
Sahabat akan saling menjaga meski terkadang pertengkaran terjadi tapi tak mungkin akan pergi untuk melepaskan kebersamaan yang telah terjalin karena persahabatan itu sangatlah berarti.
*****
Kondisi Jeany yang semula di ICU akhirnya semakin membaik dan dapat dipindahkan ke ruangan perawatan VVIP sehingga membuat Soffie dan Sonny merasa lebih tenang. Mereka tersenyum dan makin bersemangat setelah keadaan Jeany lebih baik, lebih sehat dan bersemangat dalam menjalani hari.
Soffie dan Sonny bergantian menjaga Jeany. Sementara David sudah dengan aktifitas di kantornya yang padat, sehingga hanya bisa menemani Soffie di sore hari sepulang kerja hingga pukul 21.00 dan langsung pulang ketika Sonny datang ke rumah sakit untuk menjaga ibu sambungnya. Sonny bekerja hingga pukul 13.00 lalu pulang ke rumah istirahat dan jam 9 malam ia baru ke rumah sakit menggantikan Soffie, dan baru keesokan harinya Soffie datang pukul 07.00 dan Sonny bekerja kembali di kantor. Mereka bergantian menjaga dan merawat Jenay terus selama beberapa hari.
Sedangkan kondisi Dissy sudah lebih bugar setelah melahirkan dan dapat merawat putri kecil mereka di rumah. Putri kecil itu diberi nama "Ariella Budiyanto Chandra" oleh Jeany sesuai permintaan Sonny yang meminta ibu sambungnya untuk memberikan nama bagi bayi yang baru dilahirkan istrinya.
Soffie pun sudah mengabari kepulangannya ke Jakarta kepada teman-teman rumpiesnya, sehingga mereka memutuskan sore ini mengunjungi Jeany sekaligus berkumpul kembali setelah dua bulan tidak berjumpa. Soffie sudah menyiapkan beberapa cemilan dan puding Jeruk untuk menyambut kehadiran teman temannya di rumah sakit yang memang akan menjenguk ibunya.
Jajang dan Amara tiba terlebih dahulu di ruangan tempat Jeany di rawat , disusul Lily dan terakhir yang datang adalah Henry dan Santika. Mereka membawakan buah-buahan dan roti untuk buah tangan dan sebagai teman bagi yang bertugas menjaga Jeany nanti malam.
“Tante Jeany, gimana keadaannya,” tanya Jajang ramah.
“Ini sudah lebih baik, Jang …mungkin tante besok sudah bisa pulang karena sudah bisa digerakkan kaki dan tangan… mungkin pulang ke rumah Soffie dan minggu depannya di rumah Sonny… karena dia mau syukuran kelahiran ‘Ariella”…. Kalian nanti hadir ya ?”
“pasti dong tante… kalo ada makan-makan aku, Lily dan Henry pasti hadir,” Jawab Jajang sambil melirik Henry dan Lily .
“Bener jang… apalagi kita udah lama gak makan masakan tante… kita tidak boleh kelewatan nih…
"Iya tante... aku itu sudah kangen banget masakan tante... " Timpal Lily sambil memeluk tante Jeany . 'Tante , ajarin aku bikin gurame asem manis dong... tapi guramenya harus yang bisa berdiri itu lho, tan..."
"Ntar ya... pas tante sudah sembuh... kamu main ke rumah Soffie tapi jangan pas acara aja... ntar kalian semua yang makan... biar rame dan bisa komentarin makanan buatan Lily.
"Tante yakin mau ajarin dia... ntar dia cuma ngerepotin doang tan..." Sahut Henry dan diangguki oleh jajang.
Lily memberengut kesal. "Yey kalian nih ya... awas aja... !!
Tante Jeany tersenyum melihat keakraban teman teman Soffie yang mengangapnya bagian dari keluarga mereka sehingga mereka tidak sungkan terhadapnya.
"Jang... kamu kok menikah gak undang tante ya?" Kamu lupa sama tante ya, karena Soffie ada di Ottawa /" Tanya Jeany dengan mimik sedih.
__ADS_1
"Bukan gitu tante... kemarin itu memang acara pernikahan mendadak di majukan... jadi memang belum ada pesta....nanti kan pas kami buat pesta , tante datang ya... aku gak lupa ko,sama tante," Jawab Jajang. " Oh Iya tante... cantik kan istriku... namanya Amara," Jajang menarik Amara dan mengenalkan istrinya pada Jeanny.
Jeany menyambut uluran tangan Amara yang diperkenalkan jajang padanya. Wanita yang cantik, sopan dan halus peragainya.
"Saya Amara, tante... maaf waktu itu ayah saya memang mempercepat pernikahan saya dengan Aa Jajang karena kondisi ibu yang sedang sakit.. jadi memang belum pesta... kami mohon tante bersedia hadir ya di pesta yang akan diselenggarakan bulan depan ," Bujuk Amara pada Jeany.
"tante pasti hadir... apalagi Soffie sudah pulang.. jadi kami pasti datang ya!"
Soffie tersenyum dan mengangguk pada mamanya. Tiba-tiba ia teringat bahwa ia membawa puding Jeruk dan menyimpannya di kulkas di ruangan. Segera ia melangkahkan menuju lemari pendingin itu.
"eh Teman-teman... ini semalam aku buat Pudding Jeruk kesukaan Lily dan Cheese Cake kesukaan Jajang dan Henry,... ayo cobain dulu... semoga Amara dan santika juga cocok dengan makanan buatanku... kalo suami kalian sih gak usah ditanya...
“Puding Jeruk itu kesukaanku, Thanks banget phie...."Lily langsung berlari menuju tempat Soffie duduk di sofa yang sedang memotong-motong cake. Lily langsung menyiapkan piring kecil untuk tempat puding dan cake.
“Wah… serbu dulu ya tante ntar si Jajang habisin duluan.. “pamit Henry pada Jeany karena ia harus segera ke soffa yang letaknya tidak jauh dari ranjang Jeany.
Soffie beralih memotongkan pudding dan langsung bangkit menyerahkan pudding itu pada mamanya. Rupanya Jeany pun sangat menyukai pudding jeruk buatan Soffie. Ia menikmati pudding buatan Soffie dengan lahap, karena sesungguhnya ia bosan dengan makanan rumah sakit.
“Phie… elo gak buat croissant ya... lama banget nih gue gak makan croisan buatan elo ?” Tanya Henry karena ada yang kurang tanpa croissant buatan Soffie yang sangat khas dan disukai Henry.
“Wah gak keburu Hen,… ntar ya pas syukuran Ariella deh … aku buatin tapi untuk kalian bawa pulang ya!’ Jadi semua pasti kebagian untuk dibawa pulang…
Mereka menikmati pudding buatan Soffie dan sambil duduk di soffa. Lily yang sudah menikmati potongan pudding yang kedua, demikian Amara dan Santika tampak menikmati cheese cake buatan Soffie.
"enak ko, phie pudingnya.. " Santika mengomentari puding buatan Soffie. " Cheese cakenya juga meleleh di lidah... ajarin donk buatnya..
"Boleh... ntar sekalian Lily buat gurame asam manis.. kita buat cheese cake, " Soffie bersemangat mengajak Santika dan Amara untuk ke rumahnya.
“ Mara… kamu ko mau sih sama Jajang? “ dari waktu hari pernikahan itu aku inginbertanya, tapi karena kita semua lagi focus aku gak bisa menanyakan ini padamu… ayo jawab jujur, elo diguna-guna ya sama si jangkrik ini ? ,” Lily berkomentar dengan santai ketika mereka duduk-duduk di sofa.
Mereka semua yang hadir menertawakan pertanyaan Lily yang terkesan menyerang Jajang, termasuk Jeany yang sangat mengenal teman-teman Soffie yang selalu ramai ketika berkunjung ke rumah Soffie di pejaten. Ia sudah sangat mengenal kelakuan mereka semenjak mereka masih menempuh pendidikan di kampus UI.
Jajang hanya tersenyum santai dan langsung menjawabnya,” Eh .. Lil… gue ini berjuang habis-habisan nih untuk bisa nikahin dia… sampe kebawa ke kantor polisi dan bikin surat pernyataan berkelakuan baik … ya dia pasti mau lah, sama gue!”
“Ah..mbak Lily bisa aja .. aa Jajang itu orang yang baik dan tanggungjawab,” Amara membantu menjawab pertanyaan Lily mengenai suaminya.
"Eh Mara dan tika … kamu udah di info belum sama Jajang Henry, bahwa akhir tahun ini David mengajak kita jalan ke Venesia?” Tanya Lily. "Tadinya sih pilihannya Venesia atau Jepang tapi Si Jangkrik minta Venesia."
Kedua wanita itu serentak menggeleng dan menatap suami-suami mereka. Mereka baru mendengarnya saat itu dari lily. Sesaat Lily merasa diatas angin untuk ngerjain para sahabatnya yang pria .
__ADS_1
“Tuh Kan… mereka itu memang gak mau ajak kalian… mereka pasti mau ajaknya “Seli “ mereka tuh… ntar kalian kasih pelajaran ya,” Lily berbicara serius pada Tika dan Amara. Sementara Soffie hanya tersenyum mendengar omongan Lily yang sering memojokkan kedua sahabatnya.
‘Sayang… jangan percaya ucapan Lily ya,” Jajang menimpali sambil memegang tangan Amara.
Jajang Khawatir Amara percaya pada omongan Lily. "Aku lupa sama rencana David yang mengajakku untuk naik jetnya... aku gak mungkin bawa selingkuhan... orang aku gak punya juga ko," Jajang berkata dengan serius pada Amara sambil menggenggam tangan istrinya.
"Jadi kalo nanti punya, Aa mau ajak selingkuhan aa gitu ?" Amara menunduk.
"ya gak gitu deh.... mara!" ... Aku itu gak punya selingkuhan, " Jajang melirik Lily dengan geram sementara Lily tersenyum bahagia melihat drama ngambeknya Amara pada Jajang.
Sementara Henry santai aja karena ia yakin Santika sangat mengenal Lily yang suka iseng dan berbicara sembarangan. Ia hanya berbisik di telinga Santika, bahwa ia lupa menceritakannya. Santika hanya tersenyum dan mengangguk pada suaminya. Ia sangat percaya pada Henry, suaminya.
“Tenanglah Mara dan Tika,... Lily itu cuma bercanda…mereka tipe suami setia… kami bersahabat sangat lama dan sering kali kami saling ledek, tidak ada istilah " seli" … karena pasti Lily juga yang akan melempar mereka berdua jika sampai mereka membawa “Seli” “ Soffie berusaha menengahi karena ia melihat Jajang seperti kuatir Amara akan marah.
“bener sayang… Lil… elo jelasin ke Amara nih… Jangan sampe malam ini gue gak dapat jatah dan tidur di sofa ni… “ Jajang sambil terkesan marah dan berkedip pada Lily.
“ Ih apaan sih aa… aku gak marah… “ Wajah Amara memerah menahan malu melihat suaminya yang sengaja menegur lily dengan keras.
Mereka semua tertawa melihat kemesraan pengantin baru. Keakraban persahabatan mereka semakin erat meskipun mereka sama-sama telah memiliki pasangan.
Tiba-tiba pintu dibuka dari luar tampaklah Ardi dan Sabrina. Mereka semua terkejut dan langsung terdiam, terutama Lily karena ini pertemuan pertama mereka karena ia pernah membohongi Sabrina menutupi jati diri Soffie yang merupakan mantan Ardi. Lily merasa tidak enak hati pada Sabrina yang telah bersikap baik padanya dan dibalas dengan kebohongan konyolnya.
"hei... kenapa terdiam... biasa saja... Sabrina tidak akan marah pada kalian... benarkan Sa," Sapa Jeany menyambut kedatangan Sabrina dan Ardi, Jeany mengerti kegalauan Lily yang agak takut pada Sabrina.
"Tentu saja... tapi aku belum mendengar kabar Lily... eh kamu sedang hamil juga ,Lil?" Tanya Sabrina pada Lily.
"Iya Tante... maafkan saya atas kebohongan saya yang waktu itu, ya tante," Lily dan Soffie tertunduk. Henry berusaha menyegarkan keadaan dengan menyapa Sabrina dan bersalaman dengan Sabrina dan Ardi
"Tante Sabrina... sudah berapa bulan nih? "
"Sudah jalan 8 bulan... emh.. Soffie kenapa kamu baru info tante kalo mamamu kecelakaan...?" Maaf ya mbak Jeany .. aku baru tahu... " Sabrina berjalan menghampiri Jeany dan memeluknya.
Ardi hanya melirik Soffie dan tidak berkomentar apapun memandang istrinya yang semenjak hamil menjadi lebih julid dari sebelumnya. Ardi melangkahkan kakinya menuju ranjang Jeany dan bersalaman dengan Jeany. Tatapan Ardi pada Soffie tidak luput dari pandangan Jajang yang menjaga sahabatnya itu.
Mereka melanjutkan acara makan bersamanya. Soffie tidak lupa memberikan potongan cheese cake pada Ardi dan Sabrina sebagai bentuk kesopanan. Ia menghampiri tante dan om-nya. Soffie memeluk Sabrina dan menyalami Ardi tanpa berbicara apapun. Canggung masih terasa diantara mereka.
*****
__ADS_1
Happy Reading Guys ! Bolehkah tinggalkan jejak disini ! Terimakasih telah membacanya. Tuhan berkati kalian semua ya. Love you, All