
"Kepercayaan bisa hilang dalam hitungan detik, membutuhkan seumur hidup untuk mendapatkannya kembali, itupun tidak akan pernah sekuat yang pertama."
*****
Seorang pria terbaring di dalam sebuah kamar, badannya terikat, mata ditutup dan mulutnya di sumpal kain. Pria itu sudah 1 hari dari kemarin di berada di dalam ruangan itu. tidak ada yang mengajaknya bicara di dalam ruangan itu. Sayup sayup terdengar orang berbicara namun tidak jelas, hingga pintu ruangan itu dibuka dari luar.
Ketika ruangan itu dibuka, hanya 1 orang yang masuk dan orang tersebut membuka matanya. Betapa terkejutnya pria yang terikat itu melihat orang yang membuka matanya. Pria itu kembarannya?" Kenapa wajah pria itu begitu mirip dirinya. Pria itu menggunakan seragam seperti seragam kerja miliknya dan namanya juga sama. Hasanudin. Mengapa ada kejadian seperti ini, apakah kebetulan ?"
"Aku hanya berbicara satu kali... patuhi perintahku jika kau ingin istri dan anakmu selamat !" Kau akan kubebaskan 2 hari lagi, jangan bertindak apa-apa di ruangan ini dan kau boleh makan dan tidur di dalam ruangan ini.... jangan buat kegaduhan ...... jika kau sudah bebas tidak berbicara pada siapapun apa yang kau lihat. Sebagai informasi hari ini aku akan memerankan dirimu bekerja di rumah David Pratama !" Pria yang berwajah mirip dengan dirinya menjelaskan detail.
Hasanudin yang bertubuh masih terikat mulai memahami. Pria yang didepannya pasti adalah komplotan "Cepot berdarah" Seperti yang para polisi itu ceritakan padanya beberapa hari yang lalu. ia mulai khawatir pada keluarga David Pratama, tapi ia tidak bisa berbicara apapun. Pria itu meninggalkan dirinya setelah membuka ingatan pada tangannya, dan pintu kamar itu terkunci kembali.
Pria yang berpakaian satpam itu, memanggil dua orang temannya. " Kalian hanya menungguku tidak jauh sampai sejauh mana sinyal bisa di acak dan pastikan jam tangan kita sama... aku percaya kalian semua menjagaku.... kita akan mulai tepat pukul 19.05
"Siap boss...terimakasih telah mempercayakan nyawa boss pada kami, kepercayaan itu bisa hilang dalam hitungan detik, kami akan tepat seperti yang direncanakan... emh ... bos kemarin kendala apa sih yang membuat batal jalannya rencana kita?" tumben banget bisa sampai mundur, " Udin bertanya pada Handoyo yang menggunakan seragam satpam.
"Urusan penting yang tidak bisa dibatalkan demi keselamatan masa depan kalian juga.... nanti jika gagal kalian langsung pergi... hati-hati pasti pengawasan di rumah itu, pasti dilengkapi oleh tim IT yang canggih !' Adrian... jangan lengah... aku bergantung padamu kali ini !"
"Siap mas Handoyo... kamu tidak akan menyesal memintaku membantumu !" Adrian menjawab dengan santai.
__ADS_1
*****
Tepat pukul 14.25, Hasanudin memarkirkan sepeda motornya di dekat pos sekuriti tempat tugasnya di kediaman David Pratama, Partner kerjanya yang bernama Ahmad dan Dicky juga telah siap disana, Jam pergantian shift akan dimulai tepat pukul 15.00. Semua petugas wajib melaporkan kehadiran ke Ibu Martini dan melewati beberapa pemeriksaan.
Mereka bertiga harus melapor kepada ibu Martini setiap mereka datang dan mengambil kotak bekal dan minuman untuk tugas selama 8 jam ke depan. Dalam perjalanan ke ruangan samping rumah utama,untuk menemui ibu Martini, Dicky bertanya pada Hasanudin yang membuat Ahmad tersenyum simpul atas jawaban Hasanudin.
"San.... tadi pagi istrimu ke rumahku... dia bilang kamu gak pulang semalam ? Kamu tidur dimana semalam?"
"Biasa.. aku tidur di rumah istri mudaku... jangan sampe istri tua tau lah !" Hasanudin menjawab santai." Ntar kubilang kemarin aku ada tugas tambahan dari Pak David !' kamu juga jangan bilang istrimu !"
"Busyet elo san... istri mudamu orang mana?" Masih muda dan sexy gak.... elo berani amat ngempanin dua istri?" itu duit gaji bisa apa dibagi dua, San ? "
Ahmad tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya. Ketika sudah di depan ibu Martini dan menandatangani beberapa dokumen mereka kembali berbalik meninggalkan ruangan itu. Namun salah satu anjing herder itu terus menyalak ke arah Hasanudin. Hal itu membuat ibu Martini mengkerenyit melihatnya.Sementara Hasanudin cuek saja meninggalkan ruangan ibu Martini. Mereka bertiga kembali ke posnya dan bertugas seperti biasa.
Ketiga satpam itu bergantian berputar mengamati rumah setiap 30 menit sekali dan mengecek setiap sudut-sudut termasuk area taman dan kolam renang yang berada di dalam rumah. Semua berjalan sesuai dengan keadaan normal hingga pukul 19.05.
Sinyal wifi dan listrik di rumah itu tiba-tiba mati dan membuat keadaan gelap gulita sehingga membuat Dean menangis, segera Soffie menarik pria kecilnya ke pelukannya dan menarik ke kamar utama. Stefabus yang lelah memohon pamit untuk istirahat di kamar bersama adik bayi, dan Dissy menemani kedua anaknya itu.
Malam itu David belum pulang dari kantor yang di Cikarang dan berdasarkan telephon pada Sonny, ia sudah di dekat rumah.. Para polisi yang bertugas masih berkumpul dan meminta ibu Martini untuk menyalakan genset. Demikian juga Sonny dan Dissy masih berada di ruangan itu.
Tidak sampai 10 menit semua ruangan kembali terang benderang. Charlie yang mengecek CCTV langsung berteriak melihat area depan rumah sudah tidak dalam kondisi normal. Dua orang satpam sudah tergeletak dan tiga ekor anjing yang biasa menyalak juga sudah terkapar. Dia melihat di CCTV ada orang yang memasuki lewat dapur belakang.
"Shit... ada serangan... Pak Arief ... kita di serang !" Ujar Charlie sambil berlari ke ruangan tempat berkumpul di lantai dua. "Dia sekarang lagi di dapur belakang, Pak Arief !'
__ADS_1
"Jhon kita periksa dan kau , ... tetap disini jaga mereka. Sonny segera telpon David untuk cepat pulang!" Arief berkata sambil berteriak dan menuruni tangga.
Arief dan Jhon berjalan menuju dapur dengan menodongkan senjata. DI ruang tengah, ia mendapati 2 orang ART perempuan yang sedang membereskan sisa makan malam. Dimintanya untuk naik ke lantai dua. Dan pembantu itu langsung berlari tanpa tanya ketika melihat polisi yang memegang senjata.
Dug...
Suara itu berasal dari arah dapur dan seperti ada benda berat yang terjatuh. Arief dan Jhon saling berpandangan. Mereka tidak bersuara dan saling memberi kode. Mereka langsung berkesiap dan mengambil posisi dan senjata yang sudah siap di tangan mereka.
Arief mengambil sisi kiri menuju dapur kering dan Jhon mengambil sisi luar dari dapur basah. Ia tidak mendapati apapun di area dapur kering dan ketika akan beranjak ke daerah kamar pembantu, Tiba-tiba ada yang menarik dan membekap mulut dan hidung arief hingga ia langsung terjatuh dan pingsan. Handoyo menggunakan serangan dengan racun udara yang membuat orang langsung pingsan ketika menghirupnya.
"Rief... arief, " Suara John mencari arief, namun tidak ada jawaban sehingga membuat Jhon curiga dan menyusul Arief ke sisi dapur kering. Ia tidak mendapati Arief di dapur kering. Diarahkannya senjatanya sambil memasuki tiap ruang. ketika di dekat gudang ia melihat bahwa 2 pembantu wanita sudah tergeletak tidak sadarkan diri. Dimana John sekarang? Apa ia tertangkap?"
John berbalik dan semakin yakin bahwa yang menyerang adalah Cepot berdarah. Pria itu tidak lagi menggunakan tembakan tetapi menggunakan racun udara untuk membekap orang. Tiba-tiba ia seperti mendengar ledakan di arah depan seperti suara dari lantai dua rumah ini.
Jhon berlari meninggalkan dapur dengan cepat. Ia yakin Cepot berdarah berganti model serangan. Semakin maju pola serangan pria itu. Jhon terkejut ketika mendapati di lantai dua penuh asap. Dilihatnya David juga baru datang di ruang tamu dan berlari ke arah tangga. Jhon juga melakukan yang sama menuju tangga untuk melihat efek ledakan itu. Semoga mereka semua selamat. Jhon hanya bisa terus berdoa sambil berlari.
Mereka semua yang berada di lantai dua terkapar di ruangan tengah. Sonny, Dissy dan Charlie, tergeletak di sofa tengah. Di depan pintu kamar David, Jhon melihat seorang satpam yang beberapa hari yang lalu diajaknya ngopi di dekat pos jaga, sedang mengayunkan pisau panjang ke arah perut Soffie yang tergeletak di depan pintu kamar David.
"Soffie...... 'Teriak David kencang ketika ia melihat seseorang mengayunkan pisau itu ke arah tubuh yang tergeletak. Pria itu berteriak... Aah!!!!
David hampir menangis berlari menghampiri pria yang memegang senjata dan merasa jantungnya hampir putus melihat ada seorang pria yang memegang pisau panjang yang akan membunuh Soffie.
*****
__ADS_1
Happy reading guys..... semoga masih berbaik hati membacanya. boleh tinggalkan jejak di sini temans !"
Thanks guys.... love you all.