
Terkadang kamu harus merasakan pukulan di kepalamu agar mengetahui bahwa kamu tidak layak lagi berada disampingnya .
*****
Masih berada di dalam ruangan kerja milik Amara. Fabrian duduk di sofa dalam ruangan itu menanti kedatangan Jajang . Ia begitu khawatir jika harus berhadapan dengan Fahri. Sementara di meja kerja itu duduk saling berhadapan adalah Amara dan Fahri. Pria itu masih memandang lekat pada mantan kekasihnya.
" Ha... ha... Mara... kau tidak mungkin melupakanku... aku tahu itu ... tidak semudah itu kau bisa melupakanku... aku tahu itu... tidak semudah itu kau bisa lupa akan aku... kamu bisa seperti ini juga berkat bantuanku... aku yang mengantarmu hingga ke posisi ini... kau hutang budi padaku.... kau lupa dulu... betapa takutnya kamu duduk di kursi itu awalnya.... aku yang memberikan keyakinan dan pemikiran semuanya.... kau tidak mungkin bisa seperti sekarang kalo tidak karena bantuanku... kau tidak mungkin bisa melupakanku... aku sangat mengenalmu, Mara !!"
Sekarang mungkin saja di di hatimu ada dua cinta, Amara... itu hanya karena kecewa padaku.... aku yang akan menebusnya dan membuang cinta yang satunya.... karena kamu adalah milikku...
"Apa maumu Fahri ?' tanya Amara dengan ketus
"Aku hanya mau dirimu.... aku hanya mau kamu menungguku sebentar sampai wanita itu melahirkan anakku.. lalu kita akan kembali bersama... dengarkan Mara ... kamu tidak mungkin bahagia jika tidak bersamaku, Mara... Jadi kumohon kembalilah padaku...
"Aku tidak mau bersamamu lagi, Fahri... kurasa sudah cukup jelas... diantara kita sudah selesai... tatalah hidupmu dengan keluargamu... aku akan membayar bantuanmu selama beberapa tahun ini kau selalu membantuku... kurasa itu sudah cukup... jadi lepaskanlah aku... biarlah kita saling berbenah diri dengan jalan kita masing-masing...
"Aku tidak minta uangmu... aku hanya mau dirimu... aku hanya mau kamu menungguku sebentar lagi, Mara... aku cuma ingin bersamamu seperti dahulu... "Bujuk Fahri sambil menarik tangan Amara yang diatas meja.
Amara terkejut ketika melihat Fahri mengambil tangannya dan mencium punggung tangan kanannya. Amara sedikit tersentuh atas perlakuan manis mantan kekasihnya. Namun ia teringat dengan Jajang yang juga mengasihimya dan mengajaknya melangkah bersama untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam ikatan rumah tangga. Dihempaskannya tangan Fahri dan ditariknya tangannya dari pria itu.
"Kalo aku tidak mau, kamu mau apa...
"Aku akan nekat Mara ... kau tahu kan bagaimana kau... aku bisa melakukan apapun padamu... aku harus mewujudkan apapun yang kuinginkan.... aku bisa melakukannya disini ... agar seluruh dunia tahu bahwa kamu adalah milikku dan tidak boleh ada yang mengambil kamu dariku... " Jawab Fahri dengan marah.
Fabrian dan Amara terkejut mendengar jawaban Fahri yang nekat dan ucapan Fahri itu membuat takut keduannya. Namun sebuah suara bariton dari pria yang baru datang membuat mereka semua menengok ke arah pintu.
"Coba saja kalo berani mengganggu Mara.... langkahi dulu mayatku, Fahri.... ," Kata Jajang yang baru tiba di ruangan itu.
Jajang langsung memasuki ruangan itu dan menatap tajam pada Fahri. Ia sudah siapkan fisik dan mental jika harus berkelahi dengan pria yang kemarin baru dihajarnya. Fahri langsung bangkit menatap pria yang baru datang dan menatapnya sinis. Kedua pria itu saling berhadapan dan posisi mereka siap saling meninju.
"Kau pikir aku takut padamu... katakan dimana kita bisa tarung ? "
"terserah kamu... kau boleh pilih tempatnya...
"Kau tahu tarung gladiator ?"
"Ya.... dulu waktu SMA aku pernah melakukannya... kenapa?" Mau dicoba sekarang?"
"Oke.... kita ketemu di taman hutan kota penjaringan, malam ini jam 11... kamu berani ?"
"Menghina belum tentu elo menang di pertarungan , Fahri.... aku akan ada di sana jam 11 malam ini...
"terkadang kamu harus merasakan pukulan dikepalamu Jajang...agar elo tahu bahwa elo tidak layak disampingnya... elo cuma dijadikan pelarian Amara... dia hanya mencintaiku...kau seharusnya sadar diri.... tidak ada cinta Amara untukmu, " Kata Fahri yang memprovokasi Jajang.
Jajang tersenyum sinis dan tiba-tiba memukul wajah pria yang ada dihadapannya. Fahri yang terkejut karena mendadak dipukul agak terhuyung ke belakang dan hidungnya berdarah, Fahri bersiap memukulnya kembali namun Jajang lebih cepat dan menghajar Fahri tanpa ampun sehingga Fahri terjatuh. Fahri yang berusaha bangkit tiba-tiba menendang paha jajang hingga pria itu terjatuh. Amara dan Fabrian yang berada di ruang itu berteriak untuk meminta mereka berdua berhenti berkelahi. Hingga sebuah suara dari pintu mewnghentikan kedua pria itu.
"Hentikan !" Ucap suara salah seorang polisi yang baru datang ke ruangan itu sambil menodongkan senjata ke arah ke dua pria yang masih sibuk menetralkan nafas mereka yang masih memburu.
Polisi yang datang ada 2 orang bersama satpam yang tadi diperintahkan oleh Amara untuk standbye di depan CCTV. Ketika melihat kehadiran Jajang yang baru turun dari kendaraan dan langsung berlari menuju ruangan Amara, Satpam langsung menghubungi polisi untuk mencegah perkelahian yang akan terjadi. Namun polisi terlambat datang karena keadaan ruangan Amara sudah seperti kapal pecah akibat perkelahian kedua pria yang tersulut emosi memperebutkan sang pujaan hati.
"Mari kita bicarakan di kantor polisi, bapak-bapak...mau diborgol atau jalan sendiri ke kantor polisi sebelah.
'Saya akan ke sana sendiri pak...."Jawab Jajang. Ia memandang Amara yang masih menangis di ujung ruangan. "tapi saya mohon ijin untuk bicara dulu dengan dia sebentar pak...
Tanpa menunggu ijin dari polisi , Jajang melangkahkan kakinya menuju Amara yang masih menangis tersedu. Ia memeluk wanitanya dan berbisik.
"Hei... jangan takut... aku akan membereskannya... kau hanya perlu percaya padaku.... kau bereskan urusanmu disini.... maaf membuatmu takut ...
" Maafkan aku, Aa.... "Jawab Amara masih dengan menangis di pelukan Jajang. "Maafkan aku selalu merepotkanmu.... aku akan ikut ke kantor polisi ya, Aa...
__ADS_1
"Jangan... kamu bereskan urusanmu disini dengan Fabrian.... nanti aku ke rumahmu jika sudah beres... jika Fahri melihatmu lagi... ia akan makin marah padamu karena mendampingiku...
"Baiklah aa... hati-hati... apa aku perlu menyewa pengacara, aa?"
"Tenang sayang , aku bisa membereskannya untukmu, " Bujuk Jajang sambil mencium kening Amara.
Fahri menatap mereka dengan penuh emosi dan ia mengepalkan tangannya menahan amarah. Polisi yang satu sudah mengajak Fahri untuk meninggalkan ruangan dan polisi yang satunya menunggu Jajang membereskan urusannya. Untungnya saat itu kondisi kampus sedang sepi karena para mahasiswa masih ada di dalam kelas dan tidak banyak yang lalu lalang.
*****
Henry baru tiba di kantor polisi sektor Pluit pukul 22.15 WIB dan ia melangkahkan kakinya ke dalam kantor polisi. Pnaggilan telpon dari Jajang yang meminta untuk menjemputnya di kantor polisi membuatnya tidak langsung pulang ke rumah tetapi menengok sang sahabat yang sedang mendapatkan masalah. Ia melihat Jajang sedang duduk di depan meja yang menandatangani banyak berkas di hadapan seorang polisi . Ia segera duduk di samping kursi Jajang yang kosong.
"Kenapa Jang ? "
"kau harus menjaminku agar aku tidak melakukan penganiayaan pada pria itu, " Jawab Jajang sambil melirik Fahri yang sama-sama juga menandatangani banyak berkas.
kedua pria itu sudah saling membuat pernyataan dan saling menjaga jarak diantara keduanya dan tidak saling membuat keributan yang mengganggu ketertiban umum. Namun khusus Fahri ditambah pernyataan dilarang mengganggu Ibu Amara dan dilarang memasuki STIE "Putra Bangsa ".
"Elo menghajarnya... gila lo, Jang...
"Sudahlah nanti gue ceritain... elo jamin gue dulu sana dan bereskan adminstrasi aku.... nanti aku ganti uangmu...
Henry melangkahkan kakinya dan membereskan administrasi serta membuat surat pernyataan menjamin Jajang tidak melakukan penganiayaan ringan ataupun berat. Setelah beres segala urusan di kantor polisi Henry mengantar Jajang untuk mengambil mobilnya di kampus tempat mengajarnya tadi.
"tadi kamu menang apa kalah sih melawan mantannya Amara ?"
"ya menanglah... si rese itu mengadukan gue ke polisi karena menghajarnya kemarin dan hari ini... katanya gue mulai mukul duluan... dan gue harus ganti rugi mental dan fisik... rese banget dia...
"lah elo mukul gak tadi ?"
"Kenapa sih Jang. harus pake berkelahi...malu-maluin aja... udah itu gara-gara rebutan cewek... kalian udah pada tua ... bikin malu aja...
"Eh... dia yang mau nekat sama cewek gue... kalo Amara diapa-apain gimana? " yach gimana lagi coba... masa gue diam aja jadi laki ... ini untuk membela harga diri gue... ntar gue dibilang cemen... mending gue hajar duluan tuh si Fahri...
"Iya sih... sekarang elo mau ke rumah sakit gak ?"
"gak sih... ini cuma sedikit luka di pelipis kasih betadine juga beres... Elo antar ke kampus aja , gue mau ambil mobil besok gue ijin gak ngajar deh... biar gak rame di kampus... btw thanks ya henry.... elo datang beresin urusan gue...ntar kirim aja kwitansinya...gue ganti.
"Oke... tapi jangan berantem lagi... elo bikin panik gue tadi .... untung elo gak tulis di grup genk rumpies... bisa-bisa si Soffie dari Ottawa ngerengek minta pulang ke David... yang ada elo juga dihajar David...
"Ha.... ha...kangen juga gue sama Soffie... kalo ada dia pasti liat gue bonyok gini dia pasti nangisin gue...tapi gara-gara David , gue gak bisa gangguin dia... kapan ya dia pulang ?" Jawab jajang santai dan bersiap turun dari mobil Henry karena sudah sampai depan kampus tempat dia menaruh mobil.
"Katanya bulan depan... elo yakin gak mau gue tungguin sampe ambil mobil.
"Thanks henry...kasian Santika , elo tinggal kelamaan ntar dia kangen elo lagi dan marah ke gue karena pinjam elo sampe tengah malam....gue pamit ya... "Kata jajang sambil turun dari mobil Henry.
Henry meninggalkan Jajang di depan Kampus STIE "Putra Bangsa" dan melajukan mobilnya untuk pulang ke rumahnya. Sementara jajang jalan kaki masuk ke dalam kampus dan menuju parkiran untuk mengambil mobil. Satpam yang bertugas tersenyum memandang pria yang tadi dilaporkannya ke polisi. Jajang hanya melambaikan tangannya kepada satpam yang bertugas di lobby.
*****
Waktu pukul 1 dini hari ketika Jajang tiba di rumahnya di kawasan Rawamangun. Pria itu memasukkan mobilnya dan melangkahkan kakinya. Handphonenya berdering.
"Amara Caling "
__ADS_1
Digesernya tombol hijau itu dan dijawabnya panggilan dari sang kekasih.
"Ya sayang.... Maaf aku tidak ke rumahmu, karena ini sudah terlalu malam... aku baru saja sampai rumah...
"Tadi gimana urusan di kantor polisi, Aa ?"
"Beres.... cuma ya itu aku disuruh jaga jarak dari Fahri...
"Maafkan aku ya, Aa... kalo gak karena aku.... Aa gak harus berurusan sampe ke polisi, " Suara Amara sedikit terisak.
"Hei... aku baik-baik saja.... jangan nangis dong sayang... aku jadi sedih kalo kamu nangis gitu... aku kan melakukan ini untuk melindungi kekasihku...
"Iya... makasih ya, Aa...
"hemmm ... sekarang tidurlah... sudah malam... aku mau mandi dulu...
"Baiklah aa... Selamat malam aa.
"Selamat malam sayangku... mimpiin aku ya...
"Iya aa.
*****
Happy reading guys.... terimakasih kalian semua telah membacanya ... Tuhan berkati kalian semua .
Bolehkah tinggalkan jejak komentar/Like/ poin/hadiah/ apapun biar makin semangat nulisnya...
"
__ADS_1