Cinta Kan MembawaMu Kembali

Cinta Kan MembawaMu Kembali
S2 : 69. Failure


__ADS_3

Ingatlah musibah ataupun masalah  yang terjadi didalam hidupmu, jangan pernah kamu menyerah  tetapi teruslah berdoa dan berusaha melewatinya karena Tuhan pasti memberikan kepadamu Jalan  Keluar.


*****


Pria yang  berpakaian satpam itu merasa kecewa. Missi dia digagalkan karena seorang wanita tua yang diabaikannya. Dia menyesal tidak membereskan Ibu Martini sebelum memasuki rumah ini. Dia berpapasan dengan ibu Martini ketika menjalankan tugas memantau di bagian belakang rumah itu sebelum missi dijalankan.


Bodohnya aku mengabaikan wanita tua itu karena menganggap wanita itu tidak mengetahui apa-apa dan dipandangnya tidak berani bertindak apapun. Seharusnya ia tidak lengah dan sudah memperkirakan bahwa David berani memperkerjakan wanita itu sebagai kepala rumah tangga di rumah itu yang bertanggungjawab atas keamanan di rumah pasti wanita itu memiliki kelebihan.  Apakah karena ia mengabaikan pantangan bahwa ia tidak boleh bercinta dengan wanita sebelum missi dijalankan.  Mengapa aku lengah? Benarkah aku lalai atau memang aku yang melanggar pantangan ? Namun aku tidak mampu melepaskan pesona dari seorang Dilla Pratiwi.


Sebelum aku terhempas dan terlempar akibat peluru yang dilontarkan wanita tua itu, kulihat wanita itu berdarah di wajahnya.  Berarti tidak seluruhnya gagal... hanya aku tidak yakin bahwa wanita yang bernama Soffie itu ada di ruangan ini. Aku merasa ini waktu terakhirku. Aku sudah menjalankan tugasku didunia ini. Selesai dalam tugas dan tanpa didampingi oleh orang yang terkasih. Apakah dia akan menangisiku? Apakah dia menanti kedatanganku? dan... aku lelah.


Begitu tubuh pria yang berpakaian satpam itu menyentuh lantai keramik , mata itu terpejam.


*****


Begitu kaki John menginjak lantai dua ia memandang sekitar dan menemukan sisa ledakan asap dan memastikan bahwa itu efek dari granat asap yang mengandung zat berbahaya. ia segera menggunakan lengan bajunya untuk menutup hidupngnya.


"David ... tutup hidungmu !"  Teriak John pada David yang sedang mengangkat kepala ibu Martini dari lantai, Kita tunggu petugas medis dan polisi akan segera datang kemari, jangan sentuh apapun...


David menoleh dan memperhatikan John menutup hidungnya dengan kain di lengannya.  Michael yang baru datang segera mengambil pasokan masker yang berada di lantai satu dan berlari menuju lantai dua. David hanya menerima masker dari Michael dalam diam. Ia memperhatikan Sonny dan Dissy yang tergeletak di sofa. Tidak jauh dari posisi mereka, Chalie yang masih menggenggam senjatanya. Terdapat juga 2 orang  ART perempuan yang tergeletak di dekat televisi.


Ia mengkerenyit. Tidak ada Soffie, Dean, Stefanus, Mama Jeany dan baby Ariela. Kemana mereka? Seolah mendapat sedikit pengharapan. David berteriak.


"Michael , kamu cari di kamar itu Stefanus dan Ariela... aku mencari Soffie dan Dean !"  David memasuki kamar sambil berlari mencari istri dan anak lelakinya.


Dibukanya pintu kamar itu. Dilihatnya ranjang milik Soffii biasa tidur  itu masih kosong dan bersih. Kemana mereka? Pandangan matanya berkeliling menyapu ruangan itu hingga ke sudut, tidak ada siapapun.


"Phie...  Soffie .....Dean ?"    David berteriak dan melihat kamar itu kosong.


"Soffie..... Dean.... "Teriak David sambil membuka pintu kamar mandi. Ia masih mencari mereka di dalam bagian kamarnya. Tidak ada siapapun disana.  Sedih dan takut makin hinggap di hatinya.  David melanjutkan dengan membuka "Connecting Door" yang menuju kamar Dean.

__ADS_1


Kemana mereka berdua. Apakah Cepot berdarah berhasil membawa mereka? David merasa kakinya lemas dan ia takut kehilangan 3 orang yang berarti dalam hidupnya. Soffie yang sedang mengandung anaknya yang kedua dan Dean sang jagoan kecilnya.


"Phie... dimana kamu ? Dean.....


David terjatuh di lantai. Ia baru menyadari dirinya teramat lelah berlari cukup jauh menuju rumahnya dan merasa gagal menyelamatkan keluarganya. David tidak mendengar ketika seseorang membuka pintu luar kamar Dean. Michael masuk ke dalam kamar itu bersama  Stefanus dan baby Ariela yang  berada di gendongan mama Jeany. Mereka terkejut melihat David terduduk di lantai.


"Vid... kenapa ? Soffie mana?"  Tanya Mama Jeany.


David terdiam dan tidak sanggup menjawabnya. Ia ingin berteriak tapi tidak ada tenaganya lagi. Semua menghilang dalam sekejab. Tadi pagi ia masih mencium mereka berdua. Kenapa sekarang semua tidak ada. Tuhan apakah ini hukuman atas kesalahanku di masa lalu?  David masih terdiam dengan pandangan kosong.


Tiba-tiba Stefanus membuka lemari pakaian milik Dean yang berada di sudut ruangan. Ia seperti mendengar suara-suara berbisik dari dalam lemari. Stefanus sering menemukan Dean yang bersembunyi di dalam lemari itu jika bermain dengannya petak umpet. Dean gemar sekali bersembunyi di situ.


"Tante Soffie... Om... Tante Soffie dan Dean ada di sini !"  Teriak Stefanus yang seolah menyadarkan David akan sebuah harapan.  David  segera bangkit dan menuju lemari pakaian itu yang memiliki ukuran besar. Ia tersenyum seolah mendapatkan tenaga baru mendengar  mereka berdua selamat dan ada di dalam ruangan itu.


"Phie... Soffie... kenapa kamu ada di dalam sini?"  David yang langsung bangkit dan melangkah tergesa melihat lemari itu. Ia terkejut mendapati Soffie yang sedang memeluk Dean yang masih terisak di dalam lemari.


"Aku takut sekali... aku takut bukan hubbie yang datang.... Aku melarang Dean berteriak... aku takut kami bisa terbunuh jika bersuara... aku takut  jika ini hanya jebakan dan salah pendengaran... tapi sekarang aku sudah tidak dapat bangun dari sini... kakiku sakit sekali bie, " Soffie berkata sambil menangis terisak.


"Sini sayang... jangan nangis lagi... papa sudah pulang !" David bahagia melihat mereka berdua selamat meskipun dengan cara yang aneh menurut pandangannya. Tapi ia sungguh amat bersyukur mereka bertiga selamat.


"Papa.... Pa... Dean takut... Dean gak bisa jaga mama... " Dean berkata pelan ketika David mengangkat tubuhnya dari pelukan Soffie. Tubuh Dean berkeringat banyak dan kaosnya basah.


"Tenang... papa  sudah datang... Dean digendong kakak Stefanus dulu ya... Papa angkat mama dulu.... kaki dan perut mama pasti sakit, " Bujuk David pada pria kecilnya.


Pria kecil itu mengangguk dan  masih menangis tanpa suara. Kemudian David mengangkat tubuh Soffie yang kakinya tertekuk di dalam lemari selama beberapa waktu dan meletakannya di ranjang.


"Gimana keadaanmu sayang?' Apakah kalian terluka ?" Apakah anakku yang di dalam juga ketakutan.... maaf ya... aku terlambat datang.... jalanan tadi sangat macet, "  Kata David sambil mengangkat tubuh Soffie dan menuju ranjang di kamarnya. Langkahnya diikuti oleh yang lain termasuk michael.


"Bie... terimakasih telah cepat pulang... tadi aku berlari ke dalam lemari sambil memeluk Dean... karena mendengar ledakan itu... aku takut sekali. cuma di dalam lemari itu yang ada penerangan dan Dean bisa lebih tenang karena ia suka  bersembunyi di situ jika aku marah.

__ADS_1


"kamu istirahat dulu karena aku akan memanggil dokter untuk mengecek kalian semua..." Kata David dan ia memberi kode untuk Michael menelpon dokter keluarga mereka.


"Mama Jeany gimana? Apakah ada yang sakit?" Tanya David heran karena ia melihat mertuanya kelihatan sangat sehat dan fresh .


"Iya David... mama tidak dengar apapun.... hingga Michael datang membangunkan mama... jadi mama membawa Ariella... mana Dissy dan Sonny, Vid?"  Jeany. merasa heran dia tidak melihat anak lelaki dan menantunya.


"mereka terluka dan lagi di rumah sakit...David akan cek mereka semua .ya...  David keluar dulu dan mengatur yang lain ya mam?" David menjelaskan dan dijawab dengan anggukan oleh mama Jeany.


"Kalian semua tunggu disini... Stefanus dan Michael jaga mereka disini... aku akan menemui para polisi itu... kabari om ya , Stef... jangan biarkan salah satu dari mereka keluar dari kamar ini.... "


"Baik om... Stef akan pastikan tidak ada yang keluar kamar.. sampai om beres urusannya. Papa sama mama gimana om keadaannya?" Stefanus bertanya mengenai keadaan orangtuanya.


Stefanus dan Jeany memang belum mengetahui keadaan orang tuanya karena Michael membuat mereka berdua tidak melewati ruang tengah tempat biasanya  mereka semua berkumpul di lantai dua.


"Nanti om akan cek... kamu disini... baik-baik bantu om, " David bangkit sambil menepuk pundak Stefanus meninggalkan ruangan itu.


*****


Apartemen Dilla Pratiwi.


Dilla sedang berbaring di ranjangnya dan menyaksikan tayangan dari salah satu stasiun  TV lokal.  Televisi ABCD menyiarkan Breaking News pukul 21.00 dengan dilengkapi gambar-gambar 15 ambulan yang meninggalkan rumah David. Tidak ada awak media yang diijinkan memasuki rumah karena sedang dalam penyelidikan polisi.   Semua pengambilan gambar dilakukan dari jarak jauh.


Breaking News.


Rumah Pengusaha "David Pratama" Diserang oleh perampok dan diperkirakan ada 15 orang terluka parah ataupun menjadi korban dalam serangan itu. Banyaknya ambulan yang meninggalkan kediaman David Pratama menunjukkan banyak yang terluka dalam kejadian ini.  Belum diketahui siapa saja yang berada  di dalam ambulan. Pihak keluarga dan kepolisian belum memberikan informasi atas musibah yang baru terjadi di rumah mewah yang memiliki pengawasan ketat. Polisi sedang menyelidiki kasus ini dengan lebih mendetail. Demikian Breaking News malam hari ini.


Dilla menyaksikan berita itu dari apartemen rumahnya. Ia tidak lagi mengkhawatirkan David Pratama ataupun Soffie.   Bagi Dilla musibah yang dialami di dalam keluarga David Pratama adalah salah satu keberhasilan yang dicapai oleh Handoyo dalam tugasnya,namun kenapa tidak ada informasi tentang pria itu.  Ia ingin mengetahui dimana kekasih hatinya berada. terlukakah dia?" Mas Handoyo, kamu dimana? Kamu baik-baik sajakah ? Aku kuatir padamu... Dilla terus menyaksikan tayangan berita yang serupa di beberapa stasiun TV berbeda.


*****

__ADS_1


Hai... Temans,   Selamat membaca, semoga terhibur. Terimakasih telah membacanya..... boleh tinggalkan jejak di episode ini....Oh iya tetap semangat dalam menjalani aktifitas kalian, dan jaga kesehatan ya !!"


__ADS_2