Cinta Kan MembawaMu Kembali

Cinta Kan MembawaMu Kembali
S2 : 62. Another Sweat


__ADS_3

Apabila  kamu ingin hal besar terjadi dalam hidupmu, maka kamu juga harus siap untuk  berjuang lebih besar untuk mendapatnya. Ada harga yang harus kamu bayar untuk  setiap keinginan yang akan kamu capai.


*****


 


 


Denting  jam di lobby berbunyi empat  kali  ketika Dilla keluar dari lift.  Ia  langsung melihat lobby apartemenya yang sepi  di dini hari itu. Lobby  di lantai satu apartemen itu terdiri dari  tiga  kelompok soffa.  Tiap  kelompok  sofa dibatasi oleh tanaman hias sebagai sekat antar ruang sehingga penghuni  dari tiap unit apartemen dapat menerima tamu di sofa-sofa  itu jika memang tidak ingin menerima tamu di  dalam unit apartemennya.


 Semua ruangan di lobby apartemen itu   diperhatikan Dilla.  Tidak ada pria yang beberapa saat yang lalu baru saja menghubungnya  tadi bahwa ia sudah sampai dan menunggunya di Lobby.


Sofa pertama di loby apartemen diliriknya dan kosong. Dilla melangkah kembali ke  kelompok sofa kedua dan hasilnya sama hingga menemui sofa ke tiga yang tertutup taman yang paling rimbun dan pepohonan kecil , tidak ada sama sekali.


Apakah pria yang dicarinya itu masih di  parkiran?  Saat ini Dilla hanya  menggunakan Long Coat berwarna putih selutut, dan sandal tipis berwarna pink. Cantik sekali walaupun tidak menggunakan make up. Dilla terlihat natural dan makin menggemaskan.


Dila  akan melangkah keluar dari ruangan lobby  dan  akan  menuju meja sekuriti yang berada di bagian luar depan


pintu masuk, Namun seseorang menarik pinggangnya dan memeluknya erat. Hampir  menjerit namun mulutnya langsung disumpal oleh sebuah ciuman dari pria yang  dicarinya.


Handoyo  mendorongnya ke tembok di dekat satu ruangan tempat sofa ke dua yang tidak  terlihat satpam di lobby. Dilla melotot dan  berusaha melepaskan dari pelukan pria itu. Pria itu memiliki tubuh yang  kekar nyaris dua kali lipat dari Dilla dan tenaganya luar biasa kuat.  Handoyo baru melepaskan Dilla ketika dirasa wanita itu membutuhkan oksigen.


“Mas  Handoyo…  kamu mengagetkanku saja?’ Dilla  menepuk pundak pria itu.


Handoyo  tersenyum melihat wanitanya memanyunkan bibirnya. Wanita itu semakin cantik  setelah satu hari tidak bertemu.


“Katakan  bahwa sekarang  kau sedang merindukanku?”  Jika kau bilang  tidak, maka aku akan pergi lagi, Dilla.


“Mas  Handoyo…. Aku sangat merindukanmu… ayo kita ke tempatku… aku sudah menyiapkan  makanan dini hari untukmu… kamu pasti lelah… Cobain ya masakan yang khusus  kubuat untuk kamu!”


“ Kamu cantik sekali,pagi hari ini… ah salah kamu itu  selalu cantik setiap saat ... apalagi jika kamu ada di bawahku... dan sedang berkeringat  “  Sebagian kancing dari longcoat  yang dipakai Dilla itu terbuka akibat ulah


Handoyo yang memiliki gerak cepat dalam bertindak.


Pria itu tersenyum melihat Dilla hanya menggunakan pakaian dalam saja berupa kain berenda berwarna merah dan kain segitiga yang berwarna senada. Segera dikecupnya bagian tubuh yang terbuka dan letaknya  diatas kain berenda. Disesapnya perlahan. Dilla segera mendorong kepala Handoyo itu. Ia benar-benar takut tindakan mereka terekam CCTV.


“Kamu  sexy sekali sayang,” Handoyo  memandang  dengan penuh takjub atas keindahan tubuh wanita itu.   Meski terlihat jejak-jejak  kemerahan di tubuh Dilla  itu masih ada  akibat ulahnya kemarin yang memberikan banyak jejak kepemilikan ditubuh  wanita yang masih dipandanginya dengan penuh takjub.


“Jangan   disini mas Han…” Dilla sangat khawatir ada penghuni apartemen yang melihat  cumbuan pria itu padanya. Ia kembali mengancingkan Long Coatnya yang hampir  terlepas dari tubuhnya.


“Hemm…  Berjanjilah setelah kita makan… kamu hangatkan aku, hingga aku puas.


“Tentu  mas Han… asal tidak di tempat terbuka seperti ini… aku akan melakukan apa saja untukmu… tapi tidak di area terbuka, " Dilla masih bergelanyut manja di lengan kekar Handoyo.


“Baiklah…  mari kita ke tempatmu… ada siapa saja disana?”


“Aku  tinggal sendirian. jadi tidak ada siapapun di tempatku.


Mereka  melangkahkan kaki menuju lift untuk masuk ke unit apartemen Dilla. Ditekannya lantai 15.  Didepan pintu no 1516 mereka berhenti dan Dilla memasukkan password. Handoyo hanya mengamati  apa yang dilakukan Dilla dalam diam.  Unit apartemen  Dilla yang mewah dan didalamnya  memiliki 2 bedroom dan 1 ruang tamu yang besar,  ruang makan dan dapur yang menyatu dan kamar kecil yang bisa berfungsi sebagai Gudang ataupun dapat dijadikan  kamar pembantu.


“Apartemenmu  ini biar kecil tapi rapi dan nyaman,” Handoyo berkomentar mengamati unit apartemen  Dilla. “ Siapa saja yang suka datang kemari?”


“Hanya  Shinta dan tim kreatifku… mereka saja yang mengetahuiku dan sering datang kesini.  Memang Toshihiro itu mengetahui tempat ini tapi dia tidak mau mengunjungi  tempat ini , karena ia membelikanku apartemen di daerah Thamrin… dan sekarang  apartemen itu kosong karena aku tidak mau tinggal disana.


“Jadi   suamimu tidak pernah menginap  disini?”


"Gak... dia gengsi jika tidur disini ketika hubungan kami baik-baik saja, hingga dia berselingkuh dan melupakanku dan tidak pernah pulang ke Indonesia sekarang.


"Jika pria lain, apakah ada yang pernah tidur menemanimu disini? "


“gak  dong sayang… Cuma kamu saja yang aku ajak kemari… karena kamu special untukku,,,,Hanya mantan suamiku dan kamu yang pernah menyentuhku.... percayalah.... sekarang mas Han, mau mandi dulu atau makan dulu ? ‘Dilla berkata dengan penuh   keyakinan sehingga Handoyo tidak mengetahui kebohongannya. Toshihiro dulu menidurinya sebelum menganiayanya  di apartemen ini.


“Baiklah  aku mau mandi dulu… oh tapi pakaianku ada di mobil… aku harus turun dulu mengambilnya,Dilla!"

__ADS_1


“gak  usah … aku sudah siapkan pakaian baru untukmu… aku tadi membelikan khusus untukmu,  mas Han !” Kurasa aku tidak salah memilihkan ukurannya... pasti muat ditubuh kekarmu. " Dilla menyentuh dada bidang pria itu


Handoyo  tersenyum dan menarik Dilla ke pelukannya.


“Segera  ajukan perceraianmu…. Biar aku bisa segera memilikimu…. Aku tak rela jika ia menyentuhmu,  Dilla !”


“Aku  sudah mengajukan permohonan cerai semenjak dia memukuliku  tapi Toshihiro sedang di luar negeri, dia


sudah 6 bulan tidak ada di Indonesia dan mungkin tidak akan pernah kembali… Dia takut kembali ke Indonesia karena aku sudah melaporkan penganiayaan yang dia lakukan selain itu dia   sudah memiliki wanita lain.


“Baguslah  berarti bisa cepat urusannya… nanti biar pengacaraku yang membantumu agar segera kalian bercerai…. Aku mandi  dulu..  dimana kamarmu  pasti disana ada kamar mandi juga?”


“Tentu  donk, mas Han…Ayo !'


*****


Pagi  hari pukul 06.25 Shinta  memasuki ruang   apartemen Dilla langsung karena ia  seperti biasa memang diminta langsung masuk  karena mengetahui password apartemen itu, Shinta menghapus keringat di dahinya  dengan  tangan kanannya,  karena ia membawa  2  tas besar  yang cukup berat karena  berisi beberapa pakaian dan ornament perlengkapan tampil di TV  yang akan digunakan untuk Dilla untuk tampil nanti sore.


Shinta langsung duduk di  sofa ruang tamu, ia menarik nafas karena kelelahan. Kemarin  pagi Dilla memintanya untuk membawakan baju-baju  yang akan dipilih dan akan digunakan nanti di acara TV yang tidak bisa dicancel karena nama Dilla sudah  dipromosikan di berbagai media tanah air.


Shinta sedikit terkejut ketika mendengar seperti suara Dilla yang seperti sedang merintih ataupun  bersuara yang tidak seperti biasanya. Segera  dipanggilnya  nama sang artis itu.


“Mbak  Dilla… ini bajunya harus dicoba dulu..!” kalo kebesaran jam 09.00 bisa  dikecilkan nih, mbak Dilla…. “ Shinta berbicara sambil mengeluarkan baju-baju  itu dari tas dan menatanya di atas sofa ruang tamu.


Tidak  ada respon atas panggilan Shinta pada Dilla namun seperti ada suara seseorang  wanita yang sedang menggumam tidak jelas itu datang  kembali di pendengaran Shinta.


Ahhgh… suara itu terdengar kembali namun Shinta  merasa tidak yakin.  Shinta yang sedang  menunggu di ruang tamu itu makin resah . Ia  memanggil kembali wanita itu dengan agak keras.


“Mbak  Dilla?”


Kembali  tidak ada jawaban, namun ia masih mendengar suara -suara yang sedikit  mengganggunya. Shinta adalah seorang wanita dewasa yang polos meskipun ia  berumur 29 tahun.  Ia tidak memiliki kekasih dan hidupnya


diperuntukan untuk mendampingi artis  itu   dan mendoakan kebahagiaan Dilla serta kesuksesan kariernya. Gaji Dilla akan semakin besar jika artisnya memiliki kontrak dengan banyak stasiun TV ataupun berbagai undangan lainnya.


“ Aahhhhnnnn ……Mas Han…. “ Suara Dilla terdengar lagi


Betapa  Shinta sangat  terkejut ketika melihat  adegan vulgar secara langsung di dalam kamar Dilla yang pintunya  terbuka lebar .


Pria yang pernah sangat dihormatinya, sedang menikmati tubuh Dilla.  Mereka  berdua sedang bertelanjang dimana tubuh Dilla terlihat melenting ke belakang menikmati sensasi dari  cumbuan dan hentakan pria itu. Kakinya melingkar di pinggang Handoyo, sementara tubuh sang pria terlihat berkilat penuh keringat dan bergerak memajukan dan memundurkan ke arah tubuh polos Dilla.


Dilla  masih meracau akibat permainan pria yang sedang terus  menggerakkan pinggulnya secara cepat .   Terdengar suara penyatuan dari kedua tubuh itu  dan Dilla terus mendesah kenikmatan dan Handoyo makin mempercepat  gerakannya.


Keduanya  semakin menggila akibat tubuh Dilla yang terus dimasuki  Handoyo dan mulut handoyo berada di ujung bagian atas tubuh Dilla yang  merupakan salah satu symbol  kesexyan  dari seorang Dilla Pratiwi. . Putaran dan gigitan itu  membuat  Dilla makin meracau tidak jelas.


Di ujung pintu kamar Dilla, Shinta segera  melangkahkan kakinya meninggalkan mereka yang sedang sibuk


melakukan kegiatan terlarang itu.  Ia  merasa malu menonton perbuatan mereka berdua di dalam kamar Dilla. jantung Shinta ikut berdetak tak menentu menonton adegan vulgar secara langsung. wajahnya memerah menahan malu.


 Shinta meninggalkan catatan di atas tumpukan baju  dan meminta Dilla menghubunginya setelah mereka selesai dari aktifitasnya.  Shinta memilih menunggu di Lobby apartemen, ia merasa bingung, malu dan canggung jika  harus berada di unit apartemen Dilla dan terus mendengar desahan dan rintihan  Dilla yang tidak mengetahui kedatangan Shinta.


“Ah,,,,   mas Handoyo… ini nikmat sekali… mas Handoyo,,,,” Suara Dilla yang terdengar  jelas di telinga Shinta membuatnya semakin merinding.


Shinta  segera meninggalkan unit apartemen Dilla dan berlari hingga pintu itu  terbanting. Sementara kegiatan di dalam kamar itu masih terus terjadi hingga  Handoyo menggeram dan mengeluarkan cairannya di dalam Dilla.


Handoyo  ambruk  diatas tubuh Dilla. Ia  terbaring kelelahan dan belum mencabut  senjatanya. Dilla mengelus kening pria  itu yang dipenuhi keringat akibat kegiatan panas mereka. Nafas mereka  masih menderu dan degup jantung mereka berdetak seirama.


“Capek  ya mas Han?’ boleh geser sekarang mas Handoyoku… ini berat  sayang !” Dila berkata dengan nafas yang masih  menderu karena kelelahan olahraga di pagi hari.


Handoyo  mengeluarkan senjatanya dari tubuh Dilla  dan menggeser tubuhnya ke samping.


“hem… tapi ini capek yang memuaskan… aku sangat menikmatinya… kalo kamu?’ Handoyo bertanya sambil menarik tubuh Dilla agar berada di dalam pelukannya.


“Aku juga… rasanya seperti sedang terbang… hentakan kamu itu hebat banget sih mas Han  sampai mendorongku hingga ke bagian terdalamku… Aku itu makin sayang kamu, “  Dilla menaruh kepalanya di pundak pria itu. Ia mengelus dada bidang pria itu.

__ADS_1


“Dilla  … tadi sepertinya Shinta yang  datang  memanggilmu dan ia ada di depan pintu kamarmu  menonton atraksi  kita sebentar… ha…ha…  dia tadi terkejut menonton permainan kita secara langsung…


“Hah…  dia datang ke sini , mas handoyo?”


“Bukan  hanya datang… dia menonton kita dan kemudian tidak berapa lama ia langsung  pergi


:Ko  aku gak tahu ya, mas?" Kenapa mas Handoyo gak infoin dan cegah dia melihat kita ?'


“Aku sedang menikmati sensasi tubuhmu yang menggila … kamu terus menjerit dan memanggil namaku  berulang dan aku tidak bisa mencegahnya karena aku lagi tanggung, kamu membuatku makin gila dengan panggilanmu… ah..mas han… oh mas han… aku suka ketika kamu berteriak seperti itu,  Dilla.


“Jangan  diteruskan mas han… aku malu…aku … aku tergila-gila pada permainan dan cumbuan  mautmu…. Kamu itu hebat sekali … aku tidak pernah sepuas ini jika bermain bersama   Toshihiro


“Benarkah?”  Kamu tidak berbohong , Dilla,... apakah aku lebih memuaskanmu dibanding dia ?  “ handoyo menatap wajah Dilla secara intens dan   tangan kanannya menghapus keringat di wajah Dilla.


Dilla mengangguk dan Handoyo mengecup kening Dilla lama sekali.  Wanita itu menerimanya dengan nyaman. Ia tiba-tiba teringat akan assistenya yang berasal satu kampung.  Jangan-jangan Shinta pun mendapatkan perlakukan yang sama sepertinya. Ada rasa tidak suka di hati Dilla.


“mas  Handoyo… kenapa Shinta bisa begitu baik padamu… apakah kamu juga pernah  bercinta dengannya?” Bagus mana tubuhnya dengan tubuhku?" Dilla bertanya dengan tatapan tajam pada handoyo.


Disentilnya   kening Dilla.


“Ngaco  kamu, “ Dia itu seperti anakku, aku sudah mengenalnya sejak dia masih kecil sekali .. jangan berfikir yang aneh-aneh…aku tidak  berminat padanya dan aku tidak pernah menidurinya …aku lebih suka berada di dalam sini, ini menjepitku dengan erat kalo sudah masuk  “


Tangan  Handoyo kembali memasuki bagian inti dan mengoreknya disana.  Tangan itu keluar masuk hingga membuat Dilla  menggelinjang dan bergerak dengan tidak beraturan.


Dilla  menarik tangan Handoyo kembali  dan pria  itu memandangnya tidak suka dan beralih pada mulutnya yang bekerja di symbol kesexyan   Dig*g*tnya pelan milik  Dilla yang nantinya akan menjadi tempat makanan bagi anak-anak mereka.


“Mas   Handoyo,… ahh….  Mas… jika aku memintamu   menyingkirkan Shinta  … apakah kamu mau  melakukannya?”


“Kamu   cemburu padanya ?”


“Iya…   aku tidak ingin kamu menyayangi wanita lain?”


“baiklah   jika kamu ingin aku menyingkirkan dia  ,,,  aku   bereskan dia…  tapi jika sudah ada anakku  di rahimmu !” Aku tidak pernah dekat dengan siapapun seperti dirimu setelah istriku di kampung meninggal. Hanya kamu yang bisa memuaskanku.... Dilla... aku benar-benar ingin ada anakku didalam rahimmu.


“Kurasa….  tak lama lagi kita bisa mengetahuinya… mas Han… kamu benar-benar sayang aku,  kan?”


“  Dilla… jika bersamamu aku tidak pernah puas jika hanya melakukannya hanya  sekali…aku hanya sebuas ini hanya jika bersamamu….entah mengapa tubuhku tidak pernah  kehilangan energi jika untukmu… aku kehilangan kontrolku bila sedang  bersamamu…. Dilla   , aku akan melakukan apapun untukmu…


“Benarkah??”


“Hem…kamu itu tidak hanya special ketika bernyanyi di panggung tapi special juga  diatas ranjang ini…kurasa aku benar-benar tergila-gila padamu, Dilla… kurasa   aku tidak masalah jika harus mati menjalankan misiku kali ini… asalkan kamu benar-benar membesarkan anakku.... kurasa harga yang sepadan untuk misiku ini !"


“Mas  Han…. Kenapa bicara gitu?” Mas han tidak boleh mati… siapa yang akan menemaniku  tidur di sini…


“  Dilla , pekerjaanku seperti itu… taruhannya nyawaku… jika beruntung hanya sedikit  terluka…. Dengar aku pastikan Soffie akan mati terkapar dan bagiku tidak masalah,  aku melakukannya untukmu dengan sukarela… tidak perlu kau membayarku…. Tubuh  dan cintamu itu  bernilai lebih dari  5 milyar. Dilla  jika aku tertangkappun , aku tidak akan menyebut namamu…. Kau besarkan anakku  hingga aku bebas, aku akan kembali padamu tapi ingat pesanku… tidak boleh  seorangpun memasukimu, “ Tangan handoyo kembali memasuki bagian inti Dilla dan


membuat wanita itu bergerak gelisah.


Dilla tersenyum mendengar ucapan Handoyo yang akan menjalankan missinya  dengan penuh tanggungjawab. Dilla   membiarkan pria itu melakukan sesukanya pada tubuhnya kembali.


 


 


 


 


****


Happy reading guys... semoga tidak sepanas Dilla dan Handoyo ya !!!


Boleh tinggalkan jejak disini.... Thanks telah membacanya. Love u all ....

__ADS_1


__ADS_2