
Apabila kamu ingin hal besar terjadi dalam hidupmu, maka kamu juga harus siap untuk berjuang lebih besar untuk mendapatnya. Ada harga yang harus kamu bayar untuk setiap keinginan yang akan kamu capai.
*****
Denting jam di lobby berbunyi empat kali ketika Dilla keluar dari lift. Ia langsung melihat lobby apartemenya yang sepi di dini hari itu. Lobby di lantai satu apartemen itu terdiri dari tiga kelompok soffa. Tiap kelompok sofa dibatasi oleh tanaman hias sebagai sekat antar ruang sehingga penghuni dari tiap unit apartemen dapat menerima tamu di sofa-sofa itu jika memang tidak ingin menerima tamu di dalam unit apartemennya.
Semua ruangan di lobby apartemen itu diperhatikan Dilla. Tidak ada pria yang beberapa saat yang lalu baru saja menghubungnya tadi bahwa ia sudah sampai dan menunggunya di Lobby.
Sofa pertama di loby apartemen diliriknya dan kosong. Dilla melangkah kembali ke kelompok sofa kedua dan hasilnya sama hingga menemui sofa ke tiga yang tertutup taman yang paling rimbun dan pepohonan kecil , tidak ada sama sekali.
Apakah pria yang dicarinya itu masih di parkiran? Saat ini Dilla hanya menggunakan Long Coat berwarna putih selutut, dan sandal tipis berwarna pink. Cantik sekali walaupun tidak menggunakan make up. Dilla terlihat natural dan makin menggemaskan.
Dila akan melangkah keluar dari ruangan lobby dan akan menuju meja sekuriti yang berada di bagian luar depan
pintu masuk, Namun seseorang menarik pinggangnya dan memeluknya erat. Hampir menjerit namun mulutnya langsung disumpal oleh sebuah ciuman dari pria yang dicarinya.
Handoyo mendorongnya ke tembok di dekat satu ruangan tempat sofa ke dua yang tidak terlihat satpam di lobby. Dilla melotot dan berusaha melepaskan dari pelukan pria itu. Pria itu memiliki tubuh yang kekar nyaris dua kali lipat dari Dilla dan tenaganya luar biasa kuat. Handoyo baru melepaskan Dilla ketika dirasa wanita itu membutuhkan oksigen.
“Mas Handoyo… kamu mengagetkanku saja?’ Dilla menepuk pundak pria itu.
Handoyo tersenyum melihat wanitanya memanyunkan bibirnya. Wanita itu semakin cantik setelah satu hari tidak bertemu.
“Katakan bahwa sekarang kau sedang merindukanku?” Jika kau bilang tidak, maka aku akan pergi lagi, Dilla.
“Mas Handoyo…. Aku sangat merindukanmu… ayo kita ke tempatku… aku sudah menyiapkan makanan dini hari untukmu… kamu pasti lelah… Cobain ya masakan yang khusus kubuat untuk kamu!”
“ Kamu cantik sekali,pagi hari ini… ah salah kamu itu selalu cantik setiap saat ... apalagi jika kamu ada di bawahku... dan sedang berkeringat “ Sebagian kancing dari longcoat yang dipakai Dilla itu terbuka akibat ulah
Handoyo yang memiliki gerak cepat dalam bertindak.
Pria itu tersenyum melihat Dilla hanya menggunakan pakaian dalam saja berupa kain berenda berwarna merah dan kain segitiga yang berwarna senada. Segera dikecupnya bagian tubuh yang terbuka dan letaknya diatas kain berenda. Disesapnya perlahan. Dilla segera mendorong kepala Handoyo itu. Ia benar-benar takut tindakan mereka terekam CCTV.
“Kamu sexy sekali sayang,” Handoyo memandang dengan penuh takjub atas keindahan tubuh wanita itu. Meski terlihat jejak-jejak kemerahan di tubuh Dilla itu masih ada akibat ulahnya kemarin yang memberikan banyak jejak kepemilikan ditubuh wanita yang masih dipandanginya dengan penuh takjub.
“Jangan disini mas Han…” Dilla sangat khawatir ada penghuni apartemen yang melihat cumbuan pria itu padanya. Ia kembali mengancingkan Long Coatnya yang hampir terlepas dari tubuhnya.
“Hemm… Berjanjilah setelah kita makan… kamu hangatkan aku, hingga aku puas.
“Tentu mas Han… asal tidak di tempat terbuka seperti ini… aku akan melakukan apa saja untukmu… tapi tidak di area terbuka, " Dilla masih bergelanyut manja di lengan kekar Handoyo.
“Baiklah… mari kita ke tempatmu… ada siapa saja disana?”
“Aku tinggal sendirian. jadi tidak ada siapapun di tempatku.
Mereka melangkahkan kaki menuju lift untuk masuk ke unit apartemen Dilla. Ditekannya lantai 15. Didepan pintu no 1516 mereka berhenti dan Dilla memasukkan password. Handoyo hanya mengamati apa yang dilakukan Dilla dalam diam. Unit apartemen Dilla yang mewah dan didalamnya memiliki 2 bedroom dan 1 ruang tamu yang besar, ruang makan dan dapur yang menyatu dan kamar kecil yang bisa berfungsi sebagai Gudang ataupun dapat dijadikan kamar pembantu.
“Apartemenmu ini biar kecil tapi rapi dan nyaman,” Handoyo berkomentar mengamati unit apartemen Dilla. “ Siapa saja yang suka datang kemari?”
“Hanya Shinta dan tim kreatifku… mereka saja yang mengetahuiku dan sering datang kesini. Memang Toshihiro itu mengetahui tempat ini tapi dia tidak mau mengunjungi tempat ini , karena ia membelikanku apartemen di daerah Thamrin… dan sekarang apartemen itu kosong karena aku tidak mau tinggal disana.
“Jadi suamimu tidak pernah menginap disini?”
"Gak... dia gengsi jika tidur disini ketika hubungan kami baik-baik saja, hingga dia berselingkuh dan melupakanku dan tidak pernah pulang ke Indonesia sekarang.
"Jika pria lain, apakah ada yang pernah tidur menemanimu disini? "
“gak dong sayang… Cuma kamu saja yang aku ajak kemari… karena kamu special untukku,,,,Hanya mantan suamiku dan kamu yang pernah menyentuhku.... percayalah.... sekarang mas Han, mau mandi dulu atau makan dulu ? ‘Dilla berkata dengan penuh keyakinan sehingga Handoyo tidak mengetahui kebohongannya. Toshihiro dulu menidurinya sebelum menganiayanya di apartemen ini.
“Baiklah aku mau mandi dulu… oh tapi pakaianku ada di mobil… aku harus turun dulu mengambilnya,Dilla!"
__ADS_1
“gak usah … aku sudah siapkan pakaian baru untukmu… aku tadi membelikan khusus untukmu, mas Han !” Kurasa aku tidak salah memilihkan ukurannya... pasti muat ditubuh kekarmu. " Dilla menyentuh dada bidang pria itu
Handoyo tersenyum dan menarik Dilla ke pelukannya.
“Segera ajukan perceraianmu…. Biar aku bisa segera memilikimu…. Aku tak rela jika ia menyentuhmu, Dilla !”
“Aku sudah mengajukan permohonan cerai semenjak dia memukuliku tapi Toshihiro sedang di luar negeri, dia
sudah 6 bulan tidak ada di Indonesia dan mungkin tidak akan pernah kembali… Dia takut kembali ke Indonesia karena aku sudah melaporkan penganiayaan yang dia lakukan selain itu dia sudah memiliki wanita lain.
“Baguslah berarti bisa cepat urusannya… nanti biar pengacaraku yang membantumu agar segera kalian bercerai…. Aku mandi dulu.. dimana kamarmu pasti disana ada kamar mandi juga?”
“Tentu donk, mas Han…Ayo !'
*****
Pagi hari pukul 06.25 Shinta memasuki ruang apartemen Dilla langsung karena ia seperti biasa memang diminta langsung masuk karena mengetahui password apartemen itu, Shinta menghapus keringat di dahinya dengan tangan kanannya, karena ia membawa 2 tas besar yang cukup berat karena berisi beberapa pakaian dan ornament perlengkapan tampil di TV yang akan digunakan untuk Dilla untuk tampil nanti sore.
Shinta langsung duduk di sofa ruang tamu, ia menarik nafas karena kelelahan. Kemarin pagi Dilla memintanya untuk membawakan baju-baju yang akan dipilih dan akan digunakan nanti di acara TV yang tidak bisa dicancel karena nama Dilla sudah dipromosikan di berbagai media tanah air.
Shinta sedikit terkejut ketika mendengar seperti suara Dilla yang seperti sedang merintih ataupun bersuara yang tidak seperti biasanya. Segera dipanggilnya nama sang artis itu.
“Mbak Dilla… ini bajunya harus dicoba dulu..!” kalo kebesaran jam 09.00 bisa dikecilkan nih, mbak Dilla…. “ Shinta berbicara sambil mengeluarkan baju-baju itu dari tas dan menatanya di atas sofa ruang tamu.
Tidak ada respon atas panggilan Shinta pada Dilla namun seperti ada suara seseorang wanita yang sedang menggumam tidak jelas itu datang kembali di pendengaran Shinta.
Ahhgh… suara itu terdengar kembali namun Shinta merasa tidak yakin. Shinta yang sedang menunggu di ruang tamu itu makin resah . Ia memanggil kembali wanita itu dengan agak keras.
“Mbak Dilla?”
Kembali tidak ada jawaban, namun ia masih mendengar suara -suara yang sedikit mengganggunya. Shinta adalah seorang wanita dewasa yang polos meskipun ia berumur 29 tahun. Ia tidak memiliki kekasih dan hidupnya
diperuntukan untuk mendampingi artis itu dan mendoakan kebahagiaan Dilla serta kesuksesan kariernya. Gaji Dilla akan semakin besar jika artisnya memiliki kontrak dengan banyak stasiun TV ataupun berbagai undangan lainnya.
“ Aahhhhnnnn ……Mas Han…. “ Suara Dilla terdengar lagi
Betapa Shinta sangat terkejut ketika melihat adegan vulgar secara langsung di dalam kamar Dilla yang pintunya terbuka lebar .
Pria yang pernah sangat dihormatinya, sedang menikmati tubuh Dilla. Mereka berdua sedang bertelanjang dimana tubuh Dilla terlihat melenting ke belakang menikmati sensasi dari cumbuan dan hentakan pria itu. Kakinya melingkar di pinggang Handoyo, sementara tubuh sang pria terlihat berkilat penuh keringat dan bergerak memajukan dan memundurkan ke arah tubuh polos Dilla.
Dilla masih meracau akibat permainan pria yang sedang terus menggerakkan pinggulnya secara cepat . Terdengar suara penyatuan dari kedua tubuh itu dan Dilla terus mendesah kenikmatan dan Handoyo makin mempercepat gerakannya.
Keduanya semakin menggila akibat tubuh Dilla yang terus dimasuki Handoyo dan mulut handoyo berada di ujung bagian atas tubuh Dilla yang merupakan salah satu symbol kesexyan dari seorang Dilla Pratiwi. . Putaran dan gigitan itu membuat Dilla makin meracau tidak jelas.
Di ujung pintu kamar Dilla, Shinta segera melangkahkan kakinya meninggalkan mereka yang sedang sibuk
melakukan kegiatan terlarang itu. Ia merasa malu menonton perbuatan mereka berdua di dalam kamar Dilla. jantung Shinta ikut berdetak tak menentu menonton adegan vulgar secara langsung. wajahnya memerah menahan malu.
Shinta meninggalkan catatan di atas tumpukan baju dan meminta Dilla menghubunginya setelah mereka selesai dari aktifitasnya. Shinta memilih menunggu di Lobby apartemen, ia merasa bingung, malu dan canggung jika harus berada di unit apartemen Dilla dan terus mendengar desahan dan rintihan Dilla yang tidak mengetahui kedatangan Shinta.
“Ah,,,, mas Handoyo… ini nikmat sekali… mas Handoyo,,,,” Suara Dilla yang terdengar jelas di telinga Shinta membuatnya semakin merinding.
Shinta segera meninggalkan unit apartemen Dilla dan berlari hingga pintu itu terbanting. Sementara kegiatan di dalam kamar itu masih terus terjadi hingga Handoyo menggeram dan mengeluarkan cairannya di dalam Dilla.
Handoyo ambruk diatas tubuh Dilla. Ia terbaring kelelahan dan belum mencabut senjatanya. Dilla mengelus kening pria itu yang dipenuhi keringat akibat kegiatan panas mereka. Nafas mereka masih menderu dan degup jantung mereka berdetak seirama.
“Capek ya mas Han?’ boleh geser sekarang mas Handoyoku… ini berat sayang !” Dila berkata dengan nafas yang masih menderu karena kelelahan olahraga di pagi hari.
Handoyo mengeluarkan senjatanya dari tubuh Dilla dan menggeser tubuhnya ke samping.
“hem… tapi ini capek yang memuaskan… aku sangat menikmatinya… kalo kamu?’ Handoyo bertanya sambil menarik tubuh Dilla agar berada di dalam pelukannya.
“Aku juga… rasanya seperti sedang terbang… hentakan kamu itu hebat banget sih mas Han sampai mendorongku hingga ke bagian terdalamku… Aku itu makin sayang kamu, “ Dilla menaruh kepalanya di pundak pria itu. Ia mengelus dada bidang pria itu.
__ADS_1
“Dilla … tadi sepertinya Shinta yang datang memanggilmu dan ia ada di depan pintu kamarmu menonton atraksi kita sebentar… ha…ha… dia tadi terkejut menonton permainan kita secara langsung…
“Hah… dia datang ke sini , mas handoyo?”
“Bukan hanya datang… dia menonton kita dan kemudian tidak berapa lama ia langsung pergi
:Ko aku gak tahu ya, mas?" Kenapa mas Handoyo gak infoin dan cegah dia melihat kita ?'
“Aku sedang menikmati sensasi tubuhmu yang menggila … kamu terus menjerit dan memanggil namaku berulang dan aku tidak bisa mencegahnya karena aku lagi tanggung, kamu membuatku makin gila dengan panggilanmu… ah..mas han… oh mas han… aku suka ketika kamu berteriak seperti itu, Dilla.
“Jangan diteruskan mas han… aku malu…aku … aku tergila-gila pada permainan dan cumbuan mautmu…. Kamu itu hebat sekali … aku tidak pernah sepuas ini jika bermain bersama Toshihiro
“Benarkah?” Kamu tidak berbohong , Dilla,... apakah aku lebih memuaskanmu dibanding dia ? “ handoyo menatap wajah Dilla secara intens dan tangan kanannya menghapus keringat di wajah Dilla.
Dilla mengangguk dan Handoyo mengecup kening Dilla lama sekali. Wanita itu menerimanya dengan nyaman. Ia tiba-tiba teringat akan assistenya yang berasal satu kampung. Jangan-jangan Shinta pun mendapatkan perlakukan yang sama sepertinya. Ada rasa tidak suka di hati Dilla.
“mas Handoyo… kenapa Shinta bisa begitu baik padamu… apakah kamu juga pernah bercinta dengannya?” Bagus mana tubuhnya dengan tubuhku?" Dilla bertanya dengan tatapan tajam pada handoyo.
Disentilnya kening Dilla.
“Ngaco kamu, “ Dia itu seperti anakku, aku sudah mengenalnya sejak dia masih kecil sekali .. jangan berfikir yang aneh-aneh…aku tidak berminat padanya dan aku tidak pernah menidurinya …aku lebih suka berada di dalam sini, ini menjepitku dengan erat kalo sudah masuk “
Tangan Handoyo kembali memasuki bagian inti dan mengoreknya disana. Tangan itu keluar masuk hingga membuat Dilla menggelinjang dan bergerak dengan tidak beraturan.
Dilla menarik tangan Handoyo kembali dan pria itu memandangnya tidak suka dan beralih pada mulutnya yang bekerja di symbol kesexyan Dig*g*tnya pelan milik Dilla yang nantinya akan menjadi tempat makanan bagi anak-anak mereka.
“Mas Handoyo,… ahh…. Mas… jika aku memintamu menyingkirkan Shinta … apakah kamu mau melakukannya?”
“Kamu cemburu padanya ?”
“Iya… aku tidak ingin kamu menyayangi wanita lain?”
“baiklah jika kamu ingin aku menyingkirkan dia ,,, aku bereskan dia… tapi jika sudah ada anakku di rahimmu !” Aku tidak pernah dekat dengan siapapun seperti dirimu setelah istriku di kampung meninggal. Hanya kamu yang bisa memuaskanku.... Dilla... aku benar-benar ingin ada anakku didalam rahimmu.
“Kurasa…. tak lama lagi kita bisa mengetahuinya… mas Han… kamu benar-benar sayang aku, kan?”
“ Dilla… jika bersamamu aku tidak pernah puas jika hanya melakukannya hanya sekali…aku hanya sebuas ini hanya jika bersamamu….entah mengapa tubuhku tidak pernah kehilangan energi jika untukmu… aku kehilangan kontrolku bila sedang bersamamu…. Dilla , aku akan melakukan apapun untukmu…
“Benarkah??”
“Hem…kamu itu tidak hanya special ketika bernyanyi di panggung tapi special juga diatas ranjang ini…kurasa aku benar-benar tergila-gila padamu, Dilla… kurasa aku tidak masalah jika harus mati menjalankan misiku kali ini… asalkan kamu benar-benar membesarkan anakku.... kurasa harga yang sepadan untuk misiku ini !"
“Mas Han…. Kenapa bicara gitu?” Mas han tidak boleh mati… siapa yang akan menemaniku tidur di sini…
“ Dilla , pekerjaanku seperti itu… taruhannya nyawaku… jika beruntung hanya sedikit terluka…. Dengar aku pastikan Soffie akan mati terkapar dan bagiku tidak masalah, aku melakukannya untukmu dengan sukarela… tidak perlu kau membayarku…. Tubuh dan cintamu itu bernilai lebih dari 5 milyar. Dilla jika aku tertangkappun , aku tidak akan menyebut namamu…. Kau besarkan anakku hingga aku bebas, aku akan kembali padamu tapi ingat pesanku… tidak boleh seorangpun memasukimu, “ Tangan handoyo kembali memasuki bagian inti Dilla dan
membuat wanita itu bergerak gelisah.
Dilla tersenyum mendengar ucapan Handoyo yang akan menjalankan missinya dengan penuh tanggungjawab. Dilla membiarkan pria itu melakukan sesukanya pada tubuhnya kembali.
****
Happy reading guys... semoga tidak sepanas Dilla dan Handoyo ya !!!
Boleh tinggalkan jejak disini.... Thanks telah membacanya. Love u all ....
__ADS_1