Cinta Tanpa Alasan

Cinta Tanpa Alasan
Bab 1


__ADS_3

Hay para readers maaf ya jika typonya masih banyak. Semoga suka dengan ceritanya.


Happy reading. ❀❀❀❀


---------------------------------------


Hari senin adalah hari yang paling dihindari bahkan dibenci oleh kebanyakan orang terutama anak sekolahan dan pegawai kantoran.


Namun berbeda dengan seorang Ibrahim Alkatiri yang sangat gila kerja,ia malah semangat menyambut hari senin.Seperti hari ini, laki-laki yang akrab disapa Ibra itupun sudah siap dengan stelan kemeja putih dan celana hitam dipadukan dengan jas berwarna senada tak lupa dasi yang berwarna hitam pula. Ya, dia memang penyuka dua warna itu seperti dua sisi kehidupan.


Laki-laki yang tinggi, tampan, mapan, berkharisma dan ramah. Tidak ada yang mampu menolak pesona putra kedua Yusuf Alkatiri ini.


Ketampanan yang dimiliki seorang Ibra menurun dari ayahnya yang keturunan Arab. Bukan ayahnya yang orang Arab tetapi ayah dari ayahnya yaitu kakeknya. Meskipun sudah keturunan kedua tetapi Arabnya masih kental, lihat saja mata nya yang besar bak mata orang Arab juga wajahnya ditumbuhi bulu-bulu halus yang membuat ketampanannya meningkat.


Namun ada kekurangannya, diusianya yang sudah menginjak kepala tiga dia belum juga memiliki keluarga. Jangankan keluarga bahkan kekasih pun dia tak punya. Aduh kasian amat ya Ibra abisnya dia gak mau sama aothor sih. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


***


Dikantor seperti biasa kedatangan Ibra menjadi perhatian para pegawainya apalagi pegawai perempuan. Mereka meninggalkan pekerjaan mereka sejenak hanya demi menyambut pimpinan mereka yang tampan rupawan dan sayang jika dilewatkan begitu saja.


"Pagi pak"Sapa salah satu karyawannya.


"Pagi." Ibra membalas sapaan karyawannya tak lupa dengan senyum manis yang membuat para gadis menjerit.


"OMG senyumnya itu loh,bikin meleleh." Celetuk Mira setelah Ibra hilang dipintu lif.


"Selain itu dia juga ramah.Gak kaya yang aku baca di novel, kebanyakan presdirnya dingin kaya kutub utara." Saut Murni.


"Makanya sadar woy ini dunia nyata bukan dunia novel.Lagian kau ini aneh-aneh saja pimpinan dingin di sukai."Nita merasa tak habis fikir dengan temannya yang satu itu.


"Kerja jangan ngobrol aja."Seru Roni.


"Kau ini menggangu saja Ron." Sungut Murni kesal dengan terpaksa balik kemejanya. Sedang teman yang lain menertawakannya karena mereka tau jika Murni itu pengagum bos tampan mereka itu.


Sementara itu Ibra sudah tenggelam dalam file-file yang menumpuk di meja.


Tok Tok Tok


(Terdengar suara ketukan dari luar.)


"Masuk" saut Ibra.


"Maaf pa, ini beberapa file yang perlu bapa tandatangani"Seru Roni. Ibra meraih map yang diberikan oleh Roni.


Roni keluar dari ruangan Ibra.Ibra pun melanjutkan kegiatannya memeriksa file-file yang sebenarnya bisa dia kerjakan lain waktu. Namun yang namanya Ibra orangnya gila kerja jadilah file-file yang akan datang dia kerjakan lebih awal.


Tak terasa waktu menunjukkan pukul 17:00 itu berarti saatnya pulang kantor. Ibra terliat masih sibuk dengan pekerjaannya bahkan dia melewatkan makan siangnya begitu saja.


Drrttt Drrttt Drrrttt


"Hallo, Assalamualaikum Bun. "


"...................."


"Masih ada file yang yang harus Ibra periksa."


"......................"


"Iya mah baiklah. Waalakumsalam." Ibra mengakhiri percakapannya dengan Sonia. Tampak kekesalan terlihat diwajahnya. Entah apa yang dibicarakan bundanya hingga nembuat Ibra harus menghentikan pekerjaannya.


Setelah merapikan berkas-berkas yang berserakan di meja kerjanya Ibra berjalan menuju pintu keluar dari ruangannya.


Ibra berjalan menuju lif sampai akhirnya tubuhnya hilang dibalik pintu lif.


Dilantai dasar masih banyak karyawan yan belum pulang karena mereka sibuk merapikan barang-barang mereka. Tetapi ada juga yang hanya duduk santai di sofa loby mungkin tengah menunggu temannya atau menunggu jemputan.


Semua karyawan yang tersisa merasa heran dengan jam pulang Ibra yang jauh lebih awal dari biasanya. Sementara itu Ibra hanya berlalu tanpa menyapa terlebih dahulu karyawannya.

__ADS_1


"Tumben pa Ibra pulang jam segini." Celetuk Indra tentu saja setelah Ibra keluar dari kantor.


"Iya mana wajahnya datar gitu lagi.Ada apa ya dengan si bos..?"Saut Murni seraya menerka-nerka suasana hati sang atasan.


Sedangkan di dalam mobil Ibra merasa tidak tenang dan tidak ingin pulang karena dia tau hal penting yang akan bundanya bicarakan pasti tidak jauh-jauh dari soal perjodohan.


Tetapi Ibra pun tidak bisa tidak pulang karena dia sangat menyayangi dan menghormati bundanya jadi dia tidak ingin mengecewakan wanita tercintanya itu.


Tak lama kemudian Ibra tiba di rumahnya. Ibra turun dari mobil yang dia kemudikan sendiri. Dan meminta mang Toha memarkirkan mobil ditempat biasanya setelah memberikan kunci mobil sebelumnya.


Dengan langkah santai Ibra berjalan masuk kedalam rumah. Ketika melewati ruang tengah ternyata semua anggota keluarga tengah berkumpul menanti kedatangannya.


"Assalamualaikum." Ibra mengucap salam.


"Waalaikumsalam."Saut semuanya.


Ibra mendudukan diri di sofa setelah mencium punggung tangan kedua orang tuanya juga kaka dan kaka iparnya. Sedangkan adiknya mencium punggung tangan Ibra.


"Ibra, kamu tau kan bunda menyuruh pulang untuk apa?" Tak ada jawaban keluar dari mulut Ibra hanya anggukan yang dia berikan sebagai tanda dia mengetahui maksud sang bunda.


"Bunda sama ayah sudah putuskan untuk menjodohkan kamu dengan anak kolega bisnis ayah." Menghela napas lalu melanjutkan "Bunda harap kamu akan menerimanya." Sonia menatap penuh harap kepada putra keduanya itu.


"Jika itu yang terbaik buat Ibra menurut menurut Ayah dan Bunda insyaallah Ibra terima." Ucap Ibra menatap Yusuf dan Sonia bergantian.


"Alhamdulillah." Ucap seluruh anggota keluarga serempak.


"Sebaiknya sekarang kamu mandi, sebentar lagi azan. Setelah magrib kita silaturahmi kerumah calon istrimu."Ibra hanya diam tanpa menyahut perkataan Ayahnya. Kemudian Ibra pamit kekamarnya.


Jam masih menunjukkan pukul 18:00 Ibra tidak langsung mandi setelah dia masuk kamar. Ibra malah merebahkan diri dikasurnya untuk sejenak menenangkan hati dan fikirannya.


Tak terasa sepuluh menit lagi azan berkumandang. Ibra memutuskan untuk mandi lalu sholat dan setelah itu mengikuti permintaan orang tuanya untuk ikut berkunjung kerumah orang tua gadis yang dijodohkan dengannya.


Ibra keluar dari kamarnya mamakai pakaian santai terlihat sangat tampan apalagi dengan kaos putih tangan panjang yang ditarik sedikit keatas dipadukan dengan celana jeans biru tua semakin membuat tampilannya menawan.


Diruang tengah nampak kedua orang tua beserta kaka dan adiknya tengah menanti. Namun yang berpakaian rapi hanya kedua orang tuanya karena memang hanya Yusufdan Sonia yang akan mengantar Ibra bertemu dengan calon istrinya, yang lain hanya menunggu kabar baiknya dirumah.


"Tampan sekali anak Bunda ini." Ucap Sonia saat Ibra berjalan kearahnya.


"Anak kecil gak usah ikut komentar." Ibra mendengus merasa kesal digoda adik satu-satunya itu.


Ibra beserta kedua orang tuannya pamit kepada yang lain.Mereka berjalan keluar rumah dan langsung menaiki mobil yang akan Ibra kemudikan sendiri. Namun belum sempat dia masuk kedalam mobil ayahnya terlebih dahulu menghentikannya.


"Ada apa ayah menghentikanku." Ibra mengernyitkan dahinya merasa heran dengan Yusuf.


"Sudah kamu di belakang saja biar ayah yang kemudikan."


"Loh kenapa..? Ibra bisa kok lagian nanti ayah capek jika harus menyetir." Ibra berharap Yusuf menyetujuinya.


"Tapi kan hari ini hari spesialnya kamu jadi biar ayah saja yang kemudikan. Itung-itung memanjakanmu sebelum kau menikahi anak gadis orang." Yusuf tersenyum hangat. Akhirnya Ibra membiarkan Yusuf yang mengemudi.


Diperjalanan Ibra hanya mendengarkan percakapan kedua orang tuanya membahas perihal perjodohan dirinya dengan putri kolega ayahnya. Sesekali juga Sonia menggoda Ibra agar anaknya itu tidak tegang.


Sekitar tiga puluh menit perjalanan Ibra beserta kedua orang tuanya tiba dikediaman keluarga Abraham Yudhistira. Mereka satu persatu turun dari mobil berjalan ke arah pintu utama terlihat disana pak Abraham dan istri langsung yang menyambut mereka.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" Yusuf dan Abraham langsung bersalaman seraya berpelukan.Begitu pula yang dilakukan istri-istri mereka.


Ibra pun mencium punggung tangan calon mertuanya itu.


Mereka masuk kedalam rumah. Berhubung sudah masuk waktu isya pas diperjalanan tadi Ibra dan keluarga numpang sholat di rumah pak Abraham.


Beberapa saat kemudian mereka selesai sholat dan langsung bergabung di meja makan karena sudah ditunggu keluarga pak Abraham.


Dimeja makan sudah ada Abraham,Santi, dan seorang anak gadis duduk disamping Santi. Gadis itu tampak manis mengenakan hijab syar'i berwarna ungu muda senada dengan gamis yang ia pakai.


"Silahkan duduk." Seru Santi seraya tersenyum.Ibra sekeluarga pun duduk menghadapi hidangan yang tersedia.

__ADS_1


"Wahh ini ya yang namanya Nabila.Cantik" Celetuk Sonia sesaat setelah mendudukan bokongnya di kursi.


"Iya mba, perkenalkan ini Nabila putri kedua kami." Saut Santi.Nabila bangkit dari duduknya untuk menyalami tangan kedua orang tua Ibra.


"Gak salah pilih calon mantu." Ucap Yusuf. Ibra hanya tersenyum begitu pula Nabila.


"Putrimu yang satu nya mana San?"


"Oh Amini sebentar lagi dia turun kok tadi dia lagi mengerjakan tugas kantornya." Sonia hanya manggut-manggut mendengar jawaban calon besannya tersebut dan merekapun memulai makan malam.


Amini nampak berjalan ke arah meja makan namun terlihat sekali raut wajah lelahnya bahkan kini terlihat sedikit pucat.


"Assalamualaikum, maaf Amini telat."Ucapnya sembari tersenyum dan segera duduk dikursi yang langsung berhadapan dengan Ibra.


Amini tidak kalah cantik dari Nabila bahkan mungkin lebih cantik jika dia tersenyum.Mereka terpaut usia tiga tahun dan kini Amini berusia 25 tahun. Tak ada yang berbeda dari keduanya mereka sama-sama sopan dan santun. Hanya saja Amini selalu menundukkan kepalanya dihadapan orang lain apalagi laki-laki.Berbeda dengan Nabila yang bersikap biasa aja.


Namun entah kenapa Ibra merasa lebih tertarik dengan Amini. Sebelum semuanya lebih jauh lagi yang akan membuat runyam keadaan Ibra memberanikan diri untuk bicara dihadapan kedua orang tuanya dan kedua orang tua Amini.


"Maaf om, tante apa Ibra boleh berbicara."Ketika mereka sudah berkumpul diruang tamu .Kata-kata Ibra membuat Yusuf dan Sonia gusar takut akan anaknya membatalkan perjodohan ini.


"Kamu jangan macam-macam Bra, bukankan kamu sudah menyetujuinya tadi." Kata Sonia terlihat sekali gurat kecemasan diwajah ayunya.


"Biar kan saja putramu ingin bicara. Lebih baik sekarang kan daripada nanti setelah menikah."Abraham memberi izin kepada Ibra untuk bicara.


"Maaf beribu maaf om, tante Ibra tidak bisa menikahi Nabila." Dengan ragu Ibra mengatakannya karena keputusannya ini akan menyakiti semua pihak telebih orang tuanya.


"Ibra.. " Suara Yusuf meninggi karena merasa kesal mendengar penuturan putra keduanya itu. Sonia pun tak kalah terkejutnya juga kesal pada Ibra


"Sabar dulu Suf" Abraham menenangkan rekan bisnisnya itu.


"Apa alasanmu menolak perjodohan ini?" Tanya Abraham.


"Karena Ibra menyukai gadis lain." Seketika ucapan Ibra membuat Yusuf makin marah dan malu terhadap keluarga Abraham.


"Jika kau sudah punya gadis yang kau sukai mengapa kau menerima perjodohan ini.?"Tanya Yusuf geram.


"Kamu tidak memikirkan perasaan Nabila,kasihan dia Bra." Sonia berusaha berkata lembut agar anaknya mau melanjutkan perjodohan ini.


Belum sempat Ibra menjawab pertanyaan orang tuanya Nabila lebih dulu angkat bicara.


"Maaf om, tante, mah, pah tapi Nabila gak apa-apa kok jika perjodohan ini harus batal karena Nabila pun sebenarnya belum siap untuk menikan diusia muda. Nabila masih ingin mengejar S2 Nabila." Mendengar penjelasan Nabila. Dua pasang paruh baya itu hanya mampu menghembusan nafas pasrah. Mungkin mereka memang tidak ditakdirkan untuk berbesanan.


"Ayah sama bunda juga om dan tante gak usah risau atau putus asa atas gagalnya perjodohan Ibra dengan Nabila.Maaf kan Ibra karena Ibra baru saja bicara jika Ibra sudah menyukai orang lain, karena memang orang yang Ibra sukai baru saja ketemu hari ini." Semua mengernyitkan dahi merasa bingung juga penasaran siapa gadis yang dimaksud Ibra.


"Mau bagaimana lagi, ayah sama bunda hanya bisa pasrah atas pilihanmu. Tetapi bunda ingin tau siapkah gadis yang kamu maksud?" Sonia bertanya seraya menatap lekat kedua manik mata putranya itu.


"Dia ada disini kok bun." Ibra tersenyum seraya menunjuk kearah dimana Amini duduk.


Karena penasaran Amini mengangkat kepalanya yang sedari tadi hanya menunduk. Amini merasa gugup dan bingung kenapa semua orang memandangnya. Saat matanya bertemudengan mata Ibra Amini nampak terkesiap lalu menundukkan kepalanya kembali.


Deg Deg Deg


Jantung Amini berdetak begitu kencangnya hingga iya memegangi jantungnya karena takut jantungnya melompat keluar.


Semua orang yang tadi menatap Amini berbalik menatap Ibra lalu kemudian terucap syukur dari mulut para orang tua.


"Kita jadi besanan" Sonia nampak bahagia sekali lalu memeluk Santi. Begitupun para suami.


Tapi sesaat kemudian mereka terdiam karena mendengar penolakan Amini.


"Maaf aku tidak bisa menerima mu Ibra."Kalimat penolakan itu kembali meluruhkan hati orang tua Ibra.


Ibra pun tak kalah terkejut akan penolakan Amini. Tapi Ibra sadar mungkin Amini terkejut bahwa dia yang Ibra inginkan.


"Sayang sampai kapan kamu akan menolak..?" Santi mendekati putri sulungnya sambil mengelus kepalanya.


"Maaf mah Amini gak mau menikah." Amini langsung pergi meninggalkan ruang tamu dengan menyembunyikan air matanya. Nabila ikut beranjak menyusul kakanya ke kamar.

__ADS_1


Tinggalah Ibra dan kedua orang tuanya dan orang tua Amini diruang tamu.


Tak lama setelah itu Yusuf sekeluarga pamit pulang karena hari sudah larut malam. Mereka pulang dengan perasaan yang tak menentu. Namun sepertinya Ibra tidak gampang menyerah untuk meluluhkan hati gadis pujaannya.


__ADS_2