Cinta Tanpa Alasan

Cinta Tanpa Alasan
S 2 Bukan Pilihan


__ADS_3

Hari-hari kini berlalu, tidak terasa pernikahan Pano dan Rani pun sudah tiba.


Selama itu pula, Mario selalu datang menghampiri Kenjo, berusaha mencuri perhatian Kenjo, beralasan rasa terimakasih atas pertolongan Ze kala itu. Dan kehadiran Mario, sukses membuat Kenan kesal, ada sesuatu yang menjanggal di hati Kenan, membuat nya harus ekstra untuk memperhatikan Ze dan Kenjo, memberikan perhatian lebih untuk dua orang yang paling penting dalam hidup nya. Takut kehadiran Mario akan mencelakai keduanya.


Perlakuan Mario membuat Kenan tidak tenang, walau sekilas terlihat baik tapi ada hal yang Kenan khawatirkan, hingga membuat nya memerintahkan bawahan nya untuk mencari tau sosok laki-laki asing itu.


~


Ze dan Kenjo kini terlihat sedang bersiap untuk menghadiri pesta pernikahan Pano dan Rani.


Kenan sendiri, melangkah menuju balkon kamarnya, ada hal yang harus ia ketahui sebelum mereka menghadiri pesta.


Kenan pun langsung mengambil ponselnya, dan bergegas melakukan panggilan.


"Apa kau sudah mengetahui identitas nya?" tanya nya to the point, pada seseorang yang ia panggil, yang tidak lain adalah bawahan nya.


"Maaf Tuan, identitas sangat tertutup rapat sampai kami belum bisa mengetahui identitas lengkap nya," jawab sesal di sebrang sana, membuat Kenan berdecak kesal.


"Dasar tidak berguna, mencari identitas satu orang saja membutuhkan waktu lama," tegur Kenan dengan dingin nya.


"Maaf Tuan, kami akan secepat mungkin menemukan identitas nya dan segera melaporkan pada Tuan,"


"Jangan mengecewakan ku, aku tunggu informasinya," tegas Kenan langsung mengakhiri panggilan nya.


"Siap sebenarnya laki-laki itu? kenapa selalu berlagak baik dan perhatian pada Kenjo?" gumam Kenan, teramat kesal pada sosok laki-laki asing yang akhir-akhir ini muncul di kehidupannya, dan sial nya, dia berhasil mencuri perhatian Kenjo.


Kenan kini kembali masuk ke dalam kamarnya, menghampiri Ze yang sedang sibuk merapihkan pakaian Kenjo.


"Sini biar ku bantu!" ujar nya, sambil perlahan mengelus kepala Ze, mengambil alih pekerjaan istrinya.


"Tidak usah Kak, sebentar lagi kok, iya 'kan sayang?" tolak Ze, merasa tidak enak, karena memang tugasnya untuk menyiapkan segala keperluan Kenjo.


"Tidak pelu bellebut, Kenjo cudah besal kok, Kenjo juga bica," timpal Kenjo bicara dengan gemas dan bergegas mengancingkan pakaian nya sendiri. Membuat Kenan dan Ze tersenyum bangga dengan tingkah buah hati nya.


"Anak pintar....!" bangga Kenan sambil mengelus kepala putra nya.


Kenan kini beralih menghadap Ze, memberi isyarat dengan telunjuknya pada sebuah dasi yang masih menyampi di leher nya.


Tersenyum kikuk, berharap kelemahannya tidak tertangkap basah oleh putar nya.


"Apa...?" Ze yang sadar akan permintaan Kenan malah sengaja menggoda suaminya.


"Sayang, ayolah! keburu siang loh," rayu Kenan berusaha so cool dengan alasan nya.


"Huh, dasar bayi besar, gak malu ya sama anaknya, Kenjo saja sudah bisa kancingin baju sendiri loh," ledek Ze, walau mengomel. Namun tangan nya dengan lihai memasang kan dasi suaminya.

__ADS_1


Kenan hanya tersenyum, dengan tangan perlahan merangkul pinggang Ze, "Kalau bayi besar keahlian nya beda Sayang," ucap nya dengan tersenyum jahil memperhatikan wajah Ze.


"Apa...?" tanya Ze, malah meladeni candaan suami nya.


"Bayi besar lebih pandai membuka kancing baju dari pada mengenakan nya," jawab santai Kenan, dengan jari telunjuk yang sudah bergerak menarik sudut baju Ze pas di belahan dadanya.


"Hei....!" Mata Ze seketika membulat kesal, sambil menepis tangan nakal itu. Membuat Kenan tersenyum cengengesan dan dengan cepat mendaratkan bibirnya di bibir Ze yang sedang cemberut pada nya.


"Kak Ken...." Lagi-lagi Ze sukses di buat kesal oleh tingkah suaminya.


"Daddy, jangan ganggu Mommy telus, kacihan Mommy nya," timpal Kenjo, ikut membela Ze, untung saja mata polos Kenjo hanya melihat adegan saat Kenan dengan gemas nya mengacak-ngacak rambut Ze, jika saja Kenjo melihat adegan sebelum itu, kegiatan orang tua nya akan menjadi bahan gambaran untuk masa depan nya.


"Iya, Iya, maaf, Daddy tidak akan ganggu Mommy lagi, kita turun terlebih dulu saja, biar Mommy bersiap-siap,"


Dengan sigap Kenan langsung menggendong tubuh mungil Kenjo, mengajaknya turun ke bawah.


*


Di bawah suasana terlihat agak ribut, para pengawal di depan terlihat sedang berdebat dengan seorang.


"Ada apalagi pagi-pagi begini sudah membuat keributan?" batin Kenan mengendus kesal.


Tidak lama, terlihat salah satu bawahannya menghampiri Kenan dan mulai bicara.


"Maaf Tuan, di depan ada Tuan Mario, dan bersikeras untuk masuk,"


Sampai membuat Kenjo meronta dari pangkuan Kenan untuk menghampiri Mario, yang sudah Kenjo anggap menjadi teman barunya.


"Dadd, Kenjo mau menemui Om Lio!" rengek Kenjo, membuat Kenan mau tidur mau menurunkan Kenjo, sambil menatap tajam ke arah bawahannya.


"Bukankah sudah ku peringatkan jangan pernah membiarkan dia masuk hah, kenapa kalian bodoh sekali," Kenan berbisik dengan mencekam pundak bawahannya, karena begitu kesal.


"Maaf Tuan, Tuan Mario terus memaksa untuk masuk," ucap sang bawahan, mencari pembelaan.


Tidak ada waktu untuk terus marah-marah, Kenan dengan cepat menyusul langkah Kenjo, mengikuti nya menemui Mario.


"Om Lio..." Dengan tersenyum senang, Kenjo langsung menghampiri Mario dan meminta di gendong oleh nya.


"Halo tampan, sudah rapi sekali, mau ke mana?" sahut Mario, dengan tersenyum lebar mengelus kepala Kenjo yang sedang dalam gendongannya.


"Mau menemui Uncle Pano, Om. Apa Om mau ikut?" tanya antusias Kenjo.


Namun sebelum menjawab Kenan dengan cepat memotong pembicaraan mereka.


"Kenjo sini, biar Daddy yang gendong Kenjo,"

__ADS_1


Kenan sudah merentangkan tangan, namun Kenjo menolak, merasa masih nyaman berada di pangkuan Mario.


"Tidak apa-apa Tuan Kenan, biar saya menggendong nya, kita kan teman, iya kan tampan?" tutur Mario dengan begitu lembut, dan lagi-lagi sukses membuat Kenjo makin nyaman bersama nya.


"Dia benar-benar mencurigakan," batin Kenan, walau hatinya sangat kesal, dia tidak bisa apa-apa, karena Kenjo terlanjur sudah nyaman bersama laki-laki di hadapannya.


"Trik yang bagus, tidak susuh kalau hanya mengelabui anak kecil saja," batin Mario, tersenyum senang, apalagi melihat reaksi Kenan yang terlihat kesal karena Kenjo lebih memilih nya.


Di sudut lain, Ze terlihat keluar, sudah siap dengan penampilan nya dan bergegas menghampiri Kenan.


"Mommy, Om Lio boleh ikut kita ya?"


Kenjo begitu antusias, berharap teman barunya itu bisa terus menemani nya.


"Gak boleh Sayang,"


tolak Ze dengan begitu lembut. Sudah tau akan seperti apa Kenjo kalau keinginan nya di tolak.


"Enggak, pokonya Om Lio halus ikut, kalau tidak ikut, Kenjo di lumah saja main cama Om Lio," rengak Kenjo, membuat Kenan ingin sekali menonjok laki-laki yang kini sedang menggendong anaknya.


Di tambah lagi sikap Mario, yang terlihat makin senang karena Kenjo makin dekat dengan nya.


"Benar-benar bukan pilihan," batin Kenan, bingung dengan permintaan Kenjo, karena jelas dia tidak akan mungkin membiarkan Mario ikut bersama mereka, dan tidak mungkin juga meninggalkan Kenjo, apalagi kalau harus terus bersama Mario.


"Melihat anak mu berada di pangkuan ku saja kau terlihat kesal sekali, apalagi kalau aku buat goresan luka di badan nya? pasti akan lebih menyenangkan." batin Mario, serasa ada kesenangan tersendiri saat melihat guratan kekesalan di wajah Kenan.


"Kenjo Sayang, sini! biar Daddy gendong ya,


kita harus berangkat sekarang," bujuk Kenan, berusaha menahan amarahnya, tidak ingin sampai Kenjo berbalik membenci nya, karena dia tidak menyukai teman nya.


"Tapi Om Lio ikut ya,"


"Iya,"


Mau tidak mau, Kenan mengiyakan nya, dari pada melihat Kenjo terus berada di pangkuan Mario.


"Satu langkah lagi, dan setelah itu kau akan merasakan bagaimana melihat orang yang kamu Sayang kesakitan, Kenan." batin Mario berucap kesal, kini dia mengembalikan Kenjo ke pangkuan Kenan.


Sadar akan kekesalan Kenan, Ze dengan cepat mengambil Kenjo, mengajaknya lebih awal menuju mobil yang telah di siapkan.


"Keu punya kendaraan sendiri 'kan?


anak ku mungkin menyukai mu, tapi ingat jangan pernah macam-macam, jika kau tidak mau mendapatkan akibatnya!" ancam Kenan dengan mencekam erat pundak Mario, dan bergegas melangkah menyusul Ze masuk ke mobil nya.


πŸƒ

__ADS_1


Ending cerita ini di tuntaskan saat Kenzo sudah dewasa menginjak masa-masa SMA. Lengkap ceritanya ada di novel dengan judul "Terpaksa menerima perjodohan"


Cus langsung baca biar gak gantung.πŸ˜πŸ™


__ADS_2