Cinta Tanpa Alasan

Cinta Tanpa Alasan
Kenapa harus dia


__ADS_3

Mereka terlihat serasi, beruntung kau Ze meskipun kalian di jodohkan, Kak Kenan sepertinya menyayangi mu.


Kau bilang tidak menyukai nya, tapi sepertinya kau nyaman sekali berada di samping Kak Kenan, so jual mahal loe.


hahaha ~batin Rani


Rani awalnya menolak ajakan Ze untuk ikut bersama mereka, namun Ze yang ngeyel, malah beralasan tidak akan ikut jika Rani juga tidak ikut membuat Rani mau gak mau ikut dengan mereka.


"Baiklah, karena memang permintaan mu tidak pernah bisa di tolak, aku akan ikut dengan mu."


ketus Rani, tangan nya kini mulai di tarik paksa oleh Ze, untuk segera masuk naik mobil Kenan.


Giliran dengan sahabat nya, dia lupa kalau aku ada di sini, menyebalkan sekali.


Batin Kenan merasa kesal karena terabaikan, oleh dua gadis yang sedang ribut karena ingin selalu bersama, dan kini dua gadis itu bergegas masuk mobil dan sudah membuka pintu belakang mobil nya.


"Aku bukan sopir kalian, kau duduk di depan dengan ku."


ucap Kenan dengan menarik paksa Ze, agar dia duduk di depan dengan nya, sambil memasang senyum kecil di bibir nya.


"Hei kak... aku bisa jalan sendiri, jangan menarikku begini."


protes Ze, membuat Rani menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan dua pasangan di hadapan nya.


Ribut ribut manja mereka hahaha


mereka pun langsung masuk mobil Kenan, dengan posisi duduk, kenan dan Ze duduk di depan dan Rani duduk di belakang.


***


Di sini lain Martin sudah duduk di sebuah meja cafe dengan santai memainkan ponselnya, sambil menunggu kedatangan dua sahabat nya itu.


"Kemana mereka? lama sekali,


gue telepon saja kali ya!"


kini Martin mulai mencari nama kontak sahabat nya, dan langsung melihat nama Roni di layar hpnya, dan mulai memanggil nya.


Namun sebelum di angkat ternyata Roni sudah terlihat muncul bersama Sania di sampingnya dan berjalan mendekat ke arah Martin.


"Woi gak sabar banget loe jadi orang, telat dikit aja udah langsung panggil panggil saja."


ketus Roni mulai duduk, sambil mengambil hp dan langsung mematikan panggilan dari Martin, karena dengan sengaja Martin tidak mematikan panggilan nya, karena dia memang paling suka ngerjain temen nya itu.


menYdengar ocehan Roni Martin malah cengengesan tanpa mempedulikan orangnya.


"Mana nih makanan nya, kata nya mau makan makan?" tanya Sania.


"Bentar nunggu Kenan dulu,"


jawaban Martin membuat 2 orang di hadapan nya menjadi terkejut.


"Sialan si Martin, udah tua geu lagi kesel banget sama dia, malah ngajak dia lagi."


Roni mengumpat karena lagi lagi Martin bisa membuat nya kesal.


Berbeda dengan batin Sania, dia tersenyum bahagia karena bisa bertemu dengan Kenan.


"Wah lihat ekpresi si Roni! seperti nya dia kesal banget, pasti makin seru nih, mempertemukan orang yang saling berurusan, si Roni kesal ketemu sama si Kenan, dan si Kenan pasti bakal kesal karena ada Sania di sini, hahaha."


batin Martin menjadi bersemangat saat melihat ekspresi kesal dari Roni.


"Gue coba telepon Kenan dulu, tadi si bilangnya mau ke sini, biar gue pastiin lagi."


Martin pun mulai mencari nama kontak Kenan dan langsung memanggil nya.


Sedangkan di seberang sana Kenan malah mengumpat kesal, karena Martin terus saja menelepon nya dan mengganggu perjalanan nya.


"Kak, teleponnya bunyi tuh, kenapa tidak di angkat?"


tanya Ze mengingatkan Kenan untuk mengangkat teleponnya.


"Biarin saja, panggilan nya dari teman yang mengajak makan bareng." jawab Kenan.


Namun panggilan nya tidak berhenti, membuat Kenan makin kesal dan terpaksa mengangkat teleponnya.


"Gue lagi di jalan,"


jawab Kenan singkat menerima telepon Martin.


"kenapa lama amat si? loe jalan kaki ya ke sini?"


umpat martin kesal karena Kenan baru menjawab teleponnya.


"Gue ngejemput pacar gue dulu, dan sekarang langsung menuju ke sana, bentar lagi juga sampai,"


sahut Kenan dan langsung mematikan teleponnya.


Dengan santainya Kenan berkata, padahal Ze sudah merasa geram dengan perkataan Kenan yang berkata seenaknya.


"Hei...!"


Ze yang refleks memukul tangan Kenan, membuat Kenan menoleh ke arah nya.


"Kenapa? apa aku salah bicara?! atau mungkin aku harus bilang dengan jelas kalau kau adalah calon istriku?"


ujar Kenan dengan memasang senyum jahilnya. Membuat Ze ingin sekali membungkam mulut Kenan, namun tersadar bahwa di belakang nya ada Rani yang terus melihatnya.


"Bukan seperti itu, tapi..."


Ze mau berkilah namun kata kata nya keburu terpotong oleh kata kata Kenan.


"Sudah jangan banyak bicara, sebentar lagi kita sampai, bersikap lah yang baik, bagaimana pun kau mengelak kau memang benar pacar ku 'kan."


ujar Kenan dengan suara rendah nya,

__ADS_1


sambil menyentuh lembut kepala Ze, dan tangan satunya memegang kendali setir.


membuat Ze langsung tertunduk malu.


"Aissshhh seharusnya aku tidak ikut mereka, kalau tau bakal jadi obat nyamuk kaya gini."


batin Rani yang sudah memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela mobil, merasa mata polos nya ternodai melihat pemandangan Indah di depan mata nya,


padahal dia sendiri jomblo akut yang tidak pernah mengenal Cinta.


***


Martin yang mendengar bahwa Kenan akan datang dengan pacar nya, hati nya mulai bersemangat sudah penasaran seperti apa wanita yang berhasil meluluhkan hati teman nya itu.


"Masih di mana Kenan?"


tanya Roni yang sudah merasa bosan harus menunggu lama.


"Sebentar lagi juga sampai, sepertinya dia membawa pacar nya, jadi penasaran seperti apa wanita nya, kata nya dia bersekolah di SMA yang sama dengan mu dulu Ron,"


ujar Martin menceritakan pacar nya Kenan.


"Benarkah...?"


perkataan Martin membuat Roni antusias, merasa penasaran siapa wanita baru Kenan, setelah dia dengan kejamnya meninggal kan Sania.


"Jadi penasaran siapa wanita yang mampu membuat Kenan bisa dengan mudah melupakan Sania, siap siap saja mungkin wanita itu juga akan bernasib sama. "


batin Roni yang sudah tersenyum sinis.


Mereka kini saling bercanda tawa melontarkan candaan sambil menunggu kedatangan Kenan.


Tidak membutuhkan waktu lama, kini Kenan sudah sampai dan memarkirkan mobilnya.


Kenan sudah terlebih dulu turun dan mulai melangkah masuk kedalam cafe dan di susul oleh Ze dan Rani di belakang nya.


Pandangan Rani sudah fokus melihat ke depan langsung di kagetkan karena mata nya melihat sosok orang yang di rasa ia kenal.


"Ze...!"


panggil Rani sambil sedikit menarik tangan Ze.


"Hemm..."


jawab Ze singkat sambil menoleh kebelakang.


"Apa aku gak salah lihat? itu kak Roni 'kan?"


ujar Rani merasa tidak yakin dengan apa yang ia lihat.


"Ini bukan waktunya untuk bercanda Rani!"


sahut Ze, tidak mempedulikan kata kata Rani, karena menurut nya itu tidak mungkin.


Saat mereka sudah mulai dekat dengan meja yang diduduki Martin. Seketika Ze di kagetkan melihat sosok orang yang pernah ia cintai sedang duduk bercanda di sebuah meja, yang berjarak cukup dekat di hadapan nya.


"Kak Roni....!"


Ze yang kaget mulai merasakan sesak di dada, karena luka yang dulu kini teringat kembali.


"Apa mungkin teman yang di maksud Kak Kenan itu adalah mereka....?"


batin Ze yang menduga duga, karena melihat Sania juga duduk di meja itu, mengingat tempo hari saat dia bertemu dengan Sania dan dia mengaku sebagai teman Kenan.


Dan benar saja Kenan pun mulai mendekat dan langsung menyapa orang yang sedang duduk di meja yang kini persis di hadapan Ze.


"Maaf telat..."


ucap Kenan di tujukan pada Martin yang sedang asyik bicara, sampai Martin baru menyadari kedatangan Kenan yang sudah ada di depan meja mereka.


Martin pun langsung menoleh ke arah Kenan.


Ze merasa terkejut langsung memundurkan langkahnya dan bersembunyi di balik tubuh Kenan, merasa belum siap bila harus bertemu dengan Roni sekarang, apalagi di saat situasi nya seperti ini.


Sampai keterkejutan itu terlihat jelas dari guratan wajahnya, membuat Rani langsung menghampiri Ze dan menggenggam erat tangannya.


"Tentang Ze semua akan baik baik saja."


bisik Rani, mencoba menenangkan keterkejutan Ze.


Hingga kini dia bisa menguasai dirinya berusaha bisa saja, agar tidak mengecewakan Kenan.


"Wah kau sudah datang! ayo duduk!"


seru Martin sambil matanya tertuju pada dua gadis yang berada di belakang Kenan.


Roni yang mendengar kata kata Martin pandangan nya langsung menoleh ke arah Kenan yang baru saja datang dan


begitu pun dengan Sania yang langsung melihat Kenan.


Kenan mulia mendudukkan badan nya, dan meraih tangan Ze untuk duduk di sebelah nya. Dengan berusaha tentang Ze mulai mendudukan badan nya, di ikuti Rani yang juga duduk di sebelah Ze.


Seketika mata Roni melebar terkejut, antara percaya dan tidak, dia bisa melihat Ze setelah sekian lama, sampai tidak bisa berkata apa-apa.


"Ze...!"


batin Roni berucap lirih sambil terus menatap Ze dengan tatapan sendu nya.


"Wah, kau tidak mengenalkan pacar mu pada kami Ken!"


ujar Martin dengan senyum jenakanya, dia terus memandangi Kenan dan Ze secara bergantian.


"Kau lebih menakutkan dari wartawan ya! kita kan baru sampai, setidaknya pesankan makanan dulu, baru bertanya!"


ujar Kenan dengan suara datarnya.

__ADS_1


"Baiklah.... "


sahut Martin dan dia pun langsung memanggil pelayan cafe dan memesankan makanan untuk mereka semua.


"Hai Ze kita ketemu lagi ya!"


sapa Sania yang sadari tadi terus memandangi Ze, namun Ze tidak menyadari nya karena dia terus tertunduk ke bawah, sengaja ingin menghindari kontak mata dengan Roni.


Mendengar sapaan Sania, mau tidak mau Ze mengangkat wajahnya dan mulai melihat Sania yang ada di depan nya.


"Iya Kak, "


jawab singkat Ze, sambil tersenyum.


Karena Sania yang duduk persis di dekat Roni, membuat mata Ze dan Roni saling bertemu dan bertatapan sebentar namun Ze langsung memalingkan pandangan nya ke arah lain, karena tidak sanggup untuk menatap nya terlalu lama.


Namun berbeda dengan Roni yang masih terus menatap Ze yang ada di depannya.


"Wah kau sudah bertemu dengan nya San?"


tanya Martin kaget karena ternyata Sania sudah bertemu dengan Ze lebih awal.


"Iya, tempo hari kita ketemu saat mereka sedang makan bersama."


jawab Sania dengan senyuman nya, berusaha menutupi perasaannya bahwa sebenarnya Sania sangat tidak suka sekali saat melihat Ze yang dekat dengan Kenan.


Ze dan Rani pun kini memperkenalkan diri satu sama lain,


hingga tidak membutuhkan waktu lama akhirnya makanan pun sudah datang dan para pelayanan segera menyiapkan nya di atas meja mereka. Dan mereka pun mulai menyantap makanan mereka masing-masing.


"Kenapa harus kamu Ze, kenapa harus kamu yang menjadi wanita nya Kenan,


aku dari dulu menjauh, pergi dari kehidupan mu, aku menuruti semua kemauan mu, untuk pergi jauh dan ninggalin kamu , dan belajar melupakan mu, karena aku menghargai keputusan mu, yang lebih memilih laki laki pilihan ayah mu. Tapi kenapa laki laki itu harus Kenan. Kalau laki lakinya itu adalah Kenan aku tidak bisa membiarkan itu Zepania. Bagaimana kalau nasibmu akan sama seperti Sania, aku tidak mau kamu merasakan apa yang di rasakan Sania, aku tidak mau kalau kau sampai terluka."


batin Roni yang terus menatap lekat Ze dan mulai merasakan sesak di dadanya. Membayangkan jika sampai Kenan meninggalkan Ze seperti saat dia meninggalkan Sania.


Roni pun mulai menatap Kenan yang duduk di sebelah Ze.


"Dasar bedebah sialan kau Kenan, awas saja kalau kau sampai menyakiti Ze, jangan harap aku akan mengampuni, walaupun kau teman dekat Martin sekali pun,"


batin Roni yang sudah mengepalkan keras tangannya ingin rasanya dia menonjok kan tangan itu pada Kenan yang ada di hadapan nya.


Rani menyadari tatapan Roni yang sadari tadi menatap Ze, dia merasakan bahwa masih ada Cinta di hati Roni saat dia terus menatap Ze seperti itu. Dan itu terbukti saat Rani melihat tatapan kesal Roni disaat dia menatap Kenan dengan penuh amarah.


Aduh Ze, kenapa kalian harus bertemu di waktu yang tidak tepat seperti ini.


batin Rani resah hingga kini dia beralih menatap Ze, dan Rani melihat jelas kegugupan Ze, sampai cara makannya pun seperti di paksakan.


Karena suasana yang sunyi, Martin berinisiatif menghangatkan suasana dengan mulai mencari kata kata yang pas untuk bertanya.


"Ekh Ron! bukankah kau dengan Ze dulu pernah satu sekolah yang sama? mungkin kalian dulu saling mengenal?"


tanya Martin dengan santainya, namun itu bagaikan sambaran petir bagi Ze hingga membuat nya kaget sampai terbatuk-batuk karena tersedak makanannya.


Kenan yang kaget langsung mengambil air dan ia meminumkan nya pada Ze.


"Hei kenapa cerbon sekali, hati hati


makannya!"


seru Kenan yang sudah kawatir melihat Ze yang terbatuk-batuk karena tersedak makanannya, dan ia terus mengelus ngelus punggung Ze, untuk meredakan batuknya.


kini tangan nya mulai menyibakkan rambut Ze yang menghalangi wajahnya dan ia salip kan di telinga Ze, Ze pun mulai membersihkan mulutnya dengan tisu.


Sampai tangan mereka berdekatan hingga terlihat jelas cincin yang sama terpasang di kedua jari mereka.


Membuat Roni makin mengeraskan kepalan tangannya, merasa geram melihat pemandangan di depan matanya.


aku tidak akan rela kalau laki laki pilihan ayah mu itu benar benar Kenan Ze, ~batin Roni


Sania dan Martin tak kalah terkejut melihat kedekatan Kenan dan Ze, apalagi saat mata mereka yang fokus melihat cincin yang terpasang di jari mereka.


"Apa sudah seserius itu hubungan mereka?? hebat sekali kau Ken! kau memang selalu bergerak cepat untuk melindungi sesuatu yang menurut mu itu hal yang paling berharga dalam hidup mu."


batin Martin yang matanya masih terkesima melihat pemandangan Indah di depan mata nya.


"Sudah merasa lebih baik? kenapa sampai tersedak begitu? apa kau tidak enak badan?"


tanya Kenan dengan suara rendah nya, sambil tangan nya terus mengelus ngelus punggung Ze.


"Iya Kak sepertinya aku tidak enak badan, jika aku ingin pulang lebih awal, Kak Kenan tidak keberatan 'kan?"


ucap Ze yang masih menundukkan wajahnya.


"Baiklah kita pulang sekarang"


sahut Kenan sambil meraih tangan Ze, dan mengajak Ze pulang.


.


.


.


.


.


bersambung..


hai reader semua. πŸ€—πŸ€— jangan lupa like nya ya. πŸ˜‡πŸ˜‡


dan klik favorite ,


terimakasih πŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜πŸ˜

__ADS_1


__ADS_2