
Kenan terus menarik tangan Ze, hingga mereka sampai di ruangan Kenan, Ze yang merasa terseret karena pegangan tangan Kenan yang sangat keras, membuat nya kaget kenapa Kenan menjadi kasar sekali pada nya.
"Kak Ken, sakit! kenapa menarik ku seperti itu?"
suar Ze dengan sedikit membentak Kenan kesal, sambil melepaskan tangan nya dari genggaman Kenan.
"Aku hanya mengajak mu kembali, kenapa malah marah marah?"
ujar Kenan sambil mendudukkan badan di sofa ruangan nya merasa frustasi karena kedatengan Sania yang tiba-tiba.
"Aku bukan nya marah, Kak Ken terlalu keras menarik tangan ku, lagi pula
aku kan cuman kasihan saja pada ka Sania, kenapa kita tiba-tiba meninggalkan nya,"
perkataan Ze membuat Kenan kesal karena dia malah mempedulikan Sania.
"Aku hanya tidak suka saja kau dekat dekat dengannya!"
gumam gumam Kenan namun terdengar jelas di telinga Ze.
"Kenapa? bukan 'kah Kak Sania teman Kak Kenan, lagi pula sepertinya dia orang baik,"
Ze terus membahas Sania serasa menemukan harta karun, karena dalam pikiran nya dia bisa mengulik kehidupan Kenan dari Sania, karena sepertinya mereka sangatlah dekat.
"Sekali aku bilang tidak ya tidak! jangan membantah."
seru Kenan dengan suara yang mulia kesal.
"Aku hanya ingin bertanya saja,
apa salahnya?!"
Ze terus saja ngeyel, karena rasa penasaran nya mulai menjadi, apalagi saat melihat ekspresi Kenan yang sepertinya sangat tidak suka pada Sania. Hingga Ze terus bertanya tanya bagaimana Sania bisa mengenal dekat Kenan, padahal Kenan baru hari ini dia masuk ke kampus baru nya.
"Kenapa kau selalu saja membantah perkataan ku, tidak bisa kah kau sekali saja menurutiku, dan mendengar kan perkataan ku?!"
suara Kenan yang mulia marah, karena Ze malah terus membahas Sania. Membuat
Ze seketika terdiam kaget karena Kenan dengan keras membentaknya, hingga membuat Ze langsung menundukkan kepalanya.
Kenan yang tersadar, dengan apa yang di katakan nya, merasa bersalah dan langsung mendekat ke arah Ze,
"Aku tahu kau masih belum menerima aku sebagai calon suami mu, tapi setidaknya dengarkan aku,
itu memang hak mu untuk bertanya pada nya.
Namun jika kau ingin bertanya tentang aku,
aku tidak mengijinkan mu untuk bertanya pada orang lain,
tanyakan apa saja yang ingin kau tanyakan dan semua yang ingin kau tahu,
tanyakanlah lah hanya pada ku Ze,
bukan pada orang lain.
Cukup kau tahu tentangku hanya dari ku,
dan tetaplah di samping ku agar kau bisa mengetahuinya, hanya percayalah pada perkataanku bukan pada perkataan orang lain,
kau mengerti kan?"
Lirih Kenan dengan suara terendah nya, sambil memegang kedua pundak Ze dan kini dia perlahan memeluk nya.
"Maaf..."
ucap Kenan lirih di balik pelukan nya kini perlahan menyandarkan kepala Ze di dada bidang nya dan dengan erat memeluk nya, sambil mencium lembut Puncak kepala Ze.
"Maaf, kau adalah masa depan ku Ze, aku tidak mau kau mengetahui masa lalu ku, apalagi kau sampai terluka karena itu."
Kenan terus mempererat pelukannya, merasa bersalah karena terlalu keras berbicara pada Ze.
"Iya aku mengerti, tapi lepaskan pelukanmu aku tidak bisa bernapas karena kau terlalu erat memeluk ku!"
Ze mulia mendorong pelan tubuh Kenan, karena dia sudah tidak bisa bernapas dengan benar, karena debaran jantungnya yang sudah tidak karuan.
aku memang tidak tahu siapa wanita itu? tapi aku tahu sebenarnya kau melakukan itu hanya untuk menghindari ku dari nya kan.
batin Ze.
"Kenapa? apa kau tidak ingin di peluk oleh calon suami mu?" ledek Kenan dengan senyuman jahilnya.
"Apa sih Kak, itu bukan pelukan, itu malah seperti kau ingin membunuh ku, sampai sampai aku tidak bisa bernapas,"
ujar Ze sambil memalingkan wajahnya karena malu.
Kenan yang melihatnya hanya memasang senyum kecil di bibir nya dan mengajak Ze untuk pulang ke rumahnya.
"Ayo pulang sekarang, bunda selalu menanyakan mu semenjak pulang dari luar kota, dia sangat merindukan anak gadis nya, daripada anak nya sendiri."
ujar Kenan dengan suara ketusnya, karena mengingat kedekatan Ze dengan Bunda nya.
__ADS_1
Ze hanya bisa terkekeh mendengar kata kata Kenan, dan langsung melangkah mendekati nya.
***
Hari berganti hari sudah terlewati,
Ze sudah menceritakan semuanya pada Rani tentang hubungannya dengan Kenan,
dan betapa terkejutnya Rani saat mendengar cerita Ze, bahwa sosok laki-laki yang dulu Ze cari cari tau identitasnya, bagaimana dan seperti apa orangnya, kini malah mereka di pertemukan dengan ketidak sengajaan,
bahkan mereka sudah menjalani hubungan yang sudah serius.
Hati Ze memang belum sepenuhnya menerima Kenan, karena memang dari awal Ze menerima perjodohan ini karena semata mata tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya.
Hari ini adalah hari yang sudah di nanti nanti setiap murid, karena hari inilah hari yang menentukan kelulusan mereka.
Semua murid serentak bersorak gembira, saat melihat hasil dari selembar kertas yang menunjukkan bahwa mereka semua di nyatakan Lulus.
Semua tersenyum dan bersorak ria, termasuk Ze dan Rani, yang kini mereka berada di antara puluhan murid yang sudah di nyatakan lulus sekolah.
Pandangan Ze kini mulai melihat ke sekeliling nya, pikiran nya mulai terpengaruhi oleh bayang-bayang Kenan.
"Apakah aku harus sebahagia mereka?
bukankah dia bilang akan menikahiku setelah aku lulus sekolah!!
aku memang senang karena aku sudah lulus sekolah, tapi di sisi lain aku tidak senang karena setelah aku lulus, aku harus menikah dengan nya.
ayah, sebenarnya aku belum siap, kalau harus segera menikah dengannya."
Ze yang terus melamun langsung tersadar karena Rani yang sudah duduk di sampingnya.
"Ze, setelah ini kau akan berkuliah ke mana? sepertinya aku akan terus mengikuti mu?! "
tanya Rani.
"Entahlah Ran,! mungkin aku harus bertanya dulu pada Kak Kenan,"
Mungkin saat nanti aku masuk kuliah aku sudah berstatus sebagai istrinya, jadi aku harus mendapatkan izin dari nya, atau mungkin aku akan berkuliah di kampus yang sama dengan nya.
***
Di sisi lain seperti biasa suasan kampus sangat ramai, Martin dan Roni terlihat jalan berdua, melewati kumpulan mahasiswa yang sedang berkumpul bersama.
~"Apa kalian tahu siapa sebenarnya mahasiswa baru itu? "
~"Nama nya Kenan, tapi tidak ada yang tahu betul latar belakang dan juga keluarga nya."
~"Dan yang lebih gila, gue pernah liat Sania mencoba mendekati si kenan, tapi malah di cuek in ma dia hahaha,"
~"Gila ya si Sania, ada yang bening dan baru dia langsung lupa ma yang lama hahaha."
~"Cantik si iya, tapi kalau lihat kelakuan nya gue ogah.
~"wkwkwkwk "
Begitulah gosipan para cowok yang pernah mencoba mendekati Sania namun Sania tolak, dan sekarang malah berbalik membencinya.
Kembali kesebuah ruangan dimana Martin dan Roni berada.
"Gimana hubungan loe ma Sania?
sekarang gue jarang liat loe jalan barang ma dia?"
Pertanyaan Martin membuat Roni menghembuskan napasnya.
"Entahlah, setelah kita pulang dari Surabaya seperti nya dia banyak berubah, apalagi akhir akhir ini, dia jarang sekali menghubungi ku, sekali aku hubungi dia bilang lagi sibuk,"
Mendengar perkataan Roni, Martin langsung curiga, bahwa Sania benar benar mencoba mendekati Kenan lagi.
"Apa kau benar-benar mencintai nya?"
tanya Martin memastikan.
"Awal nya memang aku hanya kasihan saja pada nya, mendengar cerita nya, bahwa dia di tinggalkan oleh orang yang sangat ia Cintai, aku juga bisa merasakan kesedihan nya karena aku juga mengalami hal yang sama, pada saat itu aku sangat senang bisa menghibur nya. Tapi setelah sekian lama aku mengenal nya, mungkin akhirnya aku jadi suka pada nya."
"Apa Sania pernah cerita siapa laki laki yang telah meninggal kan nya?"
tanya Martin merasa penasaran karena sepertinya Roni tidak tahu siapa laki laki itu.
Roni pun hanya menggeleng kan kepala menjawab pertanyaan Martin.
"****** kau kenan! bagaimana ya reaksi si Roni kalau dia tahu bahwa laki laki yang telah menyakiti wanita nya itu adalah kau.
Sepertinya kalau aku beritahu yang sebenarnya akan sengat seru hahaha "
"Mana Kenan? dari tadi dia tidak kelihatan? "
Pertanyaan Roni membuat Martin memiliki kesempatan untuk menceritakan semuanya.
"Dia lagi sibuk, dari tadi mendapat panggilan telepon, entah dari siapa?"
__ADS_1
jawab Martin dan langsung memikirkan bagaimana cara memberitahu Roni.
"Kenan orangnya!"
Akhirnya kata itu keluar dari mulut Martin, namun Roni yang mendengar nya merasa kebingungan.
"Apa maksudmu?!" tanya Roni.
"Laki laki yang dulu ninggalin Sania, dia adalah Kenan."
penjelasan dari Martin seketika membuat Roni terkejut dan sekaligus marah.
"Jangan bercanda bro!
lucu sekali, jangan bilang sekarang dia kembali hanya untuk mengambil Sania dan melupakan semua kesalahan nya?"
Roni sangat marah sehingga bicara dengan suara tinggi, membuat Martin yang mendengar nya sangat kaget.
Wah dia beneran marah
"Santai Ron, tidak seperti itu,
Kenan kembali memang karena ada urusan pribadi, bukan karena Sania, dia juga tidak tahu kalau kita kuliah di sini, dan juga kau harus tentang, Kenan sudah mempunyai wanita lain, jadi dia tidak akan kembali lagi pada Sania,"
penjelasan Martin tidak membuat Roni tentang, malah membuat nya tambah marah.
"Kau kira semudah itu, dia bisa hidup tenang setelah menyakiti perasaan orang lain dan sekarang dia kembali malah membawa kabar bahwa dia sudah punya wanita lain, konyol sekali."
ujar Roni sudah tidak bisa meluapkan amarahnya lagi.
"Sudahlah... dia pergi juga karena punya alasan tersendiri, dia juga sudah menjelaskan kan nya pada Sania, mereka saja udah balik balik saja kenapa loe yang marah, seharusnya sekarang loe lebih pokus deketin Sania, keburu Sania membuka hati nya lagi untuk Kenan, gue tau Kenan tidak akan mungkin kembali pada Sania, karena dia sekarang sudah menemukan pilihan yang terbaik untuk hidup nya,
tuhan mungkin sengaja menjauhkan Kenan dengan Sania, karena tuhan punya rencana akan menyatukan Sania dengan laki laki yang lebih baik dari Kenan, yaitu loe Ron."
Akhirnya Roni pun merasa lebih tenang setelah mendengar perkataan dari Martin.
"Cepat gih, samperin Sania, kita makan di kafe seperti biasa, gue duluan, cepetan gue tunggu,"
Martin pun langsung melangkah pergi meninggalkan kampus, dan menuju cafe tempat mereka nongkrong seperti biasa.
"kalau gue ajak Kenan pasti akan lebih seru."
Martin terus melangkah sambil mulai menghubungi Kenan untuk mengajaknya makan bersama.
***
Ze dan Rani kini sudah beres dengan sekolah nya, merek mulai melangkah pergi menuju gerbang sekolah.
"Sepertinya dia tidak akan menjemput ku lagi, sayang sekali padahal aku ingin sekali merayakan kelulusan ku, dan makan bersama dengan nya,
kenapa giliran dia tidak muncul aku selalu mengingat nya ya,
akahh menyebalkan sekali."
Ze sadari tadi nengok kiri kanan berharap Kenan sudah ada di depan sekolah dan menjemput nya, namun nihil pandangan nya sama sekali tidak melihat tanda tanda keberadaan Kenan.
"Ze mana pak Edi kok belum jemput loe? "
tanya Rani karena tidak melihat jemputan yang bisa nya sudah ada di depan, jika sudah jam pulang sekolah.
"Mungkin masih di jalan, kita tunggu saja."
Namun tiba-tiba sebuah mobil asing berhenti di depan mereka, Ze sempat bingung karena merasa tidak mengenal mobil yang berhenti di depan nya, saat pintu mobil terbuka kini dia tersenyum lebar karena yang turun dari mobil itu adalah Kenan.
"Kak Ken, ku kira tidak akan ke sini."
ucap Ze melihat Kenan yang sudah berjalan mendekati nya.
"Kenapa? kau merindukan ku."
ujar Kenan dengan tersenyum manis perlahan tangannya merangkul bahu Ze dan menyenderkan ke badan nya.
"Akhemm... maaf disini ada orang , kalau mau berpelukan jangan di tempat umum itu mengganggu sekali."
kata kata Rani malah membuat 2 orang itu terkekeh.
"Kau lulus...?" tanya Kenan.
Ze hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Teman ku selalu memaksa mengajak makan bersama di cafe langganannya, apa kau tidak keberatan jika kita ke sana sebentar? "
Pertanyaan Kenan membuat Ze antusias karena dia sudah mendengar kata makan tanpa menolak dia langsung mengiyakan nya, dengan sarat Rani juga harus ikut,
dan akhirnya mereka pun pergi bersama.
.
.
.
__ADS_1
.