Cinta Tanpa Alasan

Cinta Tanpa Alasan
Bab 13


__ADS_3

Hari demi hari berlalu kini rumah tangga mereka kian hari kian romantis. Namun sekarang keadaan Amini kurang baik ia kembali mual dan muntah-muntah setelah dari dinner kemaren sama seperti saat penyakit itu menggerogoti dirinya beberapa tahun terakhir.


Keadaan ini membuat Amini menjadi takut padahal dokter sudah katakan jika kanker darah yang ia derita sudah membaik dan sudah tidak dikemo lagi. Amini begitu bersyukur dan bahagia karena dengan kuasa Allah telah menyembuhkan penyakitnya. tersebut.Tak jauh berbeda dengan Amini, Ibra pun sangat bersyukur begitu pula keluarga mereka.


Namun yang namanya kanker itu bisa tumbuh kembali meski sudah dinyatakan sembuh sebelumnya.Itulah yang membuat Amini merasa takut, takut jika kanker itu kembali menyerangnya.Padahal ia sudah bahagia setelah drop di hari pernikahan kemaren hingga ia harus terus dikemo kembali namun dan akhirnya penyakit mematikan itu hilang.Itu semua tak lepas dari doanya serta keluarga terutama Ibra.Suaminya itu tiada henti mendoakan kesembuhannya.Dan hasilnya kekuatan doa memang mujarab Amini sudah tidak sakit lagi.


Amini sudah menjalani rumah tangganya dan Ibra dengan tenang dan kebahagiaan selalu melingkupi keluarga kecilnya.Namun kini senyum dan kebahagiaan itu meredup kala ia merasakan kanker itu datang lagi.


Hari ini ia merasakan dirinya sakit kepala yang sangat kuat hingga ia tak mampu menopang tubuhnya lagi.Letih juga apalagi dengan seringnya ia muntah-muntah selama 2 hari ini.Padahal kemaren Ibra sudah mengajaknya untuk periksa namun Amini menolak karena merasa ini hanya masuk angin.


Tetapi hari ini Amini kembali muntah-muntah juga sakit kepala dan letih.Bagaimana tidak takut akan adanya kanker itu lagi pasalnya gejala yang Amini rasakan menjurus ke gejala kanker yang dulu dideritanya.


"Ya Allah sakit sekali kepalaku."Gumamnya. Amini sejak tadi di kamar mandi karena muntah-muntah.


Sungguh Amini merasa lemas sekali namun ia berusaha membangun semngat dari dalam dirinya dan optimis.Dengan sekuat tenaga ia berjalan menuju ranjangnya berniat istirahat namun menelpon suaminya terlebih dahulu karena mereka hanya tinggal berdua tanpa adanya asisten rumah tangga.


Tut Tut Tut...


"........."


"Mas cepat pulang." Amini meminta suaminya pulang dengan suara lemasnya. Setelah itu Amini langsung memutuskan panggilannya tanpa menunggu Ibra meng iyakan permintaannya.


Rasanya Amini sudah tak mampu lagi berjalan kepalanya terlalu pusing namun ada gejolak dalam perutnya yangbmeminta untuk di keluarkan. Ia tidak mungkin memaksa untuk berjalan terpaksa Amini memuntahkan yang hanya cairan itu di lantai.


"Maafkan aku mas merepotkanmu membersihkan muntahan ku, aku sudah tidak kuat."-Gumam Amini.


Setelah dirasa enakan dan isi perutnya tidak meronta lagi Amini langsung merebahkan tubuhnya di kasur.Tak lama ia pun hilang kesadaran entahlah ia pingsan atau hanya tidur.


***


Dikantor Ibra merasa cemas mendengar suara lirih istrinya di telpon tadi dan ketika di hubungi ulang Amini tak menjawab telponnya keadaan itu membuat Ibra semakin merasa khawatir akan keadaan sang istri pasalnya ia tau jika sejak kemarin Amini mulai sakit.


Namun Ibra pun bingung dengan keadaannya sekarang.Pasalnya lima menit lagi akan ada meeting dengan rekan bisnisnya dan mereka memintanya langsung yang presentasi.


Lima menit berlalu.

__ADS_1


Kini Ibra sudah berada di ruang meeting bersama para petinggi perusahaan .Namun sangat jelas terlihat raut wajahnya begitu gusar meski ia berusaha tersenyum.


Ibra terus melirik arlojinya berharap waktu cepat berlalu dan meeting berakhir.


Reno yang melihat bosnya itu sedang gelisah merasa ada masalah yabg sedang di hadapi Ibra sehingga Reno pun berinisiatif untuk menggantikan bosnya itu untuk presentasi dan meminta bosnya itu pulang.


"Bos, jika bos ada masalah selesaikanlah masalah bos dulu.Biar meeting ini aku yang tangani."Ucap Reno berbisik pada Ibra.Seketika senyum melengkung di bibir indah Ibra.


"Maaf sepertinya saya tidak bisa melanjutkan meeting ini, saya harus pulang.Istri saya sedang kurang sehat tadi saat saya tinggalkan saya tidak ingin istri saya menunggu lama sendirian.Jadi meeting ini akan di lanjutkan oleh Reno."Ibra menunjuk pada Reno.Untungnya peserta meeting mengerti akan keadaan Ibra.Kemudian Ibra pamit pada mereka semua lalu meninggalkan ruang meeting dan membebankan semua urusannya pada orang kepercayaannya.


Dengan tergesa Ibra berlari menuju lif.Perasaannya semakin gusar mengkhawatirkan Amini yang di tinggalnya sendiri di rumah sekitar dua jam lalu.


Setelah keluar lif Ibra kembali berlari menuju mobilnya.Ia tidak lagi memperhatikan para karyawan yang menatapnya bingung karena berlarian keluar kantor.Kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi namun masih berhati-hati.


***


Sesampainya dirumah Ibra langsung memarkirkan mobilnya di garasi, membuka pintu seraya mengucap salam."Assalamualaikum, sayang kamu dimana?"Namun tak ada sautan Ibra memutuskan menuju kamarnya.


"Ceklek...."Pintu kamar di buka.


Ibra segera mendekati Amini dan tak sengaja melihat muntahan di lantai samping tempat tidur.Segera Ibra membersihkan muntahan itu setelah selesai Ibra langsung membopong tubuh Amini ingin membawanya ke rumah sakit.


Ibra panik melihat wajah pucat itu seakan tak ada kehidupan lagi disana.Ibra takut penyakit Amini kembali menggerogotinya.Ibra menyetir dengan cepat menggunakan satu tangannya sedang tangan yang satunya lagi menggenggam tangan dingin istinya.Air mata Ibra menetes melihat sangat mengenaskan keadaan istrinya ketika ia pulang.


"Begitu bodohnya aku meninggalkanmu sendiri di saat aku tau kamu sakit."Ibra merutuki dirinya sendiri.


"Maafkan aku sayang, maafkan suamimu ini."Ucapnya.


"Ya allah selamatkan lah istriku.Aku mencintainya sangat mencintainya jangan pisahkan kami sekarang aku tidak sanggup."-batin Ibra.


Air matanya semakin menetes.Sepanjang jalan tak henti-hentinya Ibra memohon kepada sang pemilik kehidupan agar mempertahankan nyawa istrinya.


Setelah perjalanan yang cukup panjang menurut Ibra.Padahal waktunya tetap sama 30 menit hanya saja rasa paniknya yang terlalu besar sehingga ia merasa perjalanan begitu panjang.Bahkan saking paniknya ia lupa mengabari orang tuanya ataupun orang tua Amini.


"Dokter tolong.."Teriak Ibra saat memasuki rumah sakit seraya menggendong istrinya sambil berjalan cepat.

__ADS_1


Perawat yang melihat mereka langsung mengambil brangkar kemudian Ibra meletakkan Amini di atasnya.Tangannya terus menggenggam tangan Amini mengikuti perawat yang mendorong brangkar.


Sesampaunya di UGD perawat menghentikan Ibra untuk menunggu di luar.


"Maaf pak bapak tunggu di luar dulu biar kami yang bekerja."ucap perawat itu lembut.


"Tapi sus saya mau temani istri saya."


"Tolong kerjasamanya pak, berdoa saja semoga istri anda baik-baik saja."


"Tolong sus selamatkan istri saya."pinta Ibra.


"Kami akan berusaha semampu kami."Ucap perawat itu.Kemudian perawat tersebut masuk dan menutup pintu UGD meninggalkan Ibra yang masih berdiri di depan pintu.


Ibra terduduk lemas di kursi tunggu menangkupkan kedua telapak tangannya menutup hidung dan mulutnya.Sungguh Ibra merasa sangat frustasi saat ini.Andai ia tidak meninggalkan Amini kekantor dan langsung membawanya ke rumah sakit pasti keadaan Amini tidak seperti sekarang.


"Aaaarrrrhhgggg"Ini semua salahku sendiri.Suami macam apa aku ini yang meninggalkan istrinya yang sedang sakit sendirian."Hukumlah aku saat kau sadar nanti sayang."Gumamnya lirih.


"Ya Allah aku mohon selamatkanlah dia.Hukum aku atas keteledoranku menjaganya tapi tolong jangan hukum aku dengan berpisah darinya."Ibra terus berdoauntuk keselamatan Amini.


.


.


.


.


❣️❣️❣️❣️❣️


Gimana part ini kalian suka...?


Komen dong...


maafkan atas segala kekurangan Author ya dalam penulisan kata atau jalan cerita.

__ADS_1


__ADS_2