
Bulan-bulan kini berlalu, kehidupan rumah tangga Kenan dan Ze, makin harmonis karena kepercayaan mereka dalam menjalin bahtera rumah tangga mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Kehamilan Ze yang makin besar membuat Kenan makin sayang pada nya, melihat lelah yang di rasakan Ze, membuat Kenan bisa merasakan beban yang di rasakan istri kecilnya itu. Mungkin tidak mudah bagi Ze menjadi seorang ibu hamil di usianya yang masih muda. Setiap hari harus menanggung beban berat anak yang ada dalam kandungan nya. Hingga membuat pusat perhatian Kenan terus tercurah pada nya. Tidak pernah tenang Jika meninggalkan Ze, apalagi kalau sampai meninggalkan Ze sendiri.
Dalam waktu berbulan bulan itu banyak kejadian yang mereka alami, dan banyak pula perubahan di sekitar mereka. Namun hanya satu yang tidak akan pernah berubah.
Cinta. Cinta pasangan muda itu yang tidak akan pernah berubah. Mereka memiliki dunia sendiri di saat menyalurkan cinta dan sayang mereka.
~
Keadaan di keluarga Wijaya.
Waktu menunjukkan masih pagi.
Pasangan muda itu masih terlelap dalam tidur mereka.
Tok..tok..tok...
Ketukan pintu memecah sunyi kamar mereka, membuat Kenan menggeliat pelan dan mulai tersadar.
"Ada apa..?" Kenan bersuara, membuat Ze ikut menggeliat pelan dan mulai tersadar.
"Maaf Tuan, Nyonya sudah menunggu di meja makan untuk sarapan bersama.!"
ucap sang pelayan di balik pintu kamar mereka.
"Iya nanti kami menyusul...!"
jawab Kenan, sambil mengeratkan pelukan nya pada Ze.
"Kau sudah bangun?" tanya Kenan sambil mengecup kening Ze.
"Hemmm," ucap Ze dengan suara khas bangun tidur nya.
"Apa ini sudah siang Kak!" tanya Ze sambil mendongkangkan kepalanya melihat wajah Kenan.
"Masih pagi, tidur lagi aja!" ajak Kenan malah memeluk erat Ze, mempernyaman lagi posisi tidur nya.
"Kak...!" rengek Ze.
"Hemmm"
"Kok perut ku dari tadi malam mulas mulas ya, perasaan tidak makan yang aneh aneh..!?" tanya polos Ze.
"Kenapa.? apa sekarang masih sakit!" tanya Kenan sambil mengelus perut Ze yang sudah besar, karena sudah menginjak usia 9 bulan.
"Sedikit sakit, cuman kadang sakit dan kadang enggak..!"
"Apa itu tandanya akan melahirkan..?" tanya antusias Kenan.
"Tidak tau...aku kan belum pernah melahirkan, jadi tidak tau bagaimana rasanya akan melahirkan..!" jawab polos Ze dengan mimik gemas nya.
Membuat Kenan makin gemas ingin rasanya menggigit bibir mungil yang sedang berbicara itu.
"Kak... sakit, Kok sekarang makin sakit ya..!"
keluh Ze sambil memegang punggung tangan Kenan. Dan menggerakkan nya, agar Kenan mengelus ngelus lagi perut nya.
"Ze... jangan jangan kau benar akan lahiran sayang..!" ucap Kenan makin cemas.
"Ayo.. sekarang kita bangun dan mandi, setelah itu kita pergi ke rumah sakit!" Kenan pun beranjak bangun dan membantu Ze untuk bangun.
"Apa masih bisa berjalan?!" tanya khawatir Kenan.
"Bisa Kak...!" Ze pun langsung bangun dengan di bantu Kenan.
Mereka langsung bergegas mandi, dan langsung bersiap siap.
~
Setelah beberapa lama Ze dan Kenan sudah terlihat siap dengan penampilan mereka, langsung bergegas turun ke bawah.
Saat menuruni anak tangga, kontraksi perut Ze makin teras sakit.
Membuat Ze makin merengek dan memegang erat tangan Kenan.
"Kak... makin sakit..!" keluh Ze sambil menghentikan langkah nya.
"Tahan Ze... kita ke rumah sakit sekarang, apa mau aku gendong...!" tawar Kenan karena mengkhawatirkan Ze takut terjatuh.
"Emang Kak Ken kuat mengangkat ku, aku sekarang berat tau!" oceh Ze masih sempat sempat nya bercanda di saat seperti sekarang.
"Wah.. Mommy mu mulai meledek lagi ya, Jangan kira Daddy tidak bisa mengangkat kelian berdua..!" ujar Kenan sambil mulai mengangkat badan Ze menggendongnya ala bridal style. dan langsung menuruni anak tangga turun ke bawah.
"Kak sudah... Kak Ken pasti akan kelelahan bila terus menggendong ku!"
"Jangan banyak bicara... perut mu lagi sakit kan. Kita langsung ke rumah sakit sekarang!"
Tanpa mendengar ocehan Ze Kenan terus berjalan menuju ke luar.
"Bun.. Yah..!" panggil Kenan di sela sela langkahnya.
Surya dan Widi pun langsung beranjak menghampiri Kenan, keran mendengar panggilan Kenan yang terdengar sangat cemas.
"Kenapa sayang..!" widi kaget saat melihat Ze si gendong Kenan.
"Perut Ze mulai kontraksi Bun. Kita harus segera ke rumah sakit sekarang!" cemas Kenan.
"Benarkah... Bunda akan telepon Dinda, kau cepat bawa Ze ke rumah sakit, nanti Ayah dan Bunda akan menyusul, biar Bunda yang memberitahu Ayah dan Ibu!"
__ADS_1
Widi dan Surya antusias kaget sekaligus senang. Dan mereka pun langsung bersiap siap.
Kenan dan Ze pun langsung menuju mobil dan di antara sang sopir.
~
"Kak.. sakit.. sekarang makin sakit..!"
keluh Ze sambil merengek.
"Tahan sayang... kau harus kuat.. sebentar lagi kita sampai di rumah sakit."
Kenan mencoba menenangkan Ze, sambil terus mengelus perut nya.
Ze pun langsung menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
Kenan makin khawatir saat melihat yang terlihat kesakitan, terduduk lemas di samping nya.
"Sabarlah Kau harus kuat Ze, demi anak kita,!"
terus menyemangati Ze, sambil terus mengecup kening nya.
"Sakit Kak...!"
"Iya... Maaf, dalam hal ini aku tidak bisa membantu mu sayang..!"
Kini Kenan mulai menarik Ze ke pelukan nya.
Terus memeluk Ze mencoba mengurangi rasa sakit nya.
"Jangan terlalu banyak gerak ya sayang... kasihan Mommy mu kesakitan..!"
Kenan bicara pada calon anaknya, sambil mengelus ngelus perut Ze.
Di rasa perut nya makin sakit Ze mencekam keras kaki Kenan menahan rasa sakit nya.
"Sakit...!" kini Ze menyandarkan kepalanya di dada bidang Kenan.
"Apa kah sesakit itu...!" tanya polos Kenan sambil mengelus kakinya yang terasa sakit karena cengkraman jemari Ze.
Ze hanya menganggukkan kepalanya tidak bisa berkata kata lagi.
"Tahan sebentar lagi sampai!" ucap cemas Kenan. Kini dia melihat sang sopir dan menyuruh nya, mempercepat laju mobil nya.
Saat sakit nya mulai terasa lagi, lagi lagi Ze mencekam keras kaki Kenan.
Membuat Kenan meringis kesakitan tapi tidak bisa mengeluh.
"Yang kuat ya..!" seru Kenan sambil mengangkat wajah Ze dan mulai mencium bibir nya. Berusaha mengalihkan rasa sakit perut nya, namun percuma saja ciuman nya itu tidak bisa menghilangkan rasa sakit yang Ze rasakan.
Hingga tidak membutuhkan waktu lama Ze dan Kenan sampai di rumah sakit dan langsung di sambut oleh Dinda yang sudah di beri tau sebelumnya.
Dengan terus merengek Ze langsung di bawa ke ruang persalinan. Tanpa melepaskan tangan nya dari genggaman tangan Kenan.
"Sabar Ze.. kau pasti kuat... Demi anak kita,,!"
Kenan terus mengecup kening Ze. Memberikan semangat pada nya.
Sambil terus mengelus ngelus kepala Ze, dan mengusap keringat nya.
"Tahan ya Ze sayang... biar tante periksa dulu!" seru Dinda sambil mulai memeriksa Ze.
~
Di luar ruangan, Surya, Widi, Angga dan Maya sudah sampai dan mulai mencemaskan keadaan putri mereka.
Ingin rasanya Maya masuk menemani Ze namun di larang suster karena sudah ada Kenan di dalam yang menemani nya. Jika terlalu banyak orang yang masuk takut akan mengganggu proses persalinan nya.
Hingga mereka hanya bisa berdoa untuk keselamatan Ze dan cucu mereka, sambil terus mondar mandir di depan ruangan, menunggu kabar dari dalam.
~
Keadaan di dalam.
"Kak aku sudah tidak kuat..!" rengek Ze tidak sadar menjatuhkan air matanya menahan rasa sakit.
"Maaf..!" lirih Kenan sambil menyeka air mata Ze. "Tahan sebentar lagi sayang, kau wanita kuat...!" lanjut Kenan memberi semangat untuk Ze.
"Kalau tau akan se sakit ini, mungkin aku tidak akan cepat cepat menghamili mu Ze.. Maaf!" batin Kenan mengeluh karena kasihan pada Ze.
"Kau harus kuat, aku akan terus di sini, pegang lah tangan ku!"
Kenan terus mengelus kepala Ze, tanpa menjauhkan badannya sedikit pun dari Ze.
Kini Dinda sudah mulai bersiap siap untuk membantu persalinan Ze.
"Siap sayang, pembukaan nya sudah lengkap, tarik nafas dalam dan keluarkan secara perlahan..!"
"Sakit Tan..!" rengek Ze pada Dinda.
"Sabar... inilah perjuangan seorang Ibu, dulu Ibu mu juga seperti ini saat melahirkan mu, dan dia sekarang bisa bangga melihat mu, menjadi anak yang cantik dan baik seperti kamu..!" ucap Dinda berusaha menghilangkan kesakitan Ze.
"Dan Kau juga harus kuat untuk melahirkan calon anak kalian, yang kelak akan membanggakan kalian sebagai orang tuan nya!" lanjut Dinda dengan tersenyum menatap dua pasangan muda di depan nya.
"Sakit Kak..!" Ze memasuki puncak pembukaan, hingga tidak sadar dia meninggikan suaranya. Membuat Kenan makin khawatir. Kenan pun makin mengeratkan pegangan nya.
"Tenang sayang, mulai ambil tenaga dan mulai dorong ya..!"
Nasehat Dinda.
__ADS_1
"Ze... yang kuat sayang...!" Kenan makin khawatir sambil terus mengelus kepala Ze.
Dan tidak membutuhkan waktu lama, terdengar suara tangisan bayi memecah kekhawatiran di sana.
Membuat Semua Orang Tua yang ada di luar tersenyum senang dengan hati yang sedikit lebih tenang.
"Apa itu cucu kita sudah lahir...?!" antusias Surya sambil memeluk Angga tidak sadar karena terlalu bahagia.
"Iya... kita akan menjadi seorang Kakek...!"
timpal Angga sama sama senang.
~
"Ze... kita menjadi Orang Tua sayang." ucap kagum Kenan melihat perjuangan Ze melahirkan anak mereka. Berucap lirih, sambil mengecup kening Ze.
"Mana anak kita Kak!" Ze tidak sabar ingin melihat buah hatinya.
"Sebentar... lagi di bersihkan oleh Dokter Dinda."
"Laki laki atau perempuan?!"
Tanya Ze, karena menahan sakit dia sampai tidak mengingat apa-apa.
"Junior Ku...!" jawab senang Kenan dengan tersenyum lebar.
"Laki-laki Kak...?"
Kenan pun langsung mengangguk senang, dan di balas senyuman manis oleh Ze, sama sama senang.
"Terimakasih telah berjuang untuk anak kita..!" lagi lagi Kenan mendarat kan bibirnya di kening Ze, makin sayang pada istrinya.
Tidak lama Dinda menghampiri Kenan da Ze, sambil menggendong anak mereka.
"Selamat untuk kalian, putranya sangat tampan seperti Deddy nya!"
puji Dinda sambil memberikan bayinya pada Kenan.
"Terimakasih Dok atas bantuan nya..!"
Kenan perlahan mengambil alih menggendong Putranya.
"Jangan berterimakasih... ini kewajiban saya..!
Saya permisi untuk memanggil keluarga besar kalian!"
Dinda pun mulai berjalan ke luar.
"Ze... lihat dia lucu sekali...!" ucap girang Kenan, sambil mendekat ke arah Ze.
"Aku ingin menggendong nya...!"
"Iya tapi jangan terlalu banyak gerak dulu, kau harus banyak istirahat yangk...!"
Kenan pun mulai mengalihkan putra nya pada Ze.
"Terasa mimpi Kak... aku menjadi seorang Ibu..!" ucap senang Ze, sambil terus menatap wajah mungil bayi nya. Rasanya terbayarkan semua rasa sakit nya, saat melihat buah hatinya.
Tidak lama suara ricuh terdengar memasuki ruangan, para orang tua yang sudah kegirangan, karena cucu mereka yang sudah lama di nanti nanti sudah lahir ke dunia.
"Mana cucu kita...!?"
"Apa cucu dan mantu ku sehat.?!"
"Kau baik baik sayang...!!"
"Mana cucuku...?!"
pertanyaan bertubi tubi pun terlontar saat mereka masuk dan langsung menghampiri Ze.
"Lihat Yah...! Cucu kalian sangat tampan seperti Deddy nya Kan...!" ucap bangga Kenan. Dengan terus menatap wajah mungil Putranya.
"Siapa nama nya?? apa Kalian sudah membuat nama untuk cucu Ayah..??" tanya Surya.
"Sudah Yah... Kenan akan memberi nama nya KENZO JULIAN WIJAYA." Ucap bangga Kenan memberi nama untuk anaknya.
"Bagaimana bagus kan..?" tanya Kenan pada Ze.
Ze hanya bisa mengangguk, tersenyum senang.
Akhirnya kebahagiaan mereka menjadi semakin lengkap dengan kelahiran putra yang akan menjadi penerus keluarga besar mereka.
"Terimakasih Ze untuk semuanya, terimakasih kau telah hadir di hidup ku, terimakasih kau telah menerima ku, dan memberikan hadiah terbesar untuk ku.
I Love so mach my wife...!"
"Love you to my husband...!"
Kenan pun mulai merangkul memeluk Ze dan juga buah hati mereka.
.
.
.
.
.
__ADS_1
T A M A T........
Lanjut Extra Part.