
Pagi hari keadaan di keluarga Nugraha, mereka sekeluarga sudah siap duduk di meja makan untuk menjalani sarapan mereka,
suasana yang awalnya sunyi kini mulai terdengar berisik karena ocehan Ze.
"Ayah! ibu! kenapa tidak bertanya dulu pada Ze sebelum menentukan waktu pernikahan Ze, 3 hari itu sangat cepat, Ze belum siap yah."
rengek Ze pada Angga, namun tidak di tanggapi, mereka malah tersenyum melihat Ze yang terus merengek tanpa berhenti mengunyah makanan nya.
"Bukan 3 hari, tapi 2 hari lagi sayang,"
timpal Maya sambil membeli lembut kepala Ze, dengan menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak nya yang terus mengomel dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Terserah kalian, mau 2 hari atau besok pun Ze kan memang harus menuruti kemauan kalian! memang paling seneng liat anak nya kesal."
gumam gumam Ze namun terdengar jelas di telinga Angga.
"Benarkah! kalau begitu nanti Ayah telepon Om Surya, supaya pernikahan kalian di percepat menjadi besok."
ujar Angga dengan senyum jahilnya dia malah meladeni ocehan anak nya itu.
"Ayaaaah...."
teriak Ze kesal. Angga dan Maya malah tidak henti henti tersenyum.
Ze yang sudah merasa kenyang dengan sarapan nya, kini mulai melangkah kan kaki nya menuju kamar.
Karena terus memikirkan acara pernikahan dadakannya dia sampai melupakan Rani yang ia tinggal kan sendiri saat kemarin makan bersama di cafe.
"Aiiisss aku sampai lupa menghubungi Rani,"
Ze pun kini mulai mengambil hpnya dan segera menghubungi Rani.
"Hallo Ran! maaf kemarin aku ninggalin kamu,"
ucap Ze karena Rani yang di sebrang sana sudah menjawab panggilan nya.
"Ga papa Ze, aku juga kemarin pulang di antara sama temen Kak Kenan,"
jawab Rani berusaha menceritakan agar Ze tidak merasa bersalah.
"Benarkah! kok bisa pulang sama temen Kak Kenan? gimana ceritanya?"
tanya Ze yang sedikit kaget, padahal biasanya Rani tidak mudah menerima tawaran orang, apalagi jika itu orang yang baru ia kenal.
"Cerita nya panjang Ze, aku ke rumah mu sekarang ya, biar nanti aku ceritakan di sana."
seru Rani sambil mengakhiri panggilan dari Ze.
Setelah Ze selesai menghubungi Rani, tiba-tiba terlihat Maya yang masuk ke kamar Ze,
Maya langsung duduk di dekat Ze yang sedang duduk di kasurnya.
"Apa kau keberatan bila harus secepat itu menikah dengan Nak Kenan? "
tanya Maya.
Walaupun Maya selalu memojokkan Ze, namun dia mengerti keadaan anak nya. Karena memang hati seorang ibu pasti akan tahu tentang apa yang di rasakan anaknya.
Namun Ze tidak menjawab pertanyaan Maya, dia hanya menundukkan wajahnya, agar Maya tidak melihat raut wajah Ze yang memang sedikit kecewa dengan keputusan orang tua nya.
"Tapi Nak Kenan baik 'kan? sepertinya dia sangat menyayangi mu, saat nanti kalian hidup bersama kamu juga akan perlahan mencintai nya, semua akan baik-baik saja sayang, biar waktu yang akan menyatukan kalian, ibu percaya pada anak ibu yang cantik ini."
ujar Maya dengan tersenyum lebar menenangkan Ze, dan perlahan memeluk nya.
"Aku memang sudah mulai menyukai nya bu, walaupun selalu menyebalkan tapi sebenarnya dia baik, ibu jangan khawatir Ze pasti bahagia menjalani kehidupan baru Ze nanti."
timpal Ze sambil membalas pelukan Ibu nya.
Selang beberapa waktu saat Maya sudah keluar dari kamar Ze, terlihat Rani baru sampai dia langsung menyap Maya dan langsung bergegas menuju kamar Ze untuk menemui nya.
"Zepania,"
panggil Rani dengan ala ala lebai nya, seperti yang baru bertemu sejak sekian lama.
"Apa sih lebai banget!"
Rani pun langsung menghampiri Ze yang sedang rebahan di kasurnya, langsung duduk di samping nya.
"Kau gak akan marah 'kan? " tanya Rani dengan suara lemasnya.
"Emangnya kenapa?"
tanya Ze kebingungan.
Rani pun menceritakan semua yang terjadi kemarin saat di cafe setelah Ze dan Kenan pergi dari sana.
"Raniiiii....."
Ze langsung teriak histeris mendengar cerita Rani.
"****** aku Ran...! kalau dia sampai tau dari temannya itu bahwa Kak Roni itu mantan ku, pasti dia akan marah besar, karena aku tidak terbuka kepada nya."
imbun Ze sudah membayangkan kemarahan Kenan.
"Maaf Ze....!"
ujar Rani dengan senyum yang di paksakan.
__ADS_1
"Semoga saja teman Kak Kenan itu tidak memberitahu nya, sebelum aku menceritakan semuanya pada Kak Kenan".
Ze berkata dengan penuh harapan agar dia bisa selamat dari amukan kenan.
"Mudah mudahan saja Ze, kemarin aku sudah memohon untuk merahasiakan nya, sampai sampai aku harus menerima syarat gila dari nya yang harus mau di antara pulang olehnya."
ujar Rani menceritakan.
"Dan yang lebih gila nya, sepanjang perjalanan dia terus saja bertanya, hingga membuat kuping ku terasa mau pecah mendengarkan nya,"
imbun Rani sambil menghembuskan napas frustasi mengingat kejadian kemarin.
Ze yang mendengar kan cerita Rani hanya tersenyum menanggapi nya.
"Emang siapa namanya? karena terlalu gugup aku sampai tidak bisa fokus saat berkenalan dengan teman Kak Kenan,"
tanya Ze.
"Serius kau tidak mendengar nya?"
"Iya, jangan 'kan mendengarkan pembicaraan mereka, aku sampai tidak ingat apa makanan yang aku makan kemarin, saking gugup nya."
ujar Ze menjelaskan.
"Dasar loe, nama nya Martin,"
tegas Rani.
"Tapi aku gak habis pikir, kenapa Kak Kenan mau berteman dengan orang yang menjengkelkan kaya dia,"
imbun Rani yang menggelengkan kepalanya mengingat tingkah Martin.
"Hei, loe gak nyadar ya, seharusnya Kak Martin yang gak habis pikir kenapa gue punya temen kayak loe, yang suka tidak sadarkan diri kalau loe lagi kesal, hahaha."
ledek Ze yang di akhir tawa pecahnya.
"akhh dasar sialan loe Ze,"
Rani yang kesal langsung membanting Ze dengan bantal kasur yang ada di dekat nya.
Mereka pun terus berdebat dan bercanda berguling guling di atas kasus Ze.
***
Di sini lain Kenan sudah sampai di kampus nya, kini mulai memasuki area parkiraan untuk memarkirkan mobilnya. Di sudut lain terlihat Sania juga baru datang, dia langsung turun dan menghampiri Kenan.
"Hai Ken!"
sapa Sania sambil berjalan mendekati Kenan.
"Bagaimana Ze? apa dia lebih baik
tanya Sania menanyakan kabar Ze, sebagai alasan agar dia bisa bicara dan berjalan masuk kampus beriringan dengannya.
"Sudah lebih baik,"
jawab Kenan singkat dengan suara datarnya.
Mereka pun berjalan bersama menuju ke dalam. karTena memang Kenan tidak mempedulikan Sania yang ada di samping dan Sania sengaja tidak banyak bicara, sudah tahu jika dia banyak bicara Kenan pasti akan langsung menjauhi nya.
Setelah mereka masuk ternyata dari tadi ada beberapa pasangan mata yang melihat ke arah Kenan dan Sania.
~" Lihat Sania langsung lupa sama 2 bodyguard tampannya, semenjak si Kenan kuliah di sini."
~" Benar banget, wanita mana pula yang tidak tertarik dengan pesona nya, gue juga mau dong jalan bareng dengan nya."
~" Jangan mimpi, Sania saja yang jauh cantik dari loe, dia di abaikan oleh Kenan apalagi loe hahaha."
~" Iya bener! orang tampan mah susah di dekatin."
~" Woi, diam! 2 bodyguard datang.
~" Tatapan si Roni serem amat, lihatin gebetan nya jalan ma si Kenan, hahaha kalah dia ama mahasiswa baru."
Begitulah pembicaraan orang orang yang suka bergosip di kampus, kampus yang sangat populer di kalangan anak remaja apalagi rata rata mahasiswa yang berkuliah disana adalah orang orang kaya kelas tinggi.
Kembali ke Roni dan Martin yang juga baru datang ke kamus, mata Roni terus menatap Kenan dengan tatapan tajamnya.
Pikiran nya terus di hantui bayang bayang Ze,
tangan nya mulai mengepel geram.
Dalam pikir nya, kenapa dia masih berdekatan dengan Sania kalau dia sekarang menjalin hubungan dengan Ze.
Ingin sekali Roni menyusul nya dan memberikan perhitungan pada Kenan,
namun maksud nya terhenti karena Martin mulai merangkul pundak nya dan Kenan pun sudah tidak terlihat lagi oleh mata nya.
*
Mata pelajaran kuliah kini sudah berakhir, Kenan sudah terlihat keluar duluan dengan langkah cepat karena harus segera pergi menuju hotel. Namun lagi lagi langkah nya terhenti karena Sania memanggil nya.
Akhhh mau apa lagi si dia?
Kenan pun langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Sania.
Sania pun langsung berjalan cepat mendekati Kenan.
__ADS_1
tidak lama Roni dan Martin juga sama terlihat keluar, mata Roni langsung di kaget kan dengan melihat Kenan dan Sania yang lagi lagi mereka berjalan berdampingan yang keluar dari ruangan belajar,
padahal Kenan sendiri tidak mempedulikan Sania yang berjalan di samping nya.
kini amarh Roni tidak bisa di tahan lagi, melihat Kenan dengan santai nya berdekatan dengan Sania, tangannya sudah mengepal keras karena geram dengan langkah yang di percepat menyusul Kenan di depannya.
"Bugk"
Satu pukulan keras mendarat di wajah tampan Kenan persis di dekat bibir nya, membuat Kenan kaget bukan main, karena pundak nya yang di tarik ke belakang dan dengan tiba-tiba Roni dengan cepat memukul nya hingga dia tidak bisa menghadang pukulan Roni.
Sampai membuat Kenan langsung memegang pipinya menahan rasa sakit.
"Roni loe kenapa?"
teriak Sania yang kaget melihat tingkah Roni yang tiba-tiba memukul Kenan.
"Apa dia kesal pada Kenan, karena dia dekat dengan ku? "
batin Sania karena tau bahwa Roni menyukainya.
Kenan yang merasa kesal langsung mendekati Roni menarik keras kerah baju nya.
"Hei apa maksud loe? kenapa main dari belakang hah."
tanya Kenan dengan nada suara yang geram dengan tatapan tajam nya, memelototi Roni.
Roni yang belum reda dengan amarahnya langsung menepis tangan Kenan dan mendorong tubuh Kenan supaya menjauh dari nya.
"Loe jangan seenaknya mainnin perasaan wanita hah, kalau sampai loe nyakitin Ze, gue akan kasih loe pelajaran lebih dari ini."
ancam Roni sambil menatap tajam Kenan.
Kenan yang mendengar kata kata Roni langsung tertegun kaget.
Apa maksudnya?
Mendengar Roni menyebutkan nama Ze Kenan langsung kesal bukan main, kini dia langsung menghampiri Roni, tangan
Kenan kali ini lebih keras menarik Roni.
"Apa maksud loe menyebutkan nama pacar gue hah?"
tanya Kenan yang kini amarahnya lebih tinggi.
Makin kesal karena kelacangan Roni yang memukul nya, apalagi Roni malah menyeret nyeret nama Ze.
"Apa! jadi ini semua gara gara si Ze?"
batin Sania kesal karena ternyata Roni tiba-tiba memukul Kenan bukan karena dia.
Martin yang melihat amarah Kenan yang mulia tinggi, dia mulai melera karena Martin tau akan bagaimana jika Kenan sudah semarah itu.
"Ken, sudah Ken lepasin!"
tangan Martin kini sudah menarik Kenan, dan Kenan pun langsung melepaskan Roni.
"Loe masih mau hidup 'kan, kalau loe masih mau hidup cepat pergi!"
seru Martin pada Roni, menyuruh nya untuk pergi sebelum Kenan benar benar marah besar.
Roni pun langsung pergi, dan di ikuti Sania di belakang nya, karena merasa takut melihat kemarahan Kenan.
Kenan masih terus menatap sinis Roni, dengan tangan yang memegang pipinya karena sekarang lebih terasa nyut nyutan sakit. Membuat Martin terus berada di sisi Kenan, takut Kenan akan mengejar Roni lagi.
"Woi, santai bro?"
ucap Martin menenangkan Kenan.
"Apa loe tau maksud kata-kata nya?"
tanya Kenan masih belum mengerti maksud perkataan Roni.
"Dia mantan Ze."
jawab singkat Martin.
Kenan pun bisa langsung mengerti arah pembicaraan Martin.
"Cih.... pantesan."
suhut Kenan dengan memasang seringai di bibir nya, masa salut dengan apa yang di lakukan Roni.
"Rupanya dia masih menyimpan rasa pada Ze."
gumam gumam Kenan sambil tidak henti hentinya dia mengelus ngelus pipinya yang terasa sakit.
"Awas kau kelinci kecil! aku akan membuat perhitungan pada mu, karena kau tidak jujur pada ku."
batin Kenan sambil memasang senyum kecil nya yang pikiran nya langsung tertuju pada Ze calon istrinya itu.
.
.
.
.
__ADS_1
bersambung......
terimakasih telah membaca ๐๐