Cinta Tanpa Alasan

Cinta Tanpa Alasan
Pikiran Mesum


__ADS_3

Kenan kini mempercepat laju motornya, Ze yang duduk di belakang mulai gelisah karena keberanian nya mengerjai Kenan kini berbuah menjadi kesialan karena lagi lagi orang yang ia kerjain marah besar.


"Apa kau tidak tahu cara berpegangan yang benar?"


ujar Kenan dengan suara keras.


Berharap Ze bisa berpegangan dengan nyaman, karena dia akan mulai membalas kekesalan nya.


"Iya, iya, aku pegangan,"


sahut Ze sambil tangannya memegang bahu Kenan, merasa kaku karena memang dia tidak terbiasa di bonceng.


"Kau yakin?"


ujar Kenan sambil mengencangkan laju motornya dengan memasang senyum jahilnya, membuat Ze seketika teriak histeris.


"Aaaa... jangan kencang kencang


aku bisa jatuh!"


teriak Ze yang sudah merasa takut dan refleks berpegangan keras memeluk perut Kenan.


"Dasar anak bodoh. "


batin Kenan tersenyum jahil, sambil memperlambat laju motornya merasa puas membalas Ze sampai dia berteriak keras dan langsung memeluk perutnya dengan sangat kencang.


Ze pun langsung melepaskan pelukannya merasa canggung dengan apa yang sedang ia lakukan sudah merasa aman karena kini Kenan memperlambat lagi laju motornya.


"Akhh matilah aku! hampir saja aku terjatuh, memang Kenan nyebelin, kejam sekali kau hah."


batin Ze menggerutu kesal, ingin sekali ia memukul Kenan yang ada di hadapan nya.


"Apa kau sekarang sudah menyadari apa kesalahan mu?"


tanya Kenan dengan suara keras,


karena sudah tidak mendengar teriakan Ze di belakang nya.


"Iya, maaf...!"


sahut Ze dengan suara terendah nya,


karena takut Kenan akan lebih menggila lagi kalau sampai sampai di memancing lagi kekesalannya.


"Aku tahu kau sedang membalas ku gara gara masalah foto kan? dasar moster pendendam menyebalkan."


batin Ze sudah tau bahwa Kenan mengencangkan motornya, karena ingin membalas kejahilan nya.


Kenan yang mendengar maaf dari Ze hanya bisa tersenyum puas, karena tak perlu menjelaskan arah pembicaraan nya, Ze sudah mengerti dan menyadari kesalahannya sendiri.


"Aku memasang foto nya karena itu lucu,


aku hanya ingin memperlihatkan bahwa kau juga terlihat sangat lucu di dalam foto nya,


iya 'kan?"


ucap Ze dengan suara manjanya dan di akhir senyum kecil nya.


Ingin sekali Ze melihat ekspresi wajah Kenan saat dia melihat foto nya sendiri yang menurut Ze itu sangat lucu sekali,


karena melihat kebiasaan Kenan yang selalu terlihat dingin, dan mudah sekali marah.


"Foto itu memang terlihat lucu, karena kau yang terlihat sangat manis, ditambah lagi seperti nya kau sangat nyaman sekali berada di sampingku sampai tersenyum manis begitu, iya 'kan?"


tanya Kenan dengan suara terendahnya,

__ADS_1


karena mengingat kata kata Ze kemarin yang tulus berterimakasih pada nya


dan dengan manisnya memanggil namanya.


Mendengar kata kata Kenan, Ze hanya terdiam malu, karena memang benar adanya apa yang di ucapkan oleh Kenan. Bahwa Ze sangat nyaman berada di samping nya, walaupun terkadang memang selalu menyebalkan.


Tapi sebenarnya itu lah yang membuat Ze bisa menerima ke hadiran Kenan.


"kenapa diam? aku sedang bertanya?"


seru Kenan dengan suara sedikit keras, sengaja ingin mendengar reaksi Ze setelah mendengar kata kata nya.


"Kenapa kau banyak bicara sekali, fokus saja mengemudi, jangan banyak bicara, menyebalkan sekali."


gerutu Ze antara malu dan juga kesal mendengar Kenan yang terus saja bicara, berucap sambil sedikit memukul bahu Kenan.


"kau tidak mau jujur? baiklah sepertinya aku harus berusaha keras agar kau bisa jujur dan mengakuinya Zepania,"


batin Kenan yang sudah cengengesan, mendengar ocehan Ze.


Setelah melalui perjalanan yang cukup menegangkan bagi Ze, akhirnya Kenan membelokkan motornya dan mulai melaju pelan menuju parkiran.


"Turun...! kita sudah sampai." ujar Kenan.


Ze pun replak langsung turun, dan mulai melihat keadaan sekitar.


"Kenapa ke hotel, apa yang akan di lakukan? dia tidak akan macam macam 'kan?"


batin Ze diam mematung masih berdiri di dekat motor.


Kenan yang sudah berjalan, menoleh ke belakang melihat Ze yang masih belum ada pergerakan.


"Kenapa masih diam, ayo jalan!"


"Kenapa ke hotel? apa yang ingin kau lakukan? jangan macam macam ya!"


ucap Ze yang sudah mulai ketakutan.


Kenan langsung tersenyum mendengar kata kata Ze , dan langsung melangkah menghampiri nya.


"Kenapa dia malah tersenyum? apa di benar-benar akan macam macam pada ku?"


batin Ze yang sudah menciut ketakutan melihat Kenan yang semakin mendekat.


"Apa kau ingin sekali aku berbuat mesum pada mu? kenapa pikirkan mu kotor sekali hah?!"


ujar Kenan sambil membungkuk mendekatkan wajahnya ke wajah Ze, dan jari telunjuknya menyentuh kening Ze dan menjentikkannya pelan.


"hei sakit tau!"


batin Ze menggerutu padahal dia sudah gelagapan karena tatapan Kenan dengan jarak yang sangat dekat dengannya.


"Aku kan hanya ber-"


ucap Ze ingin berkilah namun dengan cepat kenan menutup mulut Ze dengan jari telunjuknya.


"Jangan banyak bertanya! ikuti saja aku, kalau kau terus bicara aku tidak akan segan segan menutup mulut mungilmu ini


dengan bibir ku,"


ujar Kenan masih dengan jarak yang sangat dekat dengan Ze sambil menelusuri setiap inci bibir Ze dengan telunjuknya dan kini menempatkan telunjuk itu di bibirnya.


Dengan santai nya di melangkah pergi sambil memasang seiring di bibir nya,


tanpa mempedulikan Ze yang sudah mati berdiri tidak bisa mengontrol detak jantungnya yang serasa mau copot karena ulah Kenan.

__ADS_1


"Tentang lah, tenang, kenapa kau terus berdetak kencang begini, kalau kau terus begini, bisa bisa kau mati di sini Ze."


batin Ze sambil mengelus ngelus dada nya.


"Ayo! cepatlah!"


seru kenan sambil berteriak.


"Tunggu jangan terlalu cepat jalan nya aku tidak bisa mengejar mu."


ujar Ze yang sudah merasa tenang dengan perasaan nya, dan kini dia berlari kecil mengejar Kenan.


"jangan berlari! kau bisa jatuh dasar ceroboh."


ujar Kenan sambil menghentikan langkahnya.


"Makanya jangan terlalu cepat jalan nya aku tidak bisa mengimbangi langkah kaki mu yang besar itu, bisa bisa aku tertinggi,"


ujar Ze menggerutu.


"Dasar merepotkan, ayo jalan!"


Kenan kini meraih tangan Ze dan menggenggam telapk tangan nya, sedikit menariknya mulai berjalan melangkah masuk ke dalam dan mempererat genggaman tangannya, serasa terhipnotis dengan patuh Ze pun berjalan mengikuti Kenan di belakangnya, tanpa berbicara sepatah kata pun.


"Kau selalu saja menyebalkan! tapi kenapa aku bisa senyaman ini bila berada di samping mu."


batin Ze sambil terus memandangi tangan Kenan yang terus memegang erat tangan nya .


Mereka pun langsung masuk ke dalam hotel, dan langsung naik ke atas menuju ruang kerja Kenan.


Sesampainya di atas Kenan langsung di sambut oleh Pak Anton yang sudah berdiri sigap menyambut Tuan nya.


"selamat siang Tuan,"


sapa Pak Anton sambil membungkuk hormat, padahal dalam hati nya dia tersenyum karena melihat pemandangan Indah di depan mata nya.


"ternyata hubungan Tuan Muda dan Nona Ze sudah lebih dekat dengan waktu yang sangat singkat. "


batin Pak Anton yang sedari tadi memperhatikan tangan Tuan nya yang terus memegang tangan Ze, tidak merasa malu walaupun di hadapan nya sekalipun.


Ze sudah membungkukan wajahnya malu, padahal sadari tadi dia mencoba melepaskan genggaman tangan Kenan, namun Kenan malah semakin mempererat genggaman nya,


tidak mempedulikan sorotan mata yang sedari tadi menatap mereka.


Kenan pun langsung mengajak Ze masuk ke ruangan nya, yang tertuliskan nama generale manajer di atas pintu nya.


"Jadi dia bekerja di sini?


pantesan tadi dia sampai bertindak begitu pada ku,


huh malu maluin banget sih kau Ze, kenapa pikiran mu kotor sekali, "


batin Ze yang sudah tertunduk malu.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2