
Kenan dan Tuan Wiranto masih menjalankan pertemuan mereka di sebuah hotel di pusat kota, tempat yang di tentukan Wiranto hingga Kenan tidak bisa menolak demi personal kerja. Kenan terus melirik jam yang melingkar di tangan nya, sudah ingin pulang karena waktu menjelang malam namun Wiranto masih terus bicara tanpa ada tanda tanda pembicaraan mereka akan berakhir.
"Sial, ni orang mau bahas pekerjaan atau mau membual si, kenapa terus bicara ke sana sini!" batin Kenan mengumpat kesal.
Ingin rasanya mengakhiri pertemuan mereka, namun Wiranto belum mengklir kan kerja sama mereka, sampai Kenan berusaha tenang menunggu kesepakatan kerja itu demi bisa memperluas jaringan bisnis nya.
"Anak kecil ini cukup pintar juga, sepertinya tidak akan mudah menjatuhkan perusahaan mereka," batin Wiranto, setelah sekian lama berbicara dengan Kenan dia bisa mengenali seperti apa laki laki yang akan menjadi target nya.
*
Setelah mengantar Mario ke rumah sakit, Ze mau tidak menerima tawaran Mario untuk mengajak Kenjo bermain di tempat bermain anak-anak, Kenjo yang mudah menempel pada orang yang baik pada nya, membuat Ze merasa kasihan jika menolak ajakan Mario karena Kenjo sendiri terlihat sangat antusias ingin bermain menerima ajakan Mario.
Ze sedari tadi memperhatikan setiap gerak gerik Mario yang terlihat baik menjaga Kenjo, bermain, berlari, dan bercanda bersama anaknya, sampai tidak terbesit pikiran aneh dalam otak nya.
"Huh, Kak Ken masih pertemuan ya, kenapa dari tadi tidak mengangkat telepon ku," batin Ze sambil melihat ponsel, memastikan kabar dari suaminya.
Ze kini melangkah mendekati Kenjo, waktu yang menjelang malam membuat Ze memutuskan untuk mengajak Kenjo pulang.
"Kenjo sayang, kita harus cepat pulang ya! ini sudah malam loh," bujuk Ze.
"Cebental lagi Mom, Om Lio sedang mengambil boneka untuk Kenjo," jawab Kenjo antusias melihat gerak gerik Maroi yang sedang memainkan permainan capit boneka.
"Kenjo jangan menyusahkan Om Lio yah, kalau mau boneka nanti minta sama Daddy saja." seru Ze, merasa tidak enak melihat Mario yang se dari tadi masih belum mendapatkan satu boneka pun.
"Tidak apa-apa Nona Ze, ini kemauan ku, anggap saja sebagai tanda pertemanan kita, iya kan tampan," sahut Mario sambil mengelus kepala Kenjo. Dan mendapat anggukan sang empunya.
"Waaaa, Om boneka nya sudah tercapit Om, ayo angkat Om, angkat!" Kenjo begitu antusias hingga membuat Ze tersenyum senang melihat kebahagiaan Kenjo saat bermain dengan orang yang baru pertama kali bertemu dengan nya.
"Dia terlihat baik, Kenjo saja sampai sedekat itu dengan nya." batin Ze tanpa memalingkan pandang nya memperhatikan Kenjo dan Mario.
"Hole.... Kenjo dapat boneka kelinci lucu, telimakacih ya Om," kagum Kenjo sambil mendongkangkan wajah nya menatap Mario.
"Sama-sama," sahut Mario dengan tersenyum lebar.
"Ayo sayang kita pulang ya!" Ze pun mulai meraih Kenjo dan menggendong nya.
"Om Lio pulang nya ke mana? apa kita bisa ketemu lagi?" tanya Kenjo tiba-tiba membuat Ze terkejut mendengar nya. Dalam pikir nya; Kenapa bisa anaknya dengan mudah bisa begitu dekat dengan orang yang baru ia kenal.
"Rumah Om sedikit jauh sayang, tapi kita akan pasti bertemu lagi, atau Kenjo mau Om antar pulang ke rumah? ini kan sudah malam biar Om jagain Kenjo ya, mau tidak?" tawar Mario dengan rayuan nya.
"Mau Om," jawab antusias Kenjo.
"Ekh tidak harus merepotkan Tuan, kami bisa pulang sendiri, lagi pula ada sopir yang menemani kami," tolak Ze merasa tidak enak.
"Tidak merepotkan sama sekali, justru jika saya bisa mengantar kalian saya bisa tau rumah kalian, jadi nanti jika saya ada waktu senggang, saya bisa berkunjung untuk bermain bersama Kenjo," jelas Mario bicara dengan terus menatap Kenjo mencari perhatian nya. Membuat Kenjo langsung mengangguk senang mendengar nya.
"Hole, Kenjo bisa main lagi bersama Om Lio,"
"Baiklah, terimakasih karena Tuan sudah sangat baik pada anak saya," tutur Ze, mau tidak mau bersedia di antar Mario, agar tidak mengecewakan putar nya.
"Hemmmh, mereka polos sekali, aku bisa dengan mudah menarik kalian pada perangkap ku," batin Mario tersenyum penuh kemenangan. Serasa mendapatkan sebuah kunci bangun, hingga ia bisa dengan mudah mengobrak abrik isi nya.
Mario pun langsung ikut masuk ke mobil Ze, mengantar mereka pulang menuju ke kediaman keluarga Wijaya.
***
Di hotel tempat Kenan dan Tuan Wiranto berada, mereka masih saja membahas masalah pekerjaan mereka.
Ke fokusan Wiranto kini terbuyarkan karena ada sebuah pesan masuk di ponselnya. Dengan sigap dia pun langsung mengambil ponselnya dan memeriksa pesan nya.
π¬
"Yah, aku sudah membuat mereka percaya pada ku, apa aku harus langsung melukai mereka saja? menjengkelkan sekali harus pura-pura tersenyum dan ramah pada mereka. Di tambah lagi, dengan bodoh nya aku harus melukai badan ku untuk mendapatkan simpati dari mereka, sungguh hal yang sangat menjengkelkan," umpat Mario dalam sebuah pesan yang ia kirimkan pada Ayahnya.
π¨
"Jangan gegabah, kita harus mengulur waktu, sakiti mereka dengan pelan-pelan, kita bisa melakukannya dengan cara halus Mario." jawab Wiranto dalam pesan nya.
π¬
"Harus seperti itu 'kah? aku kira aku bisa membunuh mereka sekarang juga."
π¨
"Jangan bertindak gegabah, bodoh! dari pada membunuh mereka lebih baik kau bersenang senang dulu dengan istrinya, bukankah dia terlihat sangat cantik,"
π¬
__ADS_1
"Dia memang cantik, tapi dia terlalu dingin sampai aku tidak berselera untuk bermain dengan nya,"
π¨
"Terserah kau saja. Uang bukan segala-galanya buat si Kenan, jika kita hanya membobol perusahaan nya, itu tidak akan menarik, maka dari itu kita ambil anak istrinya untuk membuat nya tersiksa, tapi bukan sekarang tunggu waktu yang tepat untuk mengambilnya," balas Wiranto mengakhiri komunikasi dengan anaknya.
Wiranto pun kini mengalihkan pandangan nya lagi pada Kenan.
"Maaf Tuan, sepertinya pembicaraan kita sampai di sini dulu, aku perlu mengenal lebih detil dulu kinerja perusahaan anda agar saya bisa yakin dan memantafkan kerja sama ini," turun Wiranto.
"Sial...! ini tua bangka dari tadi memang mengerjaiku ya!" batin Kenan menggerutu.
"Baiklah Tuan, saya permisi terimakasih atas undangan nya. Selamat malam!" pamit Kenan dengan begitu singkat, sambil beranjak berdiri, pergi meninggalkan Wiranto yang sudah tersenyum penuh kemenangan.
"Hahaha, kau kira aku benar-benar akan menjalin kerja sama dengan perusahaan kalian hah, jangan harap," batin Wiranto dengan seringai nya melihat kepergian Kenan.
***
Sedari tadi Kenan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, rasa kesalnya makin menggebu-gebu, pertemuan nya dengan Wiranto yang mengorbankan waktu nya ternyata tidak membuahkan hasil.
"Sial, kalau saja tau hasilnya akan seperti ini aku tidak akan menemui nya. Aku malah membatalkan janji pada Kenjo untuk pulang lebih awal." umpat nya kesal.
Tidak membuahkan waktu lama mobil yang di tumpangi Kenan kini sudah memasuki area rumah, Kenan perlahan memarkirkan mobilnya, tidak lama mobi yang di tumpangi Ze juga baru sampai dan berhenti persis di belakang mobil Kenan.
Sampai kini mereka sama sama keluar dari mobil masing-masing.
"Sudah malam seperti ini kenapa mereka baru pulang?" gumam Kenan sambil berjalan menghampiri Ze yang baru turun dari mobilnya sambil menggendong Kenjo.
"Kak Ken...!"
" Daddy...!"
Dengan cepat Kenan langsung mengambil Kenjo dari pangkuan Ze.
"Kalian dari mana saja? kenapa pulang nya semalam ini?" tanya heran Kenan perlahan mengelus Kenjo dan berakhir merangkul Ze dan mengecup kening nya.
"Kita habis main sama Om Lio Dad," jawab antusias Kenjo sambil melihat ke arah Mario yang terlihat baru keluar dari mobil.
"Dia siapa?" batin Kenan terkejut bukan main melihat sosok Mario, seorang laki-laki dengan paras tampan, jika di lihat dari pengawakan nya sepertinya dia seumuran dengan nya.
"Wah, Kak Ken pasti marah." batin Ze sudah menciut merasa bersalah, mendapat tatapan tajam dari suaminya.
"Tadi siang Pak sopir tidak sengaja menabrak nya Kak, aku mengajaknya ke rumah sakit karena dia terluka!" jelas Ze, walau Kenan terus diam tapi Ze tau kalau suaminya itu butuh penjelasan.
"Cih.... !" batin Kenan mencibir kesal saat melihat sosok Mario yang malah berdiri santai tanpa rasa bersalah.
"Iya Dad. Om Lio baik, tadi Om Lio mengajak kita belmain, Kenjo cenang cekali," lanjut Kenjo menimpali.
"Menyebalkan sekali, baru juga bertemu tadi siang kenapa dia bisa menarik perhatian Kenjo, awas saja ya kalau kau macam-macam pada anak dan istri ku," batin Kenan sambil menatap tajam Mario.
Mario yang sadar akan kekesalan Kenan, malah tersenyum kecil sambil berjalan menghampiri Kenan.
"Saya Mario Tuan, senang bertemu dengan anda," ucap santai Mario sambil mengulurkan tangan nya memperkenalkan diri.
Walau enggan, Kenan pun menerima uluran tangan itu, "Kenan," jawab nya singkat.
"Baru permulaan saja sepertinya dia marah sekali, Hahaha, lihat saja nanti Tuan apa yang akan saya lakukan pada anak istri anda!" batin Mario, kini tertawa puas melihat kekesalan Kenan.
"Kenapa masih di sini? pergi!" usir Kenan serasa kesal jika terus melihat keberadaan Mario di sana.
"Dad, kok Om Lio nya di ucil, Om Lio teman Kenjo, Daddy jangan mengucil nya!" tutur polos Kenjo, membuat Mario menyembunyikan senyuman nya karena terlalu senang mendapat belaan dari Kenjo.
"Daddy tidak mengusir nya sayang, ini memang sudah malam dia harus pulang!" tukas Kenan masih menatap tajam Mario.
"Iya tampan, Om pulang dulu ya, sampai ketemu lagi!" pamit Mario, dengan tangan perlahan ingin mengelus rambut Kenjo, namun dengan cepat Kenan berjalan menghindari Mario.
Karena tidak bisa mencari perhatian Kenjo sebelum dia pulang, kini Mario mendekati Ze yang hendak berjalan mengikuti Kenan.
"Nona Ze, terimakasih untuk bantuan nya, dan terimakasih pula sudah memenuhi keinginan saya untuk bermain seharian bersama Kenjo," ucap nya dengan suara keras, hingga membuat Kenan menghentikan langkah nya berbalik menghampiri Ze.
"Maaf, jaga batasan mu jangan mengganggu istri saya," tegas Kenan sambil merangkul Ze menatap kesal melihat Mario.
"Kak Ken, dia hanya berterimakasih," bisik Ze merasa tidak enak dengan sikap Kenan.
Namun Kenan sendiri tidak menghiraukan ocehan Ze, dia langsung mengajak Ze bergegas masuk ke dalam rumah.
***
__ADS_1
Setelah membersihkan badan, Ze terlihat duduk di tepi tempat tidur, matanya tidak henti menatap Kenan yang sedang sibuk membolak balik lembaran buku di sofa kamar.
"Kak Ken, marah ya? kenapa mendiami ku?" keluh Ze sambil menatap lekat Kenan.
Pasalnya, dari tadi Kenan tidak bicara apa pun pada nya, bahkan tidak membahas perihal Mario sedikit pun.
"Kak Ken," panggil nya lagi, namun tidak ada jawaban dari Kenan.
"Kak Ken...?" kini Ze makin meninggikan suaranya, berusaha mendapatkan sahut an dari Kenan.
"Diamlah! nanti Kenjo terbangun mendengar suara berisik mu!" sahut Kenan dengan datar nya.
"Tuh 'kan dia beneran marah?
kalau marah bicara saja kenapa malah mendiami ku, aku lebih baik di marahi dari pada di acuhkan seperti ini," sesal Ze, berucap dalam hati.
Ze kini melangkahkan kakinya mendekati Kenan, berjalan dengan perlahan sambil memutar otak mencari kata yang tepat untuk menjelaskan pada suaminya.
"Maaf...!" kini ucapan itu lolos dari bibir Ze, sambil perlahan duduk di samping Kenan.
Namun Kenan tidak merespon, dia hanya fokus pada bukunya.
"Aku hanya merasa bersalah pada nya Kak Ken," Ze mulai berkata-kata berusaha menjelaskan.
"Di saat melihat beberapa luka di badannya aku langsung gugup ketakutan sampai tidak memikirkan apapun, yang terlintas di pikiran ku hanya ingin cepat menolong nya agar dia tidak kenapa napa Kak,"
"Sekalipun kau tidak tahu siapa dia?
kalau dia orang jahat bagaimana, kalau dia berniat mencelakai kalian gimana? kau harus hati-hati pada orang asing Ze!" ucap Kenan memotong perkataan Ze, akhirnya terucap juga segala kekecewaan nya.
"Maaf, aku tadi sudah menelepon Kak Ken, tapi kau tidak mengangkat telepon ku!" lirih Ze sambil menundukkan kepalanya.
"Kalau aku tidak bisa di hubungi, kau kan bisa meminta pertolongan pada bawahan kita Ze, kau tidak perlu menolong nya secara langsung!" jelas Kenan masih tidak senang dengan apa yang di lakukan istrinya.
"Aku tidak berburuk sangka, karena dia terlihat baik Kak, makanya aku mengantar nya ke rumah sakit," timpal Ze.
"Jadi karena dia terlihat baik kamu bisa bermain dengan laki laki itu dan membiarkan Kenjo dekat dengan orang asing?" ucap Kenan makin marah.
"Tapi dia baik Kak, Kenjo juga senang sekali bermain dengan nya," sahut Ze masih mencari alasan.
"Jadi kau lebih peduli pada laki laki asing itu, dari pada mendengarkan suamimu?" kini Kenan meninggikan suaranya karena kesal.
"Maaf bukan seperti itu Kak Ken...!" melihat kemarahan Kenan, Ze refleks menggenggam tangan Kenan untuk menjelaskan. Namun dengan cepat di tepis oleh Kenan.
"Istirahat lah, kau pasti lelah kan karena seharian terus bermain dengan laki-laki asing itu" seru Kenan sambil memalingkan pandang nya.
"Kak Ken, maaf.... aku tidak akan mengulangi nya lagi," sesal Ze, merasa terkejut melihat kemarahan Kenan, tidak pernah Kenan semarah itu apa lagi sampai menepis tangan nya, membuat Ze tertunduk lemas tanpa sadar menjatuhkan air matanya.
Kenan awalnya mengabaikan Ze, namun semakin lama isak tangis Ze semakin terdengar, membuat Kenan langsung menoleh ke arah Ze dan meraih pundak istrinya.
"Dia menangis...?" batin Kenan terkejut, kini perlahan mulai luluh.
"Yang, aku seperti ini karena aku sayang kalian, aku takut kalian kenapa-napa, jangan pernah percaya pada orang asing!" tutur Kenan berusaha meredakan tangisan Ze.
"Maaf aku tidak bisa menjaga kalian sepenuhnya dan aku tidak bisa selalu ada setiap waktu untuk kalian," Kenan kini mulai menarik Ze ke pelukannya, mengelus rambut Ze dan berakhir mencium puncak kepala nya.
"Sudah jangan menangis, kalau kau cengeng siapa yang akan menjaga Kenjo di saat aku tidak ada?" Kenan terus mengelus rambut Ze,
"Maaf...!" lanjutnya, sambil perlahan melepaskan pelukannya dan beralih menatap Ze, dan membelai wajah nya.
"Jangan menangis! kau jelek sekali kalau menangis seperti ini!" ledek Kenan dengan tersenyum jahil, sambil perlahan menyeka air mata Ze, dan berakhir mencubit ujung hidung nya.
"Kak Ken tidak marah lagi pada ku 'kan?" akhirnya Ze mulai bersuara.
"Tidak," perlahan menyibakkan rambut Ze, "aku hanya kesal saja karena kau malah mengajak Kenjo bermain dengan laki-laki lain!" jawab nya dengan ketus, rasanya kekesalan nya masih terasa pada sosok Mario yang telah berani mendekati anak istrinya, bahkan dia berani satu mobil ikut ke rumah nya.
"Maaf, tapi walau begitu posisi Kak Kan tidak bisa tergantikan oleh laki laki lain kok," ucap polos Ze berusaha meredakan kekesalan Kanan.
"Memang seharusnya begitu, tidak boleh ada laki-laki yang mendekati mu Yang, tidak boleh ada yang menggantikan aku di sini mu. Karena kau istri ku, kau milik ku Zepania...." tutur Kenan sambil perlahan meraih tengkuk Ze memposisikan wajahnya untuk membenamkan bibir nya mencium bibir mungil istrinya. Mencium nya dengan lembut serasa menyalurkan segala benak dan kegelisah nya.
..
.
.
.
__ADS_1