
Ze sudah sampai di rumah.
setelah leleh memilih barang barang yang akan ia berikan untuk adiknya itu.
Dia sempat bingung harus memilih barang apa yang cocok ia beli. Namun pandangan nya terhipnotis oleh sebuah pigura besar yang memiliki 4 bagian untuk menyimpan poto. Satu di atas dengan ukuran yang aga besar dan 3 di bawah dengan ukuran sama dan sejajar, dengan bahan dari kayu dengan ukiran yang Indah.
Huh cape sekali,
akhirnya sampai juga di rumah.
"Pak!!! bawa paketnya ke dalam...!"
"Baik Non...!"
Pak Edi langsung mebawanya ke dalam dan ia simpan di atas meja.
Ze sudah masuk kedalam rumah dan menghampiri Maya yang sedang duduk di sofa.
"Bu...!! Naura udah pulang belum...?? "
Ze langsung duduk di sofa dekat ibunya.
"Sudah, mungkin lagi di kamarnya..."
"Bi tolong panggil naura ke sini ya...! bilang bahwa paketnya sudah tiba,"
pelayan itu lansung pergi melangkah ke kamar Naura.
Tidak membutuhkan waktu lama Naura sudah berlari riang menghampiri Kakak nya dan menanyakan hadiahnya.
" Mana paketnya kak...?"
"Tu di atas meja...!"
"Aku buka sekarng ya Kak...."
Dan betapa terkejutnya Naura saat sudah mengetahui isi dari paket itu.
Sebuah pigura yang besar dan sangat Indah terlihat sanggat antik karena terbuat dari kayu, dengan bayak sekali ukiran di sekeliling pigura itu.
"Wah Kakak ini bagus sekali, aku suka..."
Kesenangan Naura yang terpancar dari senyumannya, dan langsung memeluk Ze.
"Kakak memang yang terbaik, aku akan langsung memasangnya di kamarku, dan mengisinya dengan poto."
Untunglah naura tidak curiga, bahwa aku membelinya di toko langganan Ibu.
Naura yang kegirangan langsung menyuruh Pak Edi untuk segera memasangkan pigura itu di kamarnya dan bergegas pergi ke kamar.
"Kau memang paling bisa mengambil hati adikmu itu..."
ujar Maya yang kini tangannya membelai kepala Ze lembut.
"Iya bu!! aku bisa membahagiakan adik ku, tapi aku tidak bisa menjadi adik yang membahagiakan Kakak ku...!"
Ze tertunduk sedih, karena mengingt sosok Kakak yang selalu membuatnya tenang dan selalu membuatnya senang.
" Jangan bicara begitu Ze, semuanya baik baik saja, Kakak mu sudah bahagia di sana."
Maya langsung memeluk Ze, untuk menenangkan anaknya.
" Iya bu...!"
Ze pun segera melangkah ke kamarnya karena merasakan lelah atas kejadian hari ini, ia langsung merebahkan badannya di kasur, dan langsung mengecek hp yang ada di saku bajunya.
Kenapa si Tuan menyebalkan bisa ada di sini??! benar benar aneh!! kenapa dia selalu ada di mana mana ya.
__ADS_1
akh...apa lagi yang akan di lakukannya sekarang setelah mendapatkan nomerku,
memang menyebalkan.
Tapi walau menyebalkan kenapa terdengar manis saat dia menyebut nama ku ya.
Merasa frustasi dengan perasaan nya, Ze sampai mengangkat ngangkat kaki nya dan di pukul pukulkan ke kasur.
***
"Ken...! ikut ayah ke ruangan kerja, Ayah ingin membicara sesuatu dengan mu...!"
Huh... pasti ayah akan membahas tentang perjodohan lagi.
Merekapun sudah sampai di ruang kerja Surya, langsung duduk di sofa dengan posisi berhadapan, dengan di batasi meja kecil di depan mereka.
"Siapa dia...? "
Dengan wajah datar, Surya menyimpan amplop besar yang tadi di bawa Pak Anton di atas meja, sengaja ingin mengerjai anaknya.
Cih... memang selalu to the poin Ayah kalau sedang marah...!
dasar sekertaris sialan, aku kan menyuruhmu mencari alasan, bukan nya malah melapor yang macam macam.
"Bukan Pak Anton yang melaporkan ini,
Ayah memang sudah menyuruh seseorang untuk mengawasi mu, biarpun kamu jauh dari pandangan Ayah tapi Ayah bisa tau keadaanmu...!"
Surya memperjelas perkataan nya karena melihat kenan yang masih diam tak mau bicara.
" Yah...! aku kan sudah bilang berkali kali, aku akan mencari pasangan ku sendiri, Ayah tak perlu menjodohkan ku."
Dengan menghembuskan napas panjang Kenan berusaha meyakinkan Ayah nya.
"Apa kau sudah tau jelas siapa dia...?"
Paman nya saja mengurus hotel kita, mana mungkin Ayah tidak tau soal itu."
Hahaaaa jelas lah Ayah tau, diakan calon istrimu,
Ayah cuma ingin mengerjaimu saja.
"Apa kau benar benar tak ingin mengenal dulu calon istrimu...?"
Mendengarnya saja tidak mau, apa lagi mengenalnya. Ayah memang selaku saja memaksaku.
"Tidak...! karena sudah pasti wanita itu tidak baik, mana ada wanita yang mau di jodohkan dengan laki laki yang tidak dia kenal, bahkan identitasnya saja tidak bisa di ketahui, wanita itu pasti hanya menginginkan kekayaan kita saja."
Surya hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya, melihat kebodohan anaknya yang menjelek jelekan wanita yang sedang ia dekati.
"Kau pasti akan menyesal karena telah berkata begitu.
Ayah akan menelepon calon istrimu, dan coba sekali saja kau berbicara dengannya."
Surya langsung mengambil hp di saku celananya dan langsung menelepn Ze,
tak membutuhkan waktu lama Ze sudah mengangkat telepon Angga.
"Hallo sayang...!"
seru Surya menyapa Ze di sebrang sana,
dan langsung meloalsepiker hp nya, sengaja agar Kenan bisa mendengar suara Ze.
"Maaf Ayah...! sepertinya aku ada urusan mendadak aku harus pergi sekarang...!"
Suara Kenan yang keras dengan nada ketusnya, sampai terdengar oleh Ze yang ada di sebrang sana.
__ADS_1
"Hallo Om...! tumben Om nelepon ada apa...?"
Suara manis dan maja Ze terdengar dengan jelas di telinga Kenan, hingga Kenan menghentikan langkah, mematung merasa kaget mendengar suara wanita yang di telepon Ayah nya.
Suaranya seperti tak asing.
Batin Kenan yang langsung melangkahkan kakinya lagi.
Surya hanya bisa cengengesan melihat reaksi anaknya yang langsung diam mematung saat mendengar suara Ze.
seberapa sesuka kau sama Ze sampai bisa mengenali suaranya, sampai kaget begitu.
Sepertinya kalau aku beritahu dia sekarang bahwa calon istri nya itu adalah wanita yang sedang ia dekati sekarang, bisa bisa dia langsung minta di nikahin besok. hahaha.
"Om hanya kangen saja pada calon mantu Om,
udah lama kamu tidak main ke sini...! apa kamu gak kangen sama Om dan Tante...?"
Karena memang hubungan Ze dengan Surya dan Widi terjalin dengan sangat baik.
Surya sudah menganggap Ze sebagai anaknya, Surya dan Widi ingin sekali menpunyai anak perempuan. Apa lagi semenjak Kenan pergi dari rumah, mereka sangat merindukan sosok anak, sehingga selalu menyuruh Ze untuk berkunjung ke kediaman WIJAYA.
"Maaf Om..!! Ze kemarin habis liburan, jadi gak sempet main ke rumah Om,"
Kenan yang sudah memegang hengel pintu hendak pergi keluar, lagi lagi di kagetkan oleh suara Ze.
"Ze...? liburan...? kenapa semua mengarah ke pada dia, apalagi suaranya mirip sekali...!"
Kenan pun langsung membatalkan maksud nya untuk keluar, dan langsung membalikan badan menghadap Surya.
Surya yang melihat nya tak kuasa menahan tawa, merasa lucu akan kebodohan anaknya itu.
"Kenapa? gak jadi acara dedakan nya...?"
Surya langsung menjauhkan hpnya ke belakang, supaya Ze tidak bisa mendengarnya.
Sial...! lagi lagi aku kalah talek dari Ayah.
"Ze...! nanti Om telepon lagi ya, sekarang Om ada urusan dulu, Om tutup dulu ya sayang...!"
"Ya...! dah Om...!"
Kenapa lagi lagi Ze...!
Apa mungkin...
Akh... ingin sekali aku tanya Ayah untuk meyakinkannya, tapi gengsi banget gue kalau harus nanya Ayah, bisa bisa gue di ledek habis habisan oleh Ayah.
"Kenapa...? berubah pikiran...?!
ingin mencoba mengenal calon istrimu setelah kau mendengar suaranya...!!"
Masih dengan suara tegas dengan wajah datar Surya masih berakting, padahal dia sudah tak kuat ingin tertawa terbahak-bahak.
Tanpa berkata apa pun Kenan berbalik lagi dan dengan cepat melangkah ke luar, dengan memasang wajah kesal.
Berbeda dengan Surya yang berada didalam,
sedang memegang perutnya karena merasa puas mengeluarkan tawanya.
.
.
.
.
__ADS_1