Cinta Tanpa Alasan

Cinta Tanpa Alasan
Menyuapi


__ADS_3

Ze sudah masuk ke dalam rumah, mulai melangkah menuju dapur untuk mengambil air minum, beberapa kali dia mengelus-elus pelan dadanya, debaran jantungnya yang masih berdetak tidak karuan membuat nya berkali-kali mengeluarkan naps panjang.


"Air, mama air? akh aku haus sekali."


ujar Ze sambil mengngibas ngibaskan tangan di depan muka nya.


Setelah sampai di dapur Ze langsung menuangkan air pada gelas kosong dan langsung meminum nya.


"Ze kenapa sepertinya cape sekali?"


Pertanyaan Maya membuat Ze kaget dan sedikit tersedak oleh minuman nya.


"Kenapa gak ikut makan malam? kau kan dari tadi belum memakan apa apa


ayo makan dulu!"


seru Maya mengajak Ze makan sambil melangkah menuju ruang makan.


"Nanti saja Bu,"


jawab Ze sambil mengikuti Ibu nya.


Setelah sampai di ruang makan terlihat Widi sedang memegang piring yang sudah terisi dengan makanan dan menyimpan nya pada nampan dengan segelas air di samping nya.


"Ze, apa kau melihat Kenan? sedari tadi dia belum makan apa apa."


tanya Widi yang sudah memegang nampannya.


"Ada di taman belakang Bun."


jawab Ze yang langsung melangkah, karena sudah merasakan pirasat yang tidak baik.


"Ze, bisakah antara kan ini pada Kenan, dia tidak akan mau makan kalau banyak orang begini,"


seru Widi sambil berjalan ke arah Ze.


"Wuaaa, kenapa harus aku? aku kan sudah bersusah payah lari dari nya,


mana mungkin aku harus kesana lagi" batin Ze.


"Tapi Bun, aku-"


belum selesai Ze bicara Maya sudah menarik tangan Ze.


"Gak boleh nolak, kau harus belajar untuk melayani calon suami mu."


seru Maya sambil mengarahkan Ze untuk membawa nampannya.


"******! aku mana bisa menolak kalau begini. "


Ze pun akhirnya mau tidak mau harus mengantarkan makanan itu pada Kenan,


dia pun mulai menyeret kaki karena berat untuk melangkah menemuimu Kenan lagi.


Saat Ze melewati ruang tengah, mata nya melihat pak Anton yang lagi sibuk dengan ponsel nya, hingga Ze memiliki sebuah ide dan melangkah mendekati pak Anton.


"Maaf Tuan, bukankah anda sekretaris nya Kak Kenan? bisakah antara kan makanan ini pada nya, kata Bunda dia belum memakan apapun dari tadi."


seru Ze sambil mengarahkan nampan itu pada pak Anton.


Namun pak Anton hanya diam tak bergerak sedikitpun.


Apa dia tidak mau mengantarkan nya?


"Maaf Non sepertinya Tuan Muda akan lebih senang jika Nona Ze yang mengantarkan nya."


jawab pak Anton sambil memasang senyum kecil di bibirnya.


"Hei Tuan kau harapan terakhir ku, ayolah selamat kan aku, antarkan ini pada Tuan mu."


batin Ze yang sudah pasar.


"Aku mohon Tuan, tolong antarkan ini pada Tuan mu, bukankah kau yang lebih dekat dengan nya."


ucap Ze memohon.


"Kalau saya yang mengantarkan nya, Tuan muda tidak akan mau memakannya, jika Nona Ze membujuknya mungki Tuan akan makan,


karena memang pola makan Tuan Muda sangat kurang baik, apa lagi akhir akhir ini Tuan Muda terlalu sibuk dengan kerjaannya."


ujar Pak Anton menjelaskan.


"Apa benar sesibuk itu sampai dia tidak menjaga kesehatan tubuh nya, walaupun sibuk seharusnya harus menyempatkan waktu untuk makan."


gumam gumam Ze dengan suara kecil nya.


"seperti anak kecil saja sampai makan pun harus di ingatkan."


Dengan perasaan berat akhirnya Ze pun melangkah untuk mengantarkan makan malam untuk Kenan.


Saat Ze sudah sampai di taman belakang, dia melihat Kenan sedang menyandarkan kepalanya di bahu kursi hingga terselip rasa kasihan saat melihat nya.


"Sepertinya dia sangat kelelahan, kenapa dia tidak ke dalam saja, angin malam 'kan tidak baik untuk tubuhnya."


Ze pun langsung melangkah mendekati Kenan.


"Hei...! kalau kau kelelahan beristirahat lah di dalam, kenapa terus di sini, angin malam tidak baik untukmu, apalagi kalau kau belum makan apa apa, kau bisa masuk angin."


Ze langsung mendudukan tubuh nya di samping Kenan, rasa malu dan gugup nya kini hilang seketika karena mencemaskan Kenan.


Kenan langsung kaget karena kedatangan Ze yang langsung duduk di samping nya seketika melirik nya dan membentuk senyum kecil di bibirnya, bahagia karena merasa di perhatian kan oleh Ze.


"Nih makan! Bunda menyuruh ku mengantarkan nya untuk mu, kata Bunda kau belum memakan apa apa dari tadi."


ujar Ze sambil menyodorkan nampa makanan ke arah Kenan.

__ADS_1


"Tidak , aku tidak berselera,"


tolak Kenan.


"Kau jangan keras kepala setidaknya kau harus menjaga kesehatan mu."


ujar Ze sambil menyimpan nampannya di kursi kosong di antara mereka , dan langsung memegang piringnya.


"Kalau kau mau, kau bisa memakannya,"


sahut datar Kenan tidak mempedulikan kata kata Ze.


"Hei jangan seperti anak kecil, makan saja susah, buka mulutmu a a aaa...!"


ujar Ze sambil menyuapi Kenan, hingga membuat Kenan terkejut di buatnya.


Karena ocehan dan tingkah Ze yang tiba-tiba menyuapinya Kenan langsung tersenyum dan melahap makanannya.


"Apa kau menghawatirkan ku?"


tanya Kenan dengan suara tidak jelas karena masih mengunyah makanannya.


"Jangan banyak bicara, kunyah saja makanannya!"


sahut Ze dengan suara keras ,sambil mulai menyuapi Kenan lagi.


"Ternyata lebih menakutkan dari Bunda kalau dia lagi begini."


batin Kenan.


Kenan pun tidak bisa berkata kata lagi dia hanya menurut melahap makanan yang di suapi Ze, karena menurut nya momen itu sangat menyenangkan sekali, tak pernah terbayang kan dia akan sampai di suapi oleh wanita lain selain Bunda nya, karena kebiasaan jeleknya yang tak bisa mengatur pola makan.


Hanya keheningan yang terjadi, Ze terus menyuapi Kenan tanpa banyak bicara karena Kenan dengan patuh melahap setiap suapan dari Ze.


Pak Anton keluar bermaksud menemui Kenan karena di suruh Surya untuk menyampaikan kata kata nya,


matanya langsung di suguhkan dengan pemandangan yang Indah di hadapan nya, hingga di langsung memasang senyum di wajah nya.


"Ternyata Nona Ze benar bener bisa meluluhkan kekeras kepalaan Tuan Muda,


mereka serasi sekali.


Kalau saja Tuan Besar melihat ini, pasti Tuan Muda akan habis di ledeknya."


Meskipun dengan rasa ragu karena takut mengganggu, pak Anton perlahan melangkah mendekat.


"Tuan...!"


panggil Pak Anton sambil menundukkan kepalanya.


"Hemm...."


jawab Kenan langsung meneguk air dalam gelas dan langsung memberikan nya pada Ze.


"Hei kau kan bisa langsung menyimpan nya kenapa malah memberikan nya pada ku."


"Tuan Besar dan Nyonya akan pulang terlebih dulu, karena ada pekerjaan yang harus di kerjakan."


ujar Pak Anton menjelaskan maksud kedatangannya.


" Ya, kau bisa ikut dengan mereka, aku nanti menyetir sendiri."


seru Kenan.


"Baik Tuan, saya permisi."


pamit pak Anton langsung melangkah pergi.


Kini Kenan fokus lagi pada Ze yang ada di samping nya.


"Apakah masih ada lagi?"


tanya Kenan merasa perutnya masih kosong.


"Kata nya tidak berselera tapi satu piring langsung habis dalam sekejap, dasar rakus."


gumam gumam Ze, namun terdengar oleh Kenan.


"Kau berkata apa?" tanya Kenan.


"Tidak! aku tidak berkata apa-apa,


hanya kagum saja melihat orang yang tidak berselera makan, tapi menghabiskan makanannya dengan sekejap."


jawb Ze dengan di akhir senyum jahilnya.


"Kau meledek ku?"


tanya Kenan dengan meninggikan suaranya.


"Aku hanya bicara fakta."


ujar Ze sambil menjulurkan lidahnya dengan tersenyum lebar dan secepatnya lari meninggalkan Kenan.


"Awas saja kau kelinci kecil."


Kenan hanya tersenyum melihat kekonyolan Ze dan dia langsung ikut masuk ke dalam.


Karena waktu sudah cukup malam, Kenan pun berpamitan pada Angga dan Maya untuk pulang, kini matanya terus melirik kiri kanan mencari keberadaan Ze, namun mata nya tidak kunjung menemukan nya.


" Sepertinya dia benar benar sembunyi. "


batin Kenan.


Angga yang melihat ekspresi Kenan yang seperti mencari sesuatu, langsung mengerti bahwa keYnan mencari keberadaan anak nya.

__ADS_1


"Apa kau tidak ingin berpamitan dulu pada Ze? sepertinya dia ada di ruang makan."


ucapan Angga membuat Kenan tersenyum kikuk, karena kepergok telah mencari anak nya.


"Iya ayah sepertinya aku harus menemui Ze dulu,"


ucap Kenan dengan senyum yang dibuat buat karena menahan malu.


Kenan pun langsung berjalan menuju ruang makan untuk menemui Ze.


Kini mata Kenan mulai melihat keberadaan Ze yang sedang duduk santai di kursi meja makan.


Kenan tidak langsung mendekati nya, dia hanya berdiri di pintu masuk ruang makan sambil menyandarkan tubuhnya di dinding, dia hanya memperhatikan apa yang akan di lakukan Ze.


"Bi, mana makanan nya? aku sangat lapar sekali."


tanya Ze pada bibi pelayanan yang iya suruh untuk mengambil makanan.


"Iya ini Non."


jawab si bibi sambil menyimpan makanan nya di hadapan Ze, dan langsung melangkah pergi.


"Dia mengomeli dan menceramahi ku untuk makan, padahal dia sendiri lagi kelaparan, dasar bodoh,"


Kenan pun mulai melangkahkan kakinya perlahan tanpa membuat suara keras supaya tidak mengganggu Ze yang sedang lahap menyantap makanan.


Kenan berdiri persis di belakang Ze tanpa bersuara namun tatapannya terus melihat Ze yang sedang duduk di depan nya.


"Kenapa aku merasa ada aura yang aneh ya"


ucap Ze sambil memegang pundak nya.


Kenan yang mendengar kata kata Ze langsung menarik kursi kosong di sebelah Ze dan langsung duduk di sebelah nya.


Ze yang merasa kaget langsung terbatuk tersedak makanan yang ada dalam mulutnya.


Kenan yang melihat nya langsung panik dan langsung memberikan air minum yang ada di depan Ze.


"Kenapa ceroboh sekali?"


cemas Kenan sambil meminum kan airnya pada Ze sedangkan tangan satunya mengelus ngelus punggung Ze pelan untuk meredakan batuknya.


"Aku bukannya ceroboh, kau saja yang mengagetkan ku, kenapa juga muncul dengan tiba-tiba."


ucap Ze kesal.


"Gimana lebih baikan sekarang?"


tanya Kenan masih mencemaskan Ze tanpa mempedulikan omongan Ze.


"Kau sengaja ya mengagetkan ku, karena ingin membalas ku "


ucap Ze bertanya.


"Jangan banyak bicara, nanti kau tersedak lagi."


seru Kenan mengomeli Ze.


"memang menyebalkan, orang bicara kenapa dia menjawab gimana tak nyambung banget."


"Aku sudah tidak apa apa, kenapa datang dengan tiba tiba?"


tanya Ze kesal.


"siTapa yang datang tiba-tiba? aku dari tadi di sini, kau saja yang tidak menyadari nya karena terlalu lahap makan."


jawab Kenan sambil menyibakkan rambut Ze yang berantakan menghalangi wajahnya dan menyelipkan di telinganya.


Ze yang merasa kaget karena tingkah Kenan langsung memfokuskan diri lagi pada makanan nya dan langsung memakannya.


"Hei jantung sialan! kenapa kau berdetak kencang sekali, tentang lah."


"jangan terlalu cepat makannya nanti kesedak lagi"


seru Kenan yang terus memperhatikan wajah Ze.


" Aku gak akan tersedak karena makanan, tapi aku akan tersedak karena ulahmu, dan kenapa lagi kau melihat ku seperti itu, aku kan jadi nervous,"


batin Ze yang sudah gelagapan karena terus di pandangan Kenan.


"Aku hanya ingin berpamitan pulang pada calon istriku."


ujar Kenan dengan tersenyum jahil sambil terus memandangi wajah Ze.


"ya lebih baik kau cepat pulang sana, dari pada kau terus membuat jantungku berdetak keras serasa jantungku mau loncat dari tempat nya."


batin Ze yang menundukkan wajahnya karena menahan rasa gugup tidak bisa berkata kata.


"Aku pulang dulu, takut kau akan tersedak lagi karena aku terus dekat dekat dengan mu."


ujar Kanan sambil tersenyum jahil dan perlahan berdiri dari duduk nya.


"Lanjutkan makannya, jangan terburu buru,


aku pulang ya! sampai jumpa lagi calon istri ku."


lagi lagi Kenan menggoda Ze, sambil mengelus lembut kepala Ze dan berlalu meninggalkan nya.


"Akhhh aku bisa gila kalau dia selalu bertingkah dan berucap seperti itu." decak Ze.


merasa frustasi karena kelakuan Kenan yang membuat hati nya berdetak dua kali lipat dari biasanya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2