
Suasana kini makin menegangkan, Martin sudah kalang kabut merasa bingung harus bagaimana memisahkan mereka.
Roni yang di penuhi amarah terus saja melampiaskan kekesalan nya dengan memukul Kenan.
Begitu pula dengan Kenan yang terus saja diam, makin memperburuk keadaan nya.
Sudah babak belur terkena pukulan Roni,
namun terus saja berdiri tegak tidak mau melawan pukulan Roni, ataupun menghindari nya.
"Woi....! sudah...! apa kalian gila hah...!
apa yang sebenarnya kalian lakukan, sadar woi...! Ron...! berhenti Ron...!" berteriak ke arah Roni
"Ken...! loe gila ya, kenapa loe diam saja...?" teriak Martin pada Kenan, namun tidak di hiraukan oleh mereka karena Roni di butakan oleh amarah dan Kenan di butakan dengan rasa bersalah.
Merasa tidak mempan walaupun Martin terus berteriak, kini Martin mulai melihat orang orang yang malah menonton di sana.
"Apa kalian hanya bisa melihat saja hah...?" bicara dengan kerasa,
"Panggil Ze kesini, bilang ke dia, suaminya mati di hajar mantannya,
suruh dia ke sini sekarang...! perintah Martin dengan tegas nya,
membuat salah satu orang yang ada di sana langsung lari terbirit birit melaksanakan perintah Martin untuk memanggil Ze.
Kembali lagi pada Roni dan Kenan.
"Kau puas sekarng...?" ucap Kenan dengan memasang seringai di bibirnya.
"Gue akan puas jika loe, meninggalkan Ze dan tidak pernah melukai nya lagi...!" tegas Roni sambil mencekam kerah baju Kenan, bicara dengan penuh amarah.
"Hemmh...! tapi sayangnya itu tidak akan pernah terjadi." ucap santai Kenan dengan membentuk senyum kecil di sudut bibirnya.
Membuat Roni makin kesal melihat nya, dan langsung mengepalkan tangannya dan mulai mengangkat nya untuk memukul Kenan namun keberu di tahan oleh Martin.
***
Di sisi lain, Ze, Rani dan Pano, sedang duduk santai di ruangan kelas mereka.
Tiba-tiba mereka di kejutkan oleh kedatangan salah satu mahasiswa yang berlari mendekati mereka,
dengan napas yang terengah-engah dia mulai berbicara.
"Ze....! su... suami mu, si Kenan, di...!"
ucap nya dengan terbata bata.
"Apa sih loe...? bicara yang bener dong...?" ujar Pano merasa kesal dengan kehadiran orang itu, yang terasa sangat mengganggu.
" Ke...Kenan di hajar oleh Roni...!"
ucap nya menceritakan.
"Apa sih...!?" tanya Ze yang masih belum bisa mencerna kata kata orang itu.
"Kenan dihajar habis-habisan oleh Roni di sudut ruangan di dekat toilet namun Kenan tidak melawan pukulan Roni dan juga tidak menghindarinya." Ucap orang itu menjelaskan membuat Ze Pano dan Rani langsung tertegun mendengarnya.
"Kenapa bisa sampai begitu...?" tanya Pano penasaran.
"Entahlah...! tidak ada yang tahu awal mulanya, tahu tahu si Roni langsung menghajar Kenan namun Kenan tidak mau melawannya."
ucap jelas orang itu.
Ze yang mendengar jelas perkataan nya
langsung beranjak berdiri, melangkah cepat untuk menuju tempat yang di maksud orang tadi.
**
Kembali ke tempat dimana Roni dan Kenan berada.
__ADS_1
Suasana ricuh di sana, menarik sorotan mahasiswa yang lain, hingga membuat banyak mahasiswa yang berkerumun melihat mereka berdua.
Terlihat Sania juga ada di sana, dia langsung terkejut saat melihat keadaan Kenan
dan langsung melihat keadaan mereka.
"Ron...! lepaskan, apa yang kau lakukan...?" seru Sania sambil menarik tangan Roni.
"Kenapa...? kau juga membela laki laki sialan ini...?" ucap kesal Roni saat melihat Sania yang tiba-tiba ada di antara mereka.
Namun Sania hanya diam tidak menjawab karena memang dia mengkhawatirkan Kenan.
"Apa kau tidak ingin saat dia menyakiti mu, dan sekarang dia juga menyakiti istrinya,
apa dia pantas di lepaskan...?"
ucap jelas Roni, membuat semua orang yang di sana bisa dengan jelas mendengar nya.
"Jadi kau membenci ku, karena kau membela 2 wanita yang kau sukai, hemhh lucu sekali...!
sebenarnya loe juga pantas untuk di hajar Ron...! kalau loe laki, loe harus meyakinkan satu wanita dan melupakan wanita yang sudah menjadi milik orang lain...!" ucap sindir Kenan dengan tersenyum penuh kemenangan
walaupun dalam keadaan tidak bisa apa apa karena menahan sakit ulah pukulan Roni,
namun dia tetap bisa menjatuhkan Roni dengan perkataan nya.
"Diam loe...!" teriak Roni dan dengan cepat
"Bugh...!" pukulan keras sekali lagi mendarat di wajah Kenan sampai membuat Kenan mengeluarkan darah dari hidung nya.
Dan di saat itu pula Ze datang membelah kerumunan orang orang yang melihat Roni dan Kenan, mendorong tubuh mahasiswa yang menghalangi jalan nya, berjalan dengan cepat di ikuti Rani dan Pano di belakang nya, dan pas Ze di sana Ze bisa melihat dengan jelas saat Roni memukul Kenan dengan kerasnya hingga Kenan terjatuh ke lantai karena sudah tidak kuat menegarkan badannya lagi.
"BERHENTI...!" teriak Ze dengan keras nya,
merasa sakit saat melihat Kenan di hajar dengan begitu kerasnya.
Membuat semua orang yang ada di sana langsung melihat ke arah Ze,
Dengan cepat Ze langsung mendekat ke arah Roni dan Kenan.
Berjalan sambil menatap tajam Roni, serasa membawa amarah yang mengelilingi seluruh tubuhnya
"Plaaak...!"
mengayunkan tangan nya ke atas dan
dengan kerasnya Ze langsung menampar wajah Roni, hingga wajah Roni berbalik arah karena tamparan keras yang Ze berikan di wajah nya.
"Apa yang kau lakukan hah...?! kenapa kau menyakiti nya...?
apa salah dia pada mu sampai kau dengan kejam nya memukul nya...? apa kau tidak punya hati hah...?" ucap kesal Ze berteriak dengan penuh amarah, menatap tajam Roni.
Membuat Roni langsung berdiri mematung terkejut bukan main, tidak menyangka kalau Ze akan semarah itu pada nya.
~
Ze kini berbalik arah melihat Kenan di belakang nya,
hatinya merasa teriris sakit melihat keadaan Kenan yang babak belur di tambah lagi ada darah yang keluar dari hidung Kenan.
Melangkah dengan begitu lemas langsung membungkuk kan badan nya, mensejajarkan dengan Kenan, dan bersandar dengan lututnya.
"Apa kau sudah bodoh...!
apa yang kau lakukan...?
kenapa kau menyakiti dirimu sendiri...?
kau bisa melawannya kan...!
aku marah pada mu bukan berarti ku harus menyakiti dirimu kan...?
__ADS_1
kau menyuruh ku untuk tidak melakukan hal konyol, tapi kenapa kau malah melakukan nya...!
apa kau sudah gila...!
kenapa kau bodoh sekali...!"
Ze terus menggerutu, rasanya tidak tahan melihat Kenan yang menahan kesakitan,
terus berucap sampai tidak terasa air matanya berjatuhan membasahi pipi mulusnya.
Kenan yang mendengar perkataan Ze kini mulai lebih tenang, hingga membuat rasa sakitnya terbayarkan.
"Bukankah aku sudah pernah bilang jangan pernah menyakiti dirimu sendiri demi aku, kenapa kau bodoh sekali...!" terus menggerutu karena mengkhawatirkan Kenan.
Berucap sambil mendekati Kenan, makin mendekat ke arah nya, dan langsung mengelap darah yang keluar dari hidung Kenan, mengelap dengan jemari tangan nya dan ia usapkan ke bajunya.
Saat Ze mengusap darah di hidung Kenan, tangan Kenan mulai bergerak mendekat ke arah wajah Ze, langsung menyeka air mata Ze yang sadari tadi berjatuhan membasahi wajah cantik nya.
"Jangan menangis...! aku tidak apa apa, aku akan merasa sakit jika kau menangis seperti ini Ze...!"ucap lirih Kenan sambil membelai wajah istrinya, dan menyelipkan rambut yang menghalangi wajahnya, dan ia selipkan di balik telinga Ze, ingin sekali melihat jelas wajah istrinya yang sudah lama ia rindukan,
membuat mata mereka saling bertatapan sampai mengetahui apa yang sama sama mereka rasakan.
Tidak kuat menahan rasa sedih melihat Kenan yang kesakitan namun selalu berkata baik baik saja, dengan cepat Ze langsung memeluk Kenan, rasanya tidak tahan melihat rasa sakit yang di rasakan Kenan.
"Maaf kan aku, maaf kan semua kesalahan ku, ini semua salah ku,aku minta maaf Kak Ken..! hiks....hiks.. aku minta maaf...!
jangan pernah melakukan hal konyol lagi, jangan pernah menyakiti dirimu mu lagi maaf kan aku...! hiks...hiks..." ucap Ze lirih sambil menangis sesegukan tidak kuasa menahan kesedihan nya, sambil
memeluk Kenan dengan begitu erat dan menyandar kan kepalanya di dada bidang Kenan.
"Sudah jangan menangis, kau tidak
bersalah...!" ucap Kenan meredakan kesedihan Ze sambil membalas pelukannya, langsung membelai lembut kepala Ze dan terus mengecup puncak kepalanya pelan,
Hangat itulah yang mereka rasakan, pelukan yang beberapa hari ini tidak mereka rasakan,
serasa memiliki dunia sendiri saat bisa berlabuh di tempat nya, mengeluarkan semua rasa rindu yang serasa bertahun tahun tidak merasakan sentuhan hangat ini.
Kebahagiaan kini terpancar di wajah Kanan,
rasa rindunya kini terobati saat istrinya kembali ke pelukannya.
"Pulang ke rumah kan...?" tanya Kenan ingin memastikan.
Dengan cepat Ze langsung mengangguk kan kepalanya di balik pelukannya,
membuat Kenan tersenyum senang.
"Terimakasih telah memaafkan ku...!" ucap Kenan lirih sambil tidak henti hentinya mengecup puncak Kepala Ze, yang sadari tadi memeluk nya.
Ze pun makin mempererat pelukannya.
"Akhirnya...!" canda Martin sambil tersenyum senang menatap ke arah Kenan.
merasa ikut senang melihat mereka berdua akur Kembali .
"Apa kita akan terus di sini...? dari tadi semua orang memperhatikan kita Ze...!" bisik Kenan di balik pelukannya. Masih sempat sempat nya, memperhatikan orang di sekitarnya di saat keadaan seperti itu.
Membuat Ze langsung melepaskan pelukannya.
"Maaf....!" berucap sambil tertunduk malu.
"Tidak apa apa...!" balas Kenan sambil mengelus kepala Ze yang tertunduk di depan nya.
"Ayo bangun...! sepertinya aku harus mengobati luka ku...!" ajak Kenan sambil meraih tangan Ze, dan Ze pun langsung membantu Kenan untuk berdiri.
Mereka pun langsung pergi meninggalkan kerumunan untuk menuju ke ruang UKS Kampus.
"Apa harus berkorban separah ini jika ingin di maafkan oleh orang yang kita sayang...?" ucap heran Martin rasanya dia juga ingin menangis saat melihat mereka berdua.
Terlihat sadis tapi romantis.
__ADS_1