Cinta Tanpa Alasan

Cinta Tanpa Alasan
Bab 3


__ADS_3

Seminggu sudah sejak kepulangan Amini dari rumah sakit kini mereka tengah mempersiapkan pernikahan yang akan. dilaksanakan dua minggu lagi tanpa ada pertunangan terlebih dulu.


Amini dan Ibra memilih nuansa putih di hari bahagia mereka yang akan dilaksanakan di ballroom hotel bintang lima.Untuk acara akad dan resepsi akan diadakan di hari jumat dan resepsi di hari sabtu. Berubung Ibra yang gila kerja jadi dia mempercayakan urusan pernikahannya kepada WO yang pastinya akan dikoordinir oleh orang tuanya langsung.


Meskipun mewah tetapi untuk undangan dibatasi, hanya lima ratus undangan untuk dua hari. Padahal harusnya lebih dari seribu .Namun mengingat kondisi Amini keluarga memutuskan hanya mengundang kelurga besar,kolega bisnis yang benar-benar dekat dan sahabat kedua belah pihak saja.


Kini Amini dihadapkan dengan beberapa model undangan.Terlihat kebingungan dari wajah Amini.


"Kamu sudah temukan undangan yang kamu suka?" Amini menggeleng. "Amini bingung mah semuanya bagus.Mama aja yang pilih ya."Keluh Amini


"Jangan dong memangnya mama yang mau nikah? Kan kamu yang mau nikah."Santi menggoda Amini. Akhirnya Amini memilih salah satu model undangan yang menurutnya cocok. Amini memotretnya dengan ponselnya lalu dikirimkan ke Ibra.


Tring,suara notif pesan dari ponsel Amini. Diambilnya ponsel yang ada diatas meja terlhat nama Ibra yang muncul di layar ponselnya. Ternyata itu balasan dari foto yang Amini kirimkan tadi.


"Cantik, pilihan kamu bagus. Apapun yang kamu pilih saya suka."😊😊


"Emmm makasih. Ya sudah saya cetak yang itu. Kamu lanjut kerja aja."


Pesan mereka berakhir.


Memang sampai saat ini Amini belum mencintai Ibra, dia masih menata hati dan mencoba membukanya untuk Ibra. Ibra pun memaklumi itu bagi Ibra dengan Amini menerima pinangannya pun sesuatu hal positif baginya. Karena cinta perlu proses meskipun kadang kita tidak tau alasan mengapa kita jatuh cinta.


***


Dikantor, Ibra tengah senyum-senyum sendiri membayangkan hari pernikahannya yang sudah di depan mata. Ibra terus termenung tanpa menghiraukan Adi yang sejak tadi berdiri di ambang pintu memperhatikan sahabatnya tersebut.


"Cieee ehmmm" Suara Adi mengagetkan Ibra yang tengah asyik dengan dunianya sendiri.


"Assalamualaikum."Ucap Ibra.


"Waalaikumsalam."Saut Adi terkekeh.


"Bukannya ngucap salam malah berdehem."Ibra merasa kesal karena Adi mengganggu lamunannya.


"Ah elo temen datang bukannya disambut senyuman atau gimana kek yang baik-baik i ini malah diomelin."Sungut Adi.


"Lagian lo juga sih ganggu lamunan indah gue aja."


"Tumben kemari ada angin apa lo nyamperin gue kemari tanpa bilang dulu."


"Gue mau marah sama lo.Mau nikah gak bilang-bilang tega banget lo sama sahabat sendiri.Andai tadi tante Santi gak sengaja ketemu gue mungkin sampai lo sydah nikah pun gue gak akan tau."Adi balik memarahi Ibra.Adi benar-benar marah pada Ibra karena merasa tak dianggap sebagai sahabat. Ibra hanya terkekeh melihat kemarahan sahabatnya itu. Mereka pun akhirnya melanjutkan obrolan mereka ditemani kopi yang sebelumnya di pesan Ibra pada pegawai OB nya.


Mereka keasyikan ngobrol hingga petang baru mereka beranjak dari kantor.Ibra mengendarai mobil sedangkan Adi duduk anteng di sampingnya. Diperjalanan Ibra melewati toko aksesoris dia langsung teringat akan sang calon istri. Ibra meghentikan mobilnya di halaman toko lalu turun meninggalkan Adi sendiri di dalam mobil.


Ibra masuk kedalam toko melihat-lihat aksesoris yang cocok digunakan Amini. Tak lama setelahnya Ibra keluar dari toko membawa satu paperbag kecil dengan wajah berseri sepertinya dia sudah menemukan barang yang dia cari.


Ibra mengajak Adi pulang dan meginap dirumahnya karena Adi sudah lama tak berkunjung sekalian buat bantu-bantu mempersiapkan acara pernikahan Ibra.


"Bun nih Adi katanya mau nginap sekalian bantu-bantu siapin acara nikahan Ibra."Kata Ibra setelah mereka masuk ke dalam rumah.


"Ibra yang maksa tante."Bantah Adi. Sonia hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah dua sahabat ini. Terkekeh geli dan langsung menuju kamar guna menyimpan hadiahnya untuk Amini nanti sebagai kado pernikahan.


***


Disisi lain Amini merasa gelisah, takut,dan bahagia campur aduk jadi satu. Namun Amini sangat bersyukur jika pun bukan lelaki itu, setidaknya Ibra tidak jauh berbeda dengan seseorang yang memberinya sepucuk surat bernada islami itu bahkan mungkin jauh lebih baik Ibra pengetahuan dan ketaatannya pada Agama.


Tring


Amini meraih ponselnya yang berada di atas nakas samping tempat tidur. Terlihat dilayar depannya pesan masuk dari Ibra.

__ADS_1


"*Assalamualaikum. Lagi apa? Apakah kamu sudah tidur?"


"Waalaikumsalam. Lagi membaca novel dan tentu saja belum tidur."


"Hahaha kali aja kamu balas chat sambil tidur dan siapa tau aja lagi mimpiin calon suamimu ini*."


"Calon suami" membaca kata itu membuat hati Amini menghangat. Ya, sebentar lagi Ibra kan mejadi suaminya. Dan Amini bertekad untuk melupakan masalalu nya demi seorang Ibra mulai saat ini. Karna tidak seharusnya dia menanti hal yang tak pasti sedang kepastian ada didepan mata.


"Hmmm saya tidak ingin bermimpi tentangmu."Amini kembali melanjutkan chatingan dengan Ibra.


"Mengapa? πŸ€”"


"Karna saya tidak ingin hidup dalam dunia mimpi."


"Alhamdulillah berarti kamu mau hidup bersama saya dalam dunia nyata.😍😍😍"


"*Insyaallah. Sudah dulu ya saya mau tidur.Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Good night calon istri*."


Amini mengakhiri percakapan melalui pesan singkat tersebut dangan perasaan gembira.Dia merasa beruntung dijodohkan dengan Ibra. Meskipun belum sepenuhnya perasaan Amini ia serahkan pada Ibra.


Amini meletakkan ponselnya kembali di atas nakas dan dia membaringkan tubuhnya dikasur serta menutup setengah badannya dengan selimut lalu memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian Amini sudah terlelap.


***


Keesokan paginya Amini bangun pukul lima dinihari ada rasa enggan untuk bangkit dari tidurnya namun dia harus segera menganbil wudhu karena sudah waktunya sholat subuh. Tapi yang namanya Amini dia tidak pernah melewatkan mandi sebelum dia sholat subuh karena badan akan terasa segar jika sudah mandi dan menghilangkan kantuk juga.


Amini melaksanakan sholat subuh dengan khusyuk. Setelah selesai dia turun kedapur dan segera bertempur dengan segala macam alat masak mulai dari panci hingga penggorengan.


Soal masak sudah tidak diragukan lagi Amini memang jago tak kalah dari chef yang ada di restoran terkenal. Soalnya Amini juga sekolah masak namun dia tidak bekerja karena dia ingin punya resto sendiri dan masak sendiri nantinya.


***


"Kamu gak ngantor?" Tanya bunda Sonia menatap bingung pada putra keduanya itu.


"Kan weekend waktunya libur dong bunda bukan malah bekerja."Jawaban Ibra membuat keluarganya bingung bahkan Malik yang duduk disamping Ibra memegang dahi sang adik ingin tau apakah panas atau tidak.


"Gak usah dipegang kali bang dahinya karna memang gak panas."Ucap Raka. Sedangkan Ibra hanya diam saja dan memulai sarapannya.


"Lah kamu mana tau sih,kamu kan gak pegang." Malik mengernyit heran. Sedangkan kedua orang tua mereka hanya menyaksikan percakapan kedua putra mereka. Sedang Karina masih didapur untuk mengambil satu menu lagi yaitu omelet kesukaan Malik.


"Ah elah gimana sih bang Malik elo kan udah nikah masa lo gak ngerti sih kalau Cinta sudah bersemi di hati bang Ibra.Dan efek orang yang jatuh cinta ya gitu. Kaya situ gak pernah ngerasain aja."Malik pun tertawa mendengar perkataan Raka.


"Ternyata anak-anak Ayah Bunda sudah pada besar bahkan Raka aja sudah mengerti cinta.Padahal rasanya baru kemaren mereka pada main lari-larian karena berebut mainan eh sekarang Malik sudah mau punya anak, Ibra mau nikah.Mereka sudah dewasa yah."Sonia Bicara sambil menatap suamnya. Mendengar penuturan sang bunda ketiga anak laki-laki yang bukan anak-anak lagi itu beranjak dari duduk mereka dan berjalan ketempat duduk sang bunda lalu memeluk bunda bersama. Kemudian memeluk ayah.


Seminggu lagi pernikahan mereka digelar. Jadi hari ini jadwal mereka untuk fitting baju pengantin dan setelah itu mereka tidak bisa bertemu sampai hari H alias dipingit. Mungkin bagi mereka yang masih sama-sama menata hati tidak masalah untuk dipingit.


Setelah sarapan Ibra kembali kekamar bersantai sejenak sebelum pergi menjemput Amini untuk fitting.Niat awal pergi ke butik pukul sepuluh molor satu jam menjadi pukul sebelas. Itu karena Ibra yang niatnya ingin bersantai malah kebablasan tidur hingga baru lah pukul sebelas baru sampai butik.


"Ibra kamu gimana sih jam segini baru datang bunda kira kamu sudah berangkat duluan dan jemput Amini. Eh ternyata kamunya malah molor sampai-sampai Amini berangkat sendiri ke butiknya." Omel Sonia karena merasa malu pada calon besan dan calon menantunya atas kelakuan putranya tersebut. Sedangkan orang yang diomelin hanya cengengesan gak jelas.


"Gak apa- apa kok tan aku juga bareng mama kok gak sendiri."Kata Amini tersenyum ramah.


"Tuh bunda dengar sendirikan Amini aja gak apa-apa. Dia mah pengertian sama suaminya." Sekali lagi hati Amini menghangat karena mendengar kata terakhir yang keluar dari mulut Ibra. Ditambah lagi pipinya bersemu merah seperti tomat membuat yang empunya menunduk menyembunyikan rasa malunya.


"Gak usah nunduk gitu untuk sembunyikan pipi kamu yang merona."Bisik Ibra membuat Amini jadi semakin salah tingkah.Kemudian Ibra berlalu masuk keruang ganti untuk mencoba beberapa baju untuk acara akad dan resepsi nanti. Sedang Amini masih mematung ditempatnya.


"Amini kenapa bengong sayang ayo ganti baju Ibra sudah duluan ganti itu."Sontak ucapan Sonia membuat Amini tersadar dia pun bergegas masuk keruang ganti.

__ADS_1


15 menit kemudian.


Ibra keluar bersama dengan Amini dari arah yang berlawanan dan berhenti di tengah mereka memilih kebaya sederhana berwarna putih tulang untuk Amini dan stelan jas senada untuk Ibra. Keduanya terlihat cocok namun masih kurang hingga membuat kedua ibu itu menggeleng bersamaan.


Mereka terus mencoba beberapa baju hingga lima namun yang diambil hanya dua. Satu untuk akad dan itu pun berwarna putih dan satu lagi untuk resepsi gaun berwarna merah jadi kesannya indonesia banget.


Setelah selesai fitting Ibra dan Amini beserta ibu-ibu mereka memutuskan untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan karna memang ini sudah pukul 14:00 mereka sudah melewatkan waktu makan siang karena terlalu sibuk memilah milih baju di butik.


Beruntung di dekat butik ada rumah makan jadi mereka memutuskan makan disana. Memang mereka orang berduit tetapi untuk makan mereka bisa makan dimana aja asalkan enak dan tentunya bersih dan higenis.


Ibra dan yang lainnya berjalan kaki menghampiri rumah makan tersebut. Setelah masuk Ibra menyuruh Amini dan kedua ibu mereka menunggu di meja yang ada di pojok rumah makan. Sedangkan Ibra memesan makanannya terlebih dahulu. Baru dia menghampiri meja yang sudah disiapkan.


Tak butuh waktu lama dua orang pelayan datang mengantar pesanan mereka semua. Ada ikan bakar, ayam bistik, udang saus tiram dan sop tahu tidak boleh ketinggalan tentunya menu utamanya yang bikin perut kenyang apalagi kalau bukan nasi.


Mereka semua menyantap makanan yang tersaji hingga habis.Lalu mereka balik lagi ke butik dimana tempat mobil mereka diringgalkan.


"Mah, tante Ibra izin ajak Amini jalan sebentar ya."


"Lah bunda pulangnya gimana? tadikan diantar mang Toha niatnya pulang bareng kamu."Kata Sonia membuat Ibra merasa tidak enak juga sedikit kesal karena akan gagal jalan berdua karena gak mungkin Ibra ninggalin bundanya.


"Udah biarin mereka jalan berdua biar makin akrab kamu lupa ada aku disini?"Tanya Santi.


"Ah kamu San aku tu becanda tau ingin menggoda mereka saja. Eh ternyata kamu liat sendirikan wajah mereka terutama Ibra sepertinya sudah kesal."Sonia tergelak mengingat ekspresi putraya beberapa menit lalu. Akhirnya Santi dan Sonia pulang kerumah.Dan dua sejoli itu pergi entah kemana.


Awalnya tak banyak yang mereka bicarakan didalam mobil hanya suara musik yang diputar di radio mobil yang lebih dominan hingga Amini mulai bertanya kemana tujuan mereka.


"Kamu mau ajak aku kemana?"


"Emmm sekarang sudah aku kamu nih gak pakai saya lagi?"Goda Ibra.


"Ibra apaan sih, kan bentar lagi nikah jadi aku biasain bicara pakai aku kamu."


"Emang sudah siap buat nikah terus punya anak."Ibra semakin menggoda Amini.


"Anak?"Wajah Amini merona membahas soal anak. Ibra yang menyadari raut muka Amini bersemu semakin melancarkan godaan yang membuat Amini malu dan melupakan pertanyaannya di awal.


Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah taman didekat danau. Setelah memarkirkan mobilnya Ibra mengajak Amini turun.


"Indah banget tempatnya. Aku baru tau ada tempat seindah ini."Ucap Amini.


"Makanya kamu sering-sering keluar rumah dan nikmati alam seperti ini."


"Aku sering kok keluar rumah tapi gak pernah kesini."Ucap Amini terkekeh.


"Setelah kita menikah nanti aku janji insyaallah aku akan ajak kamu ketempat-tempat lain yang bahkan lebih indah dari ini."Amini hanya tersenyum.


(Terimakasih ya Allah engkau kirimkan seseorang yang bisa membuat hamba merasa nyaman. Hamba ingin terus membahagiakannya terus hingga kita terpisah oleh maut. -Ibra)


.


.


.


Jangan lupa like dan komennya teman-teman semua. Masukannya juga jika ada silahkan utarakan biar author perbaiki kesalahan.


Maafkan jika terdapat typo.


Terimakasih.

__ADS_1


❀❀❀❀❀


__ADS_2