
Sore hari di keluarga NUGRAHA, suasana terlihat lebih sibuk dari biasanya, para pelayan sedang sibuk mengems barang barang yang akan di bawa untuk berkunjung ke kediaman keluarga Wijaya.
Angga sengaja pulang lebih awal dari kantor, karena hari ini dia bermaksud akan mengunjungi anaknya yang baru berumah tangga itu. Setelah hari di mana anaknya pergi dari rumah menjalani hidup baru dengan suami nya. Angga tidak pernah tenang, masih ada perasaan yang mengganjal di hatinya.
Dalam pikiran nya, Angga terus bertanya apakah anaknya benar benar bahagia?
masih ada perasaan takut sekaligus rasa bersalah karena pernikahan anak nya itu, di awali dengan sebuah perjodohan.
Meskipun Surya selalu meyakinkan Angga bahwa anaknya baik baik saja, dan bahkan sekarang mereka malah terlihat lebih dekat, tapi hati orang tua mana yang bisa tenang jika belum melihat dengan mata sendiri bahwa anaknya benar telah bahagia dengan kehidupan barunya.
Sebenarnya Angga juga sangat percaya pada Kenan, bahwa dia pasti akan membahagiakan anaknya, dan menjaganya seumur hidup nya,
namun tetap saja, ada perasaan yang tidak tenang dalam hatinya.
Di tambah lagi rasa rindu nya yang tidak bisa di obati hanya dengan mendengar suara nya saja. Maka Angga memutuskan untuk mengunjungi anaknya tanpa memberi kabar sebelum nya.
"Bu! apa semua nya sudah siapa?"
tanya Angga yang sudah tidak sabar ingin segera menemui anaknya.
"Sebentar lagi Yah, kita nunggu Naura dulu, sebentar lagi juga dia siap."
Tidak membutuhkan waktu lama terlihat Naura sudah siapa keluar dari kamarnya.
"Ayo sayang! bukankah kau ingin segera menemui Kakak mau?"
ajak Maya, sambil merangkul anak bungsu nya itu.
"iya Bu,"
Mereka pun langsung bergegas pergi ke kadiaman keluarga Wijaya.
***
"Bun, apa Kenan sudah pulang?"
tanya Surya, yang baru pulang dari kantor nya, dan langsung mendudukkan badannya di samping Widi, yang sedang duduk di ruang tengah keluarga.
"Sudah, mereka lagi di atas, kenapa memang?"
"Saat meeting tadi pagi, dia tiba tiba langsung pergi, dan meninggalkan kantor, sekretaris nya pun tidak tau dia pergi kemana?
apa mereka baik baik saja?"
tanya Surya penasaran.
"Mereka tadi terlihat bisa saja, apa Bunda periksa dulu ya!?"
"Ia, coba periksa dulu mereka, takut terjadi apa apa!"
sahut Surya.
Widi pun bergegas naik ke atas untuk memeriksa keadaan anaknya.
*
Keadaan di dalam kamar.
Kenan dan Ze, sedang terlelap tidur di atas kasur, dengan keadaan Kenan yang masih bertelanjang dada, setelah kambuh dari alerginya. Kenan dan Ze, langsung ketiduran bersama, dengan posisi Ze yang tidak melepaskan pelukannya dari badan Kenan.
Tiba-tiba tidur mereka terganggu oleh ketukan pintu dari luar.
"Ken! kalian baik baik saja? apa Bunda boleh masuk?"
ujar Widi dari luar sana.
Kenan yang mendengar suara Bunda nya, antara sadar dan tidak, langsung menjawab perkataan Widi.
"Masuk saja Bun, tidak di kunci,"
ujar Kenan yang masih setengah tidur, dan dia malah memposisikan tidurnya agar makin nyaman dengan memiringkan tubuhnya menghadap Ze, dengan tangan langsung memeluk badannya, dan kaki panjang nya, menindih kaki Ze di bawah nya,
sedang Ze yang menyadari pergerakan Kenan, dia hanya menggeliat dan makin mempererat pelukannya.
"Bunda masuk ya!"
ucap Widi sambil membuka pintu kamar mereka, dan langsung bisa melihat dengan jelas, sedang apa kedua anaknya itu.
"Haduhhh, kalau kalian sedang tidur, kenapa malah menyuruh bunda masuk,"
ucap Widi yang malu sendiri, melihat kedua anaknya yang sedang tertidur dengan posisi saling berpelukan dengan begitu mesra nya.
"Bagaimana Bun,! apa mereka baik baik saja?!" tanya Surya yang tiba tiba datang dan berdiri di belakang Widi, merasa mengkhawatirkan kedua anaknya, hingga memutuskan untuk memeriksa juga.
Seketika mata nya di kagetkan dengan pemandangan di depan nya, melihat kedua anaknya yang sedang tertidur pulas, tanpa menyadari orang tua nya ada di sana.
"Huhhh dasar anak nakal, orang dari tadi mengkhawatirkan nya, dia nya malah asik asik tidur, malah tidak mengunci pintu lagi."
gerutu Surya sambil merangkul istrinya untuk segera keluar dari kamar anaknya.
Widi yang mendengar perkataan Surya hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.
*
Di bawah terlihat Angga beserta anak dan istrinya, kini telah sampai di depan pintu, sang pelayan langsung menyuruh mereka masuk, dan langsung memberitahu Surya yang terlihat menuruni tangga, bahwa besan nya datang berkunjung dan telah menunggu di ruang utama.
"Wah, kenapa tidak memberi tau terlebih dulu kalau kalian ke sini,"
ucap Surya sambil menghampiri Angga dan langsung memeluk nya.
__ADS_1
Begitu pula dengan Widi langsung memeluk Maya, dan berganti an memeluk Naura.
"Aku hanya merindukan anak ku, tidak bertemu beberapa minggu saja serasa tidak bertemu beberapa tahun." ucap Angga.
"Tan, apa Kakak sedang keluar, kenapa sedari tadi tidak terlihat?" tanya Naura yang sudah merindukan Kakak nya, dengan mata yang nengok kiri kanan mencari keberadaan Ze.
"Kakak mu sedang tidur di atas, coba kamu bangunkan! biar pelayan yang menunjukan kamarnya."
"Apa tidak akan mengganggu?"
"Tidak, mereka sudah tertidur dari tadi, kamu bangunkan saja, tapi jangan dulu membuka pintu sebelum Kakak mu, membuka nya,"
ucap Widi dengan senyum kecil nya, mengingat kalau sampai Naura memergoki Kakak nya yang sedang tidur, itu pasti akan mengotori pikiran polos nya.
"Baik Tan, terimakasih, Naura ke atas dulu."
Naura pun langsung ke atas di antar salah satu pelayan di sana.
***
Tok.....Tok....Tok....
Mendengar suara ketukan pintu, Ze langsung terbangun dari tidur nya,
Ze langsung menggeliat, merasa berat di badan dan kakinya karena ulah pelukan Kenan.
"Kak...!"
Ze berusaha melepaskan pelukan Kenan, dan bergegas bangun namun terhenti karena Kenan malah menarik nya lagi ke pelukannya.
"Jangan ke mana mana!" ucap Kenan masih dengan memejamkan matanya.
"Ada yang mengetuk pintu Kak!"
ucap Ze berusaha melepaskan pelukannya.
"Biarkan saja, nanti juga pergi sendiri kalau kita tidak menjawab nya."
Kenan malah mempererat pelukannya masih dengan memejamkan matanya.
"Kak, Kak Ze, ini Naura Kak, apa Kakak udah bangun?"
ucap Naura di luar sana.
Seketika Ze melebarkan mata meras terkejut, mendengar suara adik nya di luar sana yang memanggil manggil nya.
"Kak, bangun! itu Naura Kak!"
"Naura...?" tanya Kenan terkejut, kenapa adik iparnya bisa ada di sini.
Kenan pun mulai melepaskan pelukannya, membiarkan Ze memastikan siapa yang ada di luar kamar mereka.
"Naura...."
"Hai Kakak, apa kau baik baik saja?"
ucap Naura dengan reflek langsung memeluk tubuh Kakak nya itu.
"Apa Kakak tidak merindukan ku, kenapa jarang main ke rumah?"
tanya Naura yang sudah melepaskan pelukannya dan kini mereka masuk ke dalam kamar dan Ze menyuruh adik nya untuk duduk di sofa kamarnya.
"Maaf Dek, akhir akhir ini Kakak sibuk jadi belum sempat main ke rumah,"
"Apa Kakak habis menangis kok mata Kakak, sampai bengkak?"
"Tidak kok, Kakak hanya kebanyakan tidur saja,"
"Kakak bohong, Kakak habis nangis 'kan?"
ucap Naura tidak percaya, kini Naura pun nengok kiri kanan mencari keberadaan Kakak iparnya, namun mata nya tidak menemukan nya.
Karena saat Ze membuka pintu kamar nya, Kenan langsung bangun bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci muka, dan langsung ke ruang ganti pakaian untuk mengganti pakaian nya.
"Wah ada adik cantik, kenapa gak bilang bilang kalau mau kesini?!"
sapa Kenan yang terlihat keluar.
"Hei, Kakak ipar, apa yang kau lakukan pada Kakak ku, sampai Kakak menangis?"
tanya Naura dengan begitu tegas nya sambil menyimpan kedua tangan di pinggang nya.
"Kakak tidak ngapa ngapain kok!"
jawab Kenan santai sambil mengangkat kedua pundak, berbicara tanpa rasa bersalah.
"Awas saja ya, kalau Kak Kenan sampai membuat Kakak menangis, aku akan memberi perhitungan pada Kakak ipar!"
dengan nada tegas seolah olah Naura akan berani melawan Kenan.
Membuat Kenan terkekeh melihat tingkah adik iparnya itu.
"Apa kau kesini sendiri?" tanya Ze.
"Tidak Kak, Ayah dan Ibu juga ke sini, mereka lagi menunggu di bawah."
"Benarkah, kenapa gak bilang dari tadi! ayo kita kebawa sekarang." seru Ze yang kegirangan sambil menarik tangan adik nya untuk segera turun ke bawah.
Tanpa mempedulika Kenan yang tersenyum kecil melihat kedekatan adik Kakak itu.
__ADS_1
"Huh, giliran ada keluarga nya, jadi lupa sama suaminya, malah di tinggal sendiri."
Kenan pun kini sama sama turun untuk menemui Mertua nya.
*
"Ayah Ibu, kenapa gak bilang bilang kalau mau kesini?"
ucap Ze sambil menghampiri Angga di Maya.
"Aku sangat merindukan kalian,"
imbun Ze kini dia memeluk kedua orang tua nya berganti an, di susul oleh Kenan yang juga menyalami kedua nya.
"Kalian baik baik kan? ibu juga merindukan mu."
sahut Maya sambil membelai rambut Ze, kini Ze sedang duduk di antara Angga dan Maya, melepas rindu kepada kedua orang tua nya.
"Ibu jangan terlalu mengkhawatirkan Ze, Ze baik baik saja kok, Ze betah tinggal di sini,"
dengan tersenyum lebar Ze berusaha meyakinkan orang tua nya kalau dia baik baik saja.
"Bu, tapi tadi Naura lihat Kakak kaya habis nangis."
ucap Naura dengan begitu polosnya.
Membuat semua mata tertuju pada Kenan.
"Waduh, aku kan tidak melakukan apa apa, kenapa kalian menatap ku seperti itu!"
batin Kenan yang sudah gelegapan di tatap semua orang, apalagi saat melihat tatapan tajam Angga yang yang terus menatap ke arahnya.
Sedangkan Surya, yang sudah tau bahwa anaknya tidak apa apa, dia langsung menjewer kuping Kenan, membuat perhitungan pada anak nya.
"Apa yang kau lakukan pada anak gadis Ayah hah?"
"Aww Yah, sakit, aku tidak berbuat apa apa kok sumpah,"
ucap Kenan dengan mengangkat kedua jari nya berusaha meyakinkan semuanya.
Ze hanya bisa tersenyum melihat tingkah ayah dan anak itu.
"Ze sayang? apa suamimu menyakiti mu?"
tanya Surya dengan tangan yang masih menjewer kuping Kenan.
"Tidak Yah, Kak Ken tidak menyakiti Ku, tapi dia yang malah menyakiti diri nya sendiri."
ucap Ze dengan suara ketusnya.
"Apa maksud nya?"
tanya Angga masih bingung.
"Kak Ken, malah melakukan hal konyol demi menjaga perasaan Ze Yah"
ucap Ze menjelaskan agar Angga tidak mengkhawatirkan nya.
"hal konyol apa sayang?!"
tanya Widi penasaran.
" Itu Bun, udah tau dia alergi udang, ekh dia malah memakan nya, jadi nya 'kan dia yang kesakitan sendiri, dia bener bener bodoh kan Bun?"
ucap Ze. membuat Widi langsung terkejut dan langsung memeluk kaki Kenan.
"Dasar anak nakal,"
Akhirnya Kenan mendapatkan hukuman dari kedua orang tua nya.
"Yah, Bun, sakit,"
rengek Kenan, membuat semua tersenyum melihat nya.
"Ze, kau tidak mau menolong ku?"
ucap Kenan mencoba mencari pertolongan.
"Biarin itu hukuman nya kalau berani melakukan hal konyol lagi."
Ze malah meledak Kenan sambil menjulurkan lidahnya.
"Wah saat ada keluarga mu, sekarang kau melupakan suami mu,"
rengek Kenan sambil menahan sakit karena Surya belum juga melepaskan jewerannya.
"Biarin" sahut Ze.
Membuat semua orang di sana menahan tawa melihat perdebatan kedua anaknya.
.
.
.
.
.
__ADS_1