Cinta Tanpa Alasan

Cinta Tanpa Alasan
Bab 2


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang tak ada yang bicara sepatah katapun dalam mobil. Dan kali ini Ibra yang mengemudikan mobil. Ibra menatap fokus kejalanan namun tak bisa dipungkiri bahwa hatinya terasa nyeri karena gadis yang dia sukai tidak menyukainya.


Setelah sampai dirumah Ibra turun lebih dulu dan meninggalkan Yusuf dan Sonia masuk kedalam rumah. Penolakan yang dilakukan Amini membuat Ibra semakin penasaran dan hasrat ingin memiliki Amini semakin besar.


Ibra kembali mengulang kejadian penolakan itu di memori otaknya. Namun Ibra meyakini bahwa Amini pun bersedih karena menolaknya. Tetapi mengapa Amini menolaknya jika dia mempunyai rasa yang sama dengan Ibra.


Baru kali ini Ibra merasa frustasi gara-gara seorang gadis. Ya, tentu saja penolakan Amini membuat Ibra menjadi gundah. Pasalnya Aminilah satu-satunya gadis yang mampu meluluhkan hatinya beberapa tahun yang lalu dan tidak ada yang tau soal itu karena dengan rapinya Ibra menyimpan perasaannya.


Ibra mengenang saat pertama kali melihat Amini di rumah sakit.


#Flashbakc


Kala itu Ibra habis menengok karyawannya yang terserang DBD. Tanpa sengaja dia melihat gadis cantik tengah asyik bercengkrama bersama anak-anak penderita kanker di taman rumah sakit.


Tampak guratan kebahagiaan terpancar diwajah anak-anak yang tengah menunggu giliran untuk kemo.


"Kaka Amini kok bisa terus tersenyum dan merasa bahagia dalam keadaan apapun kaka juga selalu terlihat tegar dan sepertinya tidak pernah bersedih? "Tanya salah satu dari anak-anak itu.


"Karena hidup itu harus dinikmati. Setiap hembusan nafas kita adalah anugrah yang Allah berikan. Jadi selagi kita masih bisa bernafas maka berbahagialah dan jangan lupa bersyukur atas apa yang telah Allah berikan.Dan siapa bilang kaka tidak pernah sedih,kaka juga pernah bersedih hanya saja kaka berusaha tegar dan menutupi kesedihan kaka dengan terus berbuat baik kepada orang lain."Ucap Amini tersenyum simpul.


Ibra yang mendengar jawaban Amini pun ikut tersenyum dan merasa kagum kepada sosok Amini yang kala itu belum Ibra ketahui namanya.


Ibra memutuskan untuk pergi dari tempat dia berdiri sebelum Amini dan anak-anak itu menyadarinya.


#flashback off


Setelah itu Ibra tidak pernah bertemu kembali dengan Amini baru hari ini bertemu lagi.


Ada kesenangan tersendiri di hati Ibra karena bisa bertemu dengan Amini lagi.Namun ada rasa sesak didadanya tatkala mengingat penolakan Amini hari ini. Tetapi bukan Ibra namanya jika tidak bisa dapetin hati gadis pujaannya.


Hari semakin malam Ibra pun akhirnya terlelap karna kantuk yang sudah tak bisa ditahan lagi.


***


Tiga hari berselang setelah keinginannya untuk menikahi gadis yang dia temukan di rumah sakit beberapa tahun lalu itu ditolak. Membuat Ibra semakin peasaran akan alasan sebenarnya Amini menolaknya.


Ibra memutuskan pergi kerumah Amini untuk meminta penjelasan. Dulu mungkin orang tua Ibra ngebet ingin menikahkan anak mereka. Tapi kini mereka sudah pasrah karena ternyata anaknya ditolak oleh dua gadis sekaligus.


Berbanding terbalik dengan Ibra yang sekarang ngebet ingin mendekati Amini untuk dijadikan satu-satunya wanita yang dia cintai setelah bundanya.


Ibra meninggalkan pekerjaannya di kantor demi menemui Amini.


Berhubung kantor Ibra dan rumah Amini dekat hanya perlu waktu lima belas menit untuk sampai kerumah Amini.


Sesampainya dirumah Amini, Ibra menghentikan mobilnya didepan gerbang lalu turun. Keadaan rumah tampak sepi seperti tidak ada penghuninya entah pergi kemana mereka Ibra bertanya-tanya. Untungnya ada satpam yang baru muncul dari belakang yang mengatakan jika keluarga majikannya sedang kerumah sakit.


"Siapa yang sakit pak?"


"Non Amini tuan."


"Apa... Amini..?" Sungguh terkejut Ibra mendengar Amini sakit.


"Rumah sakit mana pak? "


"Rumah sakit Medika tuan."


"Terimakasih pak." Ibra bergegas menuju rumah sakit dimana dulu dia pertama kali melihat Amini.


Ibra mengemudi dengan kecepatan lebih tinggi dari biasanya. Beruntungnya jalanan hari ini cukup lengang jadi Ibra bisa cepat sampai dirumah sakit.


"Assalamualaikum"Ibra datang dengan napas ngos-ngosan karena berlarian di koridor.


"Waalaikumsalam." Abraham dan Santi kaget melihat Ibra ada dirumah sakit.

__ADS_1


"Om, tante Amini sakit apa?" Tanya Ibra penasaan.


"Ibra kamu tau darimana Amini dirawat..?Bukannya menjawab pertanyaan Ibra lebih dulu Santi malah balik bertanya.


"Tadi aku kerumah tante tapi kata satpam kalian disini dan Amini tengah dirawat. Terus Amini sakit apa tan?" Ibra nampaknya belum puas jika tidak mengetahui sakit yang diderita Amini.


"Ibra bisa ikut tante sebentar, tante ingin bicara." Ibra hanya mengangguk seraya mengikuti langkah kaki Santi menjauhi ruang rawat Amini.


"Sebenarnya tante dilarang oleh Amini memberitahu ini semua kepadamu tapi berhubung kamu sydah terlanjur berada disini mau tidak mau tante harus jujur."


"Jujur soal apa tante..? Apa ini ada hubungannya dengan alasan Amini menolak saya kemaren.. ?Apa ini soal penyakit Armini..?"Cecar Ibra. Santi hanya mengangguk seraya menahan kesedihannya.


"Katakanlan tante biar saya tau dan bisa memaklumi alasan Amini. Jika itu masuk akal maka saya rela melepas Amini demi kebaikannya. Tetapi jika alasannya karena Amini sakit saya akan tetap menerima Amini walau apapun sakit yang ia derita bahkan saya berusaha sekuat tenaga menjelaskan pada Amini bahwa saya memang mencintainya bukan karena kasihan melihatnya."


Mendengar penjelasan Ibra membuat Santi yakin untuk menceritakan semua tentang Amini kepada Ibra.


"Sebenarnya Amini mengidap kanker darah nak, dan sel kanker itu kini telah menjalar di tubuhnya. Kanker yang Amini derita sudah masuk stadium tiga."Santi sudah tak mampu menahai air matanya lagi.


"Innalillahi." Ucap Ibra."Tapi walau bagaimanapun juga saya akan tetap pada pendirian saya untuk menikahi Amini." Kabar yang diterima Ibra ini tidak begitu mengagetkannya hanya saja dia langsung teringat kembali saat pertama dia melihat Amini menghibur anak-anak pengidap kanker.


Santi merasa bangga pada Ibra karena dia bersungguh-sungguh mencintai Amini dan ingin menikahinya. Hanya saat ini yang menjadi kendala adalah Amini itu sendiri yang selalu menolak untuk menikah karena baginya penyakitnya ini hanya akan menyusahkan suaminya dan usianya tidak akan lama lagi.


(Ternyata itu alasan dia menolakku, sungguh aku tidak ingin dia merasa aku mengasihainya ya Allah. Luluhkanlah hati Amini agar menerima hamba.-bathin Ibra)


Ibra meminta izin kepada Abraham dan Santi untuk masuk keruang Amini. Setelah dapat izin Ibra membuka pintu kamar Amini.


Amini begitu terkejut melihat Ibra masuk keruangannya.


Ceklek


Suara pintu kamar VVIP tempat Amini dirawat terbuka dan menampilkan sosok pemuda tampan yang membuat siapapun terpikat.


"Assalamualaikum." Ibra tersenyum.


"Makasih sudah jenguk. Tapi saya sudah gak apa-apa silahkan kamu pulang." Kata-kata Amini jauh berbeda dengan saat makan malam dirumahnya kemaren. Kemaren dia bertutur kata lembut tapi sekarang ketus.


Ibra hanya bisa menghela napas mendengar perkataan Amini. Ibra faham betul apa yang tengah dirasakan Amini. Namun Ibra terus berusaha meyakinkan Amini untuk menikah dengannya.


"Amini, maaf. Mungkin saat ini kamu tidak percaya dengan kata-kata saya. Tapi jujur saya serius ingin menikahimu bukan karena alasan kamu sakit. Saya tau kamu pun ingin menikah tetapi terhalang oleh penyakitmu."


"Hidup cuma sekali saya tidak ingin menyia- nyiakan kesempatan yang diberikan Allah untuk bahagia. Dan saya ingin hidup bahagia denganmu dan saya ingin menyempurnakan agama saya denganmu hingga bisa meraih syurga bersamamu."Amini teringat akan perkataannya sendiri beberapa tahun lalu saat dia menasehati anak-anak dirumah sakit ini bahwa hidup itu harus di nikmati.


Amini merutuki kebodohannya sendiri karena selama ini menyianyiakan waktunya untuk meratapi sakitnya dan menunggu sosok laki-laki yang tak pernah ditemuinya.


Sebenarnya Amini orang yang tegar dan kuat dia juga suka menularkan semangat untuk sembuh pada siapapun yang sakit. Bahkan pada dirinya sendiri harapan Amini untuk sembuh sangatlah besar. Hanya saja dia tidak ingin merepotkan orang lain hanya untuk merawatnya dan jika orang itu mencintainya maka dia takut kepergiannya kelak akan membuat luka dan kesedihan yang teramat sangat oleh orang yang mencintainya.


Amini masih diam membisu hingga Ibra pamit untuk pulang.Ibra juga memberikan waktu untuk Amini berfikir namun itu tidak lama. Karna saat esok Ibra kembali Amini harus sudah mantap menjawab. Dan tentu saja jawaban "Iya" lah yang ingin Ibra dengar.


"Istirahatlah, saya pulang dulu.Semoga besok jawaban kamu sesuai dengan apa yang saya harapkan."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Hanya salam lah yang dijawab Amini. Karena jujur dia bingung jawaban apa yang akan dia berikan pada Ibra besok.


Ibra keluar ruangan dengan tersenyum namun meski begitu orang tua Amini masih mampu membaca guratan kesedihan di wajah Ibra dibalik senyum yang dia sunggingkan.


"Yang sabar ya nak Ibra, mungkin Amini hanya perlu waktu. Berdoalah, minta pada Allah agar Amini dibukakan pintu hatinya untukmu. Jika memang engkau sungguh-sungguh insyaallah Allah kabulkan.Yakinlah jika Amini memang milikmu maka dia akan bersamamu kemanapun kamu melangkah tetapi jika tidak om hanya bisa mendoakanmu agar mendapat jodoh yang terbaik. Amiin." Ibra hanya menganggukan kepala mendengar nasehat Abraham.


Ibra pamit pulang kepada Abraham dan Santi dan dia bilang akan kembali lagi besok dan iya akan mengajak orang tuanya menjenguk Amini.Setelah berpamitan Ibra langsung pergi meninggalkan rumah sakit.


***


Sementara itu, Amini menatap langit-langit dalam kamar dengan nuansa serba putih itu.Fikirannya hanya tertuju pada Ibra.Perkataan Ibra yang ingin menikahinya sejak tadi berputar-putar di otaknya.Namun Amini tak bisa memungkiri jika rasa takutnya pun juga semakin besar.

__ADS_1


"Apa aku harus menerimanya? Tetapi aku tidak punya alasan untuk mencintainya.Dan dia hanya akan sakit hati jika menikah denganku.Ataukah aku akan terus menunggu dia yang entah siapa akupun tidak tau karna hanya benda ini yang dia tinggalkan."Sekali lagi Amini menggenggam sebuah gantungan kunci berbentuk emot ikon smile. Fikiran Amini terus aja berputar berputar soal masa depan dan masa lalunya. Sesungguhnya bukanlah penyakit yang dideritanya yang membuatnya menunda bahkan tidak ingin menikah. Alasan sebenarnya adalah lelaki dimasa lalunya.


Ceklek


Suara pintu terbuka kembali terdengar. Amini menoleh kearah pintu.


"Amini kamu tidak apa-apa kan?"Amini hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Sayang menikahlah dengan Ibra dia anak yang baik dan mama yakin dia akan mencintaimu dengan tulus dan dia juga terima keadaanmu. Jangan takut akan penyakitmu dan yakinlah Allah akan menyembuhkanu dan membuatmu hidup bahagia dengan Ibra."Amini masih diam dia hanya menatap bundanya dengan sendu.


"Istirahatlah sanyang ini sudah malam."Seru Santi lalu mencium kening putrinya. "Lelaki sholih itu susah didapatkan jika kamu mendapatkannya maka kamu beruntung terlebih jika dia mencintaimu kau pasti akan bahagia sekali hidup bersamanya." Santi berjalan kearah sofa untuk tidur.


Sementara Amini membenarkan perkataan mamanya. Namun lelaki di masalalu yang sesungguhnya belum pernah dia temui sebelumnya kembali mengganggu fikirannya apalagi dengan kata-kata indah yang tertulis disurat itu. Ya, Amini mendapat hadiah gantungan kunci beserta surat kala dirinya masih aktif dalam membantu anak-anak penderita kanker. Hanya dari situlah dia mengenal sosok lelaki yang sampai hari ini mengganggu fikirannya.


***


Ceklek


"Assalamualaikum. om tante."


"Waalaikumsalam.Nak Ibra,mba Sonia"Ibra dan Sonia masuk setelah dipersilahkan Santi. Sonia langsung mendatangi Amini yang tengah bersandar di ranjangnya. Amini tersenyum dan tak lupa mencium punggung tangan Sonia.


"Bagaimana keadaanmu nak?" Sonia mengusap lembut kepala Amini yang tertutup kerudung. Amini terlihat lebih baik hari ini wajahnya sudah tidak pucat seperti kemaren lagi.


"Alhamdulillah Amini sudah lebih baik hari ini tante, kata dokter juga sore sudah boleh pulang tinggal menunggu hasil pemeriksaan siang hari ini, jika hasilnya baik maka Amini boleh pulang."Sonia tersenyum seraya mengucap syukur mendengar penjelasan Amini. Sonia pamit keluar bersama Santi membiarkan anak-anak mereka bicara.


Hari ini Ibra menepati janjinya pada Amini membawa serta kedua orang tuanya menjenguk Amini seraya berharap Ibra mendapat jawaban yang dia inginkan terlontar dari mulut Amini. Namun yang kini bersama Ibra hanyalah Sonia sang bunda sedangkan Yusuf akan menyusul setelah pekerjaannya selesai bersama Abraham.


"Saya menepati janji saya membawa orang tua saya kemari, saya harap kamu sudah punya jawaban atas permintaan saya kemaren dan saya harap jawaban kali ini membawa kebahagiaan bagi keluarga kita."


"Apa kamu yakin untuk menikahi gadis yang penyakitan seperti saya? Kamu siap menanggung resikonya?"


"Sekali lagi saya katakan, saya siap lahir batin menerimamu apa adanya."


"Apa kamu mencintai saya."


"Saya tidak tau apakah ini cinta atau bukan. Yang saya tau hanyalah saya merasa nyaman dan damai berada didekatmu tetapi saya rindu dan gelisah bila jauh darimu."


"Tetapi saya tidak mencintaimu."


"Bukan tidak mencintai, hanya saja kamu belum mencintai saya. Tapi saya kan terus berusaha merebut hati kamu. Cinta bisa datang kapan saja karena cinta tidak perlu alasan untuknya hadir di hati manusia."


"Apa kamu punya seseorang yang kamu cinta? Jika memang ada dan kamu lebih memilih dia dibanding saya, maka saya rela mundur dan akan jadi saksi pernikahan kalian."Giliran Ibra yang bertanya.


"Jujur ada seseorang yang mengisi hati ini sejak lama namun aku mengenal pribadinya hanya dari sepucuk surat. Tapi entah kenapa sepucuk surat itu mampu membuatku bertahan menunggu orang yang bahkan tidak pernah kutemui sebelumnya."


"Jadi itu alasanmu untuk tidak menikah?" Amini mengangguk. Sedang Ibra tersenyum karena merasa lega jika lelaki yang ditunggu Amini belum pernah dia temui sebelumnya itu berarti membuka kesempatan utuk Ibra menggantikannya.


"Jika kamu tidak pernah bertemu dengannya sampai detik ini. Maka saya mohon izinkan saya masuk dan menggantikan posisinya?"


"Oke saya menikah denganmu namun suatu hari nanti saya berpaling, bagaimana?"


"Jika memang kamu lah takdir jodoh saya, maka kamu tidak akan pernah pergi meninggalkan saya."


Amini menyerah sudah untuk menolak Ibra karena lelaki ini begitu meyakinkannya untuk menikah dan perlahan melupakan masa lalunya untuk belajar membuka hati buat Ibra.


.


.


.


.

__ADS_1


Terimakasih, jangan lupa like dan komen ya serta jadikan favorit kalian. 😊😊😊


__ADS_2