
Keadaan di kediaman keluarga Wijaya.
Sebelum berangkat ke kantor, Kenan terlebih dulu menemui Surya di ruangan kerja nya.
"Yah, jadi ke luar kota sekarang?" ucap nya sambil mendudukkan badan nya di sofa.
"Iya, kali ini seperti nya Ayah dan Bunda agak lama di sana," timpal Surya sambil membereskan segala keperluan nya.
"Urus perusahaan dengan baik selama Ayah di sana!" lanjut nya lagi.
"Iya," jawab Kenan singkat.
"Yah, kalau menurut Ayah soal keluarga Wibowo apa aku harus memulihkan perusahaan nya sekarang?" lanjut Kenan mencari pendapat Ayah nya.
"Wibowo yang mana?"
"Wibowo Atmaja, perusahaan keluarga wanita yang dulu berani mencelakai Ze Yah," jelas Kenan.
"Oh, apa mereka sudah menyerah dan minta maaf?"
"Hanya anak nya saja, kemarin dia minta maaf menemui aku dan Ze, melihat kelakuan nya sekarang sepertinya dia benar benar menyesal," lanjut Kenan menceritakan.
"Kalau memang begitu biar bawahan Ayah yang membereskan perusahaan mereka, kau fokus saja pada perusahaan. Sekarang persaingan makin ketat, kau harus lebih pintar merayu para client untuk tetap bekerja sama dengan kita." ujar Surya menasehati anak nya.
"Jangan gegabah dalam melangkah, apalagi membuat masalah dengan orang, sekali orang lain membenci mu, orang itu pun akan membenci orang orang yang dekat dengan mu Ken, tidak masalah jika itu hanya akan berimbas pada mu saja, Ayah khawatir jika istri dan anak mu juga akan mendapat masalah jika kau melakukan kecerobohan,"
lanjut Surya menegaskan.
"Iya Yah, Aku mengerti," jawab patuh Kenan.
**
"Daddy...!" panggil Kenjo dengan begitu antusias.
Kenjo terlihat di papah Ze turun menuruni anak tangga, dia langsung berlari kecil menghampiri Kenan, yang sudah siap untuk pergi ke kantor.
"Hati hati Sayang!"
Kenan langsung berjongkok untuk menggendong junior nya.
"Kenjo macih kangen cama Daddy," rengek Kenjo sambil menyilangkan tangan di leher Kenan.
"Daddy nya harus kerja dulu ya sayang, Kenjo sama Mommy dulu, nanti Daddy pulang lebih awal ya," bujuk Kenan sambil mengelus rambut Kenjo.
"Daddy janji ya jangan pulang malam!" rengek Kenjo dengan memasang wajah memohon.
"Sip Bos...!" sahut Kenan sambil mencolek hidung Kenjo.
"Sini Kenjo sama Mommy ya, Daddy nya ke kantor dulu,"
Ze pun langsung mengambil Kenjo dari pangkuan Kenan. Dan memberikan tas kerja Kenan yang sedari tadi ia bawa.
"Makasih...!" lirih Kenan perlahan mengelus kepala Ze dengan tersenyum manis, merasa bangga pada istrinya yang selalu siaga menyiapkan segala keperluan nya, meskipun sekarang sudah di repot kan dengan mengurus putra mereka.
"Selama Daddy tidak ada kamu harus jaga Mommy ya," tutur Kenan dengan tersenyum gemas melihat Kenjo dan Ze bergantian.
"Mau jaga gimana, orang Kenjo masih kecil!"
gumam Ze tersenyum kelici mendengar perkataan suaminya.
"Cip Dad, Mommy bial Kenjo yang jaga!" sahut Kenjo antusias, bicara sudah kayak anak besar saja padahal masih ada di pangkuan Mommy nya. Membuat Ze dan Kenan saling menatap dengan tersenyum senang melihat tingkah anak nya yang makin besar makin pintar.
"Aku pamit dulu, kalian baik baik di rumah ya,"
Kenan perlahan mengelus rambut Kenjo, dan berakhir memeluk Ze dan mengecup kening nya.
"Dah Daddy...!"
Kenjo langsung melambaikan tangan, melihat kepergian Kenan yang mulai menaiki mobil dan melaju meninggalkan area rumah.
**
Di sisi lain di rumah Angel, dia terlihat sudah siapa dengan penampilan nya.
"Pa, Angel pergi kerja dulu!" pamit nya pada orang tua paruh baya yang sedang duduk di kursi teras rumah nya.
"Kau akan terus bekerja menjadi pelayan restoran, sedangkan mereka hidup senang dengan penderitaan kita selama ini!" tutur Wibowo dengan suara dingin nya.
"Pah, ini semua kesalahan Angel, kalau Angel tidak melakukan kesalahan, kita tidak akan seperti ini. Angel sudah minta maaf sama mereka, dan setelah itu semoga mereka berbaik hati untuk memulihkan perusahaan Papa lagi!" jelas Angel, sudah mengerti arah pembicaraan Ayah nya, namun walaupun Angel menjelaskan bukannya membuat Wibowo tenang dia malah tambah geram dan kesal.
"Setelah mereka seenaknya memperlakukan keluarga ku seperti ini, mereka kira aku akan bersujud bersimpuh? Cih...! jangan harap. Tunggu saja, kalian akan mendapat balasan atas semua nya!" batin Wibowo sambil mengepalkan tangannya.
"Apa kau tidak punya hari diri? kenapa harus minta maaf kepada mereka hah? walaupun
perusahaan Ayah tidak berjalan lancar lagi, kita masih bisa hidup tanpa harus mengemis pada mereka Angel." tegur Wibowo merasa tidak senang dengan tingkah anak nya.
"Pah, Angel tidak mengemis, aku hanya minta maaf karena memang itu kesalahan ku. sudah lah Yah, jangan selalu membahas ini." keluh Angel, merasa bosan selalu saja itu yang Ayah nya bahas.
"Angel bekerja karena tidak ingin bergantung pada orang lain Pah, Angel bisa mencari uang sendiri walaupun hasilnya sedikit. Lagi pula itu lebih baik dari pada kita meminta pada sodara Ayah itu." tukas Angel. Merasa tidak nyaman karena selama mereka dalam ke susahan. Wibowo selalu di kirim uang oleh sodaranya.
__ADS_1
"Angel pamit dulu Yah...!"
Angel pun bergegas pergi meninggalkan rumah, menuju restoran kecil tempat nya bekerja.
Setelah kepergian Angel, Wibowo bergegas masuk ke dalam. Dirinya masih di kuasai rasa benci akan semua perlakuan yang di terima nya. Kini Wibowo mengambil ponselnya dan bergegas membuat panggilan di sana.
"Halo Bang," sapa Wibowo pada orang di sebrang sana.
"Ada apa,? aku sedang di perjalanan sebentar lagi kita sampai di Jakarta," balas seseorang di sebrang sana.
"Apa Anak mu juga ikut ke sini?" tanya Wibowo.
"Sesuai keinginan mu, aku dan Mario ke sini bersama," sahut orang di sebrang sana.
"Terimakasih Bang, tanpa kalian aku tidak bisa membalas mereka!" tutur Wibowo sudah tersenyum senang.
Wibowo pun langsung mengakhiri panggilan nya.
***
Waktu kini sudah menjelang siang.
Kenan terlihat fokus mengerjakan segala pekerjaan nya, berusaha secepatnya untuk menyelesaikan semua nya, ingin segera pulang memenuhi janji nya pada Kenjo untuk pulang lebih awal.
Tiba-tiba ketukan pintu terdengar dari luar, tidak lama terlihat Pak Anton masuk mendekati Kenan.
"Ada apa?" tanya Kenan masih fokus dengan pekerjaan nya.
"Maaf Tuan, perusahaan dari luar kota yang mengajukan kerja sama dengan kita mereka sudah sampai di Jakarta. Dan mereka menginginkan pertemuan hari ini juga!"
jelas Pak Anton to the point.
"Perusahaan yang mana?"
"Perusahaan Tuan Wiranto Atmaja." jelas Pak Anton.
"Wiranto Atmaja?"
tanya Kenan mengulang perkataan Pak Anton. Merasa tidak asing mendengar nama nya.
"Iya Tuan, beliau merupakan Kakak dari Tuan Wibowo, Ayah nya Nona Angel." jelas Pak
Anton.
"Apa kau sudah menyelidiki mereka? rasanya aneh jika mereka mengajukan kerja sama dengan kita?" ucap Kenan.
"Baiklah, atur pertemuan nya, aku akan menemui nya!" jelas Kenan memutuskan.
Dengan sigap Pak Anton langsung mengiya kan perintah Kenan dan bergegas pergi untuk menyiapkan semuanya.
Kenan kini mengambil ponselnya, melakukan panggilan pada Ze untuk memberi tahu pada nya.
"Halo Yang,"
sapa Kenan saat Ze sudah mengangkat panggilan nya.
"Iya Kak Ken,"
"Maaf tidak bisa pulang lebih awal, aku ada pertemuan dengan client tidak apa apa 'kan?"
ucap keluh Kenan.
"Tidak apa apa, Kenjo pasti mengerti kalau Deddy nya sedang sibuk," timpal Ze.
"Maaf ya, aku tidak bisa membagi waktu dengan kalian," keluh Kenan lagi merasa bersalah.
"Jangan terlalu merasa bersalah, Kak Ken bekerja keras juga untuk kita kan," tutur Ze.
"Terimakasih, istri ku ini memang paling pengertian ya," puji Kenan dengan tersenyum senang.
"Iya iya lakh Ze gituh...!" canda Ze dengan tawa kecil nya.
"Ye, jadi besar kepala ya!" sahut Kenan, rasanya jika Ze ada di depan mata ingin sekali ia mencubit pipi istrinya itu.
"Biarin..." timpal Ze masih dengan tawa nya.
"Kau memang paling bisa menggoda ku ya, membuat ku ingin segera pulang meninggalkan pekerjaan, untuk memangsa mu." goda Kenan.
"Ya udah cepat kerja lagi sana, aku nyusahin Kenjo dulu di taman, kita mau ke rumah Rani, boleh ya?" izin Ze.
"Ya, hati hati di jalan Yang! aku tutup telepon nya."
"Ya," mereka pun mengakhiri panggilan nya.
**
Setelah mendapat kabar kalau Kenan tidak bisa pulang lebih awal, Ze langsung mengajak Kenjo main ke rumah Rani untuk menghilangkan kebosanan anak nya.
Ze dan Kenjo sudah siapa untuk berangkat,
__ADS_1
mereka segera keluar rumah menunggu sang sopir yang sedang mengambil mobil yang akan mengantarkan mereka.
Kenjo berlari lari kecil di pekarang rumah, merasa senang akhirnya bisa main ke luar rumah setelah cukup bosan harus bermain dengan para pelayan rumah saja.
"Kenjo jangan lari lari!" khawatir Ze melihat tingkah Kenjo.
"Cini tangkap Kenjo Momm!" ucap gemas Kenjo dengan tersenyum lebar menatap Ze.
"Baiklah, awas jangan lari lagi ya," dengan berlari kecil Ze mendekati Kenjo, meladeni permainan anak nya.
*
Di sisi lain, ada sorot mata yang memperhatikan segala gerak gerik Ze dan Kenjo, dia terus memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Jadi dia yang paman maksud, lumayan cantik juga," ucap laki laki itu dengan tersenyum kecil, sambil melihat sebuah foto di ponsel nya dan bergantian melihat ke arah Ze untuk mencocokkan nya.
"Waktu yang tepat, sepertinya mereka akan keluar," ucap nya lagi, kini laki laki itu langsung menaiki motor nya.
~
Mobil yang di tumpangi Ze kini sudah keluar dari area rumah, langsung melaju menuju ke rumah Rani.
Sedangkan laki laki yang tadi memperhatikan Ze, dia mengikuti Ze di belakang mobil nya.
"Mommy, kita mau ke rumah Auntie ya?" antusias Kenjo dengan duduk yang mulai tidak tenang.
"Iya sayang,"
"Bang copil jalan nya cepat ya, Kenjo mau cepat sampai," pinta Kenjo dengan suara cadel nya.
"Baik Den Kenjo!" sahut sang sopir dengan tersenyum kecil.
Perjalanan kini sudah setengah jalan, walaupun sang sopir mengiyakan permintaan Kenjo untuk menjalankan mobil dengan cepat, namun buktinya sang sopir melajukan mobil dengan kecepatan sedang, untuk mencari keamanan.
Jalanan cukup tenang karena tidak terlalu banyak kendaraan yang lewat, di tambah lagi jalan yang di lewati sepi penduduk.
Kenjo terlihat duduk anteng di pangkuan Ze, Ze sendiri fokus melihat ponsel untuk menghubungi Rani.
Tiba-tiba. "Ciiit.... Bruk.... Tiiiiiiit...."
Sebuah motor yang melaju di samping mobil Ze menyenggol mobil hingga membuat motor itu terjatuh tergeletak di jalan.
Sang sopir langsung menginjak rem karena terkejut.
"Ada apa Pak...!" Ze kaget bukan main melihat keadaan yang terjadi. Sang sopir sendiri langsung melihat keadaan di luar.
"Maaf Non, sepertinya saya menyenggol motor itu!" jawab gugup sang sopir sambil perlahan turun melihat keadaan pengendara motor yang sudah tergeletak.
"Tuan tidak apa apa, maafkan kecerobohan saya!" ucap sang sopir sambil membantu laki laki itu berdiri.
Ze yang sama sama kaget langsung turun menggendong Kenjo melihat orang yang tersenggol mobil nya.
"Maaf Tuan apa anda tidak apa apa?"
tanya gugup Ze merasa bersalah melihat keadaan laki laki itu yang terlihat beberapa memar di tubuh nya.
"Saya tidak apa apa, hanya luka sedikit saja!"
jawab santai laki laki itu sambil perlahan membuka helem nya.
"Mommy, itu ciapa? Om nya beldalah," tanya Kenjo ikut sedih melihat orang asing di depan nya.
"Hai tampan, Om tidak apa apa kok, cuma lecet sedikit saja!" ucap ramah laki laki itu, mencoba menghilangkan kekagetan Kenjo.
"Maaf karena mobil saya anda jadi seperti ini, sebaiknya kita langsung ke rumah sakit Tuan,"
ucap Ze merasa bersalah melihat keadaan laki laki itu.
"Tidak apa apa Nona, saya baik baik saja," timpal santai laki laki itu.
"Saya akan menjadi lebih merasa bersalah jika Tuan menolak pertolongan kami, ayo kita antar Tuan ke rumah sakit, motor Tuan biar orang orang saya yang mengurus nya!" paksa Ze.
"Baiklah saya tidak bisa menolak, terimakasih," ucap laki laki itu.
"Terimakasih tampan,!" lanjut nya lagi sambil mengelus rambut Kenjo.
"Cama-cama Om," sahut Kenjo dengan tersenyum.
"Mario, panggil saja Om Roi, kau tampan sekali siapa nama mu sayang?" Mario memperkenalkan diri mencoba lebih dekat dengan Kenjo.
"Aku Kenjo Om, maaf ya kalena mobil Kenjo Om Lio jadi terluka!" ucap Kenjo membuat Mario tersenyum kecil.
"Tidak apa apa Kenjo sayang, setelah ke rumah sakit semuanya akan baik baik saja!"
tutur Mario.
"Ayo Om Lio kita masuk mobil!" ajak antusias Kenjo.
Mereka pun langsung masuk mobil untuk menuju ke rumah sakit.
__ADS_1