
Kenan yang sudah sampai di rumah, langsung masuk mencari keberadaan Bunda nya.
"Bun....! Bunda...!"
Kenan terus berjalan mengitari setiap sudut rumah mencari Bunda nya,
dan akhirnya pandangannya bisa melihat keberadaan Widi yang sedang duduk di taman belakang rumah.
"Bun, apa Pak Anton sudah kemari?"
tanya Kenan sambil duduk di dekat Bunda nya.
"Belum, memangnya kenapa?"
Widi penasaran kenapa Kenan menanyakan sekretaris nya padahal biasanya mereka selalu bersama.
"Aku menurunkannya di tengah jalan."
dengan santainya Kenan berbicara sambil memposisikan duduk nya dengan tangan yang di letakan ke atas sebagai sandaran.
"Apa!! kenapa kau meninggalkannya?"
tanya Widi yang terkejut.
"Dia menghianatiku bun,"
ujar Kenan menjelaskan.
"Memang dia melakukan kesalahan apa sampai kau menghukumnya begitu?"
tanya Widi penasaran.
"Dia tidak memberitahuku bahwa wanita yang aku caritau identitas lengkapnya dia adalah wanita yang di jodohkan dengan ku, sampai Ayah mengerjaiku habis habisan." jelas Kenan sambil menatap kosong ke arah depan, karena masih belum percaya bahwa wanita yang telah mencuri perhatiannya adalah wanita yang di jodohkan dengannya.
"Hahaha, bunda kira Pak Anton menghianati pekerjaannya sebagai sekretarismu."
seketika tawa Widi pecah mendengar alasan Kenan menghukum pak Anton.
"kenaTpa Bunda malah ketawa?!"
Kenan menjadi kesal karena Bunda nya sama saja dengan Ayah nya yayang hanya bisa meledeknya.
"Kau tau, itu semua adalah balasan untuk mu karena selalu membangkang perkataan Ayah, makanya Tuhan mempertemukan kalian dengan ketidak sengajaan."
jawab Widi masih di bumbui dengan tawa puasnya.
"Kalian memang sama saja,"
ketus Kenan kesal dengan sikap kedua orang tua nya.
Widi yang mendengarnya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, membayangkan kebodohan anaknya.
"Lalu bagai mana? apa kau menyukai Ze?"
tanya Widi penasaran ingin mendengar langsung jawaban anaknya.
"Entahlah, aku hanya senang saja bila bertemu dengannya, jika tidak bertemu dengannya rasanya selalu terbayang bayang, ingin sekali menemuinya,
apa lagi mengingat saat dia cemberut marah marah, dia sangat lucu sekali."
jawab jujur Kenan sambil memasang senyum kecil di wajahnya. Jika memikirkan kelakuan Ze yang kini mulai menghiasi harinya, dan menjadi kesenangan tersendiri baginya, rasanya ia ingin tersenyum membayangkan wajah cantik nya.
"Dasar anak bodoh, kalau kau seperti itu, berarti kau mulai mencintainya
kenapa kau tidak akui saja,"
ujar Widi sambil mukul bahu Kenan pelan.
"Masa sih Bun? aku kan baru mengenalnya tidak mungkin aku jatuh Cinta padanya, konyol sekali, "
bantah Kenan merasa terlalu cepat mengakui Cinta, sedangkan dia belum kenal dekat dengan Ze.
"Ya terserah kau saja, kau sendiri yang merasakan dan menjalaninya, meskipun kau beralasan apa pun, Ayah dan Ibu akan tetap menjodohkan kalian, dan akan secepat nya melaksanakan pertunangan kamu dan Ze."
ujar Widi menegaskan keinginan mereka yang akan secepatnya mengadakan pertunangan.
"Terserahlah kalian saja! lagi pula tidak terlalu buruk juga jika Ze jadi istriku."
ujar Kenan yang lagi lagi memasang seringai di bibir nya.
"Sepertinya akan sangat menyenangkan bila selalu mengerjainya."
batin Kenan sambil senyum cengengesan.
Widi dan Kenan kini bicara panjang lebar mengenai acara pertunangan, sesuai dengan keinginan Widi, bahwa acara pertunangan nya akan di laksanakan secepat mungkin.
Saat mereka sedang bicara tiba tiba terdengar seseorang masuk rumah dan menghampiri mereka, ternyata itu Pak Anton yang baru sampai, dengan keadaan lelah dan baju yang basah karena keringtnya.
"Bukankah Jakarta hari ini tidak hujan? kenapa bajumu basah begitu?"
ledek Kenan padahal dia tau bahwa itu keringat Pak Anton karena telah berjalan dengan jarak yang cukup jauh.
"Ini keringat saya Tuan, apakah anda belum puas menghukumku? kenapa masih memasang wajah menyeramkan begitu."
batin Pak Anton rasanya ingin menjawab perkataan Tuan nya itu
namun pak Anton hanya diam tertunduk, tidak berani menjawab takut akan salah bicara lagi.
__ADS_1
"Maaf Tuan saya sedikit terlambat." hanya itu yang bisa keluar dari lisan Pak Anton.
"Nih..."
Kenan menyodorkan hp dan dompet Pak Anton, dan dengan cepat pak Anton mengambilnya.
"Ken, kau menurunkan pak Anton di tengah jalan dan kau mengambil hp dan dompet nya? "
Widi merasa kaget dengan tingkah anaknya yang keterlaluan menghukum pak Anton.
"Iya Bun, biar dia tidak berani melakukan kesalahan lagi."
jawab kenan. Hingga Widi hanya bisa menggeleng kan kepalanya, melihat tingkah anaknya itu.
Pak Anton yang sudah mengbil Hp langsung meriksa Hp nya, dan betapa terkejutnya ada beberapa panggilan tak terjawab dari orang yang dia percaya untuk mengerjakan pekerjaan Kenan selagi dia di Jakarta.
Pak Anton langsung meneleponnya kembali takut ada masalah di sana.
Dan benar saja saat Pak Anton sudah selsai menelepon, raut mukanya menjadi berubah kesal dan segera menemui Kenan untuk menceritakan semuanya.
"Memang tidak bisa di andalkan, baru di tinggal sebentar sudah membuat kekacauan,
belum juga istirahat, sepertinya akan mendapatkan hukuman lagi.!"
batin Pak Anton sambil berjalan menemui Kenan.
Pak Anton pun mendekati Kenan dan membisikan semua yang terjadi, hingga membuat Kenan kesal mendengar semuanya.
"Mengapa kau tidak becus memilih seseorang? memang tidak berguna,"
Kemarahan Kenan yang terlihat jelas di wajahnya, membuat Widi kaget dan ingin tau apa yang terjadi.
"Ada apa, kenapa kau marah sekali?" tanya Widi.
"Hanya masalah di hotel Bun, sepertinya besok aku harus kembali ke Surabaya lagi."
ujar Kenan menjelaskan.
"Kenapa harus besok? Bunda kan masih kangen sama kamu "
ujar Widi tidak terima bila harus di tinggal anak nya lagi.
"Kenan akan mengurus masalah di Surabaya dulu Bun, supaya semuanya cepat beres dan setelah semua beres Kenan akan tinggal lagi di sini, termasuk mengurus pemindahan kuliah juga."
jawab Kenan menjelaskan.
"Apa kau akan lama di sana? bagaimana dengan pertunangan nya?"
tanya Widi takut jika Kenan tidak akan kembali lagi.
"Aku tidak bisa memastikan nya Bun! Bunda do'akan saja semoga semuanya cepat selesai dan aku pun segera kembali." ujar Kenan menenangkan Bunda nya,
"Pak Anton! tolong siapakan semuanya, kita akan berangkat pagi-pagi ke sana," printah
Kenan, dan dia pun melangkah kan kakinya menuju kamar untuk beristirahat.
***
Kini waktu sudah malam, namun Kenan terlihat rapi dengan pakaian yang membaluti tubuhnya, hingga membuat Surya dan Widi heran melihatnya, akan pergi mana gerangan anaknya itu?
"Mau ke mana kamu malam malam begini, kau kan harus istirahat, besok kan akan melakukan perjalanan jauh?"
tanya Widi dan di akhiri dengan ceramahnya.
"Ada urusan bentar Bun," sahut Kenan.
"Jangan terlalu malam! kau harus istirahat!"
seru Widi, dan hanya di tanggapi dengan acungan jempol oleh Kenan, sambil dia berjalan keluar.
Kenan pun mulai melajukan mobilnya, melaju dengan kecepatan sedang, entah urusan apa yang tadi ia maksud.
Hingga kini dia sampai di depan sebuah rumah mewah yang tak lain itu adalah rumah kediaman keluarga Nugraha.
Kenan langsung turun dari mobil, namun hanya terdiam, sengaja ingin menemui Ze saja, tidak ingin masuk ke dalam, karena pasti akan memakan waktu yang lama kalau harus menyapa orangtua Ze,
tangan Kenan meraih hp di saku celananya, dia mencari nama Ze di kontak nya, dan melakukan panggilan pada Ze,
tak membutuhkan waktu lama Ze pun sudah mengatakan telepon dari Kenan.
"Turun kebawah sekarang! aku menunggu mu," seru Kenan sebelum Ze menyapanya.
"Memang dia seperti hantu, yang selalu tiba tiba muncul, mengagetkan saja
mau apa lagi dia malam malam begini" batin Ze
"Kenapa diam saja? apa kau tidak mendengar ku?" tanya kesal Kanan karena tidak ada suara di balik telepon nya.
"Iya, iya aku turun sekarang," sahut Ze.
"Dia memang Tuan Muda yang harus di laksanakan sagala perintah dan kemauan nya."
batin Ze sambil mengambil sutier dan melangkah menemuimu Kenan.
Tidak membutuhkan waktu lama, kini Ze sudah terlihat keluar, dengan memakai celana pendek selutut, dan sutier yang membalut tubuh dan kepalanya, berjalan melangkah mendekati Kenan.
"Dia terlihat cantik sekali."
__ADS_1
batin Kenan sambil memasang senyum kecil di wajahnya.
Ze yang sudah ada di depan Kenan, berdiri tegak, dengan memasukan kedua tangan pada saku sutier nya, membuat Kenan tidak ingin berhenti menatap nya.
"Kau belum tidur?"
tanya Kenan basa basi.
"Belum." sahut singkat Ze.
"Kenapa dia hanya bicara seperlunya saja, aku kan jadi bingung harus bicara apa?"
batin Kenan, sambil tangan nya mengotak ngatik hpnya sebagai pelarian rasa malu nya
hingga sesaat keadaan terdiam.
"Kalau hanya ingin memainkan ponsel, kenapa menyuruh ku kesini! memang menyebalkan, mengganggu saja," batin Ze
"Apa kau mau ikut berburu makanan enak lagi?!"
akhirnya pertanyaan itu lolos dari bibir Kenan mencoba menghangatkan suasana.
"Maksud nya apa?"
Ze merasa bingung dengan kata kata Kenan.
"Aku akan ke Surabaya lagi besok," ujar Kenan, akhirnya mengatakan apa maksud kedatangan nya.
Perkataan Kenan membuat raut wajah Ze berubah seketika, Kenan yang melihat nya langsung mengerti apa maksud raut wajah tersebut, sehingga muncul perasaan bahagia dalam hati nya.
"Kenapa diam saja? kau tidak mengizinkan ku?" Bertanya sambil masang senyum jahil di bibirnya.
"Siapa bilang? pergi saja sana dan jangan kembali lagi,"
jawab sewot Ze padahal dalam hati kecil nya, ia ingin mengatakan jangan pergi.
Kenan yang mendengar nya hanya bisa tersenyum senang dan lagi lagi dia tertuduk memainkan ponselnya, karena kalau sampai lama lama dia memandang Ze, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluk nya, karena Kenan pun tak ingat meninggal kan Ze, apa lagi dengan waktu yang akan cukup lama.
"Kau yakni aku tak boleh kembali lagi?!"
goda Kenan mulai memancing kekesalan Ze.
"Iya, terserah kamu saja,"
sahut Ze dengan wajah cemberut,
hingga Kenan yang melihat nya merasa gemas.
"Benarkah?"
lagi lagi menggoda Ze, sambil menarik ujung suiter kepala Ze, yang ia sedikit tarik ke depan hingga menutup matanya,
"Hei, sakit tau,"
rengek manja Ze,
hingga membuat Kenan tersenyum cengengesan.
"Jaga sikapmu saat aku tidak ada, jangan suka menempel pada orang lain, kau hanya boleh menempel pada ku!" seru Kenan dengan tersenyum kecil.
"Hei apa maksudmu, menggelikan sekali, "
batin Ze.
"Berapa lama di sana?"
Karena penasaran, keluarlah kata kata Ze yang membuat Kenan senang mendengar nya.
"Aku tidak bisa menentukan nya karena banyak sekali urusan di sana,"
Jawaban Kenan membuat Ze tertunduk, entah apa yang di rasakan nya sekarang, seperti ada yang menusuk hati nya sampai ia merasa kan ada sedikit rasa sakit saat mendengar Kenan akan pergi.
"Tunggulah aku! mungkin setelah aku kembali, kau akan resmi menjadi tunangan ku."
Perkataan Kenan membuat Ze merah merona malu, sehingga Kenan yang melihatnya hanya bisa tersenyum senang.
"Cepat masuk! udara di luar sangat dingin, aku pergi dulu!
sampai jumpa Zepania Ku!"
ucap Kenan sambil memegang lembut kepala Ze, dan langsung melangkah masuk mobil, tidak mempedulikan Ze yang mematung kaget karena perlakuan nya.
"Kenapa jantung ku berdebar kencang,
ah, rasanya aku ini terbang,"
batin Ze masih mematung sambil memegangi dadanya.
Kenan yang melihat tingkah Ze dari pantulan spion mobil nya kini tersenyum lebar.
.
.
.
aku tunggu likenya ya πππ
__ADS_1
semogaa kalian terhibur .