
Maaf ya jika terdapat banyak typo, soalnya selesai nulis langsung up.
.
.
***
"Jadi selama ini orang yang ku tunggu ialah suamiku sendiri.Terimakasih ya Allah ini sungguh kejutan yang sangat indah.Kau pertemukan aku dengan orang yang selama ini ku kenal hanya lewat selembar surat dan sebuah gantungan kunci namun mampu membuatku jatuh cinta. Dia penyemangatku saat aku drop. Apa kau tau suamiku aku selalu membawa gantungan kunci itu kemanapun aku pergi namun ku simpan ketika kita telah menikah."Amini masih betah bersadar didada bidang suaminya.
"Sekali lagi terimakasih sayang sudah mau mencintaiku sedalam ini bahkan selalu menungguku."Ibra mengecup Kening Amini lama dengan meneteskan air matanya.
Kini kedua sejoli itu merasakan kebahagiaan yang sungguh luar biasa apalagi Amini yang sudah sejak lama menagumi dan mendambakan sosok pria yang memberinya surat dan karena isi surat itu mampu menggetarkan relung hati Amini hingga ia menunggunya hingga kini.
Meskipun ia menikah dengan Ibra namun hatinya masih dimiliki pria itu. Namun nyatanya Allah memberi kejutan terindah dalam hidup Amini. Ternyata lelaki yang diidamkan dan ditunggunya yang kini sudah sah menjadi imamnya.
Begitupun Ibra puji syukur terus ia panjatkan pada sang maha pencipta. Melalui perjodohan yang dilakukan orang tuanya, yang awalnya ia tola nyatanya berbuah manis. Ya, gadis cantik di rumah sakit yang ia kagumi akan menjadi ibu dari anak-anaknya.
Jodoh itu rahasia Allah, sungguh indah cinta yang terpendam lama hanya bisa dicurahkan melalui doa kepada sang Illahi yang jadi nyata. Sungguh hanya orang tertentu yang mendapatkan hadiah itu. Tentunya dengan ketulusan cinta dan hanya berharap pada sang pemilik kehidupan.
***
Amini dan Ibra telah tiba dikediaman orang tua Amini. Mereka masuk untuk mengambil pakaian mereka karena mulai malam ini mereka memutuskan untuk tinggal di mereka sendiri.
Setelah selesai paking mereka keluar dari kamar lalu berpamitan pada kedua orang tua Amini, keduanya diantar hingga depan pintu rumah.
"Maaf ya sayang mama tidak bisa mengantarkan kalian sampai ke rumah baru kalian."Ucap mama Amini, tersenyum ramah kepada anak dan menantunya itu.
"Iya, engga apa-apa kok mah, lagian deket jugakan paling 15 menit dari sini sampai." Kata Ibra membalas senyuman mertuanya itu.
"Ya sudah kalau begitu kita permisi ya mah,sampaikan salam kita pada papa" ucap Amini.
Mama Amini hanya mengangguk serta senyum yang tak pernah pudar.
"Assalamualaikum," Pamit mereka bersamaan.
"Waalaikumsalam."Saut mama Amini, lalu melambaikan tangan kearah mobil Ibra begitupun Ibra dan Amini. Mamanya masih berdiri di teras rumah hingga mobil anak dan menantunya itu menghilang dari pandangan baru ia beranjak kedalam.
***
__ADS_1
Rumah Baru
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua pulih menit Ibra dan Amini tiba di rumah baru mereka.
Ibra mengklakson pada satpam jaga tanda agar pak Toto membukakan pagar rumah mereka.Setelah masuk kehalaman rumah Ibra langsung memarkirkan mobil di garasi.
Amini brdecak kagum melihat keindahan rumah yang akan ia tempati bersama Ibra juga anak-anak mereka kelak. Meskipun rumah itu tidak terlalu besar tetapi ornamen rumah bertingkat dua itu sangatlah indah.
"Indah banget Mas rumah ini." Ucap Amini saat memperhatikan seluruh halaman dan interior rumah mereka.
"Kamu suka?" Ibra tak lupa memberikan senyum terbaiknya. Amini pun mengangguk dan tersenyum bahagia.
Akhirnya mereka masuk ke dalam rumah bernuansa putih dan gold itu. Ketika sampai di pintu utama Amini kembali merasa kagum melihat kaligrafi arab berukuan kecil berwarna gold menghiasi daun pintu kiri dan kanan dengan tulisan Basmallah dan Salam.
Mata Amini sampai berkaca-kaca melihat daun pintu tersebut. Amini menatap kearah suaminya dan mengucapkan terimakasih seraya memeluk sang suami.
Bagaimana Amini tidak bahagia, pasalnya itu adalah salah satu keinginan Amini jika kelak ia berumah tangga dan punya rumah sendiri ia ingin pintunya seperti itu. Sungguh Amini tidak pernah menyangka jika Ibra akan memberi kejutan seindah ini. Karena tidak ada satu pun orang yang tau bahwa ia menuliskan keinginannya tersebut pada catatan hariannya.
Amini menatap Ibra."Iya,mas tau semua ini dari buku harianmu yang sempat terbaca oleh mas" ucap Ibra yang mengerti arti tatapan istrinya.
"Berarti mas sudah banyak membaca dong sebelum kamu jujur?" Mendengar pertanyaan istrinya Ibra hanya menyunggingkan senyum.
"Ih mas jahat."Andini merengut sambil menepuk dada suaminya.
"Sudah, ayo masuk."lanjut Ibra lagi.
Tanpa menjawab Amini mengikuti langkah kaki suaminya.
"Assalamualaikum" ucap keduanya setelah mereka melangkahkan kaki kedalam rumah.
"Waalaikumsalam, surprise......" saut dari semua orang yang ada di dalam.
Amini terkejut hingga mulutnya terbuka,ia langsung mrnutup muutnya dengan sebelah tangannya setelah sadar mulutnya menganga.
"Kalian" ucap Amini. Ia sungguh terkejut akan hal ini kembali mata nya berkaca-kaca melihat semua anggota keluarga ada disini termasuk anak-anak penderita kanker yang selama ini ia asuh dan berteman dengannya.
Ibra merengkuh istrinya dari samping.
"Mas, kok mama sama papa ada disini duluan. Bukankan kita tadi yang berangkat duluan.Harusnya kita yang duluan sampai" Amini mengerutkan kening karena ia merasa heran.
__ADS_1
Ibra tersenyum. " Ya tentu bisa dong, kan tadi mas jalannya santai dan mas emng sengaja bawa kamu melalui jalan yang agak jauh, padahal ada jalan yang lebih cepat dari yang kita tempuh tadi."Tanpa merasa bersalah Ibra menjelaskan pada Amini.
Amini yang merasa kesal karena telah dikerjai suaminya langsung mencubit pinggang Ibra.
"Auww," Ibra meringis.
"Rasain, siapa suruh ngerjain istri."Amini berlalu meninggalkan suaminya.
"Yah ngambek." Ibra langsung berlari mengejar istrinya. Sedangkan semua orang yang menyaksikan adegan cubit-cubitan itu menertawakan Ibra dengan puas.
"Yang, jangan ngambek dong." Ibra mencoba membujuk istrinya yang kini berada di dapur.
"......" Amini masih asyik mengunyah kue yang ada di atas meja tanpa memperdulikan Ibra disampingnya.
"Masa gitu aja ngambek sih."Merasa Istrinya tidak juga menggubris Ibra jadi berfikir keras bagaimana caranya agar Amini tidak merajuk lagi.
Sepersekian detik akhirnya Ibra menemukan caranya.
Cup, Grep
Ibra mencium pipi kanan Amini lalu memeluknya dari belakang dan menempatkan dagunya di bahu kanan Amini sambil berbisik "aku cinta kamu".
Sudah dapat dipastikan wajah Amini merona,dan tak bisa dipungkiri senyum langsung merekah dari bibirnya.
Merasa penasaran dengan apa yang terjadi kedua ibu mereka memutuskan menyusul kedapur.
"Astagfirullahhaladzim.Maaf" ucap kedua wanita paruh baya yang masih cantik itu saat melihat adegan mesra anak-anak mereka.
Ibra dan Amini yang kaget dan malu langsung melepas pelukan mereka.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Maafin ya,telat up.
Gimana nih lanjut engga nih,, komen dong. Aku rada malas nulisnya karena gak ada yg komen up. Komen dong biar akunya semangat.