Cinta Tanpa Alasan

Cinta Tanpa Alasan
Kakak Ipar


__ADS_3

"masuklah!!! bukankah kau ingin menemui teman lama mu,,?" perintah Kenan dengan suara rendah nya.


"aku ada keperluan sebentar, kau masuklah duluan!!


awas kau harus menjaga jarak dari teman laki laki mu itu, jangan terlalu dekat dekat dengan nya" imbun Kenan menasehati Ze, sambil memegang kepala Ze, dan berakhir mengacak ngacak rambutnya. dan mulai melepaskan pelukannya.


"awas jangan nakal" tegas Kenan lagi dengan memasang senyum kecil nya.


"'hei aku bukan anak kecil lagi tau, kenapa harus menasehati seperti itu"


batin nya menggerutu namun bibir berkata lain merasa malu setelah apa yang mereka lakukan di tempat umum, apalagi ada beberapa pasang mata yang dari tadi memergoki kegiatan mereka


"iya" jawab Ze patuh. tanpa banyak berkata kata, dengan tangan mulai merapihkan rambut nya sambil menundukkan kepalanya.


Kenan pun mulai berdiri dan melangkahkan kakinya menuju parkiran dan langsung menaiki mobilnya.


"Kak Ken mau ke mana ya??" bicara dengan penuh tanya, Ze pun mulai melangkahkan kakinya menuju ke dalam.


dan segera mencari keberadaan Rani, mencarinya di antara kerumunan mahasiswa baru yang lain.


*


Kenan kini sudah melajukan mobilnya, melaju dengan kecepatan sedang, menuju ke sebuah mini market yang berada di dekat Kampus.


pikiran nya masih belum tenang , bayang bayang kejadian masa lalu terus saja terbayang dalam pikiran nya. rasa bersalah dan gelisah bercampur aduk, membuat pikiran nya menjadi kalut.


kejadian saat dia dengan tidak sengaja menabrak seseorang, yang merupakan Kakak dari istrinya,, dari dulu selalu saja menjadi beban pikiran nya.


"argh!!!"


decak Kenan merasa frustasi, bila mengingat lagi kesalahan lama nya.


"inilah yang membuat ku dulu menentang perjodohan ini, mana mungkin aku bisa hidup tenang dengan orang yang kebahagiaan nya telah aku rampas, sedangkan orang itu tidak mengetahui kesalahan ku.


oh Tuhan,,kenapa kau malah membuatku mencintai nya.


aku tidak sanggup bila harus menyembunyikan kebenarannya dari Ze.


tapi aku juga tidak mau jika Ze mengetahui semuanya, aku takut dia akan meninggalkan ku.,, akhhh aku benar benar bisa gila"


berucap dengan frustasi, dengan tangan yang sudah memukul mukul setir mobilnya.


kini Kenan pun mulai menepikan mobilnya di depan sebuah mini market.


mulai turun dan berjalan memasuki mini market itu.


berjalan mengambil sebotol minuman, dan langsung menghampiri kasir, dan memesan sebungkus rokok dengan korek api nya.


dengan cepat si penjaga kasir langsung mengambilnya dan memberikan nya pada Kenan. Kenan pun langsung membayar semuanya, dan langsung pergi dari sana.


Kenan sebenarnya bukan perokok, namun saat ini, dia butuh menenangkan pikiran nya.


dan mencoba melampiaskan nya, pada sebuah roko yang sudah ia genggam di tangannya.


mulai masuk ke mobilnya dan langsung melajukannya, menuju ke sebuah tempat yang sepi. untuk melampiaskan beban pikiran nya.


setelah menemukan tempat yang dirasa cukup sepi, Kenan pun mulai menepikan mobilnya,


mulai melepaskan sabuk pengaman, dan perlahan menurunkan kaca mobil nya.


tangannya kini meraih sebungkus rokok, dan mengeluarkan sebatang rokok dari bungkus nya, mulai membakar ujungnya dan perlahan menghisap nya.


menghisap pelan, dan perlahan menghembuskan asapnya.


serasa menikmati ketenangan tersendiri di saat menghisap sebatang rokok yang ada di tangan nya.


"apa semuanya akan baik baik saja??


rasanya aku tidak bisa tenang jika sudah memikirkan hal itu,"


"Ze,,! apa kau akan meninggal ku jika suatu saat, kau mengetahui semuanya??


agrhhh ,,,,"


membanting keras setir mobilnya, dan berakhir mengacak ngacak rambutnya frustasi.


Kenan kini mulai menghisap lagi roko di tangan nya


menghembuskan asapnya keluar mobilnya, serasa menghembuskan semua permasalahan yang ada dalam pikirannya.


mengulangi nya berulangkali sampai ia mulai merasa lebih tenang dengan segala beban yang ada dalam benaknya.


hingga tidak terasa beberapa batang rokok pun, sudah habis di hisapnya.


saat di rasa Kenan sudah lebih tenang, dia


mulai menghentikan merokok nya, dan langsung membuang sisa batangan roko yang masih tersisa di bungkus nya.


dia membuang jauh keluar sana.


"sepertinya aku harus segera kembali" dengan menghembuskan napas panjang nya


Kenan pun meraih sebotol air minum dan langsung meneguknya dengan kasar.


mulai menaikan kaca mobil nya dan langsung menjalankan mobilnya menuju ke kampus lagi.


*


di sisi lain Ze yang sudah menemukan keberadaan Rani, dia langsung menghampiri.


"Ran,, si Pano mana?" sambil mendudukkan badannya, Ze mencari keberadaan Pano di sana. namun tidak menemukan nya.


''di ajak Kak Martin ma Kak Roni, katanya mau melihat keadaan Kampus"


sahut Rani,


namun tiba-tiba terlihat Pano yang baru datang dan langsung menghampiri mereka.

__ADS_1


"Ze,, mana suamimu?"


Pano datang dengan tiba-tiba dan langsung duduk di samping Rani dan langsung merangkul pundaknya.


"hei, bisakah kau turunkan tangan mu, berat sekali tau" protes Rani yang meras risi dengan tingkah Pano.


"lagi keluar ada keperluan sebentar" sahut Ze menjawab pertanyaan Pano.


"suami loe, menyeramkan sekali!! apa loe gak takut setiap saat berada di samping nya?"


ledek Pano.


"dia sebenarnya baik Pan" jawab Ze


"iya,, namun dia bisa mendadak jadi moster bila ada yang mengganggu wanitanya" timpal Rani menghebohkan percakapan mereka


"coba aja loe masuk dari kemarin, loe bisa lihat suaminya Ze yang sedang marah besar Karena si Ze di ganggu ama mantannya" imbun Rani makin antusias hingga membuat Ze kesal mendengar nya.


"'Raniiii bisa diam gak,," teriak Ze kesal.


"wah menarik sakali, jadi mantan loe kuliah di sisi juga Ze?" Pano pun ikut antusias meladeni Rani


"hemmm" jawab Ze malas


"apa kau tau Pan,, mantan nya tuh senior yang tadi mengantar loe keliling Kampus, gak kalah ganteng kan hahaha" timpal Rani heboh


"jangan bilang si senior yang menyebalkan itu, yang terus menyeret ku masuk ke dalam??"


tanya Pano penasaran


"bukan yang itu, yang satunya lagi" timpal Rani


"lumayan juga,, ternyata walaupun cengeng cowok yang suka ma loe keren keren juga ya. tapi tetap aja gak kalah keren dari gue hahaha" canda Pano


"'wah dasar loe,, keren dari mananya, di lihat dari manapun loe bisa aja" ucap Rani jengkel


"narsis banget" sahut Ze


mereka pun terus bercanda melepaskan kerinduan satu sama lain.


*


di sisi lain Kenan sudah memasuki area parkiran dan langsung memarkirkan mobilnya. langsung berjalan segera masuk ke dalam.


namun langkah nya terhenti, karena Sania memanggilnya dari belakang


"Ken,,!! mana Ze?? kok tidak bersama nya?" Sania yang terlihat baru datang dia langsung menghampiri Kenan. beralasan menanyakan Ze, padahal ia ingin sekali berdua an dengan Kenan.


membuat Kenan memperlambat langkahnya.


dan menoleh ke arah Sania di belakang nya.


"dia sudah di dalam" menjawab singkat sambil melanjutkan lagi langkah nya. tidak ingin menghiraukan keberadaan Sania di dekat nya.


"kenapa tidak bersama?" bertanya sambil mengimbangi langkah Kenan dan berjalan beriringan masuk ke dalam.


membuat Sania merasa kesal karena selalu di abaikan oleh Kenan.


"Kenan,,! apa tidak seberartinya itu aku di hidup mu?? kenapa kau selalu bersikap dingin pada ku. kau sekarang memang bukan siapa siapa aku, tapi setidaknya kau bisa menganggap ku sebagai teman kan? tolong jangan memperlakukan ku seperti ini. jangan membuat ku merasa jadi orang yang paling buruk karena tidak bisa berhubungan baik dengan orang yang pernah mencintai ku, aku hanya ingin menjadi teman mu, apa permintaan ku terlalu berat untuk mu??" Sania berucap dengan lirih, sambil menundukkan kepalanya, tanpa sadar airmata nya, lolos menetes menjatuhi pipinya.


membuat Kenan langsung menghentikan langkahnya, melirik Sania yang ada di sampingnya.


"akhh, kenapa dia malah menangis"


Kenan yang merasa iba mendengar perkataan Sania tanpa sadar mengulurkan tangannya mulai menepuk punggung Sania pelan meredakan kesedihan nya.


"maaf, aku bukan bermaksud untuk menyakiti mu, aku begini karena tidak ingin sampai kau berharap lebih pada ku, dan inilah cara ku memperlakukan mu karena


aku menganggap mu sebagai teman ku. jangan terlalu berlebihan menanggapi nya,"


tanpa kau minta pun aku sudah menganggap mu sebagai teman." Kenan pun mulai menurunkan tangan nya.


"ayo masuk, istriku sudah menunggu di dalam" ajak Kenan karena melihat Sania yang masih berdiri mematung tidak bergerak.


terimakasih,, aku bisa lebih senang meskipun kau hanya menganggap ku sebagai teman, tapi setidaknya kau menganggap ku ada, itu lebih baik. mungkin nanti kau akan menganggap ku lebih dari itu, seperti dulu lagi Kenan


Sania pun mulai melangkahkan kakinya mengikuti Kenan dan berjalan beriringan masuk ke dalam.


*


" suamimu dengan siap Ze??" Pano yang melihat kedatangan Kenan, merasa heran karena dia berjalan beriringan dengan Sania di sampingnya.


Ze pun langsung memalingkan wajahnya melihat ke arah Kenan.


kenapa mereka bisa bersama?? apa yang di maksud Kak Kenan, ada keperluan untuk menemui nya, menyebalkan sekali.


Ze pun langsung membalikkan lagi pandangan nya tidak ingin melihat mereka yang sedang berjalan beriringan.


"'itu teman nya, sama sama senior kita"


jawab Ze malas, tanpa mempedulikan Kenan yang sudah berjalan mendekat ke arah nya.


"sepertinya dia cemburu?"


bisik bisik Pano dan Rani sambil tersenyum cengengesan melihat raut wajah Ze yang langsung berubah.


~


"apa kau tidak gabung dengan senior yang lain?" tanya Sania berharap bisa terus berdekatan dengan Kenan.


"tidak" Kenan mulai melangkah mendekat ke arah Ze dan teman teman nya


"aku duluan ya" Sania pun mulai melangkah berjalan ke arah para senior yang lain.


kini Kenan langsung berjalan ke arah para mahasiswa baru,dan menghampiri Ze di antara kerumunan itu.


"kenapa pada diam?? bukankah kalian sudah lama tidak bertemu?" dengan santai nya Kenan langsung duduk di samping Ze,

__ADS_1


"awas jangan terlalu dekat" ucapnya sambil menendang kaki Pano menjauhkan nya dari arah Ze.


membuat Pano makin ingin mengerjai Kenan.


"hei Kakak ipar,,! kalau mau jalan sama wanita lain, jangan di hadapan istrimu, kita yang repot, karena dia tidak akan marah marah pada mu, kita yang bakal jadi sasaran kekesalannya,


iya kan Ze sayang??" berucap dengan santai Pano tersenyum kecil sambil menggerakkan kakinya berselonjor hingga menyentuh kaki Ze yang ada di depan nya.


"hei,, kenapa kau menjengkelkan sekali hah!!, jauhkan kaki loe, gue bukan Kakak ipar loe. dan apaan loe hah panggil Ze sayang,, dia istri gue, awas loe"


dengan terus menggerutu kesal Kenan terus menendang kaki Pano dan menjauhkan nya dari hadapan Ze, menjauhkan nya sejauh jauhnya.


membuat Rani dan Pano cengengesan melihat tingkah Kenan. yang mendadak jadi ke kanak kanakan jika sudah cemburu bila Pano sudah mengerjai nya.


berbeda dengan Ze dia terus saja memalingkan wajahnya, masih kesal pada Kenan karena bisa bisa nya dia masuk bersama dengan Sania sampai berjalan beriringan.


setelah membereskan Pano yang menurutnya menjengkelkan, kini Kenan mulai melihat Ze di sampingnya.


"kenapa diam?! marah ya??" bertanya sambil memasang senyum kecil nya


"tidak" jawab singkat Ze sambil memalingkan wajahnya,


"kalau tidak marah liat sini, aku hanya berpapasan dengan nya di depan, aku tidak macam macam dengan nya " bisik Kenan di telinga Ze, membuat Ze bisa merasakan hembusan napas Kenan.


seketika Ze langsung memalingkan wajahnya menghadap wajah Kenan. dan mendekatkan wajahnya seakan seperti ingin mencium Kenan. terkejut bukan karena mendengar perkataan Kenan, namun malah terkejut mencium aroma hembusan napas Kenan.


"Ze di depan kita ada orang, kau tidak bisa menahan ingin mencium ku ya?" karena terkejut Kenan langsung memundurkan wajahnya. namun Ze tidak bergeming dari posisinya, malah terus mengendus aroma napas Kenan.


"kau habis merokok ya" bertanya dengan serius tidak mempedulikan perkataan Kenan.


dan ternyata Ze bukan nya ingin mencium Kenan, tapi menghirup aroma bau rokok dari hembusan nafas Kenan.


"kok dia bisa tau"


batin Kenan sudah gelegapan melihat tatapan Ze yang sedang menginterogasi nya.


"tidak" berusaha mencari aman sambil memasang senyum yang di buat buat.


"jangan berbohong,, aku bias mencium aroma bau rokok dari napas mu tau" masih yakin dengan perasaan nya, kini Ze makin mendekatkan wajahnya menghirup lagi aroma napas Kenan untuk lebih meyakinkan nya.


seketika Kenan langsung membungkam mulut nya, tidak bisa mengelak, tidak bisa apa apa setelah kepergok oleh istrinya.


"jadi yang kau bilang keperluan tadi, kau hanya ingin merokok,,?"


Ze makin tegas bertanya, membuat Kenan tidak bisa mengelak lagi.


"iya,, hanya sedikit" akhirnya Kenan mengaku, bicara dengan santai sambil memalingkan wajahnya


"kalau hanya sedikit, aroma nya tidak akan se menyengat ini tau?!"


kini Ze beralih mengendus pakaian Kenan


"tuh kan bajumu saja sampai bau asap rokok semua"


tangannya kini sudah menarik Pela baju Kenan.


" kau harus menjaga kesehatan tau. merokok itu tidak baik untuk kesehatan mu," omel Ze yang mulai menceramahi Kenan hingga refleks memukul mukul tangan nya.


seperti anak kecil yang sedang di marahi ibunya, Kenan tersenyum kecil saat Ze menceramahi dan memukul tangan nya membuat nya tanpa sadar memohon ampun pada istrinya itu.


"iya,,iya aku tidak akan mengulangi nya lagi,"


dengan tangan mulai menahan pukulan Ze. merengek seperti anak kecil yang meminta ampunan pada ibunya saat sudah melakukan kesalahan.


"tuh kan sekarang kau mengakuinya, lalu kenapa tadi kau berbohong hah" terus mengomel sambil terus memukul tangan Kenan, kesal karena berani berbohong padanya. hingga pukulan Ze yang makin lama


membuat Kenan meringis kesakitan.


"Ze,,sakit pukulan mu keras sekali" rengek Kenan sambil memegang kedua tangan Ze untuk menghentikan pukulannya.


membuat pasangan mata yang melihat nya merasa risi mendengar perdebatan mereka.


"hei kalian, kalau mau berdrama jangan di sini berisik sekali" ucap Pano sambil menggelengkan kepalanya melihat sepasang kekasih yang sedang berdebat di hadapan nya.


"hahaha sepertinya ada yang ke ganggu ya,, " ucap Kenan membuatnya merasa punya kesempatan untuk lepas dari omelan Ze, untuk bergegas pergi dari sana.


"Ze,,, sepertinya aku harus gabung dulu dengan senior yang lain, aku pergi dulu ya" pamit Kenan perlahan berdiri namun masih sempat mengecup kening Ze, membuat Rani dan Pano melebarkan matanya kaget.


"hei Kakak ipar,, kalau mau pergi ya pergi saja, kenapa malah mengumbar kemesraan di sini"


omel Pano karena mata jomblo nya merasa ternodai. melihat pemandangan di depannya.


"sudah ku bilang aku bukan Kakak iparmu,, kenapa terus memanggil ku seperti itu hah??!"


protes Kenan dengan suara ketus merasa jengkel


"awas ya jangan dekat dekat dengan istriku"


tegas Kenan yang sudah berdiri namun masih sempat sempat nya menatap sinis Pano


"iya iya,,, cepat pergi saja sana, berisik sekali, aku tidak tertarik pada istri orang" sahut Pano mengibaskan tangannya mengusir Kenan dari depannya,


"baguslah" Kenan pun langsung pergi sambil memasang senyum di bibirnya.


"kalau dia bukan teman dekat Ze, udah gue jitak dari tadi "


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2