
Kenan sudah terlebih dahulu selesai dengan mandi nya, kini dia sudah terlihat rapi dengan pakaian santai, mulai mendudukan tubuhnya di sofa, sambil menunggu Ze yang tak kunjung selesai dengan urusan nya.
"Kenapa dia lama sekali? "
gerutu Kenan sambil terus melihat jam yang melingkar di tangan nya.
"Perasaan ini masih pagi, kenapa perutku terasa lapar sekali? tidak seperti biasanya."
imbun Kenan, dan kini dia mulai meraih hp yang ada di sakunya dan memeriksa pesan masuk dari Pak Anton.
"Sepertinya Tuan Arya langsung menyadari kesalahan nya, sekarang dia tidak terlalu merepotkan ku dalam pekerjaan."
ujar Kenan dengan seringai di bibir nya. Melihat pesan masuk dari Pak Anton yang tidak menuntut banyak lagi pekerjaan yang harus ia bereskan.
Setelah beberapa lama kini Ze sudah terlihat keluar dari kamar tempat mengganti pakaiannya. dia terlihat sudah siap dengan pakaian santai nya.
Ze kini di kagetkan dengan pandangan Kenan yang terus menatapnya dengan senyum yang tidak bisa di artikan.
"Kenapa dia menatapku seperti itu?? apa ada yang salah dengan penampilan ku?" Ze bertanya tanya sambil melihat seluruh tubuhnya, tapi merasa tidak ada yang aneh dengan penampilan nya. Ze pun melangkah mendekati Kenan.
"Kenapa kau terus menatap ku seperti itu, menakutkan sekali?"
ketus Ze sambil mendelekkan matanya.
"Apa dia tidak bercermin dulu, sebelum keluar? "
batin Kenan yang tersenyum kecil melihat Ze yang ada di depan nya.
"Apa kau mempunyai syal? "
pertanyaan Kenan membuat Ze bertanya tanya kebingungan.
"Buat apa?" tanya Ze.
"Jangan banyak bertanya! ambilkan saja!"
seru Kenan yang masih terus menatap Ze, dan tak henti memasang senyum kecil di bibir nya.
Tanpa penolakan Ze langsung kembali ke ruang pakaian nya, dan langsung mengambil syal sesuai permintaan Kenan.
Ze pun langsung keluar dengan membawa syal di tangannya dan langsung ia berikan pada Kenan.
Kenan yang menerima syal itu langsung menggiring Ze menuju cermin meja riasnya, dan menghadapkan badan Ze, agar bisa melihat pantulan tubuhnya di sana.
"Apa kau ingin mengotori pikiran adik kecil mu itu, kalau sampai dia melihat ini!"
seru Kenan sambil menunjuk bekas merah hasil karya nya yang bertebaran di leher Ze, yang sangat terlihat jelas meski dari jark jauh sekalipun.
Seketika Ze berteriak saat sadar akan semuanya.
"Kak Kennnnn.... ini salah mu."
teriak Ze kesal, sambil memalingkan wajahnya menghadap Kenan yang ada di belakang nya.
"Cup" satu kecupan mendarat di bibir Ze.
"Jangan teriak seperti itu berisik, itu tanda kepemilikan bahwa kau hanya milik ku."
ucap Kenan dengan santai nya dengan tersenyum kecil tanpa menyadari kesalahannya.
"Tapi ini, emmh" "Cup.."
belum selesai bicara lagi lagi Kenan membungkam bibir Ze dengan ciuman singkat nya.
"Kalau kau terus bicara mungkin kita akan turun kebawah 2 jam lagi karena aku tidak akan berhenti untuk mencium mu."
ancam Kenan sambil memasangkan syal, di leher Ze untuk menutupi bekas merahnya.
Ze pun hanya bisa mematung dan membiarkan Kenan memasangkan syalnya.
"Terimakasih... "
lirih Ze, merasa malu dan menunduk wajahnya.
"Ayo turun sekarang? rasanya aku sudah lapar sekali."
ajak Kenan sambil menarik pelan tangan Ze.
"Tentu saja kau pasti lapar tenaga mu pasti terkuras karena kegilaan mu semalaman."
batin Ze mengumpat kesal sambil terus berjalan di belakang Kenan.
*
Di meja makan kini Angga Maya dan Naura, terlihat sudah siap dengan sarapan nya.
Ze dan Kenan yang baru sampai langsung di sambut hangat oleh sapa Maya.
"Pagi sayang! apa tidur kalian nyenyak semalam?"
"Pagi juga bu, pagi Ayah,"
sapa Ze sambil mendudukan badan nya di kursi kosong , begitupun dengan Kenan yang duduk di samping Ze.
"Nyenyak dari mana nya? aku sampai tidak bisa tidur gara gara kelakuan nya."
Kini mereka pun langsung menyantap sarapan mereka masing-masing.
Di sela sala sarapan mereka, Naura sedari tadi memperhatikan penampilan Kakak nya, yang terlihat lemas tidak seperti biasa nya, membuat nya penasaran dan mencemaskan nya.
"Kak, apa Kakak sakit? kenapa terlihat lemas sekali,"
tanya Naura sambil terus memperhatikan Ze.
"Tidak apa-apa kok Dek, Kakak baik baik saja."
jawab Ze.
"Kalau tidak sakit, kenapa sampai memakai syal segala, apa mungkin Kakak demam?"
tanya Naura masih ngeyel.
"Oh ini! Kakak hanya sedikit tidak enak badan saja, karena tidur Kakak semalam terganggu oleh gigitan serangga nakal yang terus mengganggu Kakak hingga tidak bisa tidur nyenyak."
jawab santai Ze, dengan tangan memegang syal dan memposisikan nya dengan benar takut Naura akan melihat semuanya.
Kenan yang dari tadi makan dengan lahap, kini sedikit tersedak karena mendengar kata kata Ze, serasa kata kata itu di tunjukkan padanya, hingga membuatnya sedikit terbatuk.
Hingga membuat Maya kaget dan mencemaskan nya.
"Nak Ken tidak apa-apa? " tanya Maya.
__ADS_1
"Tidak bu, aku hanya sedikit tersedak saja."
jawab Kenan kini mengambil air minum yang ada di depan nya.
Ze sendiri tidak menghiraukan Kenandia masih terus fokus dengan makanan nya.
Angga dan Maya yang mengerti arah pembicaraan Ze, mereka hanya menahan tawa, apalagi saat melihat reaksi Kenan yang langsung tersedak makanan saat dia mendengar kata-kata Ze,
membuat mereka menggeleng kan kepala melihat tingkah anaknya.
Berbeda dengan Naura yang masih polos dia hanya membulatkan bibirnya mendengar kata-kata Ze.
"Ooohh...!" ucap Naura tanpa memperpanjang pertanyaan nya lagi.
Merdeka pun langsung menghabiskan sarapan mereka masing-masing.
Saat Kenan sudah selesai dengan sarapan nya, dia langsung melihat Angga dan Maya, mereka pun kini sudah terlihat selesai dengan sarapan mereka.
Kenan mulai memilih kata kata yang pantas untuk berpamitan pada kedua orang tua Ze,
bahwa dia akan membawa anak gadis nya itu untuk pulang ke rumahnya, yang kini rumah itu akan menjadi rumah Ze juga.
walaupun terkesan tidak sopan berbicara di tempat makan, namun menurut nya ini waktu yang tepat karena semua orang sedang berkumpul bersama, sebelum mereka pergi untuk menjalankan rutinitas mereka masing-masing.
"Ayah, Bu, sepertinya saya akan pulang hari ini juga, saya akan mengajak Ze pulang bersama ku karena dia juga telah menjadi bagian dari keluarga kami."
ucap Kenan dengan sopan nya.
"Kenapa harus secepat itu? kalian kan bisa menginap lebih lama di sini."
ujar Maya, yang merasa belum siap jika harus di tinggal pergi oleh anaknya.
Kenan yang menyadari kesedihan Maya, kini di mencoba menenangkan dan meyakinkan bahwa anak gadis nya akan baik-baik saja.
"Ibu jangan khawatir, saya akan sering sering mengajak Ze untuk berkunjung ke sini, dan jika Ayah dan ibu ingin mengunjungi kami, rumah kami akan selalu terbuka lebar untuk kalian"
Angga dan Maya yang mendengar kata kata Kenan, kini mereka tidak bisa mengelak, karena memang seharusnya Ze mengikuti suami nya.
dan mereka pun mengiyakan nya.
Kini Kenan pun mulai mengajak Ze untuk beres beres untuk bergegas pulang ke rumahnya, dan itu juga akan menjadi rumah baru dan kehidupan baru bagi Ze.
***
Di sisi lain suasana Kampus yang makin ramai, mahasiswa berhamburan mendatangi Kampus untuk belajar mata kuliah mereka.
Suasana mulai berisik karena sekumpulan orang-orang yang sudah bisa menyebarkan gosip murahan, yang dengan hanya satu kali ucapan, bisa langsung menyebar ke seluruh penjuru kampus.
~" Woi, apa kalian lihat kejadian seru saat Roni menonjok Kenan?! "
~" Wah... kapan tuh? ada masalah apa mereka, sampai Roni hilang kesadaran sampai harus menonjok Kenan ?"
~" Entahlah! tapi yang gue liat saat itu, si Kenan lagi jalan barang ma Sania, dan si Roni langsung menarik Kenan dan langsung menonjok nya."
~" Wah apa mungkin si Roni kesal, karena gebetannya di rebut Kenan."
~" Hahahaha itu bisa jadi, si Roni kan selalu tak pernah membiarkan lawannya menang! "
~" Dan yang lebih gila nya, Kenan tidak pernah keliatan masuk kampus semenjak kejadian itu! "
~" Hahahaha pengecut banget dia! "
~" Kalau menurut gue sih, dia gak masuk karena ada alasan lain, soalnya saat setelah dia di pukul si Roni dia langsung marah besar, sampai sampai dia mencekik karas lehernya si Roni sampai terbatuk-batuk, kalau saja gak ada si Martin, mungkin si Roni bisa mati hari itu juga. oleh amarh Kenan.
begitu lah gosipan orang orang alai,
yang selalu seenak jidat bergosip. Tidak pernah tau kebenaran nya, padahal
orang yang di gosipin lagi asik asik, itu orang yang ngegosip malah pusing sendiri, menerka nerka sesuatu yang belum pasti wkwkwkw.
Di sudut lain, Sania Roni dan Martin seperti biasa merek selalu bersama, kini mereka sedang duduk di bangku yang tersedia di luar ruangan Kampusnya.
"Kenan sudah beberapa hari ini tidak masuk, kenapa ya, gak ada kabar sama sekali? "
ucap Martin yang memecahkan suasana, sampai membuat Roni enggan untuk mendengar nya.
"apa mungkin dia sakit ya?! "
sahut Sania yang merasa khawatir mengingat Kenan tidak masuk setelah tragedi penonjokakan dadakan Roni.
"Sepengetahuan gue Kenan tidak mudah sakit, orang kejam kayak dia, penyakit saja tidak berani menghampiri nya."
ucap Martin sambil menerka nerka apa yang terjadi dengan Kenan sampai beberapa hari ini, di tidak masuk kuliah.
Roni yang mendengar pembicaraan mereka malah makin kesal dan ingin segera pergi meninggalkan mereka.
"Sudah jelas dia pengecut, mana berani dia melihat kan wajah nya lagi "
ketus Roni sambil melangkah kan kakinya meninggalkan Sania dan Martin, yang sadari tadi membicarakan Kenan.
"kenapa dia sekarang mudah sekali marah marah "
batin Sania yang heran dengan perubahan sikap Roni akhir akhir ini.
karena memang Sania belum mengetahui kalau Ze adalah mantan nya Roni.
"Gue tau Kenan orang nya seperti apa, jadi gak mungkin dia gak masuk gara gara habis kena pukulan si Roni.
tapi anehnya kenapa
gue telepon kok gak di angkat angkat ya"
racun Martin yang terus mengotak ngatik hpnya.
mencoba menghubungi Kenan namun tidak di angkat angkat juga.
"Loe punya no Kenan? "
tanya Sania antusias.
"Ya jelas lah gue kan teman nya! "
jawab Martin menyombongkan diri.
Sania pun memiliki ide dan langsung meminta no Kenan pada Martin.
"Mana nomer nya, biar aku coba memanggil nya! "
pinta Sania dan Martin memberikan nya.
**
__ADS_1
Di dalam kamar kini Ze terlihat sedang membereskan semua barang yang akan ia bawa untuk pindah ke kediaman keluarga Wijaya.
Kenan sedari tadi hanya duduk memperhatikan setiap gerakan istri nya, yang terus saja membereskan barang-barang nya,
tanpa berkata ataupun mengajak nya bicara.
"Hei apakah masih lama? "
tanya Kenan sudah merasa bosan sadari tadi selalu terabaikan oleh Ze.
"Sebentar lagi Kak!"
jawab Ze, yang kini dia sedang mengambil sebuah foto, yang terlihat bahwa itu foto lama Ze, yang sedang tersenyum ceria bersama Klaudia di samping nya.
Meskipun Kenan tidak tahu jelas wajah Klaudia, tapi di bisa langsung tau bahwa yang ada di dalam foto sana ,adalah sosok Kakak Ze yang selalu ia sayangi, sampai kemanapun dia pergi akan selalu membawa nya, sebagai kenangan pelepas rindu Ze pada sosok Kakak nya, yang sudah lama meninggalkan nya.
Membuat raut wajah Kenan berubah seketika, merasa ada perasaan yang terselip dalam hati nya, hingga ia perlahan terbawa ke alam lamunannya.
Namun lamunannya di kaget kan oleh Ze yang sudah menghampiri Kenan dan duduk di samping nya.
"Sudah Kak,"
suara Ze mengagetkan nya, hingga membuat Kenan refleks memeluk Ze yang ada di samping nya,entah apa sebenarnya yang ia pikiran.
"Hei Kak! bukan nya kita akan pulang, ayo! aku sudah siap."
ucap Ze, karena sudah merasa tidak aman dengan pelukan Kenan, karena kini tangan Kenan sudah mulai bergerak hingga tidak bisa di kendalikan.
"Hei tangan mu, hentikan! kenapa nakal sekali."
protes Ze, karena tangan Kenan sudah menggerayangi tubuhnya dan mulai
tidak bisa di kondisi kan di area kesukaan nya.
"Ini hukum untuk mu, karena berani nya mengataiku serangga nakal, sebelum kau minta maaf, aku tidak akan melepaskan mu!"
ujar Kenan yang mulia mengecup leher jenjang Ze berkali-kali,
berusaha mengalihkan pikiran nya yang sudah mengarah ke mana mana.
"Ia, ia aku minta maaf, tadi kan aku hanya mencari alasan saja, aku tidak bermaksud mengatai mu kok, sumpah!"
perkataan Ze tidak di ia tanggapi, Kenan malah asik terus menjalankan kegiatannya.
Tiba-tiba suara ponsel Kenan berdering dengan sangat nyaring hingga membuat Kenan berdengus kesal, karena mengganggu kegiatan nya.
Kenan pun langsung melepaskan Ze, dan kini tangan nya mulai meraih hp yang ada di sakunya.
"Nomor baru!?"
ucap Kenan yang sudah melihat layar hp nya, ternyata hanya nomor baru yang masuk ke panggilan nya tanpa pikir panjang dia langsung mengabaikan nya.
"Kenapa tidak di angkat?! "
"Hanya nomor baru, aku tidak mengenal nya! "
jawab Kenan yang mulia menyimpan hpnya lagi ke sakunya.
"Hei, siapa tau itu penting, angkat saja!'
seru Ze karena mendengar suara hp Kenan terus saja berdering.
Kenan pun kembali mengambil hp nya, dan ia berikan pada Ze.
"Nih... kalau kau mau menjawab nya, angka saja!"
ujar Kenan dengan suara datar nya, sambil menyodorkan hp nya ke arah Ze.
Ze pun langsung mengambil nya, dan langsung menerima panggilan nya.
"Halo...! sapa Ze menjawab telepon Kenan.
"Ehk..., apa Kenan nya ada?" tanya sang penelepon merasa aneh kenapa yang mengangkat nya suara wanita.
Ze tidak kalah kaget, karena yang menelepon suami nya itu ternyata perempuan.
"Ini siapa ya?" tanya Ze penasaran.
"Bukan kah ini suara si Ze! "
batin seng penelepon yang merasa kenal dengan suara yang mengangkat telepon Kenan, ternyata adalah pacar nya.
"Oh ini Ze ya? aku Sania Ze, teman kampus Kenan."
ternyata yang menelepon Kenan itu adalah Sania. Ze pun langsung berbisik pada Kenan, memberitahu Kenan bahwa yang menelepon nya itu adalah Sania.
"Matikan saja, tidak penting!"
seru Kenan
Namun Ze tidak menghiraukan kata kata Kenan di malah meladeni Sania yang sedang menelepon nya.
"Maaf Kak ada perlu apa ya?! "
tanya Ze.
Namun sebelum Ze mendengar jawaban Sania di sudah di kagetkan oleh tingkah Kenan yang lagi lagi menggerayangi tubuh nya, dengan tangan nya yang sudah tidak bisa di kondisikan.
"Hei Kak lepsin...!"
protes Ze dengan suara keras nya hingga terdengar jelas oleh Sania yang sedang menelepon nya di sebrang sana.
"Kalau mau ku lepas, cepat matikan telponnya!"
seru Kenan dengan bicara tanpa menghentikan kegiatannya yang terus menelusuri leher jenjang Ze dan sedikit menggigit nya.
"Awww.... sakit," rengek Ze yang lagi lagi terdengar oleh Sania di seberang sana, membuat nya mengendus kesal.
Sania pun langsung mematikan telepon nya merasa kesal karena dia di abaikan.
Sedangkan Kenan masih sibuk dengan aksinya karena tidak akan mudah bagi nya untuk melepaskan Ze begitu saja.
..
..
..
.
.
__ADS_1
.