
Pano, Martin dan Roni, mereka masih saja terdiam mematung terkejut dengan perkataan Ze yang tiba tiba dan terdengar begitu menakutkan,
membuat keadaan di sana teras menjadi semakin canggung karena semua nya sama sama diam.
Pano yang merasa tidak nyaman dengan kondisi canggung ini, membuatnya berpindah tempat duduk dan memilih duduk di antara Martin dan Roni yang ada di depannya.
"hei geser, gue ikut duduk di sini, sepertinya suasana di sana jadi agak menakutkan" bisik Pano yang sudah melangkah mendekat ke arah Martin dan mendorong badan Martin agar dia bisa duduk di sebelhnya,
Martin yang tidak ingin berdebat lagi dengan Pano langsung menggeser kan badannya membiarkan Pano untuk duduk di sampingnya.
"apa dia suka semarah ini biasanya?" bisik Pano bertanya pada Martin
"entahlah,,, aku juga baru melihat dia semarah itu," jawab Martin yang juga membisikan jawabannya pada Pano,
hingga membuat mereka mendadak terlihat makin dekat karena sama sama canggung dengan keadaan sekarang.
Ze yang menyadari perubahan 2 laki laki di hadapannya, langsung menatap ke arah mereka,
"apa kalian tidak makan?? kenapa malah melohok seperti itu?" tanya Ze dengan santai dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
membuat Martin dan Pano tersenyum yang di paksakan karena di tatap Ze, dengan begitu tajam nya .
"hehe, kami sudah kenyang, kau bisa melanjutkan makan mu," jawab Pano dengan sedikit ragu, dan langsung mengalihkan pandangan nya.
"apa aku salah bicara,, kenapa mereka mendadak seperti itu"
batin Ze sambil mengangkat kedua bahunya heran, dan mulai memakan lagi makanannya.
setelah beberapa lama terlihat segerombolan mahasiswa yang lain yang memasuki kantin, dan duduk di belakang meja Ze dan teman temannya.
mereka mulai bergosip dengan begitu hebohnya membuat Ze yang di depan mereka bisa mendengar dengan jelas pembicaraan mereka.
~" hai bro,, coba liat hp kalian, perusahaan AH GRUP menjadi trending topik, hari ini,"
~" wih bener,,, hari ini perusahaan besar Keluarga WIJAYA sedang menggelar kegiatan bakti sosial"
~" memang ya, sudah kaya baik hati pula, pantes saja semua orang mendambakan Keluarga mereka. memang keluarga mereka patut di puji dan di banggakan,, "
~" tapi kenapa ya mereka harus menyembunyikan identitas anaknya?"
~"entahlah,, mungkin ada kelainan pada anaknya itu,sampai mereka harus menyembunyikan identitas nya"
~" bisa jadi"
~" apa mungkin anaknya terlalu bodoh sampai dia tidak percaya diri untuk tampil ke publik?"
~" wah bener juga, seperti anaknya aja yang terlalu bodoh tidak ingin mengungkapkan identitas, padahal walaupun dia cacat atau ada kelainan lain, kan Ayahnya bisa ngebantu, secara apa sih yang gak bisa di lakukan oleh seorang Surya Wijaya"
~" hahaha, benar banget, kalau dia tidak bodoh mana mungkin dia mau menyembunyikan identitas nya, secara orang mena sih yang tidak mau jadi pewaris tunggal keluarga Wijaya??,,
~" hahaha"
" brraaak"
pembicaraan heboh mereka tiba tiba terhenti karena dengan cepat Ze beranjak dari duduk nya, merasa geram dengan apa yang mereka bicarakan. dan langsung menggebrak meja tempat mereka duduk dengan begitu kerasnya.
"apa kalian tidak bisa menjaga mulut kalian??! kalau kalian tidak tahu kebenaran nya,, lebih baik kalian diam,!!! jangan asal bicara?!!!
seenaknya aja,,,, "
perkataan Ze yang tiba tiba membuat mahasiswa yang sedang duduk di sana langsung terkejut bukan main,
sampai di antara mereka ada yang langsung menjatuhkan hpnya karena terkejut, namun ada juga yang langsung melihat ke arah Ze, dan langsung tersenyum kecil melihat Ze yang tiba tiba menggebrak meja mereka.
wah menarik sekali
"hei Ze, kami tidak sedang membicarakan mu,,
kenapa malah kau yang marah?"
tanya salah satu orang yang duduk di sana sambil memasang seringai di bibirnya,
"gue marah karena kalian menjelekkan orang yang bahkan kalian tidak tau siapa dia,!! setidaknya kalian cari tau dulu kebenarannya baru bicara,, menjengkelkan sekali" Ze terus melawan dengan menatap tajam pada orang yang berbicara di depannya, kesal karena mereka menjelekkan suaminya.
" lucu sekali,, kenapa kau membela orang yang misterius itu,, kau menyuruh kita mencari tau siapa dia, padahal loe sendiri yang membela nya, juga tidak tau kan dia itu siapa,,??? hahaha" ucap laki laki yang dari tadi berdebat dengan Ze.
perdebatan Ze dan salah satu orang di sana, membuat Martin Pano Roni dan Rani, ikut panik mendengarkan nya,
terutama Rani yang sudah tau kalau yang di bicarakan mereka adalah suaminya Ze sendiri.
"byurrr"
merasa jengkel dengan perkataan laki laki di depannya Ze refleks mengambil air minum di depannya dan langsung ia siramkan pada wajah laki laki yang dari tadi terus berdebat dengan nya
"woi,, kenapa loe malah nyiram gue??"
si laki laki itu langsung marah dan berdiri menunjuk Ze di depannya.
Pano yang merasa terkejut dengan apa yang di lakukan Ze, dia langsung berlari dan melera perdebatan mereka,
"wah,, santai bro, dia wanita, "
ucap Pano sambil menurunkan tangan laki laki itu, dan langsung memundurkan Ze dari meja tempat mahasiswa lain berada,
Rani pun dengan cepat langsung meraih pundak Ze dan langsung mengajaknya duduk kembali,
"nih,!!" Pano menyodorkan tisu pada laki laki yang wajah nya sudah basah kuyup karena ulah Ze yang tiba tiba menyiram nya.
"loe laki kan,,?? sorry ya, si Ze lagi tidak enak badan jadi mood nya kurang baik,
dan salah loe sendiri kenapa meladeni kekesalan wanita, mentang mentang tidak ada suaminya, loe bisa seenaknya,.! masih mending loe cuma di siram air minum,, coba kalau suaminya di sini mungkin loe udah babak belur sekarang " ucap Pano sambil memasang seringai di bibirnya dan langsung pergi dari hadapan mereka dan kembali ke meja nya.
"hadueh Ze,, mana tangan loe??! loe tadi keras banget mukul meja, apa tangan loe gak sakit hah" gerutu Pano sambil meraih tangan Ze dan memeriksa nya.
untung saja gak lecet, kalau sampai lecet sedikit aja,, habis geu ma Kakak ipar karena tidak bisa ngejaga istrinya.
"ngeselin banget mereka, kenapa bisa bisanya ngomongin orang seenaknya"
umpat Ze kesal,
"kenapa harus loe ladenin si, biarin aja napa?? itu kan bukan urusan kita?"
sahut Pano yang tidak tau kalau Ze terusik karena mereka menjelekkan suaminya.
"jadi loe nyalahin gue?" sindir Ze sambil menatap tajam pada Pano.
"enggak,,, ya terserah loe aja,, loe nyonya nya di sini" sahut Pano gelegapan dan langsung mendudukkan tubuhnya di tempat semula di antara Martin dan Roni, karena melihat amarah Ze sepertinya masih belum reda.
"udah jangan marah marah terus,, ni minum dulu" ucap Rani sambil menyodorkan segelas air minum pada Ze,
karena masih emosi, dengan cepat Ze langsung mengambilnya dan langsung meneguknya dengan cepat.
kenapa di mana mana airnya tidak enak begini
dengan cepat Ze langsung menutup mulut nya, dan langsung berlari menuju toilet karena perutnya terasa mual kembali.
"Ze!!"
teriak mereka berempat melihat Ze yang tiba tiba berlari menuju toilet
"kenapa dia?"
tanya Pano yang sudah cemas.
"gue susul dulu" sahut Rani sambil beranjak dari duduk nya.
karena penasaran Pano pun mengikuti Rani untuk melihat keadaan Ze.
setiba nya di toilet Ze langsung memuntahkan makanannya. karena merasa mual dengan perutnya.
"Ze loe kenapa?" tanya Rani yang sudah menghampiri Ze,
"perut gue mual Ran" jawab Ze lemas.
"gue kan udah bilang,,, jangan terlalu banyak, makan bakso nya Zepania, jadinya seperti ini"
omel Rani.
tiba tiba Pano pun langsung menerobos ke dalam,
"Ze kenapa Ran?" tanya Pano khawatir
"muntah Pan, loe telepon suaminya, suruh cepat ke sini, takut Ze makin parah" perintah Rani sambil tangan nya mengelus ngelus punggung Ze.
dengan cepat Pano pun langsung kembali ke meja tempat mereka tadi makan, dan langsung mencari keberadaan hp Ze yang ada di tas nya untuk menelepon Kenan.
"woi,, Ze kenapa!?" tanya Roni yang sama sama gak kalah khawatir melihat Ze yang tiba berlari ke toilet.
"dia muntah,, mungkin terlalu banyak makan"
ucap Pano, dengan tangan yang masih sibuk mencari ponsel nya Ze.
"loe cari apa?" tanya Martin heran
"hpnya si Ze, gue harus telepon suaminya!" jawab Pano
"biar gue aja yang telepon, gue juga punya nomer nya" ucap Martin enteng, sambil perlahan meraih hp di sakunya.
__ADS_1
"gak usah, nih hp nya udah ketemu,, lagipula kalau loe yang nelepon, habis geu di marahin Kakak ipar, apalagi kalau dia tahu, kalian ada di sini dengan Ze," ucap Pano sambil mulai mengambil hp Ze dan langsung mengaktifkan nya.
kini tangan Pano mulai mengotak ngatik hp Ze dan mencari nama kontak Kenan.
"nama kontak nya apa ya?"
ucap Pano bingung.
"coba cari dari hidup S mungkin namanya Suamiku" sahut Martin
"kalau ada dari tadi juga udah ketemu kali"
sewot Pano,
"pakai bahasa inggris kali,,! " timpal Martin lagi.
Pano pun langsung menekan huruf M dan langsung mencari nya namun masih tidak menemukan nya.
"siapa sih namanya, kenapa susah banget nyimpen nomer suami sendiri, "
gerutu Pano yang masih belum menemukan nama kontak suaminya Ze.
"mungkin nama kontak nya Kenan" timpal Roni ikut memberi saran.
"siap Kenan" tanya Pano bingung.
"hei anak ingusan, apa loe emang begok,, dari tadi loe manggil Kakak ipar, tapi loe gak tau namanya,
Kenan itu nama suaminya Ze,, bodoh!! "
gerutu Martin kesal pada Pano di sampingnya.. sambil menjitak kepalanya.
"hahaha gue kan tidak tau" ucap Pano santai sambil mulai mencari nama kontak nya.
namun setelah di cari cari, hasilnya nihil Pano tidak menemukan nama kontak nya.
"tetap gak ada" ucap Pano sambil menggelengkan kepalanya.
"kenapa kalian ribet banget si,, Martin loe sebutin nomer nya, biar si Pano ketik sendiri di hp Ze, kalau terus nyari,,, sampai besok juga gak akan ketemu" ucap Roni memberi saran
"wah pinter juga ya senior yang satu ini"
ucap Pano girang sambil melirik ke arah Roni.
Martin pun mulai menyebutkan satu persatu nomer Kenan dan dengan cepat Pano langsung mengetik nya,
setelah terketik semua barulah Pano menekan ikon hijau langsung memanggil nya.
karena penasaran Martin dan Roni langsung mendekat ke arah Pano ingin melihat siapa nama yang Ze simpan untuk nomer kontak suaminya.
"Tuan menyebalkan"
kata yang muncul di layar hp Ze,
membuat 3 laki laki itu tertawa terbahak bahkan melihat nama kontak Kenan yang Ze simpan di hp nya.
"hahahahaha, gue kira si Ze pasti menyimpan nama kontak suaminya dengan panggilan mesra,,, kenapa namanya malah tuan menyebalkan, memang sesuai dengan sifatnya." ucap Pano.
mereka terus saja tertawa sampai Kenan mengangkat teleponnya.
"woi diem,, Kakak ipar sudah mengangkat teleponnya" ucap Pano menyuruh Martin dan Roni untuk diam.
"hallo Ze,, kenapa?? apa terjadi sesuatu?" tanya Kenan di seberang sana.
"'hei Tuan menyebalkan!!,, loe di mana?? istri loe muntah muntah,, cepat loe ke Kampus, gue gak bisa tanggung jawab ya kalau Ze sampai kenapa napa" ucap Pano memberitahu Kenan.
"memang tidak bisa di andalkan loe ya,, jangan ke mana mana gue ke sana sekarang,"
ucap Kenan terkejut sampai bicara dengan kerasnya, memarahi Pano. dan langsung mematikan teleponnya, dan langsung bergeser pergi menuju Kampus.
sedangkan Martin Pano dan Roni, 3 laki laki itu masih sibuk dengan tawanya karena mendengar perkataan Kenan yang begitu cemas nya tanpa menyadari kalau Pano memanggil nya dengan sebutan Tuan menyebalkan.
"gue beneran mati sekarang, Kakak ipar pasti marah besar kalau Ze sampai kenapa napa"
ucap Pano takut
Pano pun kini mulai menyimpan hp Ze, namun kini matanya mulai sadar dan melihat layar hp Ze dengan wallpaper foto Ze dengan Kenan yang sedang tersenyum manis dengan bando capel berhiaskan kuping kelinci di kepala mereka, membuat Pano langsung tersenyum cengengesan.
"hei Kau senior " panggil Pano pada Roni sambil menyenggol bahu Roni dengan
sikutnya,
"gue punya nama,!" jawab Roni dengan ketus nya.
"hahaha lihat nih,,, mungkin kalau loe gak putus sama Ze, loe yang akan ada di layar hp nya sekarang, dan tersenyum manis di sampingnya nya" ucap Pano manas manasin Roni dengan senyum jenakanya, sambil memperlihatkan foto nya pada Roni.
"loe dalam situasi seperti ini pun, menjengkelkan sekali ya"
tidak lama Ze dan Rani terlihat sudah kembali dan berjalan menuju meja mereka.
"kau sudah lebih baik?" tanya Pano khawatir saat Ze sudah duduk gabung lagi dengan mereka.
karena merasa lemas Ze hanya menganggukkan kepalanya.
"Kakak ipar sebentar lagi ke sini, dia sudah di jalan" ujar Pano.
"nih,,, tadi aku meneleponnya,, sepertinya kau harus mengganti nama kontak nya, sebelum Kakak ipar mengetahui nya" ucap Pano sambil menyodorkan hp Ze mengembalikan nya.
karena merasa bingung Ze pun langsung mengambil hpnya dan langsung memeriksa apa yang di maksud Pano, seketika Ze langsung tersenyum yang dibuat buat, melihat nama kontak Kenan, yang tidak pernah ia ganti sejak dulu saat Kenan pertama kali menghubungi nya.
"saking selalu bersama sama tidak pernah mempedulikan hp, apalagi sampai meneleponnya, jadi aku tidak pernah mengganti nama kontak nya dari saat pertama kali bertemu dengan nya" ucap Ze
dan langsung melihat ke arah Martin dan Pano, yang sudah cengengesan melihat ke arah nya.
**"
Kenan kini sudah sampai di parkiran Kampus, langsung bergeges masuk, mencari keberadaan istrinya. langkah nya yang tergesah gesah, membuat semua mata yang melihatnya keheranan.
kini dia langsung meraih hp di sakunya, memanggil Ze untuk menanyakan dimana keberadaan nya.
"kamu di mana?? aku sudah di kampus!" tanya Kenan saat Ze sudah mengangkat teleponnya.
"di kantin Kak" jawab Ze di balik suara telepon nya.
Kenan pun langsung mempercepat langkahnya menuju ke kantin,
namun saat menuju ke kantin, dia berpapasan dengan Sania, yang baru keluar dari ruangan kelas nya.
"ada apa Kenan?? kenapa terburu buru sekali"
tanya Sania , namun Kenan tidak mempedulikan nya, dia masih fokus berjalan karena terlalu khawatir pada Ze.
membuat Sania menggeram kesal, dan langsung mengikuti Kenan, karena merasa penasaran.
Kini Kenan sudah sampai di Kantin, matanya langsung mencari keberadaan istrinya,
saat Kenan sudah melihat keberadaan Ze, dia langsung berjalan cepat ke arah nya,
"kenapa mereka bisa ada di sana" umpat Kenan kesal melihat keberadaan Roni dan Martin yang juga sedang duduk di meja yang sama dengan Ze.
~
"wah tuh Kenan sudah datang" ucap Martin yang melihat kedatangan Kenan yang sedang berjalan cepat ke arah mereka.
"menakutkan sekali tatapannya, pasti dia akan marah besar" ucap Pano yang nyali nya mulai menciut melihat kedatangan Kenan yang makin dekat ke arah mereka.
Kenan pun langsung menghampiri Ze dan langsung duduk di sampingnya.
"kau tidak apa apa?" tanya Kenan khawatir sambil perlahan merangkul pundak Ze dan mendekatkan ke pelukannya.
"tidak apa apa Kak, hanya mual mual saja, nati juga akan membaik" jawab Ze dengan suar lemas nya.
Kini Kenan langsung menatap pada 3 laki laki yang ada di depannya,
"apa yang kalian lakukan di sini,? dan kau!! bukannya aku sudah menyuruh mu, untuk menjaga nya sebentar saja, kenapa malah seperti ini hah" ucap Kenan marah sambil menatap tajam pada mereka.
mereka yang melihat kemarahan Kenan hanya terdiam tidak berani berbicara.
kini mata Kenan melihat 3 masuk kosong bekas bakso yang ada di depannya.
dan langsung menggelengkan kepalanya kaget,
"dia makan sebanyak itu" batin Kenan heran
"Kak,,, pusing sekali,,, pandangan ku jadi buram" ucap Ze melemas sampai Ze langsung terkulai tidak sadarkan diri.
tarjatuh di pelukan Kenan,
"Ze,,,! kau kenapa??
Ze,,,!!"
teriak Kenan terkejut bukan main saat Ze jatuh pingsan di pelukannya. Kenan langsung menatap wajah Ze dan langsung membelai wajahnya yang makin pucat.
membuat semua mata langsung menatap Ze, sama sama terkejut melihat Ze yang tiba tiba pingsan.
"Ze,,! pingsan??"
__ADS_1
Rani, Pano Martin dan Roni. sama terkejut nya melihat Ze yang tiba tiba pingsan,
mereka pun langsung panik dan berpikir apa yang harus mereka lakukan.
"Pan,, bawa mobil ku, kita ke rumah sakit sekarang" ucap Kenan sudah panik sambil melemparkan kunci mobil nya pada Pano, dan mulai mengangkat badan Ze menggendong nya,
Pano malah gelegapan karena merasa terkejut sampai terus diam mematung.
"kenapa masih diam, cepat bodoh,," teriak Kenan kesal.
"iya,,iya,," patuh Pano
"Ran bawa mobil gue, loe ikut ke rumah sakit bersama kita" serunya lagi sambil memberikan kunci mobil nya pada Rani.
mereka pun langsung bergeser keluar Kampus untuk membawa Ze ke rumah sakit. berjalan dengan tergesa-gesa membuat semua mata tertuju pada mereka,
Sania yang melihat Kenan menggendong Ze, langsung menghentikan langkah Roni yang mengikuti mereka.
"Ron,,! Ze kenapa??" tanya Sania penasaran.
"Ze tiba-tiba pingsan, kita akan ke rumah sakit sekarang"
jawab Roni dengan langkah cepat mengikuti Kenan, karena sama sama khawatir pada mantannya itu.
~
"bisa lebih cepat gak"
gerutu Kenan yang duduk di belakang sambil terus memeluk tubuh Ze, yang masih tidak kunjung sadar juga,
"ini sudah cepat Kakak ipar, " sahut Pano yang sudah tidak bisa fokus membawa mobil karena terlalu khawatir dengan keadaan Ze,
"cepat,,, " teriak Kenan makin keras.
"tentang Kak,, gue juga kahawarti pada Ze, tapi kalau loe terus teriak gue gak bisa fokus bawa mobil nya" ucap Pano.
"kita ke kelinik terdekat saja, kalau ke rumah sakit terlalu jauh, gue takut Ze kenapa napa kalau tidak segera di periksa" ucap Kenan ketakutan .
"tapi Kak di kelinik kan fasilitas nya kurang lengkap,"
tolak Pano, tidak menyetujui perkataan Kenan.
"sudah mepet bodoh,, di kelinik juga ada dokter kan, yang penting Ze bisa di periksa dulu, kalau dia sampai kenapa napa gimana hah" Kenan marah sudah tidak bisa membendung ke khawatir nya.
"baiklah terserah kau saja" ucap Pano mengalah.
tidak butuh waktu lama Pano pun langsung membelokkan mobil nya masuk ke sebuah kelinik dan langsung memarkirkan mobilnya di sana.
di susul oleh mobil Pano yang di bawa Rani, begitu juga mobil Martin, Roni, dan juga Sania, yang sama sama masuk ke parkiran kelinik, mereka langsung memikirkan mobilnya.
membuat sang penjaga parkiran terkejut, apa yang terjadi dengan kedatangan beberapa mobil mewah yang masuk ke pekarang kelinik tempat nya bekerja. sampai mobil Kenan dan teman temannya memenuhi pekarangan Kelinik yang terlihat tidak terlalu luas itu.
~
Kenan pun langsung mengangkat badan Ze, dan membawanya ke UGD.
"sus,, mana dokternya,, tolong istri saya, dia tiba-tiba pingsan," teriak Kenan pada suster di sana dan langsung membaringkan Ze di atas ranjang ruangan UGD itu.
tidak lama terlihat seorang dokter yang terlihat masuk ke ruangan UGD, dan langsung memeriksa Ze.
"maaf Tuan anda bisa menunggu di luar, kami akan memeriksa Nona nya."
ucap Suster sambil menyuruh Kenan untuk keluar,
"tapi Sus,,! tidak bisa kah aku menemani nya di sini" ucap Kenan yang makin panik,
"maaf Tuan tapi anda bisa menunggu di luar, setelah kami memeriksanya kami akan memberitahu anda jika hasil pemeriksaan nya sudah selasai," ucap Suster membungkuk hormat.
sambil berdecak kesal,mau tidak mau Kenan menunggu di luar bersama yang lainnya.
"apa aku harus memberi tahu Bunda?"
ucap Kenan bingung,, takut Ze kenapa napa, dia menjadi merasa bersalah karena tidak bisa menjaga istrinya,
"aakkhh"
decak Kenan frustasi akhirnya memutuskan untuk menghubungi Bunda nya.
Kenan pun langsung mengambil hp nya dan langsung menelepon Widi, memberitahu keadaan Ze sekarang.
dan memberi tahu Widi kalau dia sedang di Kelinik di dekat Kampus.
setelah menghubungi Widi
Kenan pun kini menghampiri ke arah teman temannya yang juga ikut mengkhawatirkan Ze, yang sedang berdiri di lorong dekat ruangan UGD Kelinik,
dan langsung berjalan ke arah mereka.
"seperti kita juga akan ikut terbaring di sini,, si Kenan terlihat marah sekali pada kita, lihat saja sorot mata nya, saat menatap Kita, menakutkan sekali" bisik Martin pada Pano dan Roni di sampingnya.
"apa yang kalian lakukan pada Ze, sampai dia seperti itu hah?" teriak Kenan marah.
"dan kau,, kenapa keu tidak bisa di andalkan hah" umpat Kenan kesal sambil menarik kerah baju Pano mereka kecewa pada nya.
"tenang Kakak ipar, kita tau , Kakak ipar pasti sedang cemas,, tapi jangan marah marah seperti ini, kita dari tadi juga mengkhawatirkan Ze, tenanglah dia akan baik baik saja." ucap Pano menenangkan Kenan. sambil menurunkan tangan Kenan dari bajunya.
Kenan langsung terduduk lemas sambil mengusap kasar wajahnya sudah tidak kuat menahan kecemasan nya.
~
keadaan di luar sudah bergemuruh, orang orang di kelinik langsung terkejut melihat kedatangan Surya Wijaya beserta istrinya yang masuk ke sebuah kelinik kecil, yang dalam pikiran orang orang di sana, tidak mungkin orang nomer satu, bisa menginjakkan kakinya di sebuah kelinik kecil yang tidak selepel dengan keluarga mereka.
kini Surya dan Widi langsung masuk ke dalam dan mencari keberadaan anaknya.
Kenan yang masih tertunduk tidak menyadari kedetangaan kedua orang tuanya.
berbeda dengan teman teman Kenan mereka langsung terkejut melihat kedatangan Surya dan Widi yang mendekat ke arah mereka.
"bukankah itu Tuan Surya beserta istrinya?, kenapa mereka bisa ada di sini" bisik Martin terkejut yang berdiri di tengah tengah temannya.
merasa penasaran Roni dan Sania langsung memeriksa hp mereka dan memastikannya dengan
melihat berita utama hari ini yang membicarakan keluarga Wijaya melihat foto nya di sana, dan mengocokkan nya dengan orang yang kini ada di hadapan mereka,
dan benar saja, yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka adalah Surya Wijaya beserta istrinya.
mata mereka semua tertuju melihat pergerakan Surya dan Widi yang kini telah berdiri di depan Kenan.
"Ken,, kenapa Ze?? dimana dia sekarang?"
tanya Widi yang sudah di depan anaknya. yang sedang duduk tertunduk di kursi di depannya.
"Ayah,, Bunda" ucap Kenan lirih yang merasa bersalah karena dia tidak bisa menjaga istrinya.
mulai berdiri dan langsung memeluk Widi berusaha menghilangkan kecemasan nya.
"Ze di dalam Bun, masih di periksa sama dokter, tadi dia tiba tiba pingsan" ucap Kenan sambil melepaskan pelukannya dan mendudukkan lagi badannya.
"tenang lah,,, semua akan baik baik saja" ucap Surya menenangkan Kenan karena terlihat jelas kecemasan di wajah Kenan,
menenangkan Kenan sambil menepuk pundak nya.
Widi pun langsung duduk di samping Kenan dan langsung merangkul pundak anaknya.
~
"Ayah,,,, Bunda,,,"
ucap teman teman Kenan terkejut, berdiri mematung melihat Kenan memanggil Surya dan Widi dengan sebutan Ayah dan Bunda, membuat mereka mengetahui yang sebenarnya,
"jadi Kenan anak mereka??, si pewaris tunggal yang selama ini mereka sembunyikan identitas nya itu adalah Kenan!!" ucap Martin terkejut tanpa sadar tangannya sudah bersandar di pundak Pano, menenangkan keterkejutan nya, merasa heran selama ia berteman dengan Kenan tapi kenapa ia sampai tidak mengetahui nya.
begitu pula dengan Sania yang terkejut bukan main, dia yang pernah menjadi pacar nya sekalipun tidak mengetahui kalau Kenan adalah anak dari Surya Wijaya.
"berarti si misterius yang tadi di bicarakan anak anak di kampus itu adalah Kenan" ucap Roni melohok. antara percaya dan tidak
"gila,,, pantas saja tadi si Ze sampai marah besar saat orang orang bergosip di kantin Kampus tadi, ternyata orang yang mereka jelek jelekkan adalah suaminya sendiri hahahaha"
ucap Pano kagum. dengan senyum kegirangan mengingat kejadian tadi.
kalau tau dari tadi mungki gue tonjok sekalian wajah laki laki tadi,
.
.
.
.
.
.
.
bersambung................
__ADS_1
jangan lupa like,comen n vote nya ya๐๐๐
terimakasih๐๐๐โค