Cinta Tanpa Alasan

Cinta Tanpa Alasan
Perasaan Ze yang sebenarnya


__ADS_3

Kegiatan ospek hari ini kini telah berakhir,


satu persatu para mahasiswa baru mulai berhamburan keluar, meninggal Aula utama. Para senior yang tadinya duduk di depan kini mulai melangkah pergi masuk ke dalam ruangan, dan ada juga yang langsung pulang.


Keadaan Aula kini semakin sepi, hanya terlihat beberapa kerumunan orang di sana yang sedang berbincang-bincang, terlihat Sania, Roni dan 2 senior lainnya masih duduk di sana, sedang membahas kegiatan untuk besok yang akan mereka laksanakan.


Sedangkan Martin dan juga Kenan mereka masih duduk santai di kursi sambil melontarkan pertanyaan. ke penasaran Martin kini mulai menjadi saat mendengar fakta bahwa Kenan dan Ze telah menikah, hingga dia menghujani beberapa pertanyaan pada Kenan.


"Apa sudah lama kalian menikah!?"


akhirnya pertanyaan itulah yang pertama keluar dari bibir Martin.


"3 hari setelah dia lulus sekolah gue langsung menikahinya." Jawa Kenan singkat.


"Gila loe, main gerak cepat ya.


apa jangan-jangan saat lo gak masuk kuliah setelah lo di tonjok si Roni, waktu itu kalian melaksanakan pernikahan?"


tanya Martin sedikit terkejut.


"Heeem," jawab Kenan sambil mengangguk kan kepalanya.


"Hebat loe, sampai gak ngabarin gue, tapi tunggu! kalau kalian sudah menikah, berarti kalian sudah melaku-"


Belum selesai Martin bertanya, perkataannya sudah dihentikan dengan pergerakan tangan Kenan yang mulai merangkul lehernya dan mencekiknya pelan, sudah tahu arah pertanyaan Martin yang mengarah ke pertanyaan yang seharusnya tidak di tanyakan.


"Apa loe tidak bisa menyaring pertanyaan loe kenapa lu bawel sekali hah?!"


ujar Kenan dengan suara ketusnya sambil tangan yang satunya lagi mulai menjitak kepala Martin.


"Woi sialan, gue kan cuma bertanya doang, kenapa reaksi loe berlebihan," protes Martin.


"Apa loe beneran udah berhubungan intim dengan nya? loe gak memaksa si Ze untuk tidur dengan loe 'kan?"


tanya Martin dengan memasang wajah penasaran.


"Sialan loe, loe kira gue laki-laki seperti apa sampai harus memaksa wanita,"


ketus Kenan, sambil memalingkan wajahnya, karena memang ada benar nya kata kata Martin, karena saat malam pertama nya, dia tidak meminta persetujuan dari Ze, dia malah melakukannya sesuka nya saja.


"Wah jadi benar kalian sudah melakukannya? gila loe! gue kira si Ze gak akan mau berhubungan dengan cowok kejam kayak loe, hahahaha,"


ledek Martin dengan senyum jenaka nya.


"Berisik loe! gue pergi dulu."


Kenan pun mulai berdiri meninggalkan Martin sudah tau kalau makin lama duduk bersama Martin pertanyaan nya bakal makin macam macam. Kenan melangkahkan kakinya menuju Ze yang terlihat sedang bercanda dengan teman-temannya.


"Sudah halal mah bebas ya mau ngapain juga."


ucap Martin yang melihat kepergian Kenan dan terlihat melangkah menghampiri istri nya.


*


Di sudut Aula semua para mahasiswa kini terlihat sudah mulai pergi keluar, tinggal tersisa Rani dan Ze masih duduk berdua di sana.


" Ze, kok loe gak cerita ke gue kalau udah menikah dengan Kak Kenan?!"


tanya Rani dengan sedikit kecewa.


"Maaf Ran! saat itu acaranya mendadak, jangan kan memberi tahu loe, gue sendiri saja saat itu masih syok."


jawab Ze menjelaskan.


"Tapi loe gak kepaksa kan menikah dengan Kak Kenan?"


tanya Rani yang menghawatirkan Ze karena masih penasaran belum mengetahui bagaimana sebenarnya perasaan sahabatnya.


"Nggak kok, malah sekarang aku makin nyaman bila bersama nya, dia memang terkadang menyebalkan si tapi sebenarnya dia baik, perhatian pula."


jawab Ze dengan santai, tidak menyadari bahwa Kenan sudah ada di belakangnya.


Rani yang duduk di depan Ze, kini mata nya dengan jelas melihat sosok Kenan yang berdiri di belakang Ze, yang sudah tersenyum kecil mendengar kata kata Ze.

__ADS_1


Kenan pun langsung melebarkan matanya, mengisyaratkan agar Rani tidak memberi tahu Ze, kalau dia ada di belakangnya,


Kenan malah mengisyaratkan agar Rani terus bertanya pada Ze, tanpa menghiraukan Kenan yang ada di sana.


Rani yang mengerti maksud Kenan kini dia mulai bertanya dengan santai supaya terlihat tidak ada apa apa.


"Gimana tadi saat bisa bicara lagi dengan Kak Roni setelah sekian lama? kau tidak mungkin masih menyimpan perasaan pada nya 'kan?" tanya Rani.


"Ya tidak lah, aku hanya gugup saja karena kak Roni masih saja mengganggu ku, "


jawab Ze dengan suara ketus nya.


"Untung saja keburu ada Kak Kenan, kalau gak ada Kak Kenan mungkin aku sudah mati berdiri Ran". imbun Ze.


Kenan yang awalnya mengepalkan tangannya kesal karena mereka malah membahas Roni, kini dia bernapas lega, karena Ze benar benar sudah tidak menyimpan perasaan pada Roni.


"Sekarang loe jujur ya, jangan so jual mahal, sekarang loe mencintai Kak Kenan 'kan?" tanya Rani penasaran.


"Emmmh mungkin,"


jawab Ze masih sedikit ragu.


"kalau jawab tuh yang bener, kalau cinta ya cinta, kalau enggak ya bilang saja enggak, susah banget si," gerutu Rani sambil menendang kaki Ze yang ada di depan nya.


"Iya, iya, gue mencintai nya Ran, bagaimana aku tidak mencintai nya coba, dia selalu bersikap lembut pada ku, rasanya jantung ku tidak bisa berdetak dengan benar kalau aku berada di sampingnya."


jawab Ze dengan sangat jelas.


Membuat Kenan yang ada di belakangnya, langsung menahan keras tawa nya, merasa senang sekaligus gemas mendengar perkataan istrinya.


Rani yang ikut senang mendengar perkataan Ze, dia langsung tersenyum lebar, di tambah lagi melihat ekspresi Kenan yang terlihat jelas bahwa dia sangat bahagia mendengar bahwa Ze kini dia mengungkapkan perasaan nya, walaupun tidak secara langsung ia ungkapkan pada nya.


"Maaf Ze, sepertinya aku harus pulang duluan ya". seru Rani sambil bangkit dari duduknya, sengaja membiarkan mereka berdua di sana dan langsung berjalan cepat tidak menghiraukan Ze yang terus memanggil nya.


"Hei Ran! mau kemana? tunggu! kita pulang bareng."


ujar Ze yang sudah beranjak dari duduknya namun terhenti karena tangan Kenan memegang kedua pundaknya, dan mendudukkan lagi badan nya.


"Kau mencintai ku?"


Ze yang merasa kaget langsung menolehkan kepalanya ke belakang dan betapa terkejutnya dia saat melihat wajah Kenan yang sedang tersenyum manis kepadanya.


Raniiiii, kau mengerjai ku 'kan? kenapa kau tidak bilang kalau Kak Ken ada disini. Sialan kau Rani,,m awas aja ya kalau kita ketemu lagi! aduh malu banget, pasti Kak Ken mendengar semuanya 'kan, Aaaaaaa rasanya aku ingin menggali lubang untuk bersembunyi saja.


Ze pun langsung menundukkan kepalanya karena malu.


Melihat tingkah Ze yang malu malu Kenan malah makin bersemangat untuk menggoda nya. Kini dia melangkahkan kakinya maju ke depan, dan duduk di depan Ze, di tempat yang tadi di duduki Rani.


"Kenapa menunduk? tadi kau bilang apa? kau mencintai ku?"


goda Kenan sambil mendorong lutut Ze menggunakan lututnya.


"Kau selalu berdebar saat di dekat ku 'kan? seperti ini?"


Tanya Kenan kini dia mulai mendekatkan badan nya dengan lutut nya yang menghimpit kedua lutut Ze, dan jari telunjuknya mengangkat dagu Ze, hingga kini dia bisa melihat jelas wajah istri nya yang sudah merona malu.


"TI...tidak kok, "


kilah Ze yang sudah gelegapan karena tatapan Kenan dengan jarak yang sangat dekat.


"Emmh," merasa gemas melihat wajah Ze yang sedang malu malu dengan tiba tiba Kenan langsung mencium bibir mungil Ze,


tanpa mempedulikan sekarang mereka ada di mana.


"Kak Ken, apa yang kau lakukan, ini di Kampus tau."


protes Ze, sambil mengatur debaran jantungnya bmerasa terkejut dengan tingkah Kenan. yang tiba tiba menciumnya.


"Kenapa memang? tidak ada orang di sini, lagi pula, walaupun ada yang melihat nya, mereka tidak akan apa apa, mereka kan sudah tau kalau kau adalah istriku."


jawab Kenan dengan santai nya, dengan memasang senyum kecil nya.


Kenan pun mulai melingkarkan tangannya ke pinggang Ze dan mulai menarik nya ke pelukkan nya.

__ADS_1


"Hei Kak lepasin, ini di tempat umum, jangan macam macam!"


protes Ze sambil terus meronta-ronta dengan mata melihat kanan kiri takut ada orang yang melihatnya.


" Aku tidak akan melepaskannya, sebelum kau bilang kalau kau memang mencintaiku!"


goda Kenan yang kini makin mempererat pelukan nya.


" Tidak, Aku sedang marah padamu! karena kau tidak bisa menjaga kata-katamu , jadi cepat lepaskan!"


ucap Ze ketus sambil terus meronta ronta, dengan kedua tangan nya menempel di dada bidang Kenan, dan terus saja mendorong nya, namun percuma saja, karena tangan Kenan yang lebih kuat dan makin mempererat pelukan nya.


" Benarkah?"


melihat tingkah istrinya membuat Kenan makin bersemangat dan kini tangan Kenan mulai menarik badan Ze sampai sedekat ke pelukannya.


"Kak Ken lepaskan!"


" Makanya jawab! apa kau mencintaiku?"


seru Kenan dengan memasang senyum jahilnya.


" Iya, iya, aku mencintaimu " jawab Ze sambil mengecilkan suaranya


"Terimakasih Ze"


sambil mengecup kening Ze, kini Kenan pun melepaskan pelukannya, dengan terus memasang senyum di bibir nya ,merasa puasa karena telah mengerjai istrinya.


"Kau curang, itu namanya pemaksaan tau."


gerutu Ze sambil beranjak dari duduknya mulai melangkah pergi.


" Mau ke mana?" tanya Kenan.


" Pulang" jawab singkat Ze dengan wajah cemberut , karena lagi lagi Kenan sukses mengerjai nya.


hahaha dia lucu sekali kalau lagi marah


"Tunggu!! kita pulang bersama."


"Nggak!! aku bawa mobil sendiri."


tolak Ze, yang masih terus berjalan.


" Pulang bereng saja!! nanti mobilmu diambil oleh pelayan rumah."


Kenan pun mulai mempercepat langkahnya mengejar Ze, dan langsung merangkul pinggang Ze dan mengajak nya berjalan beriringan.


"Jangan suka marah marah, kau jelek sekali kalau lagi marah begin.i"


ucap Kenan sambil mencubit ujug hidung Ze karena merasa gemas.


"Aww, sakit tau!"


gerutu Ze, dengan terus cemberut tapi tidak ada penolakan saat Kenan merangkul pinggang nya, dan menggiring nya, berjalan dengan bersama menuju ke parkiran mobil.


Membuat Kenan terus saja tersenyum mendengar rengekkan istrinya itu.


Mereka pun terus berjalan beriringan, dengan tangan Kenan yang terus saja melingkar di pinggang Ze, sampai mereka keluar dari aula kampus utama.


Setelah mereka sudah tidak terlihat, ternyata dari tadi ada sorot mata kesal, yang terus memperhatikan kemesraan mereka,


melihat dengan sorot mata tajam.


Kesal sampai seras ada kobaran api yang mengelilingi badan mereka menahan nya sampai terasa sesak di dada.


.


.


.


.

__ADS_1


.


bersambung,,,,,


__ADS_2