
Pagi hari Ze sudah terlihat siap untuk pergi Ke Kampus dengan setelan baju santai seperti biasa.
Namun berbeda dengan Kenan, dia terlihat baru keluar dari ruang ganti pakaian, dengan memakai setelan jas lengkap, namun dengan dasi yang masih menyampai di lehernya.
Seperti biasa Tuan Muda yang satu ini, meskipun terlihat perfect dengan segala penampilan dan keterampilan nya, ada sisi lain yang tidak pernah bisa ia lakukan nya sendiri.
Tidak lain adalah tidak bisa memaki dasi sendiri, wkwkwkw
sungguh itu suatu yang sepele, namun menurut nya itu suatu yang paling merepotkan.
Kakinya kini melangkah mendekati istrinya,
meminta Ze untuk memasang kan dasi, walau begitu Kenan selalu meminta bantuannya dengan berusaha so cool, tidak ingin menjatuhkan wibawanya karena kelemahan nya yang satu ini, sekalipun itu di depan istrinya.
"Ze...!" panggil Kenan sambil berjalan menghampiri Ze.
"Sekarang aku tidak bisa ke kampus, kau harus jaga diri, tidak boleh macam macam dengan laki laki lain....!" bicara sambil menarik Ze agar menghadap ke arah nya
dan langsung mengisyaratkan agar Ze memasang kan dasinya.
Sudah tau maksud dari suami nya, tangan Ze langsung meraih dasi Kenan dan langsung merapihkan nya.
"Emang sekarang ada kegiatan apa Kak....?"
tanya Ze yang masih berkutat dengan dasi Kenan.
"Hanya kegiatan bakti sosial, tiap 3 bulan seksi, perusahaan Ayah selalu membagikan sembako untuk orang orang yang membutuhkan, dari dulu aku tidak pernah ikut serta, rasanya risi, karena selalu banyak media yang menyoroti kegiatan di sana," ucap Kenan menjelaskan.
"Namun sekarang kan tidak ada yang tahu aku siapa, jadi aku bebas mau ikut bergabung di sana, walaupun mungkin hanya bisa memantau saja...!" imbunnya lagi dengan tersenyum kegirangan, membayangkan kehidupan nya yang bebas tanpa sorotan media yang akan selalu membuntutinya.
"Sepertinya senang sekali...?"
tanya Ze yang sudah merapihkan dasi Kenan. Kini tangannya mulai merapihkan jas yang terpasang di tubuh kekar suaminya.
"Ya jelas senang, hidup dalam kebebasan tanpa banyak sorot mata orang orang yang memperhatikan kehidupan kita....!"
jawab Kenan sambil melingkarkan tangan nya ke pinggang Ze, dan menariknya ke pelukannya.
"Bukankah kau juga tidak mau kalau suami tampan mu ini menjadi pusat perhatian wanita wanita di luar sana yang mendambakan sosok pewaris tunggal dari keluarga Wijaya...!" goda Kenan sambil berbisik di telinga Ze.
"Huh narsis sekali....!" umpat Ze sambil mendongkangkan wajah nya melihat wajah Kenan di sampingnya, hingga membuat wajah mereka berdekatan.
"Cup...!"
Bukan Kenan nama nya kalau tidak memanfaatkan kesempatan di saat sedekat itu langsung mencium bibir mungil istrinya.
"Morning Kiss baby....!"
ucap Kenan tersenyum manis sambil mengedipkan sebelah mata nya.
"Waaaaa....! kenapa dia makin menggemaskan sekali....!"
batin Ze sambil memalingkan wajahnya tidak tahan melihat ekspresi suaminya itu.
"Ayo turun...! kita sarapan dulu, aku akan mengantarkan mu dulu ke kampus sebelum pergi ke kantor...!"
Kenan pun mulai meraih tangan Ze dan langsung mengajaknya turun ke bawah.
*
"Pagi anak anak Bunda....!"
sapa Widi, yang sudah duduk di meja makan terlebih dulu dengan Surya.
"Pagi Bun....! pagi Ayah....!"
sapa Ze dan langsung mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan begitupun dengan Kenan yang sudah duduk di samping nya.
Wah sarapan pagi ini menggugah sekali.
dengan cepat Ze pun langsung mengambil makanan nya dan langsung melahapnya.
"Ze....! jangan terlalu banyak makan nya, nanti perutmu sakit...!"
Kenan merasa khawatir mengingat kejadian kemarin saat Ze langsung memuntahkan makanan nya, karena terlalu banyak makan.
"Tidak akan Kak, aku sekarang baik baik saja....!"
kilah Ze.
"Baiklah...! terserah kau saja."
akhirnya Kenan pun mengalah.
Sedangkan Surya dan Widi hanya tersenyum melihat tingkah 2 anaknya.
Setelah di rasa sudah kenyang Ze langsung meraih gelas air minum di depan nya dan langsung meneguknya.
Dan kejadian seperti kemarin pun terulang kembali.
"Kenapa air nya teras hambar sekali, perutku terasa langsung mual....."
batin Ze langsung menutup mulutnya dan langsung berlari ke kamar mandi serasa semua isi dalam perutnya ingin keluar semua.
Surya Widi dan juga Kenan, langsung terkejut dan langsung menghampiri Ze menyusul nya ke kamar mandi.
"Ze kenapa....?"
Kenan yang khawatir langsung menghampiri Ze dan masuk ke dalam.
Sedangkan Surya dan Widi menunggu di luar.
"Air minum nya tidak enak Kak....!"
ucap Ze yang merasa mual tapi tidak memuntahkan apa apa.
"dari kemarin kau terus menyalahkan air nya, padahal jelas jelas kau terlalu banyak makan....!"
umpat Kenan sambil merangkul pundak Ze.
"Air nya Kak, gak enak....!" ucap Ze ngeyel.
"Iya.... iya....! terserah kau saja.....!"
tidak ingin meladeni keras kepala istrinya.
"Udah lebih baik belum...?" tanya Kenan.
__ADS_1
Ze hanya menganggukkan kepalanya, dan Kenan pun langsung mengajaknya keluar.
"Kenapa sayang....?"
Widi dan Surya sudah merasa khawatir langsung menghampiri Ze yang di boyong keluar kamar mandi oleh Kenan.
"Terlalu banyak makan Bun...! jadi nya mual mual...." jawab Kenan sewot.
"Air nya Kak Ken...!" sahut Ze masih ngeyel.
"Memang kenapa...?" tanya Widi malah di buat kebingungan oleh kedua anaknya.
"Dari kemarin dia terlalu banyak makan Bun, jadi pas minum air karena terlalu kenyang, perutnya tidak muat menampung air minum nya, jadinya makanannya langsung keluar lagi...!" ledek Kenan menjelaskan.
"Kak...!" protes Ze sambil memukul lengan Kenan.
"Tapi sekarang tidak apa apa kan...?"
tanya Surya memastikan.
"Tidak apa apa Yah...!" jawab Ze.
"Apa kau tidak enak badan....?"
tanya Widi yang masih khawatir.
''Tidak Bun....! Ze baik baik aja..." jawab Ze.
"Kalau tidak enak badan gak usah masuk Kampus kau istirahat saja....!" timpal Kenan yang sama sama mengkhawatirkan Ze.
"Tidak Kak...! aku baik baik saja Kok. Ini kan hari pertama pelajaran kelas ku, masa aku tidak masuk di hari pertama..."
ucap Ze memohon.
"Terserah kau saja, asal jangan terlalu banyak makan lagi, nati perutmu sakit lagi,
hari ini aku harus ka kantor aku tidak bisa mengawasi mu, kalau kau sampai kenapa kenapa tidak ada yang akan menolong mu...!"
omel Kenan khawatir.
"Iya...! aku akan baik baik saja."
ucap Ze dengan senyum manisnya merasa senang atas perhatian suaminya.
Kini Kenan dan Ze pun langsung berpamitan pada Surya dan Widi untuk segera berangkat ke kampus.
*
Sesampainya di Kampus Kenan langsung mengantar Ze untuk langsung masuk ke dalam, bejalan dengan santai, walau di sekitar mereka, orang orang sudah berbisik membicarakan kedatangan pasutri yang baru masuk ke Kampus, di tambah lagi penampilan Kenan, yang rapi dengan setelan jas membuat para mahasiswa di sana, merasa penasaran siapa Kenan sebenarnya.
Kenan pun langsung menggenggam tangan Ze mengajak menghampiri Rani dan jug Pano yang terlihat sedang duduk di luar ruangan.
"Wah....! Kak ipar rapih sekali, apa gak salah kostum, ngampus dengan penampilan seperti itu...?" tanya Pano heboh saat Kenan berjalan mendekat ke arah mereka.
"Hei loe...! sini....!" ucap Kenan sambil menjentikkan jari nya, menunjuk Pano agar mendekat ke arah nya.
"Mau apa....?" tanya Pano penasaran.
"Aku menyuruhmu ke sini, bukan menyuruhmu bertanya....!" bicara dengan tegas sambil memandang tajam Pano.
Setelah Pano berjalan menghampiri nya, barulah Kenan melepaskan genggaman tangan Ze, dan menyuruh Ze untuk duduk menghampiri Rani.
"Wah...! Kakak ipar bener bener tidak membiarkan ku dekat dekat dengan Ze, sampai menyuruhku ke sini agar Ze bisa duduk di sana..." ucap Pano salut dengan Kenan.
"Jangan banyak bicara, kau menganggap ku Kakak ipar mu kan? jadi kau harus menuruti semua perintah ku..." bicara dengan tegas sambil merangkul leher Pano dan berakhir menggiring nya, sedikit menjauh dari arah Ze dan Rani.
"Hei...! Kakak ipar kau bisa mencekik ku kalau terus seperti ini....!"
protes Pano namun terus mengikuti Kenan.
Akhirnya Kenan pun menghentikan langkahnya namun masih merangkul leher Pano.
"Aku ada urusan, tidak bisa mengikuti pelajaran Kampus hari ini, selama aku tidak ada kau harus menjaga Ze, jangan sampai dia kenapa napa, apalagi sampai di dekati laki laki lain....!" ucap Kenan to the point.
Membuat Pano langsung terkejut mendengar perkataan Kenan.
"Kau percaya pada ku? dan meminta bantuan ku untuk menjaga istri mu...?" tanya Pano dengan memasang senyum di bibir nya.
"Aku memerintah mu bukan memohon bantuan mu, mau tidak mau kau harus melakukan nya, jangan menolak, kalau sampai ada apa apa pada Ze, kau yang harus menanggung akibat nya, kau mengerti!" tegas Kenan sambil sedikit mencekik leher Pano,
membuat Pano meronta ronta kesakitan.
"Iya... iya baik, tapi bisa lepaskan leher ku sekarang, kalau kau terus mencekik ku, bukannya aku menjaga istri mu, yang ada aku akan mati sekarang juga, karena tidak bisa bernafas..." protes Pano sambil merenggangkan tangan Kenan yang melingkar di lehernya.
Kenan pun langsung memasang senyum kecil di bibir nya.
"Dia sedang tidak enak badan, tapi bersikeras ingin kuliah, kalau ada apa apa langsung telepon aku...!" ucap Kenan sambil perlahan melepaskan tangan nya dari leher Pano.
"Sepertinya kau sangat mencintai Ze...?" ucap Pano yang merasa terharu melihat perhatian Kenan pada tenam nya itu.
"Bawel sekali kau...! kalau aku tidak mencintai nya, aku tidak akan menikahi nya bodoh...!"
ucap Kenan jengkel dengan pertanyaan konyol Pano.
"Awas...! kau juga harus menjaga jarak dari istriku...!" tegas Kenan.
"Iya... iya.... aku mengerti." sahut Pano.
"Dan satu lagi yang paling penting, kau jangan sampai membiarkan si Roni mendekati Ze.... kau tau si Roni kan....?"
"Iya tau, dia mantan Ze kan....?" jawab Pano dengan senyum jahilnya.
"Pinter juga loe ya, tapi maksud gua bukan siapa dia...? tapi loe tau gak yang mana orang nya...?" ucap Kenan dengan suara keras sambi menjitak kepala Pano pelan karena merasa jengkel pada nya.
"woi Kakak ipar sakit....!" protes Pano.
"Iya aku tau, dia si ketua Ospek itu kan...!" imbun Pano.
"Hahaha....! bagus, ternyata kau bisa di andalkan...!"
bicara dengan puas, sambil mengajak Pano untuk kembali gabung dengan Ze dan Rani.
"Ze...! aku pergi sekarang, jaga diri mu, jangan terlalu banyak makan lagi, kabari aku kalau mata pelajaran selsai nanti aku jemput....!"
ucap Kenan yang sudah menghampiri Ze dan berdiri di sampingnya.
"baik Kak...!" jawab Ze patuh.
__ADS_1
"Aku pergi dulu....!" pamit Kenan sambil perlahan mengecup kening Ze
dan segera pergi melangkah meninggalkan Kampus.
"Apa mereka tidak sadar ada kita kita yang jomblo di sini, kenapa selalu mengumbar kemesraan di depan kita..." batin Pano sudah melebarkan matanya melihat perlakuan Kenan pada istrinya.
***
Kenan kini sudah sampai di tempat untuk kegiatan bakti sosial.
Pak Anton sudah terlihat berdiri siap di sana, dan langsung menghampiri Kenan yang terlihat baru turun dari mobil nya.
"Pagi Tuan...!" sapa pak Anton sambil membungkuk hormat.
Kenan seperti bias hanya menganggukkan kepalanya menanggapi sapaan sekretaris nya.
"Apa Ayah sudah di sini....?" tanya Kenan.
"Sudah Tuan...! Tuan besar sedang berada di dalam dengan asistennya, beserta setaf jajaran penting nya....!"
jawab Pak Anton menceritakan.
Karena memang acara sosial kali ini Surya sengaja ingin turun sendiri kelapangan, dan di temani dengan seluruh jajaran penting perusahaan nya, sengaja ingin melihat dan memberikan sendiri apa yang akan mereka berikan kepada orang orang yang membutuhkan.
Surya sengaja mengajak seluruh bawahannya agar mereka juga bisa melihat,
merasakan, menyadari, bahwa dalam kehidupan mereka yang bergelimang dengan harta, hidup yang seneng dengan segala fasilitas yang mereka punya. Bahwa di balik kehidupan mewah mereka
masih ada banyak orang di luar sana yang membutuhkan uluran tangan mereka.
Mereka yang hidup susah dengan segala keterbatasan mereka, bahkan tidak sedikit dari mereka yang harus kelaparan karena segala kekurangan nya.
Maka saat Surya mengadakan kegiatan ini, ia berpikir semoga saja kegiatan bakti sosial ini bisa meringankan beban mereka yang kesusahan, dan bisa membuka hati orang orang kaya supaya mereka bisa menyisihkan harta mereka untuk di sedekah kan kepada orang yang membutuhkan.
~
"Apa Tuan Muda yakin ingin ikut bergabung dengan Tuan Besar dalam kegiatan ini...? di sini banyak media yang akan meliput kegiatan ini Tuan, apalagi di saat mereka tau kalau Tuan Besar sendiri yang akan turun langsung, semua wartawan dari berbagai media, berbondong bondong ingin meliput kegiatan sosial ini....?" tanya Pak Anton heran karena biasanya Tuan Muda nya itu paling tidak suka dengan yang namanya wartawan.
"Aku hanya ingin melihat saja, lagi pula semua orang di sini kan tidak ada yang tahu, kalau aku anak Ayah, aku sudah bicara pada Ayah agar Ayah tidak menganggap ku anaknya saat di sini...." ucap Kenan dengan begitu santai.
"Ayo masuk...." seru Kenan sambil perlahan berjalan masuk ke dalam.
Pak Anton hanya menggelengkan kepalanya heran menanggapi semua kemauan Tuan Muda nya itu, dan langsung mengikutinya di belakang.
***
Keadaan di Kampus Rani Ze dan Pano, sedang duduk santai di kantin Kampus,
duduk sambil menyantap makan siang mereka.
Seperti bias Ze dengan lahapnya menyantap makanan nya.
Pano yang melihat Ze makan dengan lahapnya hanya menggelengkan kepalanya heran.
"Bukannya dia sedang tidak enak badan....? tapi kenapa selera makannya tinggi sekali...." batin Pano heran.
"Bi nambah satu mangkuk lagi ya...!" pinta Ze pada pelayan kantin.
"Ze...! apa loe masih belum kenyang, loe udah habis 2 mangkuk bakso, dan sekarang mau nambah lagi, loe doyan apa kelaparan hah...?"
tanya Rani heboh.
"Ze....! suami mu tidak pernah memberi loe makan ya...!" timpal Pano meledek nimbrung pembicaraan Rani.
"Ini enak banget, membuat ku ingin nambah terus....!" ucap Ze dengan tersenyum yang di buat buat.
"Ze....! gue gak akan tanggung jawab ya, kalau terjadi sesuatu, kalau suami loe marah, loe tanggung sendiri ya akibatnya."
ucap Pano mengingat perkataan Kenan yang menitipkan Ze pada nya.
"Tidak akan Pan, gue tidak akan apa apa...."
timpal Ze mencari aman.
Tiba-tiba tiba saat mereka sedang asyik makan terlihat Martin dan juga Roni berjalan ke arah mereka.
"Wah rame sekali nih, boleh gabungkan....?"
ucap Martin yang sudah mendudukkan badannya di meja tempat mereka makan di ikuti Roni yang juga duduk di samping Martin.
"Woi siapa yang nyuruh kalian duduk di sini...?!" sewot Pano kesal apalagi melihat Roni yang malah duduk berhadapan dengan Ze.
"Wah loe anak ingusan, sewot amat loe...!! cuma gabung duduk saja pelit amat, kita hanya ingin nanyain suaminya Ze, Kenapa hari ini dia tidak masuk kampus....?"
sewot Martin sambil melirik ke arah Ze yang masih fokus dengan makanannya tidak mempedulikan kedatangan Martin dan Roni yang sudah duduk di depannya.
"Dia ada urusan jadi tidak bisa masuk kampus....!"
Pano yang malah menjawab dengan cepat.
"Woi gue nanya sama Ze bukan nanya loe...!"
sewot Martin yang meladeni pembicaraan Pano.
Sedangkan Roni masih anteng terdiam, terus menatap Ze yang ada di depannya.
"Sudah lama sekali aku tidak menatap mu sedekat ini Ze, kau terlihat makin cantik sekarang...."
batin Roni yang terus menatap lekat Ze, namun Ze tidak menyadari nya karena masih fokus dengan makanannya.
Pano yang sedang sibuk meladeni perkataan Martin tidak menyadari apa yang di lakukan Roni di depannya.
"Tidak penting Siapa yang menjawab, yang penting jawabannya, bukankah kalian hanya ingin tahu kemana suami Ze sampai tidak masuk kuliah...!? dan jawaban nya udah ku jawab...!" ucap enteng Pano sambil melihat sinis ke arah Martin.
"Hei...! apa kalian bisa diam, kenapa berisik sekali hah...!" seru Ze dengan suara kerasnya yang tiba tiba, membuat semua yang ada di sana langsung terdiam, dan langsung melihat ke arahnya. Merasa terkejut dengan perkataan Ze.
"Apa dia marah...? si gadis cengeng yang suka nangis, ternyata bisa marah juga....?"
batin Pano terkejut merasa tersentak karena memang dari tadi dia yang terus berisik berdebat dengan Martin.
"Kenapa situasinya tidak asing, aku merasa situasi ini seperti Kenan yang sedang marah karena merasa terganggu oleh orang di sekitarnya."
batin Martin melohok, melihat ekspresi Ze yang menakutkan, tapi masih fokus dengan makanannya.
"Dari dulu aku tidak pernah melihatnya semarah ini....!" batin Roni yang sama sama terkejut mendengar perkataan Ze yang terdengar menakutkan.
Sedangkan Rani hanya tersenyum cengengesan melihat ekspresi 3 laki laki yang sedang melohok di depannya.
__ADS_1