
Kenan kini sudah sampai di kantor Arya,
mobilnya melaju menuju area palkiran,
pandangan nya langsung tertuju pada sekretarisnya yang sudah siap menyapanya. Karena memang Kenan sudah menyuruh pak Anton untuk terlebih dulu berangkat ke sini.
Kenan pun langsung bergegas turun, dan langsung di sambut dengan bungkukan hormat pak Anton.
" Selamat pagi Tuan....!"
sapa pak Anton sambil mengisaratkan agar Kenan berjalan terlebih dulu.
Dan seperti biasa Kenan hanya menjawab dengan anggukan kepalanya,
sambil terus berjalan ke arah pintu utama kantor.
Apakah Tuan besar belum menceritakan semuanya pada tuan muda....?
sepertinya Tuan Muda terlihat biasa saja.
batin pak Anton yang heran melihat ekpresi Tuan nya yang tak mudah di tebak, padahal dirinya sudah ketakutan karena telah melakukan kesalahan besar berani bekerja sama dengan Surya untuk mengerjai Kenan.
Kenan dan pak Anton pun langsung masuk dan menemui Arya yang sudah menunggunya di ruangan kerja Arya.
Dan setelah beberapa jam mereka berada di ruangan Arya,
mereka keluar bersama dengan hasil kerja sama antara Arya dan Kenan, bahwa Kenan kini akan bergabung di perusahaan Arya, sebagai generale manager yang di tempatkan di sebuah hotel yang terletak di pusat kota.
Bukan tanpa alasan Arya memilih Kenan, meskipun di usianya yang cukup muda.
Kenan sudah memiliki kinerja kerja yang sangat bagus, itu terbukti waktu arya mengunjungi Kenan saat ada di Surabaya.
Kenan dan Pak Anton di temani oleh salah satu suruhan Arya untuk mengantar mereka ke hotel yang di maksud, sambil menjelaskan tentang rincian dari hotel tersebut.
Saat di perjalanan pulang dari hotel, mata Kenan tertuju pada sebuah bangunan besar megah dengan luas yang cukup panjang, hingga membuat nya penasaran dan ingin mengetahuinya.
"Bangunan apa itu, terlihat seperti
kampus...?"
Tanya Kenan pada Anton yang sedang menjalankan kemudui mobil di depannya.
" Iya Tuan...! itu adalah kampus paling besar di kota ini, kampus yang populer bagi kalangan orang orang kaya...!"
jawaban Pak Anton membuat Kenan memasang seringai di wajahnya.
"Sepertinya aku harus pindah ke sini, bukankah akan merepotkan jika aku harus pulang pergi Jakarta Surabaya...?!"
ujar Kenan dengan begitu santainya, sedangkan pak anton yang mendengarnya merasa kaget dan heran.
"Sajak kapan Tuan Muda berubah pikiran...?! bukan kah dari dulu anda sangat tak ingin tinggal di Jakarta, gara gara Tuan Besar yang selalu membahas perjodohan dengan anda!! tapi kenapa sekarang malah anda sendiri yang ingin tingggl di sini lagi....? "
batin pak Anton sambil terdiam heran.
"Kenapa diam...?! aku bicara bukan hanya untuk di dengarkan saja, tapi harus di laksanakan, kau mengerti kan...!?"
suara keras kenan membuat Pak Anton menciut ketakutan.
"Baik Tuan....! saya akan mengurus semuanya...."
jawab Pak Anton dengan sigap karena takut melakukan kesalahan lagi.
Setelah menyadari waktu yang sudah siang, Kenan mengingat sesuatu dan langsung menyuruh pak Anton menghentikan mobilnya.
"Berhenti di sini...!" suara Kenan membuat Pak Anton terkejut karena di hentikan tiba tiba.
"Kenapa Tuan...?! " Pak Anton merasa bingung karena di suruh berhenti, di tempat sepi yang tidak ada apa pun.
"Aku menyuruhmu berhenti....! bukan menyuruhmu untuk bertanya," seru kenan dengan suar keras.
" Baik Tuan...!" jawab Pak Anton sambil meminggirkan mobilnya di tepi jalan.
"Turun....!"
Kenan turun dari mobil sambil memerintahkan pada Pak Anton untuk turun mengukutinya.
"Mana dompet dan hp mu....?!" Kenan bertanya sambil mengulurkan tangan dan menjentilkan jarinya,
__ADS_1
mengisyaratkan agar Pak Anton memberikan dempet dan hp nya pada Kenan.
Dengan replek Pak Anton mengambil dompet dan hp dari saku celana nya dan langsung di berika pada Kenan.
"Mobil mu di kantor Tuan Arya bukan...?! " pertanyaan kenan membuat Pak Anton merasa aneh dengan perlakuan Tuan nya.
" Iya Tuan....!" jawab Pak Anton yang semakin kebingungan.
"Aku ada urusan sebentar, kau masih punya kaki kan untuk berjalan...?! kantor Tuan Arya kan sudah dekat,"
dengan santainya Kenan berbicara sambil masuk ke dalam mobil mengambil alih kemudi yang tadi di jalankan oleh Pak Anton.
Berbeda dengan Pak Anton yang sudah kalang kabut ke bingungan mendengar perintah dari Tuan nya.
" Tapi Tuan....?"
Pak Anton mencoba menghentikan Kenan yang kini sudah menyalakan mobil, meminta penjelasan dengan semua yang telah Kenan lakukan.
" Ini hukuman untukmu, karena berani mempermainkan ku...!" seru Kenan dengan suara keras.
"Sial...! ternyata Tuan Muda sudah mengetahui kebenarannya. Pantesan dari tadi aku merasa ada yang aneh dengan Tuan Muda, ternyata dari tadi Tuan merencanakan sesuatu untuk menghukumku, memang anda hebat dalam rangka hukum menghukum
tak pernah mengenal belas kasih."
batin Pak Anton yang langsung tertunduk karena mengakui kesalahan nya.
"Kalau kau sudah membawa moboimu, ambil dompet dan hpmu ke rumahku....!
selamat berolahraga...!" seru Kenan sambil tersenyum sinis dan langsung menjalankan mobilnya.
"Memang sempurna penderitaanku, anda sengaja mengbil dompet dan hpku agar aku tidak bisa memanggil pertolongan dan naik taksi, karena uang dan kartu kreditku ada di sana semua."
kata Pak Anton yang sedang meratapi nasibnya di tinggalkan di tengah jalan tanpa bisa menghubungi siapa pun dan tidak mempunyai sepeser uang sedikit pun.
***
Setelah beberapa waktu yang agak lama kini Kenan sudah sampai di tempat tujuannya, tempat itu tak lain adalah sekolahan nya Ze.
Kenan yang sudah berdiri menyandarkan badan di mobilnya , sambil melihat jam yang melingkar di tangan nya.
"Biasanya jam segini sudah keluar..."
Setelah beberapa lama terdengarlah bunyi bel pulang sekolah, murid murid berhamburan keluar gerbang sekolah dan pulang ke rumah masing masing,
Kenan yang tadinya menyandarkan badannya pada mobil kini dia berdiri tegak, menengok kiri kanan, mencari sosok wanita yang akan ia temui, takut wanita itu akan lari dari hadapan nya,
tiba tiba senyum kecil muncul di wajahnya saat melihat sosok wanita yang sedari ia tunggu telah muncul keluar dari pintu gerbang sekolah.
"Apa aku gak salah lihat...?! apa yang sedang dia lakukan disini...? apa aku pura pura tidak melihatnya saja ya...?"
ujar Ze kaget saat melihat Kenan yang ada di depan sekolahnya.
Dengan langkah pelannya Ze berjalan melewati gerbang sekolah, dan hendak berlalu meninggalkan Kenan, yang sudah berdiri dari tadi sedang menjemputnya.
"Apa kau tidak melihatku disini...?!"
perkataan Kenan yang di tujukan untuk Ze tapi tak di tanggapi oleh Ze sama sekali, Ze malah terus melangkah menjauhi Kenan.
"Hai...! apa kau tidak melihat calon suamimu di sini...?"
perkataan keras kenan membuta Ze replek menghampiri Kenan dan langsung mendekap mutul kenan dengan kedua tangannya, agar dia tidak berbicara macam macam lagi.
"Hei...! jaga bicaramu...! kenapa seenaknya sekai kalau bicara, ini di tempat umum kalau orang orang mendengarnya aku bakal langsung jadi bahan gosipan mereka....!"
Perkataan Ze yang nyeroscis menceramahi Kenan, sambil nengok kiri kanan melihat keadaan sekitarnya takut ada orang yang mendengarnya.
"Untung saja sudah sepi jadi tidak ada orang yang mendengarnya...."
ujar Ze yang sudah melihat keadaan sekitarnya dan hatinya sedikit tenang karena tak ada siapa siapa yang mendengar kata kata Kenan.
kenan yang di kagetkan dengan tingkah Ze yang tiba tiba mendekap mulutnya hanya bisa diam, sambil melihat jelas wajah cantik Ze yang lagi cemas karena ulahnya.
"Hai...! apa kau sadar apa yang sedang kau lakukan...?! aku ini laki laki normal...! kenapa kau selalu saja menjebakku dengan keadaan seperti ini."
batin kenan yang lagi lagi merasakam perasaan yang aneh dalam dirinya.
Karena sudah tidak bisa menahan lagi hasratnya, Kenan mulai meraih tangan Ze yang dari tadi mendekap mulutnya,
__ADS_1
di turunkan lah tangan Ze oleh ke dua tangan Kenan dan dia simpan di belakang pinggang Ze, dan di pegang erat oleh satu tangan nya, dan satu tangan nya lagi memegang dagu Ze mengangkatkan wajahnya agar Kenan bisa melihat dengan jelas ekperlsi wajah Ze.
"Apa kah kau secandu itu menempel pada badanku...?!" ujar kenan sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Ze.
" Hei...! jangan macam macam ya! ini tempat umum. Aku akan berteriak agar orang orang mengeroyokomu....!"
Ze yang sudah ketakutan, takutnya Kenan akan berbuat macam macam.
" Kenapa harus berteriak, bukankah ini yang kau inginkan...!"
Kenan semakin mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka sengatlah dekat.
Ze pun memejamkan matanya karena ketakutan.
Namun tiba tiba sentilan keras mendarat di jidat Ze, hingga membuat Ze langsung membukakan lagi maatanya.
" Hai gadis bodoh....! apa yang kau pikirkan?! aku bukan laki laki biadab yang akan memanpaatkan kesempatan dalam kesempitan, buang jauh jauh pikiran mesum mu."
seru Kenan sambil melepaskan kedua tangannya.
"Siapa yang berpikiran mesum, aku hanya ketakutan tau...!"
kilah Ze merasa malu karena kebodohannya.
"Kenapa harus takut, lagi pula aku tidak akan berani menyentuhmu sebelum kau sah menjadi istriku."
ujar Kenan dengan nada datarnya dan di akhiri dengan senyum jahilnya.
"Hai!! kenapa kau lagi lagi tak bisa menjaga kata katamu si, sesantai itu kau bicara. rasanya aku ingin menggali lubang saja untuk bersembunyi karena malu."
batin Ze. dan langsung merah merona menahan malu.
Kenan yang melihatnya hanya bisa menahan tawanya, karena merasa gemas melihat tingkah Ze yang malu malu, membuat Kenan ingin sekali mencubit pipinya, tapi malah di lampiaskan dengan menjentikkan jari pada jidatnya.
"Jangan melamun terus...! yu pulang...! Ibu mu menyuruhku untuk menjemput mu..!"
ujar Kenan menyuruh Ze masuk mobil mengajaknya pulang.
"Hai kenapa kau malah menjentil jidat ku lagi?! sakit tau...!"
rengek Ze pada Kenan yang lagi lagi menjentil jidatnya.
"Sengaja agar kau sadar!! tidak jadi gadis bodoh terus."
ujar Kenan yang sudah duduk di dalam sambil cengengesan.
Ze pun masuk ke dalam mobil, dan saat sudah duduk dengan nyaman tiba tiba dia teringat kata kata Kenan
"Ibu mu menyuruh ku menjemputmu...!"
"Hei apa tadi maksud ibu menyuruhmu menjemputku....?"
tanya Ze yang masih bingung mendengar perkataan Kenan.
"Sebodoh itu kau sampai tak menyadarinya...?
apa kau tidak curiga saat tadi pagi Ibu mu menyuruhmu mengantarkan makanan ke rumah ku....!
mungin mereka telah merencanakan semuanya untuk mempertukan kita
di rumah."
ujar Kenan menjelaskan.
"Aaaaa kenapa Ibu tega sekali mengerjai anakmu sendiri...."
Batin Ze kesal sambil mengepalkan tangannya ingin rasanya ia melampiaskan kekesalannya dengan memukul sesuatu.
Kenan yang melihatnya pun hanya bisa tersenyum melihat kekonyolan calon istrinya itu.
.
.
.
.
__ADS_1
janan lupa like ya. ππ
terimakasih. πππ