
Pano masih menatap lekat pada Kenan.
melihat dari atas rambut sampai ujung kaki tanpa mengedipkan mata nya.
dengan berdiri mematung tidak percaya kalau teman lama nya itu sekarang sudah menikah, dengan lelaki di hadapannya yang menurutnya sangat menyeramkan.
"Ze,, apa dia benar suamimu?"
bisik Pano yang kini dia sudah berdiri di dekat Ze,
tanpa mempedulikan sorot tajam mata kesal Kenan yang tidak henti menatap Pano.
"masih gak percaya gue kalau si Ze, udah nikah ma laki laki menakutkan seperti dia"
batin Pano menggelengkan kepalanya heran
mengingat Ze dulu yang suka cengeng kini dia malah menikah dengan laki laki yang beraura kejam.
membuat Ze tersenyum kecil melihat teman nya yang melohok heran melihat suaminya.dan langsung menganggukkan kepalanya.
Kenan yang melihat kedekatan Pano dan Ze langsung melangkah memisahkan mereka.
dan perlahan menarik tangan Ze. dan ia sembunyikan di balik tubuhnya.
"hei,, bukan kah sudah ku peringatkan jangan dekat dekat dengan Ze"
bicara dengan sinis menatap Pano, kini Kenan sudah berdiri menghalangi jarak antara Pano dengan Ze, dan langsung menyembunyikan Ze di balik tubuh nya,
membuat Ze tersenyum kecil melihat kecemburuan Kenan.
"hei, , jangan terlalu posesif ,,! Aku dan Ze hanya teman, Kenapa kau cemburuan sekali,,,"
ujar Pano bicara dengan santai nya, sambil tersenyum kecil ke arah Kenan.
sepertinya dia sangat mencintai Ze, dia sampai se cemburu itu, melihat aku dekat dengan Ze sampai memasang wajah yang menyeramkan,, hahaha
sepertinya akan seru sekali kalau aku terus menggoda si Ze dan membuat nya marah
batin Pano sudah cengengesan, sambil menengok kan kepalanya ingin melihat Ze,
namun terhalang dengan badan kekar Kenan.
"meskipun kau teman Ze, namun antara wanita dan laki laki, tidak ada hubungan teman sedekat ini, kau harus menjaga jarak dari Ze, kau mengerti kan!!"
ucap Kenan menegaskan. sambil merangkul pinggang Ze, dan memeluknya erat di samping nya.
perkataan Kenan yang tegas, membuat
Pano dan Ze terpelonjak, merasa terkejut mendengar nya,
karena perkataan Kenan mengingatkan mereka pada sosok yang selalu menceramahi mereka, di saat mereka dulu main bersama dengan begitu dekatnya. Dia selalu menjadi jarak diantara Ze dan Pano,
berbicara dengan tegas seakan
menggambarkan kecemasan sosok Kakak yang selalu melindungi adiknya.,
berkata sama persis dengan apa yang Kenan katakan barusan.
bahwa di antara wanita dan laki laki, tidak sepantasnya berteman sampai dengan begitu dekatnya. itulah yang membuat Ze dan Pano mengingat masa masa cerita mereka, sebelum sosok yang selalu menceramahi mereka, pergi untuk selama lama nya, hingga membuat duka di hati mereka.
"apa aku bicara terlalu kasar?? kenapa ekspresi mereka jadi berubah seperti itu?"
batin Kenan dengan terus menatap Pano, dan beralih melirik Ze yang ada di samping nya.
"Ze,, apa dia rengkarnasi dari Kakakmu?? kenapa sikap dan kata katanya sama persis dengan Kak Klaudia yang selalu menceramahi ku, saat dulu aku dekat dekat dengan mu?"
tanya Pano yang merasa kaget dengan perkataan Kenan, membuat Nya tidak sadar bertanya, sampai menyebutkan nama Klaudia,
yang merupakan sosok Kakak yang selalu di bangga kan, dan selalu di rindukan oleh mereka, terutama Ze, yang merupakan adik kandungnya.
hingga pertanyaan Pano itu
membuat Ze dan Kenan langsung tertegun
mendengarnya.
"Kakak,,"
Batin Ze , sambil menundukkan kepalanya mengingat kembali sosok Kakak yang selalu menjaga dan menyayangi nya.
berbeda dengan batin Kenan menyebutkan nama. "Kalaudia" dia menahan perasaan bersalah dalam hati nya. sampai tidak sadar menjatuhkan pegangan tangan nya, yang tadinya menempel erat di pinggang Ze, kini langsung terjatuh terkulai lemas serasa tidak mempunyai tenaga. mengingat kesalahan lama nya.
Pano yang menyadari kesalahan dalam perkataan nya, dia langsung berusaha mencairkan suasana, memilih kata yang pas untuk mengalikan ketegangan di sana.
namun di waktu yang sangat tepat terlihat Rani yang baru datang memasuki area kampus dan langsung berjalan menghampiri ke arah mereka.
"pagi Ze,,"
sapa Rani yang sudah berdiri di dekat Ze, dan matanya langsung melihat sosok laki laki yang ada di depan nya.
"sepertinya dia tidak asing" batin Rani
"apa dia Rani" batin Pano.
dan setelah sedikit lama mereka saling menatap, kini mereka pun menyadari satu sama lain.
Rani,,,
Pano,,
dengan bersamaan mereka saling memanggil satu sama lain, dan langsung berpelukan, melepaskan kerinduan mereka. dengan tersenyum kegirangan.
"akh,, memang benar benar teman masa kecil yang alai"
batin Martin, yang menatap sinis kepada Rani dan Pano, yang sedang berpelukan.
"hei Culun ,,! ini benar benar loe"
sapa Rani yang sudah melepaskan pelukannya, merasa senang bisa bertemu lagi dengan Pano teman lamanya.
Roni dan Martin yang dari tadi hanya berdiri jadi penonton saja, kini mereka mulai tertawa puasa, karena mendengar Rani yang memanggil anak ingusan itu dengan sebutan Culun.
"hei,, anak bar bar,,, apa kau tidak punya mata?? kau masih mengataiku culun,, saat sudah melihat penampilan ku yang seperti ini,!"
__ADS_1
ujar Pano kesal
mengingat ledekan Rani yang sedari dulu mengatainya culun dan tidak berubah sampai sekarang.
"hahaha,, Ze ternyata si Pano sudah berubah ya, dia bukan anak culun yang selalu ngikut ngikut loe lagi"
sahut Rani, yang masih sibuk dengan tawanya. sambil menghampiri Ze dan berdiri di samping nya.
membuat Ze pun ikut tertawa melihat perdebatan Rani dengan Pano yang masih sama seperti dulu.
"wah kalian memang dua gadis menyebalkan"
ucap Pano
"bagaimana kalau kita bicara sambil duduk aja, rasanya kakiku sangat pegal kalau harus berdiri terus, "
imbun Pano, yang sudah berdiri di tengah tengah Rani dan Ze, dengan santai nya merangkul pundak mereka, dan mengajak nya pergi dari sana.
tidak mempedulikan 3 sorot mata tajam yang sedari tadi menatap ke arah Pano.
"wah ni anak benar benar gak tau diri ya"
batin Kenan yang dengan cepat melepaskan tangan Pano dari pundak Ze, dan langsung menarik Ze ke sampingan nya.
tanpa bicara, Kenan hanya menatap sinis Pano karena tidak ingin berdebat dengan nya.
"Ze,,, bisa bilang pada nya kalau kita hanya sebatas temen,, dia tidak usah cemburu pada ku,,!!! aku hanya ingin berbincang saja, kenapa reaksinya berlebihan, kekanak-kanakan sekali"
bicara seakan akan bicara pada Ze, namun matanya terus menatap Kenan. dengan memasang seringai di bibirnya.
membuat Kenan mengepalkan tangannya geram, merasa kesal melihat tingkah anak kecil di depannya.
kenapa Ze, bisa punya teman yang menyebalkan seperti dia
Kenan yang makin kesal langsung melangkah mendekati Pano, rasa nya ingin sekali dia menjitak kepala anak kecil itu.
namun dengan cepat Ze langsung menarik tangan Kenan. sudah tau bahwa suaminya itu sangat kesal pada temannya.
"biarkan saja Kak, dari dulu dia memang selalu menjengkelkan, tidak usah di anggap."
ledek Ze, sambil mendongkang kan kepalanya melihat ke arah Pano.
dengan memasang senyum kecil nya.
"hei anak cengeng!! dulu loe suka nangis nangis datang menghampiri ku minta di hibur, sekarang setelah sekian lama loe langsung melupakan jasa gue dan malah mengataiku menjengkelkan. bener bener loe ya,"
"Ran,,, apa sekarang loe juga selalu di abaikan oleh nya??"
dengan terus mengoceh Pano terus saja melihat kebaradaan Ze di balik tubuh Kenan.
namun dengan cepat Kenan langsung memegang dua pundak Pano, dan membalikkan badan, mengarah kan nya pada Rani.
sedangkan Roni dan Martin hanya diam tanpa kata, sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah bocah ingusan yang banyak tingkah itu.
"loe, sedang ada urusan kan sama mereka!! cepat sana pergi"
dengan enteng nya Kenan membalikkan badan Pano, karena memang ukuran badan Pano lebih kecil dari ukuran badan nya.
"hei ,,gue masih ingin bicara sama Ze, "
"jangan banyak bicara, cepat pergi sana"
omel Kenan, sambil terus mendorong badan Pano, dengan tangan yang satunya lagi menahan kepala Pano, agar dia tidak bisa menoleh lagi ke belakang.
"ini anak didik kalian kan,, cepat bawa dia pergi, mata gue sakit kalau harus terus melihatnya."
ucap Kenan sambil mendorong pelan badan Pano ke arah Martin, dengan cepat Martin pun langsung merangkul pundak Pano, dan langsung menarik nya, masuk ke dalam.
"woi,, lepas gue bisa jalan sendiri"
ujar Pano yang sudah melepaskan diri dari rangkulan Martin, kini dia berjalan mendekati Rani, dan langsung merangkul pundak nya.
"wah ni anak benar benar ngeselin,, "
ucap Martin dan langsung menarik lagi tangan Pano dan menjauhkan nya dari badan Rani.
"bukankah loe mau keliling Kampus,! biar gue yang temani"
ujar Martin yang sudah memisahkan Rani dan Pano dan berdiri di tengah tengah mereka.
"woi apa apaan ini," protes Pano, merasa risi karena tangan Martin dengan keras nya memegang bahu nya.
"jangan banyak bicara ayo jalan aja,"
seru Martin sambil terus berjalan mengajak Pano masuk ke dalam.
membuat Rani pun ikut keheranan melihat tingkah Martin, yang tiba tiba menjauhkan Pano dari sampingnya,
dan kini malah Martin yang ada di sampingnya.
kini tinggal Kenan dan Ze yang berapa di sana, Kenan langsung membalikkan badan nya dan langsung menatap Ze dengan penuh tanda tanya.
"hei yangk ,,, jangan menatap ku seperti itu, menakutkan sekali"
ucap Ze berbicara dengan manisnya, sudah tau bahwa suaminya itu pasti akan menginterogasi nya.
kau memang paling bisa meluluhkan ku Zepania.
batin Kenan sambil perlahan mendekati Ze dengan memasang senyum kecil nya, karena melihat wajah Ze yang sudah memperlihatkan wajah semanis manis nya.
berusaha merayu nya.
"kenapa memasang wajah semanis itu?? kau merasa punya salah pada ku"
ujar Kenan dengan tangan yang sudah menggelitik pinggang Ze mencoba untuk menghukumnya.
"Kak Ken,, lepasin geli Kak,,"
dengan memohon Ze sudah menggeliat sana sini tapi Kenan tidak kunjung menghentikan kegiatan nya.
"bisa ceritakan kenapa kamu bisa punya teman se menyebalkan dia?"
tanya Kenan dengan tersenyum senang
__ADS_1
melihat Ze yang sudah tertawa terpingkal pingkal menahan geli karena ulah nya.
"iya,,iya akan ku ceritakan, tapi lepasin dulu"
karena sudah puas mengerjai Ze, Kenan pun langsung menghentikan pergerakan nya, dan langsung menarik tangan Ze mengajaknya duduk, untuk mendengar kan cerita nya.
"kau bisa ceritakan sekarang"
seru Kenan karena memang penasaran kenapa Pano juga mengenal dekat Klaudia, sampai membanding bandingkan sosok
Klaudia dengan nya.
Kenan mulai melingkar kan tangannya di perut Ze, menyandarkan kepala Ze di bahunya. membiarkan Ze duduk nyaman, untuk memulai ceritanya.
"aku Rani dan Pano, saat SD kami selalu main bersama, main sewajarnya anak kecil pada umumnya. berlari, bercanda, begitulah keseharian kami, saat di sekolah.
semakin hari kami semakin dekat, kemana mana selalu bersama, seperti 3 sekawanan yang tidak bisa di pisahkan. kami berpisah hanya saat pulang ke rumah.
kami selalu duduk bersama di depan gerbang sekolah, menunggu jemputan yang akan menjemput kita.
saat itu Kakak lah yang selalu menjemput ku, dan saat itu pula kita langsung di ceramahi Kakak,
Kakak selalu berkata walaupun kita teman dekat, tapi harus bisa menjaga jarak.
karena "antara wanita dan laki laki tidak ada hubungan teman yang sedekat ini"
itulah yang selalu Kakak katakan saat melihat kami sedang main dan saling merangkul satu sama lain.
dengan cepat Kakak selalu saja menarik ku, dan menjadi jarak diantara kita. namun meskipun begitu itulah yang membuat Pano mengingat sosok Kakak, sosok yang selalu menjaga dan melindungi adiknya,
hingga saat Kakak pergi untuk selamanya, membuat kami selalu mengenang nya. aku berubah jadi pendiam dan murung, karena selalu merindukan nya,
dan di masa masa itulah, Pano dan Rani yang selalu ada di samping ku, menghibur dan menenangkan ku, mengeluarkan ku dari masa keterpurukan ku, di saat di tinggalkan Kakak untuk selamanya.
sampai aku sedikit bisa lebih tenang dan mengikhlaskan kepergian Kakak, walau masih banyak sekali kenangan yang belum bisa aku lupakan."
ucap Ze menceritakan.
Kenan yang mendengarkan cerita Ze, kini dia makin merasakan sesak di dadanya, menahan rasa bersalah mengingat semua kesalahan nya. masa lalunya tanpa di ketahui oleh Ze yang sangat meres kehilangan Kakaknya, yang pergi selamanya karena kesalahan Kenan.
tangan nya kini mulai membelai lembut kepal Ze, mengecupnya berkali kali berusaha mengalihkan rasa bersalah nya. ingin rasanya dia mengutarakan semua isi hatinya,
namun bibir nya terus membungkam tidak kuasa untuk mengatakan yang sebenarnya.
rasa sayang dan cinta nya pada Ze, membuat Kenan terbungkam takut jika Ze akan pergi meninggalkan nya, dan akan berbalik membenci nya, jika Ze mengetahui yang sebenarnya.
"maaf,,maaf,, aku memang terlalu egois Ze, aku memang tidak pantas berada di samping mu,, tapi ijinkan aku untuk terus mencintaimu, biarkan aku terus ada di samping mu, menyayangimu dan menjaga mu seumur hidup ku Ze,, walaupun itu tidak akan bisa menebus kesalahan ku, tapi setidaknya aku bisa tenang bila bisa melihat mu bahagia.
maafkan aku Zepania,, itu semua kesalahan ku"
batin Kenan berucap lirih, dan kini dia mulai memeluk Ze memeluknya makin erat, rasanya dia tidak ingin melepaskan pelukan itu, takut Ze akan pergi meninggalkan nya.
Ze yang menyadari perubahan tingkah Kenan, merasa kan kehangatan pelukan Kenan, kini dia mulai menyandarkan kepalanya dalam pelukan Kenan.
"aku tidak apa apa Kak,, aku sudah mengikhlaskan kepergian Kak Klaudia, aku tidak sedih lagi, sekarang aku sudah bahagia dengan kehidupan baru ku karena kehadiran Kak Ken di sisiku,"
ucap Ze yang sedang bersandar di pelukan Kenan, dengan tangan terus mengelus dada bidang Kenan.
"aku tadi sampat terkejut mendengar perkataan Kak Ken, yang sama persis dengan yang selalu di ucapkan Kakak.
membuatku meresakan kembali sosok Kak Klaudia yang selalu ada untuk menjaga ku,"
imbun Ze sambil mendongkangkan wajah nya melihat ke arah wajah Kenan.
hingga pandangan mereka saling bertemu, membuat Ze bisa melihat jelas mata Kenan yang sudah berkaca kaca, menahan rasa sakit yang merupakan kesalahan yang di perbuatnya.
"maaf"
tanpa sadar kata itu lolos dari mulut Kenan.
"kenapa malah minta maaf?!,, "
ucap Ze dengan tangan yang sudah mengusap lembut mata Kenan.
"maaf karena aku telah menyakiti mu"
bicara dengan suara terendah nya, sambil perlahan mengecup kening Ze...
"kenapa bicar seperti itu,, Kak Ken tidak pernah menyakiti ku, justru kehadiran Kak Ken membuat ku merasakan kenyamana, dan ketenangan yang sudah lama tidak aku rasakan saat aku berada di samping Kak Klaudia dulu,
Kak Ken Masih ingatkan saat pertama kali kita bertemu dulu di Surabaya, saat itu kita terjebak di kegelapan lift, saat itu aku merasa takut dan tanpa sadar langsung memeluk Kak Ken, saat itu aku merasakan ketenangan yang selalu Kak Klaudia berikan kepadaku.
saat Kak Ken, pertama kali menyuruh ku untuk tidur di pangkuan mu, aku merasakan belaian lembut Kakak, saat saat dia membelai ku dan menidurkan ku di pangkuan nya.
terimakasih sudah hadir di kehidupan ku, dan melengkapi kebahagiaan ku, terimakasih telah menjadi sosok Kakak sekaligus suami yang selalu menjaga dan menyayangi ku,
I love you my husband
ucap Ze dengan tersenyum manis sambil menatap wajah Kenan.
seharusnya aku senang mendengarkan nya, tapi kenapa malah terasa sakit sekali,,
apa kau akan terus mencintaiku walaupun kamu mengetahui kebenaran nya Ze??
apakah aku pantas di cintai oleh mu Ze!??
maafkan aku, maafkan aku karena terlalu egois, aku juga mencintai mu Zepania, aku tidak ingin kau pergi meninggal ku.
batin Kenan dengan terus menahan Sakit di dadanya, kini tangan nya mulai membelai lembut wajah Ze, mengangkat nya pelan, dan mulai menundukkan kepalanya, memposisikan wajah nya dan kini dia mulai mencium lembut bibir Ze,
berusaha menghilangkan semua rasa kegelisahan nya, dan meluapkan semua rasa sayang nya pada istrinya itu.
"maafkan aku Zepania, maafkan aku tidak bisa jujur pada mu, aku takut kau akan meninggal ku, biarkan aku yang merasakan sakit atas semua penyesalan ku, aku mencintai mu"
batin Kenan kini dia makin memperdalam ciuman nya, meluapkan semua rasa sayang nya, dengan sentuhan lembut bibir nya dan makin memperdalam ciuman nya, membuat Ze terbuai dan mempererat pelukannya.
berusaha menghilangkan kecemasannya walaupun hanya hilang dalam sesaat saja.
.
.
.
__ADS_1
.
.