Cinta Tanpa Alasan

Cinta Tanpa Alasan
Kenangan Mantan


__ADS_3

Kini sudah seminggu berlalu dari saat kepergian Kenan ke Surabaya, waktu terasa cepat berlalu.


Namun tidak ada satu kabar pun yang Kenan berikan untuk Ze, hingga mebuat Ze terlihat murung menjalani hari-hari nya.


"Kau menyuruh ku menunggu mu, tapi kenapa tidak memberikan kabar sedikit pun, setidaknya kan kau mengirim pesan agar aku bisa tau keadaan mu.


menyebalkan sekali,"


batin Ze kesal sambil memasang wajah murungnya.


Hingga membuat Rani bertanya tanya kenapa sahabat nya itu terlihat murung akhir akhir ini.


Rani kembali seminggu yang lalu, disaat Kenan pergi, Rani pun kembali.


Awalnya Ze mengira, dia tidak akan sekehilang ini, saat Kenan memutuskan untuk kembali ke Surabaya, Ze mengira hari harinya akan terasa senang karena sahabat nya telah kembali, namun ternyata tidak! kehadiran Rani tidak bisa mengobati rasa rindu nya pada Kenan.


Ze berkali kali mengecek ponselnya berharap ada pesan masuk dari Kenan, namun nihil tak ada satupun pesan masuk yang akan mengobati rasa rindunya pada Kenan.


Bukan tidak terpikir oleh Ze untuk menghubungi nya terlebih dulu, namun saat dia ingin mencoba, selalu ia urungkan, karena rasa rindu nya tertutupi oleh gengsinya yang tinggi.


"Kau sakit?!" tanya Rani yang dari tadi melihat wajah Ze yang terlihat tidak baik baik saja.


"tidak," jawab Ze dengan suara datarnya.


"Aku perhatikan akhir akhir ini kau terlihat murung! apa ada sesuatu yang terjadi?"


tanya Rani penasaran.


"Tidak, mungkin perasaan mu saja, aku baik baik saja."


sahut Ze sambil masang senyum yang di buat buat.


Mereka sedang duduk di kantin menunggumu pesanan mereka datang, dan tak lama makanan pun tiba di antarakan seorang pelayan yang selalu berjaga di kantin sekolah.


"Nih Non makanannya,"


ujar sang Bibi pelayan sambil menyimpan makanan nya di meja.


"Nona Ze lagi sakit? kenapa tidak bersemangat, tidak seperti biasanya, yang selalu semangat bila melihat makanan."


ujar si Bibi yang melihat Ze terlihat murung.


"Tidak kok Bi, makasih makanan nya ya,"


sahut Ze sambil memasang senyum lebarnya.


Si Bibi pamit membungkuk meninggal kan mereka dan kembali ke tempat nya.


"Tuh kan Ze! si Bibi kantin saja sadar bahwa kau tak baik baik saja,"


ujar Rani sambil memandang wajah Ze, memastikan bahwa Ze tidak berbohong.


"Apa sih Ran, aku baik baik saja, mungkin akhir akhir ini aku kecapean saja,"


kilah Ze sambil memalingkan wajahnya, berusaha mengelak, karena Ze merasa belum waktunya dia menceritakan semuanya pada Rani.


Mereka pun menghabiskan makanan nya dan segera bergegas menuju kelas,


tiba-tiba saat di perjalanan menuju kelas, Rani melihat murid laki-laki yang akhir akhir ini selalu terlihat memperhatikan Ze.


"Hei...! apa kau sadar dengan laki laki itu? sepertinya dia selalu memperhatikan mu,"


ujar Rani sambil menyenggol bahu Ze.


"Biarkan saja, tidak penting," sahut Ze dengan juteknya.


"Jangan terlalu dingin pada laki laki, mungkin mereka akan sakit hati karena perlakuan mu,"


ujar Rani.


"Mereka nya saja yang lebai! aku kan tidak melakukan apa apa,"


sahut Ze dengan santai.


"Ekh ngomong-ngomong laki laki!! kok aku jadi keingetan Kak Roni, bagaimana kabarnya sekarang ya?"


ujar Rani sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Ze.


"Deg...."


betapa kagetnya Ze mendengar Rani menyebutkan nama mantan nya yang ia putus kan tanpa alasan, karena Ze lebih menuruti ayah nya untuk menjaga jarak dengan lelaki karena dia sudah di jodohkan.


"Ran...! bisakah kau tidak membahas mengenai itu, aku bisa bisa frustasi kalau memikirkan kejadian yang sudah lama itu."


ujar Ze sambil melangkah cepat meninggal kan Rani karena merasa kesal.


"Hei....! kenapa marah, aku kan hanya bercanda.

__ADS_1


Lagi pula Kak Roni juga pasti sudah melupakan mu, ini kan sudah lama sekali,"


seru Rani sambil berlari mengejar Ze, dan langsung merangkul pundak nya dari belakang.


Merekapun kembali ke kelas dengan Rani yang masih menyisakan tawanya sedangkan Ze masih memasang wajah kesal.


***


Di belahan kota lain,


Kenan sedang duduk frustasi di ruang kerjanya, berkali-kali dia mengusap kasar wajah nya, merasa lelah dengan kerjaan nya yang tak kunjung beres.


Sudah satu minggu ini dia di sibukan dengan permasalahan di hotel yang di timbulkan oleh bawahan nya yang tidak becus bekerja, di tambah lagi kegiatan di kampus yang lagi sibuk sibuk nya karena memasuki akhir semester.


"Melelahkan sekali, karena terlalu sibuk aku tidak sempat menghubungi dia."


Tangan Kenan kini mulai mengambil hp di depannya, mengotak ngatik hpnya mencari nama Ze di kontak nya.


Saat sudah menemukan nama kontak Ze,


dia langsung memilih ikon panggil,


namun pergerakan tangan nya terhenti karena ada suara ketukan pintu dari luar.


"Masuk!"


seru Kenan sambil kembali menyimpan hpnya di atas meja,


dan terlihat lah pak Anton, berjalan masuk dengan memasang wajah yang tidak bersahabat.


"Ada apa? sepertinya kau kesal sekali?"


tanya Kenan yang sudah bisa membaca raut wajah sekretaris nya.


"Di bawah ada orang yang ingin bertemu dengan anda,


kata para pelayan dia marah marah karena merasa kurang puas dengan pelayanan dari staf kita."


ujar pak Anton sambil menunduk takut, tau bahwa tuan nya bakal marah.


"Mengapa kalian mengurus begitu saja tidak becus hah."


Kenan marah sampai suara kerasnya memenuhi seisi ruangan.


"Maaf Tuan kami sudah bicara baik baik dengan nya, tapi tetap saja Tuan itu ingin bertemu dengan anda,"


Kenan pun mulai melangkahkan kakinya keluar meninggalkan ruangan nya, di susul pak Anton yang berjalan di belakang Kenan.


"Apa kau sudah mengurus pemindahan kuliah ku?"


tanya Kenan di sela sela perjalanan mereka.


"Belum selesai Tuan, masih di proses,"


jawab pak Anton dengan tegas.


"Kenapa belum selesai juga?"


protes Kenan.


"Maaf Tuan, memang tidak lah mudah jika mengajukan pemindahan, apalagi di akhir semester begini, pihak kampus sangat menyayangkan nya, karena jika dipaksakan pindah pun, kemungkinan anda harus memulai dari awal lagi."


ujar pak Anton menjelaskan.


"Aku tidak peduli masalah itu, yang terpenting aku bisa segera pindah,"


seru Kenan tidak peduli dengan kata kata pak Anton.


"Jika proses pemindahan Tuan ingin secepatnya nya beras, mungkin jika Tuan menggunakan nama tuan Besar semua nya akan cepat selesai."


akhirnya pak Anton mengeluarkan jurus terakhir agar mempermudah kemauan Tuan nya, dan urusannya pun berkurang.


"Terserah kau saja, asal saat aku masuk ke universitas di Jakarta nanti identitasku masih tertutup rapat.!"


" Lalu kapan anda akan mempublikasikan nya?? bukankah anda telah menerima perjodohan nya! kenapa masih ingin menutup nutupi identitas anda,?"


batin pak Anton yang bingung memikirkan kemauan tuan nya.


Namun pak Anton hanya bisa membungkuk mengiyakan perintah Kenan.


Kini Kenan dan pak Anton sudah sampai di bawah, pak Anton langsung menuntut Kenan ke ruangan dimana orang yang tadi ingin bertemu dengan kenan.


"Di ruangan ini Tuan,"


tunjuk pak Anton sambil mempersilakan Kenan untuk masuk.


Kenan pun masuk dan di ikuti pak Anton di belakangnya.

__ADS_1


" Kenan...?!"


"Martin.....?!"


Dua orang itu bersamaan menyebutkan nama teman nya, yang sudah lama sekali mereka tidak saling ketemu.


Kenan dan Martin sama sama terkejut saat mata mereka saling bertatapan,


ternyata orang yang ingin bertemu dengan Kenan tak lain adalah Martin teman lama nya.


"Hei bro! lama sekali kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu?


ku kira kau di luar negeri,


sejak kita lulus SMA tidak pernah ada kabar apapun mengenai mu,


ternyata kau sembunyi di sini rupanya,"


kata kata Martin yang sudah nyerocos kemana mana merasa terkejut , dan langsung memeluk Kenan.


"Kau tak pernah berubah, selalu bicara sesukamu bertanya pada orang tanpa memberikan orang itu waktu untuk menjawab."


sahut Kenan sambil melepaskan pelukan Martin yang menurut nya sangat menggelikan.


Kenan pun segera berjalan menuju sofa yang ada di ruangan itu, langsung duduk di ikuti Martin yang duduk di samping nya.


"Kenapa kau ada di sini?"


tanya Martin yang sudah tak sabar ingin mengorek kehidupan Kenan setelah 2 tahun dia menghilang tanpa kabar.


"Aku sedang menemui orang yang berani membuat keonaran di hotel ku,"


sahut Kenan dengan suara datar dengan mata yang menatap tajam Martin.


"jelebbb"


Martin terkejut kaget


seperti ada sesuatu yang menusuk keras kebannya saat mendengar dan melihat sorot tajam mata Kenan.


"Wah ternyata dia tidak berubah, selalu menyeramkan jika ada orang yang mengusiknya "


batin Martin yang menciut


ternyata dia telah membuat kesalahan besar, karena dia berani mengusik laki laki kejam yang kini ada di hadapan nya.


"Jadi kau menejer hotel di sini?!


maafkan aku ya!! aku kan tadi hanya bercanda!"


ujar Martin dengan senyum yang di buat buat,


berharap Kenan bisa memaafkan nya.


Kenan hanya terdiam melihat kelakuan konyol teman nya itu.


Yang tadinya merasa kesal dan bingung harus berbuat apa, saat menemui orang yang mengeluh, merasa kurang puas dengan pelayanan hotel nya,


kini Kenan tentang kembali, karena orang yang ingin menemui nya ternyata teman nya sendiri, yang sadari dulu kelakuan nya memang membuat onar.


"Sedang apa kau di kota ini?" tanya Kenan dengan suara santai sembari menyandarkan kepalanya ke sofa, melepaskan rasa lelah dari kesibukan nya, mebuat suasana tenang kembali.


"Kita ke sini karena ada tugas kampus?"


jawab Martin


"Mengapa kita? kau kan sendiri di sini!"


sahut Kenan merasa aneh dengan jawaban Martin.


"Aku kesini bersama Sania dan satu lagi teman laki lakiku.


Kau masih ingat Sania kan. wanita yang pernah ada di hatimu, tiap dengan tega kau meninggal kan nya tanpa alasan. Bahkan kau tak pernah memberikan penjelasan pada nya, dan malah menghilang bagai di telan bumi."


Perkataan Martin membuat Kenan terkejut sekaligus bingung,


terkejut karena sudah sekian lama dia tidak mendengar kabar tentang mantan kekasih nya, bahkan sekarang dia tidak memiliki perasaan apapun pada nya.


Dan bingung bagaimana jika dia akan bertemu dengan mantan nya, setelah 2 tahun mereka berpisah, apalagi jika Sania masih memiliki perasaan pada nya, dan meminta penjelasan atas semua yang telah Kenan lakukan pada nya.


Dulu memang mereka saling mencintai, namun dengan terpaksa Kenan harus meninggalkan Sania, karena Ayah nya selalu saja membahas perjodohan nya.


Kenan dengan keras menolak perjodohan itu hingga memutus kan pergi dari rumah dan menyembunyikan identitas nya supaya tidak ada orang yang akan mengetahui keberadaan nya dan tidak akan ada yang tau siapa dia sebenarnya dan bertekad akan menemukan pasangan nya sendiri, walaupun itu bukan Sania.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2