
Weekend telah tiba inilah hari yang melelahkan bagi Kenan, bagi sebagian orang mungkin weekend seperti ini mereka akan bersantai berkumpul dengan keluarga.
Tidak untuk nya, di setiap weekend dia harus ekstra plus menemani junior nya untuk bermain sepuasnya, membayar hari-hari biasanya yang harus ia habiskan bekerja di kantor. Walaupun lelah Kenan berusaha untuk menjadi ayah yang baik untuk anaknya.
"Kenjo....! Tunggu dulu sayang, pakai dulu bajunya...!" seru Ze, yang sudah kelelahan meladeni kelincahan Kenjo yang sedari tadi lari-lari di dalam kamar.
"Apakah Kak Ken dulu selincah ini...?"
lirih Ze sambil mengelap keringat di jidat nya.
"Mommy nya cini...!" goda Kenjo dengan senyuman lucu nya.
"Mommy ke sana, tapi Kenjo nya jangan lari lagi ya...!"
Saat Ze perlahan mendekati Kenjo terlihat Kenan baru keluar kamar mandi, baru selesai mandi dan masih mengenakan handuk kimono nya.
Kenjo yang melihat Daddy nya keluar langsung berlari lincah menghampiri Kenan.
"Pakai bajunya mau sama Daddy...!" manja Kenjo sambil bergelayut di kaki Kenan. Kenan pun langsung berjongkok dan menggendong juniornya.
"Mau sama Daddy ya...?" ucap nya sambil menggendong tubuh mungil Kenjo, berjalan menghampiri Ze.
"Kau selalu saja membuat Mommy mau berolahraga di pagi hari...!" tutur Kenan sambil mengelus kepala Kenjo dan perlahan mengambil baju Kenjo dari tangan Ze.
"Sini biar ku bantu...!"
Melihat raut wajah lelah Ze, Kenan reflek memeluk Ze dan perlahan mengecup keningnya.
"Dad...! Kenjo juga mau sun...!" celetuk Kenjo membuat Kenan dan Ze tersenyum.
Kenan pun langsung mengecup lembut kening Kenjo.
"Kenjo duduk dulu ya...! biar Daddy bantu pakai kan bajunya...!" Kenjo pun langsung duduk diam dan dengan lihai Kenan langsung memakaikan baju Kenjo.
"Kenjo anak baik makanya jangan nyusahin Mommy ya...!" nasihat Kenan sambil mencolek ujung hidung Kenjo.
"Sip Dad...!" Kenjo pun kini duduk dengan tenang.
Setelah memasangkan baju Kenjo, Kenan kini beralih menghadap badan Ze. Sudah tersenyum jahil menatap istrinya yang sedang kewalahan karena ulah anaknya.
"Sekarang giliranku...? mana baju ku...!"
ucap Kenan dengan senyumannya. Membuat Ze menggelengkan kepalanya merasa geli melihat kemanjaan semua suaminya.
"Mereka berdua memang kompak dalam hal mengerjai ku...!"
"Nih...! Kak Ken bisa pakai sendiri kan...!"
ucap Ze sambil menyodorkan baju Kenan yang sudah ia siapkan.
"Ayo lah Yangk...! masa Kenjo doang yang diperhatikan, Aku juga dong....?" goda nya lagi sambil menarik Ze ke pelukannya.
"Kak...! Kenjo lihatin Kak...!" rengek Ze sambil sedikit meronta.
"Biarkan saja...!" sahut santai Kenan malah mempererat pelukannya, dan dengan cepat mendaratkan bibirnya mengecup bibir Ze yang sedang cemberut.
Membuat Ze langsung melebarkan matanya kaget.
"Kak Ken...!" gerutu Ze. Menggerutu kelakuan Kenan yang suka seenaknya mencium nya di depan Kenjo.
__ADS_1
"Daddy kok cium Mommy telus...?" tanya polos Kenjo membuat Ze langsung memukul tangan Kenan yang terus memeluk nya.
Berbeda dengan Kenan dia malah tersenyum girang sambil perlahan melepaskan pelukannya, dan langsung memakai pakaian nya di depan Kenjo.
"Daddy mencium Mommy, itu tandanya Daddy mencintai Mommy sayang...!" tutur santai Kenan.
"Kok Kenjo tidak di cium telus...? belati Daddy tidak sayang Kenjo dong...!?" ucap polos Kenjo.
"Daddy sayang Kenjo kok...! sini biar Daddy sun Kenjo, tapi sun nya di kening lagi ya...!"
Kenan pun perlahan mengecup kening Kenjo.
Ze yang melihat Anak dan Ayah itu hanya bisa tersenyum kecil, dia sendiri belum percaya di usianya yang masih muda Dia sudah menjadi seorang ibu.
***
Di sisi lain, Rani sudah siap dengan penampilannya nya, bergegas keluar menghampiri Pano yang se dari tadi sudah menunggu nya.
Rani berjalan perlahan mendekati mobil Pano, Pano sendiri sudah tersenyum manis menyambut kedatangan calon istri nya.
Setelah membereskan kuliah nya, mereka memutuskan untuk menikah. Mereka yang saling mencintai memantapkan niat mereka untuk menjalin hubungan yang lebih serius.
Hari ini mereka akan menyebarkan undangan, mereka bermaksud akan melaksanakan pernikahan seminggu lagi dari sekarang.
~
"Jangan melihatku seperti itu menakutkan sekali...!" tutur Rani seolah risih dengan pandangan Pano, padahal sebenarnya dia tidak bisa mengendalikan debaran jantungnya karena terlalu gugup mendapatkan tatapan manis dari seorang laki-laki yang selalu bertingkah konyol, tapi selalu saja menarik perhatiannya.
"Kenapa...? kau kan calon istriku, aku bebas dong menatap mu seperti apapun...!" goda Pano sambil menarik tangan Rani hingga tubuh Rani menempel di tubuh Pano.
"Hei apa kau sudah gila...! gerutu Rani kini jantungnya serasa mau copot dengan keadaan sekarang, apalagi dengan jarak wajah yang cukup dekat.
"Ayolah Rani...! Tenangkan dirimu, dia masih calon suamimu jangan berpikiran yang aneh-aneh...!" batin Rani sudah berdebat dengan pikiran kotornya.
"Kenapa wajahmu merah seperti itu...? apa kau menunggu adegan selanjutnya...!"
goda Pano lagi dengan tersenyum jahil. Kini dia makin mendekatkan wajahnya.
"Hei apa yang kau lakukan Pano...?"
Rani langsung menghentikan gerakan Pano, dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Sekali saja Ran...!" rengek Pano, yang sudah menarik tangan Rani ingin sekali rasanya mencium bibir mungil yang selalu menggerutu itu.
"Tidak akan ku izinkan sebelum waktunya tiba...!" Ketus Rani sambil memalingkan wajahnya.
"Jadi aku harus menunggu seminggu lagi...?" ucap frustasi Pano dengan polosnya.
"Iya...!" ledek Rani sambil menjulurkan lidahnya. Kini dia bergerak menjauhi badan Pano dan bergegas masuk ke mobil.
"Akkh... Kenapa Ayah tidak mengatur pernikahan ku besok saja sih benar-benar membuatku gila...!" decak frustasi Pano sambil mengacak-ngacak rambutnya. Rani sendiri yang sudah duduk di dalam hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah konyol calon suaminya itu.
"Ayo Pan...! bukannya kita akan ke rumah nya Ze...!" ajak Rani yang masih di sibukan dengan senyuman nya.
"Iya Nyonya...!" celetuk Pano, sambil mulai bergegas masuk, dan mulai menjalankan mobil nya menuju rumah keluarga Wijaya.
***
Keadaan di keluarga Wijaya.
__ADS_1
Kenan Kenjo dan Ze mulai terlihat menuruni anak tangga. Kenan menggendong tubuh mungil Kenjo dan satu tangan nya lagi menggenggam erat tangan Ze.
Saat sudah di bawah, Kenan langsung menurunkan tubuh Kenjo, membiarkan nya untuk berjalan.
"Glendad...! Glen...!" panggil cadel Kenjo, mencari keberadaan Surya.
Dengan lincahnya Kenjo terus berjalan menelusuri ruangan tengah rumah.
"Kenjo...! jangan lari lari sayang...! Grendad mungkin ada di teras belakang...!"
omel Ze yang selalu mengkhawatirkan Kenjo, takut terjadi apa apa pada buah hatinya.
"Jangan terus mengkhawatirkan Kenjo, dia sudah besar sekarang, berjalan nya saja sudah makin lincah, istirahat lah! kau juga harus menjaga kesehatan mu...!" seru Kenan langsung melingkar kan tangan nya di pinggang Ze, mengajak nya duduk di sofa.
"Tapi Kak, Kenjo gimana...!?"
"Ada Ayah di sana, lagi pula pelayan ada di mana mana, Kenjo akan baik baik saja...!
selagi Kenjo main dengan mereka kita istirahat dulu...!" tutur Kenan.
Dia pun langsung menggiring Ze berjalan ke sofa.
"Baiklah...!"
Ze langsung melingkarkan tangan di tangan Kenan dan bergegas duduk di sofa ruangan tengah.
Kenan langsung menyandarkan kepalanya di sofa, tangan nya melingkar memeluk perut Ze, mulai menyandarkan kepala Ze untuk bersandar di badan nya.
Rasanya dia pun butuh mengistirahatkan tubuh nya, sebelum menemani Kenjo untuk jalan jalan ke luar rumah.
"Ze...!" panggil lembut Kenan, dengan tangan terus membelai rambut Ze.
"Hemmm!" jawab singkat Ze.
"Apa kau ingin kuliah lagi...!?" tanya Kenan tiba-tiba. Tanpa henti membelai rambut Ze.
"Entahlah Kak...! sebenarnya aku ingin kuliah, aku ingin membantu Kak Ken di kantor. Tapi rasanya belum siap jika harus meninggalkan Kenjo lama lama, jika nanti aku kuliah pun pasti pikiran ku tidak akan tenang, karena terus mikirin Kenjo...!"
jawab Ze.
"Baguslah...! aku juga pasti tidak akan tenang jika nanti Kau kuliah. Aku takut jika ada laki laki yang akan menggoda mu...!" ucap jujur Kenan. sambil mempererat pelukannya.
"Tenang saja Suamiku sayang...! aku tidak akan melirik laki laki lain kok...!" goda Ze dengan tersenyum manis sambil mendongkangkan wajahnya melihat wajah suaminya.
"Awas saja ya, kalau kau sampai melirik laki laki lain, aku pasti akan menghukum mu...!" timpal Kenan sambil mengacak-acak rambut Ze dan berakhir mengecup kening nya.
"Iya aku tidak akan pergi dari sisi mu Kak Ken...!" lirih Ze sambil membalas pelukan Kenan.
"Terimakasih...!" ucap senang Kenan, sambil mencubit pipi Ze, dengan senyuman nya.
.
.
.
.
.
__ADS_1