Cinta Tanpa Alasan

Cinta Tanpa Alasan
Bab 9


__ADS_3

Keesokan harinya Amini terbangun lebih dulu daripada Ibra. Amini langsung bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum sholat subuh. Tak butuh waktu lama bagi Amini untuk mandi, ia pun keluar kamar mandi dan menemukan suaminya sudah bangun duduk di tepi ranjang dengan tersenyum.


"Mas sudah bangun ternyata tadinya aku mau bangunin Mas." Amini tersenyum sambil mengmbil sajadah dan mukena untuk sholat.


"Kita jamaah ya, tunggu Mas."Ibra pun bergegas kekamar mandi untuk berwudhu.


Kini mereka telah selesai menjalankan sholat dan mengaji. Amini pergi kedapur menyiapkan masakan untuk sarapan mereka berdua. Sedangkan Ibra memilih untuk menonton berita di TV.


Amini memilih memasak nasi goreng yang simple namun spesial untuk suami tercinta.Amini mulai disibukkan dengan potong-memotong sayuran, sosis, dan bumbu-bumbunya. Setelah selesai Amini memasukkan bawang untuk di tumis tidak lupa sayuran dan bahan lain dan bahan utamanya nasi.


Saat Amini asyik mengaduk nasi dalam wajan tiba-tiba ada yang mengagetkannya.


Grep


Ibra memeluk Amini dari belakang dan melingkarkan tangan kekarnya itu di perut sang istri serta dagunya bertumpu pada bahu kanan Amini.


Amini tersenyum dengan tingkah Ibra dan ia sama sekali tidak terganggu dengan sikap Ibra, Amini terus melanjutkan memasaknya.


"Sayang,Mas ingin disini ada kehidupan." Ucapan Ibra yang tiba-tiba memecah keheningan sontak membuat Amini terkejut hingga menghentikan aktivitasnya.


Amini sungguh merasa malu mendengar ucapan suaminya itu.Yakin saja wajahnya memerah semerah tomat ranum. Amini juga merasa bersalah karena selama ini belum memberi hak itu pada suamiya karena hatinya belum sepenuhnya untuk Ibra melainkan masih tersisa untuk orang yang memberinya surat itu.


Merasa Amini tidak merespon bahkan Amini tak bergeming sedikitpun hingga nasi goreng yang belum matang itu dianggurin begitu saja. Ibra melepaskan pelukannya dan mundur kebelakang.


"Maaf,Mas gak maksud memaksa. Sudah lupakan saja permintaan Mas tadi." Ucap Ibra. Mendengar itu Amini pun tersadar lalu membalik tubuhnya menghadap Ibra.


Cup


Amini spontan mendaratkan kecupan dipipi Ibra hingga membuat Ibra kaget dan gantian sekarang Ibra yang mematung.


"Maaf kan aku Mas selama ini belum memberikan hak itu padamu." Amini berbicara dengan menatap mata Ibra.


"Tetapi sekarang aku sudah siap, karena orang yang kutunggu selama ini itu kamu." Lanjutnya lagi dengan masih menatap Ibra.


"Aku tidak ingin kamu terpaksa melakukannya." Jujur Ibra merasa bersalah karena telah lancang meminta sesuatu pada Amini,hal yang tidak mungkin mudah dapatkannya.

__ADS_1


Amini cepat-cepat menggeleng. "Tidak, aku sama sekali tidak terpaksa" tak lupa Amini menyunggingkan senyum tulus. Ibra pun demikian lalu mereka saling memeluk dengan erat seakan takut kehilangan.


"Terimakasih instriku." Ucap Ibra setelah mereka melepas pelukan masing-masing.


Hulidung Ibra mengendus bau sesuatu Ibra terus memajukan hidungnya yang bergerak kembang kempis mendekat ditubuh bagian atas Amini. Amini tampak bingung melihat tingkah suaminya yang mengendus begitu. Amini mulai berfikir macam-macam.


"Aku memang memberimu hak, tapi tidak sekarang juga kamu melakukannya." Cicit Amini takut-takut, merasa gelagat suaminya yang aneh.


"Siapa juga yang mintanya sekarang."Tukas Ibra namun tetap melakukan aksinya mengendus bau yang sejak tadi mengganghu penciumannya.


"Terus kenapa itu hidung dari tadi kembang kempis nah sekarang tu bibir ikut monyong..?"Ujar Amini yang masih bingung.


"Aku mencium aroma wangi-wangi gosong gitu."Jujur Ibra karena memang sejak tadi


"Gosong...?" Seketika Amini membalik tubuhnya dan melihat kearah kompor dihadapannya.


"NASI GORENGGGKUUUU" Pekik Amini yang langsung berjalan untuk mematikan kompor.


Ibra masih melongo mendengar teriakan istrinya karena ia baru tau istrinya ternyata saat berteriak sekencang itu.


Bukan ia tidak ingin menggantinya tetapi waktunya sudah tidak keburu jika harus membuat sarapan baru suaminya sebentar lagi berangkat kerja.


"Ini masih bisa dimakan kok yang, kan gosongnya cuman dibagian bawah."Ibra berusaha membuat istrinya tenang dan tidak merasa bersalah.


"Tapi kan bau gosong."Keluh Amini merasa sedih karena gagal membuat sarapan untuk mereka.


"Sudah jangan bersedih, ini juga salahku." Ibra pun merasa ia ikut andil membuat masakan itu gosong.


"Aku suka kok yang berbau gosong." Ibra berusaha meyakinkan istrinya bahwa ia akan memakan nasi goreng itu.


"Oh jadi kamu suka yang gosong, ya sudah nanti aku masakkan yang gosong aja setiap hari." Amini menampilkan senyum usilnya.


"Ya, jangan gini juga dong gosongnya, cukup dengan ada aroma gosongnya aja tapi nasi aja ya sayur sama ikannya jangan."Amini yang mengira suaminya itu akan ngambek jadi mengerutkan kening pasalnya jawaban suaminya tidak sesuai prediksi.


"Kamu benar Mas suka yang agak-agak gosong gitu." Ibra mengngguk tanda meng iyakan pertanyaan Amini. Amini ikut manggut-manggut, kini sedikit demi sedikit ia mengerti makanan yang disukai suaminya.

__ADS_1


Akhirnya mereka memutuskan tetap memakan nasi goreng yang sudah gosong itu namun masih ada yang bisa dimakan. Mereka makan sepiring berdua.


***


Siang hari Amini merasa kesepian sendiri dirumah jam sudah menunjukkan pukul 11:00 dan saat itu pula mata Amini mulai mengantuk. Untuk makan siang Amini sudah siapkan makanan untuk ia sendiri sesudah kepergian Ibra ke kantor tadi.


Amini memutuskan untuk menonton FTV memang sejak lama Amini sangat menyukai FTV. Bukan cuman FTV tetapi sinetron dan film juga. Hal itulah yang selama ini ia lakukan ketika dirumah setiap weekend.


Namun semenjak menikah dengan Ibra Amini jadi tidak punya waktu untuk menonton TV. Tetapi ia tidak menyesal juga malah sangat bahagia karena suaminya selalu membuatnya tersenyum bahagia. Amini merasa bersyukur memiliki Ibra dalam hidupnya.


Tok Tok Tok


Terdengar ketukan di daun pintu beberapa kali menyita perhatian Amini yang tengah asyik menonton TV.


"Iya tunggu" ucap Amini dari dalam. Amini berjalan mendekati pintu lalu membukanya.


Ceklek


Amini bingung setelah membuka pintu tapi tidak ada orang disana. Amini keluar rumah dan berdiri di teras seraya mengamati sekeliling rumahnya namun nihil orang yang mengetuk pintu tak didapati hanya pak satpam yang tengah berbaring di pos penjagaan.


Haha ngeri si Ibra rumah nya udah kaya kantor aja ada pos penjagaannya.


Amini merasa memang tidak ada orang, mungkin hanya pendengarannya yang bermasalah. Amini memutuskan kembali masuk ke dalam namun sebelum ia smpai pintu ia meihat ada sebuah kotak persegi berwarna pink di depan pintu bagian kiri.


Amini mengamati kotak pink tersebut dan hatinya bertanya-tanya apa gerangan isi kotak pink itu namun Amini merasa takut menyentuhnya.


"Apa itu... siapa yang mengirimnya...?" Guman Amini seorang diri.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa likenya ya semuanya.


__ADS_2