Cinta Tanpa Alasan

Cinta Tanpa Alasan
Menceritakan


__ADS_3

Kenan dan Ze kini sedang di perjalanan menuju rumah kediaman keluarga Wijaya.


Maya dan Angga yang awalnya sedih melepaskan ke pergian anaknya, menjadi lebih tenang dengan kata kata Kenan, yang berjanji akan menjaga dan membahagiakan anaknya, membuat hati kedua orang tau Ze sedikit lebih tenang, di tambah lagi melihat sikap Ze, yang sepertinya terlihat nyaman berada di samping Kenan.


walaupun Ze belum jujur dengan perkataan nya, dan belum mengakui bahwa dia mencintai Kenan, tapi menurut Maya dan Angga, melihat kedekatan mereka itu sudah lebih dari cukup. untuk bisa meyakinkan bahwa anaknya pasti akan bahagia dengan kehidupan barunya.


di perjalanan Ze hanya terdiam karena merasa kesal dengan tingkah Kenan yang harus membuatnya nya mandi untuk yang ke dua kali nya pagi itu.


sepanjang perjalanan Ze hanya memesang wajah cemberut, dan itu lah yang membuat Kenan makin senang, dan membiarkan nya, karena menurut Kenan cemberut nya Ze itu sangat menggemaskan.


setelah beberapa menit di perjalanan, kini mereka pun sampai di kediaman keluarga Wijaya.


Kenan yang bermaksud memberitahu Ze bahwa mereka sudah sampai, namun malah melihat Ze yang sedang tertidur pulas.


"selain jago makan, ternyata dia jago tidur juga ya, "


ucap Kenan sambil perlahan membuka sabuk pengaman nya, dan kini beralih membuka sabuk pengaman yang di kenakan Ze. dan sedikit menggoyang goyangkan badan Ze untuk membangunkannya, namun Ze tidak ada pergerakan sedikit pun, dia masih asik dengan tidur nya.


" kau kelelahan ya, lucu sekali "


ujar Kenan sambil mencolek ujung hidung Ze


merasa gems melihat Ze yang sedang tertidur pulas.


salah satu pelayan yang berjaga di luar kini menghampiri mobil Kenan sudah tahu bahwa hari ini hari kedatangan nona barunya yang akan tinggal di rumah ini.


"maaf Tuan Muda! ada yang bisa saya bantu? "


tanya sang pelayan yang sudah berdiri di dekat pintu mobil di sebelah Kenan.


" siapakan kamar di bawah?


dan setelah itu bawa ke kamar ku, semua barang barang ini!! "


sang pelayan pun langsung bergegas masuk dan melaksanakan perintah Kenan.


tak membutuhkan waktu lama, pelayan tadi sudah kembali lagi dan memberitahu Kenan bahwa kamarnya sudah siap, dan


langsung membawa barang barang Ze untuk di bawah ke kamar Kenan.


"kenapa kau selalu merepotkan sekali si"


gerutu Kenan yang kini mulai mengangkat badan Ze, menggendong nya, masuk ke dalam. merasa tidak tega jika harus membangunkan Ze.


para pelayan yang sudah siap menyambut kedatangan Tuan dan Nona muda nya itu langsung membungkuk hormat, dan langsung membuka kan pintu lebar mempermudah Kenan untuk membawa Ze masuk ke dalam.


Widi yang ada di dalam, langsung terkejut melihat anak cantik nya itu, pulang dengan keadaan di gendong oleh Kenan. Widi pun langsung menghampiri nya.


"Ken! kenapa Ze? "


tanya Maya yang sudah berada di samping Kenan dan melihat keadaan Ze


"tidak apa-apa Bun, dia hanya ketiduran saja,"


jawab Kenan singkat sambil terus berjalan menuju kamar untuk menidurkan Ze.


Maya pun langsung tersenyum kecil saat mendengar bahwa Ze hanya ketiduran saja.


"makin perhatian ya sekarang"


batin Maya sambil senyum cengengesan melihat tingkah anaknya itu. yang sangat perhatian pada istrinya.


Kenan yang sudah sampai di kamar dia langsung menidurkan Ze, di atau kasur, dan membiarkan nya terus beristirahat.


"kau ini kelelahan,? apa memang doyan tidur, sampai sampai tidak ingin saat aku menggendong mu hah"


ujar Kenan dengan senyum kecil nya, dan mulai menyelimuti Ze,


"istirahat lah"


imbun Kenan sambil mencium kening Ze pelan, dan berjalan ke luar membiarkan Ze untuk istirahat.


*


Ze kini sudah terbangun dari tidur nya, mata nya perlahan terbuka dan langsung di kagetkan dengan keadaan sekitar nya. yang menurut nya sangat asing.


" di mana aku! kenapa aku sampai ketiduran ya, sampai tidak ingin sama sekali "


Ze pun mulai menggerakkan tubuhnya turun dari kasur dan berjalan ke luar.


saat sudah berjalan ke luar Ze melihat Widi yang sedang duduk sendiri di ruang tengah,


"baru pindah ke sini, kenapa harus malu maluin si, pake ketiduran segala lagi"


Ze menggerutu menyalah kan kesalahan nya sendiri.


dan mulai berjalan menghampiri Widi yang sedang duduk di ruang tengah.


"siang Bun"


sapa Ze sambil mengulurkan tangannya menyalami Maya.


"siang sayang, udah bangun ya, "


sahut Widi sambil memeluk Ze, dan menyuruh Ze duduk di samping nya.


saat Ze sudah duduk, mata Widi langsung tertuju pada leher Ze, karena syal yang sedari tadi Ze pakai terlepas saat Ze tertidur di kamar. Widi pun langsung memasang senyum kecil di bibir nya. melihat bekas merah yang bertaburan di leher nya.


"dasar anak nakal, dulu aja sampai nentang nentang gak mau di jodohin, apalagi kalau harus nikah muda, ekh pas udah di halalin langsung gerak cepat dia" batin Widi yang sudah cengengesan


"kenapa gak tidur lagi aja, sepertinya kamu lelah sekali! "


ujar Widi yang sudah tahu kalau Ze pasti kelelahan karena ulah anaknya.


"tidak ko Bun, Ze baik baik saja "

__ADS_1


kilah Ze,


"Bun liat kak Kenan gak!? "


tanya Ze sambil melirik kiri kanan namun tidak melihat keberadaan Kenan.


"mungkin di taman belakang?"


jawab Widi yang masih dengan senyum kecil nya, karena sepertinya Ze masih tidak menyadari bekas merah yang ada di lehernya .


Ze pun mulai melangkah menuju taman belakang untuk mencari Kenan.


saat sudah sampai di luar mata Ze langsung melihat Kenan yang sedang duduk di kursi, dengan tangan nya yang sedang memainkan ponsel, dan sebuah piring kecil berisi potongan buah buahan di samping nya.


Ze pun langsung berjalan menghampiri Kenan, dan langsung mendudukan badan nya di samping Kenan dan menyapa nya.


"Kak Ken! " panggil Ze


"udah bangun ya?!, " sahut Kenan sambil mengalihkan pandangannya dari ponsel dan langsung melihat Ze di samping nya.


"kok gak bangunin si". protes Ze


"udah di bangunin dari tadi,! kamunya aja yang tidur nya sangat pulas"


ujar Kenan yang mulai menyimpan hp nya, dan meraih piring yang berisikan potongan buah-buahan dan mulai memakannya.


Kenan memang tidak terlalu baik dalam menjaga pola makan, tapi buah buahan adalah cemilan favorit nya, di saat mengisi waktu senggang nya.


Kenan sedari tadi ia hanya memainkan ponselnya, mengingat kejadian tadi saat Sania menelepon nya. dan langsung melihat history panggilan nya ,


pikiran nya langsung terganggu, kenapa bisa bisa nya Sania masih terus mengganggunya, terus mendekati nya hingga sampai berani menelepon nya, dan yang membuat Kenan tidak tentang,


Ze yang tidak tahu kalau Sania adalah mantan nya, dia malah selalu saja meladeni nya.


lamunan Kenan kini di kaget kan oleh kedatangan Ze yang duduk di samping nya,


hingga dia mulai memilih kata, untuk menceritakan bahwa Sania adalah mantannya


"Ze! "


panggil Kenan sambil memposisikan badannya menghadap ka arah Ze.


"heem"


jawab Ze singkat dengan wajah yang menghadap ke depan, hingga membuat Kenan kesal, karena Ze tidak memperhatikan nya.


"hei, aku kan pernah bilang, kalau lagi bicara, tetap orang yang bicara dengan mu"


ucap Kenan dengan suara sedikit keras, hingga membuat Ze langsung menghadap ke arah Kenan.


"iya! " sahut Ze, yang kini dengan jelas melihat wajah Kenan yang ada di hadapannya.


"kenapa tatapan nya serius sekali,! menakutkan saja "


batin Ze, yang merasa kaget melihat tatapan Kenan pada nya.


akhirnya kata itu yang keluar dari mulut Kenan, yang sedari tadi ia memikirkan waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya.


"dia hanya nanyain kak Kenan aja! tidak keburu bicara , karena kak Ken keburu mengganggu ku,"


jawab Ze santai


"apa kau tidak curiga kenapa dia menelepon ku!? " tanya Kenan


"curiga kenapa!? bukan kah kak Sania teman kampus Kak Ken, ya wajar kalau dia menelpon, mungkin dia ada perlu, "


ucap Ze, sambil terus menatap Kenan, yang sedari tadi bicara, namun mulutnya tidak berhenti memakan buah yang ada di depan nya.


"dia memang benar-benar tidak peka ya"


"Ze,! dia mantanku dulu saat kita masih di SMA"


akhirnya Kenan memberitahu Ze, dengan mata yang terus menatap Ze, karena ingin melihat reaksi Ze, saat mengetahui wanita masa lalu nya.


"deg"


tiba-tiba terselip rasa yang sakit di hati Ze, saat Kenan menyebutkan bahwa Sania adalah mantan nya,


pikiran nya langsung membayangkan pertemuan pertama Ze dengan Sania, dan saat itu Sania berusaha berkata seakan Sania sangat mengenal Kenan, sampai membuat mereka terlihat sangat akrab . membuktikan bahwa Sania terlihat masih mencintai Kenan.


jadi dia mantan kak Kenan?,


batin Ze, merasa kaget hingga membuat Ze menundukkan kepalanya, menenangkan hati nya, merasakan kecemasan, yang entah itu karena apa.


Ze tidak menyadari perasaan nya, namun nampak terlihat jelas dari ekpresi wajah nya, bahwa ia sedang cemburu.


kenan yang melihat ekspresi Ze merasa senang karena kini dia bisa perlahan mendapatkan hati Ze,


walaupun Ze belum mengakui perasaannya.


"apa kau cemburu?! "


tanya Kenan dengan memasang senyum kecil di bibir nya, ingin rasanya ia mengerjai Ze. supaya dia bisa mengakui perasaannya


"kenapa terasa sakit sekali saat mendengar nya, apa benar aku cemburu ?"


"tidak "


jawab Ze singkat, sambil memalingkan wajahnya. merasa kesal karena Kenan masih bisa tersenyum di saat seperti ini.


hahaha bilang aja cemburu, kenapa susah sekali si! aku akan sangat senang jika kau mengakui nya.


"kalau begitu tidak apa apa ya, jika aku menghubungi nya?! "


ujar Kenan dengan senyum jahilnya, rasanya makin ingin memancing kecemburuan Ze.

__ADS_1


"silahkan, hubungin saja dia, bukankah kau juga tiap hari ketemu dengan nya di Kampus, kenapa harus bilang padaku kalau mau menghubungi nya. "


ucap Ze dengan suara ketusnya, tidak menyadari kata kata nya sendiri, hingga terlihat jelas bahwa dia sedang cemburu. namun Ze tetap tidak mengakui nya.


hingga membuat Kenan makin gemas melihat kecemburuan Ze,


"hei,, tatap mata ku! " seru Kenan dengan suara datarnya hingga membuat


Ze langsung menghadapkan wajahnya menghadap Kenan, dan mulai menatap mata Kenan.


Kenan terus menatap Ze, mulai merasakan apa yang di rasakan Ze, yang terpancar dari sorot mata nya, membuatnya berusaha menenangkan Ze, dan mulai mendekatkan wajahnya,


"cup"


Kenan mencium Ze, dengan waktu yang lama,


mencoba menenangkan Ze, dengan mengutarakan perasaan nya, lewat ciuman nya. bahwa tidak ada wanita lain di hati nya, selain Ze yang kini sudah berstatus sebagai istri nya.


Kenan mulai melepaskan ciumannya, dan tanganya memegang lembut wajah Ze, memandang Ze dengan jarak yang sangat dekat.


"aku sudah lama melupakan nya, jangan pernah tersakit karena masalah seperti itu, dia cuma masa lalu ku, dan kau istri ku, yang akan menjadi masa depan ku, kau mengerti kan"


ucap Kenan


"kenapa kau cengeng sekali, aku mengatakan nya, bukan bermaksud membuatmu kesal, aku hanya tidak ingin sampai kau mengetahui nya dari orang lain."


ujar Kenan yang masih memeluk Ze.


"siapa juga yang cengeng, aku kan tidak apa-apa "


kilah Ze dengan suara keras nya sambil perlahan mendorong pelan dada Kenan, merasa kesal lagi lagi Kenan sukses meledak nya dan membuat nya kesal.


"benarkah!?,,"


ledek Kenan lagi dan di akhiri tawanya, dan tanganya memegang lembut kepala Ze dan berakhir mengacak-acak rambutnya.


"hei aku beneran tidak apa apa tau! "


ketus Ze kesal sambil merapihkan rambutnya. yang sudah acak acakan. karena ulah kenan.


"a a a! jangan cemberut terus, "


seru Kenan yang menyuapi Ze dengan buah yang sedari tadi ia makan.


Ze pun langsung melahapnya, sambil tersenyum lebar , menerima suap an Kenan.


*


setelah mereka menghabiskan potongan buahnya,


Kenan mulai mengajak Ze masuk, mengajak nya ke atas membereskan barang-barang nya, yang sudah di simpan di kamar Kenan.


"hei mana syal mu, kau sengaja melepas nya untuk menggoda ku?!"


ucap Kenan sambil mengelus leher Ze, kini mereka sedang berjalan beriringan masuk ke dalam.


seketika Ze langsung tersadar, sambil tangan yang langsung memegangi lehernya, dan pikiran nya, mengingat saat Ze menemui Widi , tanpa menutupi lehernya itu.


"waaa, pantesan aja tadi Bunda senyum senyum saat aku menghampiri nya, pasti bunda melihat ini, dan langsung membayangkan kelakuan anaknya itu hauahuahua malu sekali " batin Ze


"kak,, syalnya ketinggalan di kamar,"


sahut Ze


"ya biarkan saja, kita naik ka atas dulu "


"asalkan jangan terlihat oleh ayah, kalau sampai ayah melihatnya, maka habislah aku di ledeknya!"


Kenan dan Ze pun kini sudah di ruangan tengah dan hendak naik ke lantai atas menuju kamar Kenan, namun langkah mereka langsung terhenti karena mendengar suara Surya. di belakang mereka.


"wah mantu cantik ayah sudah pulang ya, "


ucap Surya yang kini berjalan mendekati Kenan dan Ze,


"'******!! kenapa jam segini ayah sudah pulang si"


batin Kenan kalang kabut melihat ayah nya yang semakin mendekat ke arah mereka.


seketika Kenan langsung menutupi Ze dengan badan nya, takutnya Surya akan melihat tanda merah di leher Ze, yang merupakan hasil karyanya.


Ze yang belum menyadari nya juga dia malah mendorong tubuh Kenan untuk tidak menghalangi nya. saat Surya sudah ada di depan mereka,


"Ayah udah pulang?! "


ucap Ze menyapa Surya, namun langsung di kaget kan oleh tangan Kenan yang tiba-tiba merangkul lehernya dari belakang.


"hei bodoh! apa kau masih belum sadar juga dengan keadaan lehermu sekarang,?? kalau ayah sampai melihatnya aku bakal di ledeknya habis habisan oleh nya, "


bisik Kenan di telinga Ze, dan langsung memandang Ayahnya dan memasangkan senyum lebar yang di buat buat.


"yah, kita ke atas sebentar ya, nanti Ze akan turun lagi setelah membereskan barang-barang nya"


ujar Kenan yang langsung membalikkan badannya, merangkul pinggang Ze dan mereka pun langsung naik ke atas meninggalkan Surya yang di buat kebingungan oleh tingkah dua anaknya itu.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2