
Kenan kini menghentikan mobilnya di sebuah parkiran restoran mewah, perlahan membuka sabuk pengaman nya dan mengambil Kenjo dari pangkuan Ze.Ya, keluarga kecil itu kini sudah sampai di restoran keluarga Sania, restoran terbesar dan tersohor di kota nya.
Saat menginjakkan kaki keluar dari mobil, semua mata langsung tertuju pada Kenan, Ze dan Kenjo, terutama para pelayan restoran, mereka langsung menyambut hangat kedatangan Kenan beserta istri dan anak nya.
Mengapa tidak, mereka pasti sangat senang bisa menyambut kedatangan seorang pewaris tunggal keluarga konglomerat, bak kedatangan seorang putar mahkota, mereka langsung bersimpuh memberi hormat berharap bisa kecipratan aura ke wibawaan nya.
"Selamat datang Tuan! Nona!"
Begitulah sapaan para pelayan, dengan tersenyum ramah dan membungkuk hormat.
Ze hanya bisa memasang senyum membalas penyambutan mereka, berbeda dengan Kenan dia hanya mengangguk pelan, berjalan lurus sambil menggendong Kenjo dan satu tangan nya lagi menggenggam erat tangan Ze.
Dengan cepat salah satu pelayan langsung membukakan pintu, menggiring mereka mendekati meja di mana Sania dan Roni sudah menunggu nya.
"Silahkan Tuan, Tuan Roni sudah menunggu."
Sang pelayan menunjukkan meja yang di tempati Roni dan Sania. Roni dan Sania yang menyadari kedatangan keluarga Kenan, langsung melambaikan tangan tersenyum lebar melihat gemas nya wajah Kenjo, yang sudah Sania rindukan.
"Kenjo...!" masih dalam jarak yang cukup jauh, Roni sudah memanggil bocah kecil yang membuat nya kewalahan karena kalah eksis menarik hati istrinya.
"Daddy! itu Om Loni, Kenjo mau jalan." Kenjo meronta dari gendongan Kenan, namun tidak membuat Kenan menurunkan junior nya. "Jangan sayang, di sini terlalu banyak orang nanti kamu tersesat." Kenan malah mengeratkan pangkuan nya, tidak mengijinkan Kenjo untuk turun, karena menang banyak sekali orang yang berlalu lalang dan itu bisa membahayakan Kenjo.
"Aah... Daddy! Kenjo sudah besal, Kenjo sudah bisa jalan sendili!" rengek Kenjo masih ngeyel dengan keinginan nya, dengan memasang bibir cemberut persis saat Ze selalu merengek pada nya.
"Dalam masalah rengek merengek kau selalu mengemaskan seperti Mommy mu, bagaimana Daddy tidak memenuhi keinginan mu hah." Dengan menggelengkan kepala, sambil mengacak-acak rambut Kenjo, Kenan perlahan menurunkan Kenjo dari pangkuan nya. "Hati-hati jalan nya!" seru Kenan.
"Kenjo, pegangin tangan Mommy sayang!"
merasa khawatir dengan keadaan Kenjo, Ze langsung melepaskan genggaman tangan Kenan untuk meraih tangan mungil anak nya.
"Biarkan saja Yang, kita perhatikan saja!"
Kenan langsung meraih pinggang Ze, membiarkan Kenjo berjalan menghampiri Roni dan Sania.
"Tapi...!"
"Sudah, Kenjo keras kepala nya seperti kamu, kemauan nya harus di laksanakan." goda Kenan dengan berbisik tanpa mengalihkan pandangannya melihat Kenjo.
"Hei, bukan nya terbalik ya. Kak Ken tuh yang keras kepala," omel Ze tidak terima dengan ledekan suaminya, bicara dengan begitu ketus nya.
"Haha... kita sama sama keras kepala Yang," merangkul pundak Ze dan perlahan mengecup kepalanya "makanya anak nya nurun dari kelakuan Ayah Ibu nya." Kenan malah tertawa kecil melihat reaksi Ze yang tidak terima dengan ledekan nya.
"Dasar...!" cibir Ze sambil terkekeh.
~
Di sudut lain, Pano dan Rani sama sama memasuki restoran, berjalan beriringan dengan bergandengan tangan.
"Pilih kasih nih para pelayan, masa di saat kita yang masuk tidak ada yang menyambut kita seekor pun, belum tau siapa gue ya." celetuk Pano merasa kesal dengan perlakuan para pelayan, membuat Rani terkekeh mendengar nya.
"Jangan terus menggerutu, ayo masuk! biarpun orang orang tidak mengenal mu, tapi aku tau siapa kamu." ucap santai Rani sambil mempercepat langkahnya, sedikit menyeret langkah Pano.
"Emang siapa aku?" mencoba mengetes calon istrinya.
"Pangeran ku!" jawab singkat Rani dengan menyembunyikan senyuman nya.
Dan sukses membuat Pano salah tingkah saat mendengar nya.
"Rani...!" panggil manja Pano, sambil menarik pelan tangan Rani membuat langkah Rani terhenti dan malah berbalik mundur menyentuh badan Pano.
"Hei...!" Rani seketika terkejut karena tangan kekar Pano melingkar di pinggang nya.
"Kenapa, bukan kah aku pangeran mu?" tersenyum manis "izinkan lah pangeran mu berjalan seperti ini dengan Putri cantik ini" lanjut Pano dengan gombalan nya.
__ADS_1
"Hai, lepasin malu tau?" protes Rani, sambil melepaskan rangkulan Pano.
"Malu kenapa, lihat Kakak ipar saja mesra banget sama si Ze, masa kita kalah sama pasangan yang sudah punya anak." rengek Pano mendadak seperti anak kecil.
"Jangan membandingkan kita dengan mereka, mereka sudah menikah, mau bagaimana pun bebas. Jangan banyak bicara lagi ayo jalan!" ketus Rani sudah terlepas dari rangkulan Pano dan mulai berjalan mendahului nya. Membuat Pano berdecak frustasi.
"Hanya menggandeng nya saja tidak boleh, huh sabar Pano, belum halal." berusaha menenangkan diri sendiri "awas saja kalau sudah halal ku makan dia," batin Pano sambil menggelengkan kepala melihat kepergian Rani. Dia pun bergegas melangkah menuju meja di mana Roni dan Sania berada.
~
"Sini sayang!" Roni berjalan menghampiri Kenjo, langsung berbungkuk untuk menggendong nya.
"Kenjo makin besar makin tampan ya." puji Roni sambil mengelus rambut Kenjo.
"Kan Daddy nya tampan Om, jadi Kenjo juga tampan kayak Daddy!" jawab polos Kenjo dengan tersenyum gemas.
"Nyesel gue memuji nya. Anak ma Bapak sama sama narsis nya." batin Roni sambil perlahan duduk di kursi meja nya.
"Sini, Kenjo duduk ma tante ya!" pinta Sania sudah meregangkan tangan mengambil Kenjo.
Kenan dan Ze sudah sampai di meja, langsung di sambut hangat Roni juga Sania.
Di susul Pano dan Rani, mereka ikut bergabung di sana.
"Anak loe makin tampan saja, entar kalau udah gede buat pacar anak gua saja ya!"
banyol Roni sambil menepuk pundak Kenan.
"Tergantung! kalau anak loe cantik nya kayak bini gue dia pasti suka!" sahut Kenan, dengan candaan nya.
"Wah sialan loe...!" sahut Roni.
Dua laki laki itu malah ketawa ketiwi, dengan candaan nya yang udah melebihi gaya ibu ibu arisan yang tiap minggu ketemuan.
Begitupun Pano dan Rani, mereka sama sama duduk bergabung dengan mereka.
"Kenjo kalau udah sama tante Sania jadi lupa sama Auntie ya," goda Rani sambil tersenyum gemas melihat Kenjo yang duduk tenang di pangkuan Sania, dengan mulut di penuhi makanan.
"Abis Tante Sania baik ci, cuka ngacih makanan enak!" sahut Kenjo dengan suara tidak jelas karena di penuhi makanan.
"Anak pintar, " puji Sania sambil membelai rambut Kenjo.
"Huuuh, benar-benar persis Mommy nya, kalau udah ada makanan lupa sama orang di sekitar nya!" timpal Rani. Rasanya ingin mencubit pipi cabi Kenjo yang kini mengabaikan nya.
"Jangan kan kita Ran, orang tua nya saja di abaikan." timpal Pano, sambil melirik Kenan dan Ze yang sedang asyik duduk bersandar malah seperti anak muda yang lagi pacaran.
"Mereka selalu membuat orang kepanasan saja, masa di tempat ramai seperti ini pun, mereka lengket banget, membuat hati jomblo Gue meronta ronta Kakak ipar." batin Pano mengumpat melihat kemesraan Kenan dan Ze.
"Kenjo gak manja, sama siapa pun mau, asal orang nya baik," timpal Kenan makin anteng memainkan rambut istrinya. "jadi kita pacaran lagi, iya kan Yang," lanjut Kenan dengan godaan nya.
"Lanjutkan saja bercinta nya, gak usah perduli kan orang lain, anak nya pun ada yang jaga in." celetuk Pano menyindir pasangan yang selalu di mabuk cinta itu. Sudah cukup kesal mereka membuat hati nya kegerahan.
Sudah tau kebiasaan Pano, Kenan dan
Ze hanya menanggapi nya dengan senyuman.
Bahkan Kenan malah mempererat pelukan nya.
"Yang, kita buat adik lagi untuk Kenjo kayak nya bakal seru ya!" goda Kenan lagi sambil menyelipkan rambut Ze. Membuat Pano makin melebarkan mata kepanasan melihat adegan mesra mereka.
"Woi ini restoran, bisa gak jangan membahas nya di sini, kalau mau buat anak pulang saja sana, mengganggu sekali...!" umpat kesal Pano, membuat semua yang duduk di meja terkekeh mendengar nya.
"Ya Ken buat anak lagi sana, biar Kenjo aku angkat untuk jadi calon suami buat calon anak ku. Ya kan San!" timpal Roni bersuara.
__ADS_1
Pasalnya hasil USG kehamilan Sania janin yang bersemayam di perut Sania memiliki jenis kelamin perempuan.
"Gak boleh," tukas Pano. "Kenjo jadi menatu Uncle saja ya" lanjut Pano membuat Rani refleks memukul tangan Pano.
Begitu pun dengan Roni, dia ikut sewot mendengar perkataan Pano.
"Woi, jangan banyak berkhayal, nikah saja belum.!" timpal Roni.
"Seminggu lagi, pasti aku bakal langsung buat anak," jawab santai Pano, lagi lagi berhasil membuat Rani refleks memukul tangan nya, antara kesal dan malu, mendengar ocehan nya.
"Kalau Kenjo sudah besar harus cinta sama anak Om ya, nunggu anak Uncle Pano mah terlalu lama, nanti Tante Sania makin sayang loh sama Kenjo!" bujuk Roni sambil mengelus rambut Kenjo.
"Gak boleh, pokok nya Kenjo harus cinta sama anak Uncle." kukuh Pano.
Membuat Kenan dan Ze menggelengkan kepala, heran dengan Roni dan Pano yang selalu mendadak ngaco. Menawarkan sesuatu padahal belum tentu.
"Sama anak gue." sahut Roni masih ngeyel, sambil menatap Pano.
"Anak gue lakh." timpal Pano tidak mau kalah.
Kenjo sendiri hanya bisa menyimak, apa yang di bicarakan orang orang dewasa itu, sambil terus melahap makanan nya.
"Kenjo sayang, Kenjo harus cinta sama anak Om ya...!" masih ngeyel, tidak mau kalah dari laki laki yang selalu sukses membuat Roni kesal.
"Cinta sama anak Uncle saja ya...!" bicara dengan nada memohon menatap Kenjo.
Padahal Kenjo sendiri tepuk jidat, bingung mencerna obrolan orang orang dewasa itu.
"Om, Uncle!" Kenjo bersuara memecah perdebatan mereka. Mendengar kata cinta, Kenjo langsung teringat kebiasaan Mommy dan Daddy nya.
"Iya...!" jawab serentak Roni dan Pano.
"Dua dua nya Kenjo tidak mau, Daddy bilang tanda cinta itu harus mencium.
Daddy juga suka cium Mommy, kata Daddy itu tanda cinta Daddy sama Mommy. jadi Kenjo tidak mau mencintai anak Om dan Uncle, Kenjo tidak mau mencium selain mencium Mommy dan Daddy."
ucap polos Kenjo, hanya itu yang tersaring di pikiran nya, mendengar perkataan Pano dan Roni. Kenjo langsung menolak mentah mentah tawaran mereka untuk mencintai anak mereka padahal orang nya pun belum ada.
"Hahaha, tuh langsung di tolak 'kan!" ledek Kenan dengan tertawa puas.
"Ken...."
"Kakak ipar...."
Panggil Roni dan Pano bersamaan, menatap tajam dengan penuh arti ke arah Kenan, membuat Kenan tersenyum kikuk di buat nya.
"Kenapa...!" sahut Kenan heran.
"Kakak ipar kau mengajarkan yang tidak tidak ya, kata siapa tanda cinta harus berciuman hah?" selidiki Pano mulai mencerna perkataan Kenjo.
"Ken, jangan bilang kalian selalu berciuman di depan Kenjo, dan mencari alasan konyol itu hah." timpal Roni dengan tatapan penuh tebak.
"Hehe, dia gak sengaja lihat Ron, mau di lepas kan nanggung, harus pintar cari alasan dong." jawab asal Kenan sambil menggaruk kepala tidak gatal.
Ze sendiri hanya memukul pelan kaki Kenan malu sendiri mendengar jawaban dari suaminya.
"Wah parah...!" ucap serentak Roni dan Pano, kesal pada sahabat nya, yang suka tidak tau tempat dan keadaan kalau bermesraan.
"Kasihan sekali anak kecil ini, baru juga bau kencur sudah di kasih pemikiran 17+, orang tua tidak tau diri kalian ya," timpal Pano tidak henti henti berdecak heran.
"Tidak sengaja Pan," sahut Kenan dengan senyuman.
Mereka melanjutkan candaan mereka sambil menunggu kedatangan Martin.
__ADS_1