Cinta Tanpa Alasan

Cinta Tanpa Alasan
S 2 Minta Maaf.


__ADS_3

Martin dan Angel sedang dalam perjalanan menuju restoran keluarga Sania.


Di dalam mobil hanya keheningan yang terjadi, Martin terus fokus mengemudi mobil nya, sedangkan Angel menahan kegugupan menyiapkan mental untuk bertemu dengan Kenan dan Ze.


Bukan tanpa alasan Angel merasa gugup, setelah keberanian gila nya yang telah mengusik keluarga mereka, kurang lebih 2 tahun dia menerima hukuman dari Kenan, bahkan bukan hanya dia saja yang menerima hukunan itu, tapi keluarga nya juga mendapat imbas atas kelancangan nya. Hingga keluarga mereka menjadi hidup terpuruk dalam kesusahan.


Martin sesekali melirik ke arah Angel, melihat jelas raut wajah gadis itu yang mulai pias.


"Kenapa, apa kau berubah pikiran? kalau tidak ingin bertemu Kenan dan Ze, kau bisa turun sekarang juga!"


suara Martin memecah lamunan Angel, sampai dia langsung melihat ke arah nya.


"Tidak, aku hanya gugup saja, aku begitu malu sampai rasanya tidak mampu untuk menemui mereka, tapi aku harus minta maaf," lirih Angel, membuat Martin membentuk senyum kecil di bibir nya.


"Aku masih ingat keangkuhan mu dan keluarga mu dua tahun lalu saat dengan sombong nya bertatap muka dengan Kenan, tapi sekarang kau terlihat seperti kucing liar yang mendadak jinak karena kelaparan," batin Martin.


"Aku kira harga diri mu terlalu tinggi sampai tidak mau minta maaf," sindir Martin membuat Angel langsung menundukkan kepalanya.


"Jangan terus mengungkit masa lalu. Iya aku mengaku salah, maka nya aku mau minta maaf!" lirih nya dengan malu.


"Bagus lah...!" timpal Martin dengan tersenyum lebar.


"Terlihat lebih baik kalau jinak seperti itu!" lanjut Martin berbicara dalam hati.


Tidak membutuhkan waktu lama, mobil yang di tumpangi Martin sudah memasuki parkiran, Martin mematikan mesin mobil nya dan bergegas turun.


Berbeda dengan Angel, dia masih duduk melamun menyiapkan mental nya.


"Hei, apa kau akan terus di sana?


Ayo turun!" tutur Martin dengan suara datar nya.


"I-iya," dengan menghembuskan napas berat Angel mulai turun mengikuti Martin.


Mereka pun bergegas masuk ke dalam restoran menemui Kenan dan yang lain nya.


*


Suasana di dalam.


Para pelayan mulai menyajikan beraneka makanan di atas meja. Semuanya mulai bersemangat untuk menyantap makanan gratisan itu.


"Wih, makanan enak nih! ini gratis 'kan? gue bisa makan se kenyang nya!" oceh Pano dengan mata berbinar.


"Gak buat loe, satu suapan 10 juta!" celetuk Roni dengan tersenyum jahil.


"Parah, mending gue makan batu dari pada bayar, di kira emas apa satu suapan 10 juta!" umpat Pano, walaupun bibir nya mengomel namun tangan nya tidak berhenti mengambil makanan di depan nya.


"Dasar kalian," Kenan ikut menimpali perdebatan kecil mereka. Dengan tangan mulai mengambil makanan untuk Ze. Merasa kasihan melihat istrinya yang sedang sibuk membersihkan sisa sisa makanan yang menempel di baju Kenjo.


"Kenjo duduk sama Deddy saja ya, kasihan Mommy nya mau makan dulu!" tutur Kenan sambil mengambil Kenjo dan ia dudukan di pangkuan nya.


"Kak Ken, ini makanan nya banyak sekali!" keluh Ze saat sudah melihat alas makanan yang begitu banyak di piring nya.


"Jatah kita bertiga Yang," jawab Kenan dengan tersenyum lebar.


"Di suapin...?" sudah tau maksud kemauan suaminya.


"Iya," jawab Kenan dengan santai nya.


"Hole kita di suapin Mommy, iya 'kan Dad?" Kenjo malah antusias meladeni kemauan Daddy nya.


"Iya sayang," jawab Kenan sambil mengelus rambut Kenjo.


"Huh, kalian memang selalu kompak," gumam Ze, sambil perlahan mengambil sendok untuk menyuapi dua laki laki kesayangan nya.


Roni dan Pano, hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah teman nya, yang mendadak lebai jika di depan istrinya.


"Sungguh Ayah yang menjengkelkan," umpat Roni, dia pun mulai mengambil makanan nya.


Di sudut lain terlihat Martin berjalan mendekati meja mereka.


Angel yang masih gugup malu belum menampakkan dirinya, dia masih mengekor di belakang punggung Martin.


"Wah, enak banget ya! ngajak makan tapi kalian sudah makan duluan, mana jatah gue?" umpat Martin dengan tiba-tiba dengan santai nya dia duduk di kersi kosong tanpa mempedulikan semua orang yang sedang duduk di sana.

__ADS_1


"Woi, kayak hantu aja loe, mengagetkan sja!" sahut Pano, kaget saat Martin sudah duduk di samping nya.


"Udah lapar Bro, dari rumah belum makan, keburu ada dia jadi gak sempat sarapan!" ucap Martin dengan mata mengekor menunjuk ke arah Angel. Hingga semua mata yang awalnya tertunduk fokus pada makanan kini mereka bersamaan melihat ke arah Angel.


"Angel...!" gumam Sania dan Rani bersamaan dengan begitu terkejut. Dalam pikir mereka, mau apa Angel ke sini? padahal sudah cukup lama wanita itu menghilang dari kehidupan mereka, bahkan Sania sendiri yang pernah dekat dengan nya, nyaris tidak kenal lagi dengan sosok Angel yang sudah lama terlupakan.


"Mau apa dia ke sini? kenapa bisa bersama dengan mu?" bisik Pano, heran dengan keadaan sekarang.


"Tanya saja sendiri pada orang nya!" jawab Martin singkat kini dia mulai menyantap makanan nya.


"Sialan loe, ogah gue bicara sama cewek kayak dia!" lanjut Pano menimpali.


"Dia udah berubah," tutur Martin dengan berbisik.


Kenan dan Ze yang sudah mengetahui lebih awal kalau Angel akan datang ke sana. Mereka hanya menatap nya bisa saja, melihat sekilas langsung fokus pada makanan nya lagi.


Angel yang sadar akan keterkejutan mereka, mulai menarik napas untuk memecahkan suasana.


"Halo semua...!" tutur nya dengan kaku karena malu.


"Hai sini duduk," timpal Sania, merasa kasihan melihat Angel, dia mencoba menghangatkan suasana untuk menyambut sahabat lama nya.


Dengan perlahan Angel pun melangkah duduk di samping Sania.


"Terimakasih San,!" tutur nya dengan berusaha tersenyum lebar.


" Dad, itu pacal nya Om Maltin ya?" tanya Kenjo dengan tiba-tiba, merasa asing melihat sosok wanita yang baru pertama kali melihat nya.


"Iya...!" jawab Kenan dengan begitu asal.


Dan sukses membuat Martin tersedak makanan mendengar perkataan anak dan bapak itu.


"Sejak kapan anak 2 tahun mengenal kata pacar, buat kaget saja!" batin Martin kaget.


"Saat ada pacal nya Om Maltin jadi lupa cama Kenjo!" ucap polos Kenjo, membuat Martin


belum juga reda karena tersedak makanan, kini dia menjadi terbentuk batuk karena ocehan anak kecil itu. Angel sendiri hanya tersenyum kikuk di tambah lagi saat mata bulat Kenjo melihat ke arah nya.


"Kok pacar si!" batin Angel.


"Nya kali punya pacar kayak dia, kayak gak ada cewek lain saja. Dasar Kenan sialan." umpat Martin dalam hati, sambil melihat ke arah Kenan yang sudah tersenyum meledak nya.


"Apa benar itu teman Mommy? kok Kenjo baru melihat nya?" tanya polos Kenjo sambil mendongkangkan wajah melihat raut wajah Mommy nya.


"Anak kecil jangan banyak bertanya, ayo makan lagi!"


Ze tidak sempat menjawab keburu kepotong perkataan suaminya, hingga dia pun langsung melemparkan senyum agar Kenjo tidak banyak bertanya lagi.


"Melihat raut wajah nya, sepertinya Angel sudah mengakui kesalahannya, syukur lah semoga dia benar benar berubah," batin Ze, dengan terus menatap Angel.


Angel yang sadar akan tatapan Ze, dia langsung membalas tatapan itu dengan tatapan sendu, mengisyaratkan segala penyesalan nya.


"Maaf Ze," akhirnya lolos perkataan itu dari bibir Angel, merasa menyesal dan mengakui kesalahannya.


"Makan lah, kita bicarakan nanti!" jawab Ze dengan suara datar nya. Mata yang awalnya menatap Angel kini menunduk kembali fokus pada makanan nya. Membuat


Angel bingung membaca raut wajah Ze yang terlihat begitu dingin, sampai terlihat jelas kekecewaan di wajah Angel takut permintaan maaf nya akan sia sia.


"Apa mereka tidak akan memaafkan ku?" batin nya berucap dengan hati yang bergetar lemas.


"Dad, Mommy kenapa?" bisik Kenjo sambil menarik baju Kenan, sadar akan perubahan raut wajah Mommy nya.


"Anak kecil tidak perlu tau urusan orang dewasa ya, Kenjo makan saja!" seru Kenan sambil mencolek ujung hidung Kenjo, makin gemes pada anak nya yang makin kepo dengan urusan mereka.


***


Setelah acara makan makan selesai, Kenjo sengaja di ajak Sania dan Rani untuk bermain di sebuah taman restoran.


Martin, Pano, Roni dan Kenan duduk di meja bundar khusus tempat bersantai. Sedangkan Ze dan Angel duduk terpisah dari mereka, namun tidak jauh dari pandangan Kenan yang bisa dengan jelas melihat istrinya.


"Kau yakin dia sudah berubah?" tanya Roni pada Martin.


Walaupun mereka sedang duduk bersantai, tapi mata mereka sesekali melirik ke arah Ze dan Angel.


"Sepertinya begitu," jawab Martin.

__ADS_1


"Aku nyamperin Ze dulu...!" tiba-tiba Kenan bersuara sambil beranjak berdiri.


"Parah nih Kakak ipar, gak betah amat jauh jauh dari si Ze," tutur Pano sambil menggelengkan kepala melihat ke pergian Kenan.


"Makanya cepat nikah, biar tau rasanya punya istri," timpal Roni dengan tersenyum jahil menatap Martin.


"Sialan loe, bicara sama siapa, lihat nya ke siapa, seneng banget ngeledek gue, mentang mentang udah nikah." sewot Martin sambil menendang pelan kaki Roni. Sudah tau perkataan Roni ia ucapkan untuk diri nya. Membuat sang empunya malah tertawa puas.


"Si Pano saja bentar lagi nikah loe kapan hah?" lanjut Roni lagi, rasanya belum puas meledek Martin.


"Kalah loe sama gue, gini nih kalau limited edition mah, cepet laku!" banyol Pano dengan tersenyum bangga.


"Terus, terus saja panas panas sin, biar meleduk sekalian ini restoran!" timpal Martin dengan ketus nya.


"Hahaha....!" seketika membuat Roni dan Pano tertawa puas.


**


Keadaan di meja Ze dan Angel.


Angel terus tertunduk malu di depan Ze, bibir nya rasanya bergetar merasa kaku untuk bicara, perlahan menarik napas mengumpulkan keberanian nya.


"Maaf aku mengaku salah Ze," ucap Angel lirih, akhirnya ia membuka pembicaraan.


"Jika kamu menyesali perbuatan mu, aku akan memaafkan mu," sahut Ze dengan nada tegas.


"Aku menyesal Ze, aku tidak akan melakukan kesalahan lagi, baik pada kalian atau pun orang lain,"


"Jangan menyesal jika itu terpaksa saat kau tidak punya tenaga karena sudah tidak punya apa apa!" bantah Ze masih dengan suara dingin.


"Tidak Ze, aku mengaku salah. Aku mengakui akan ambisi ku yang menginginkan sesuatu yang lebih, sekali pun aku tau itu milik orang lain, itu membuat ku terbawa pada keserakahan yang tak berujung.


dan aku menyadari nya kalau itu sebuah kesalahan besar," ucap jujur Angel, dengan tertunduk malu. "Maaf...!" lanjutnya lagi dengan suara lirih.


Ze yang mendengar tutur lembut Angel, membuat nya bisa merasakan ketulusan hati gadis itu.


"Iya, aku memaafkan mu," jawab Ze, kini dia bisa memasang senyum kecil di bibir nya.


"Terimakasih Ze," antusias Angel dengan mata berbinar kini berani mengangkat wajahnya melihat Ze.


"Semoga saja setelah mereka memaafkan ku, perusahaan Papa bisa beroperasi lagi!" batin Angel sudah tersenyum senang.


Tidak lama, terlihat Kenan menghampiri Ze dan langsung duduk di samping nya.


"Apa sudah beres?" tanya nya, sambil perlahan melingkarkan tangan nya di pinggang Ze.


"Maaf Ze, aku permisi dulu!" karena permintaan maaf nya sudah selesai, Angel beranjak berdiri merasa canggung bila harus terus duduk di sana.


"Hai, Kak Ken, mengganggu sekali si, aku kan sedang bicara dengan nya! Kak Angel nya jadi pergi 'kan!" gerutu Ze sambil mendongkangkan wajah melihat wajah suaminya.


"Sudah beres 'kan? dari tadi aku di abaikan loh!" goda Kenan tanpa mempedulikan ocehan Ze.


"Iya sudah beres, makanya pulihkan lagi perusahaan mereka, kasihan sekali melihat Kak Angel menjadi kumel seperti itu. Pasti tidak mudah hidup susah seperti sekarang!" tutur Ze, dengan mata menatap iba melihat kepergian Angel.


"Itu balasan yang setimpal sayang!" ucapnya santai, namun dengan bibir yang tidak bisa di kendalikan mendarat sekilas di bibir manis istrinya.


"Kak Ken...!" Ze merasa terkejut hingga refleks memukul tangan Kenan.


"Aw sakit Yang...!" rengek nya manja dengan tersenyum cekikikan.


"Makanya jaga sikap ini tempat umum." ketus Ze, sambil merenggangkan pelukan suaminya.


"Sekali lagi...!" goda Kenan lagi lagi mengecup singkat bibir Ze yang sedang mengoceh.


"Hei....!"


Kenan malah tersenyum lebar.


"Ayo bangun kita susul Kenjo...! masalah Angel kita bicarakan nanti di rumah," ajak Kenan mulai melepaskan pelukannya, mengajak Ze berdiri untuk menemui buah hati mereka.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2