Cinta Tanpa Alasan

Cinta Tanpa Alasan
Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Pak Anton kini sudah terlihat kembali ke kelinik dengan menenteng sebuah wadah plastik berisikan botol minuman yang tadi di minta Kenan.


mata Pak Anton kini tertuju pada 2 orang yang sedang berdiri di depan ruangan tempat nona Mudanya berada. menatap dengan tajam ternyata di antara 2 orang itu ada satu orang yang ia kenal,


dan ternyata itu Roni dan Sania, karena mereka berdua masih setia di sana,


"bukankah itu mantan kekasih Tuan Muda??"


bicara sambil memandang sinis ke arah Sania, merasa heran kenapa bisa wanita itu berada di sini.


berjalan seolah tidak melihat keberadaan mereka Pak Anton langsung masuk ke dalam.


"maaf Tuan,, ini minuman nya"


berjalan mendekati Kenan untuk memberikan minuman itu


"kenapa kau telat sekali, aku sekarang sudah tidak haus lagi"


cibir Kenan kesal.


"maaf Tuan,, saya terhalang oleh beberapa wartawan yang sudah berkerumun di luar, sepertinya mereka sudah mengetahui keberadaan Tuan Besar dan Nyonya di sini."


"huh,,, kau tidak bisa bersembunyi lagi Kenan,, pasti mereka tidak ingin melewatkan berita besar ini,, sangat mencolok karena kita tiba-tiba pergi dari kegiatan bakti sosial, dan langsung bergegas ke sini" ucap Surya sambil menghelan nafas panjang.


"biarkan saja, ini sudah terjadi, asalkan mereka tidak bisa masuk ke dalam dan mengganggu, itu tidak apa apa" timpal Kenan santai menanggapi pembicaraan Ayahnya.


karena yang di pikiran Kenan sekarang bukan hanya kenyamanan nya saja, yang harus selalu menutupi identitas nya,


tapi dia harus mementingkan kesehatan istrinya dan calon anaknya.


"tidak akan Tuan,, mereka sudah di hadang para pengawal yang sudah berjaga di luar


" tegas Pak Anton memberi tahu.


"iya,, kau bisa kembali ke depan dan pastikan tidak ada satu orang pun yang bisa masuk ke sini," perintah Kenan.


"baik Tuan saya permisi" membungkuk hormat sambil mulai berjalan ke luar.


"tunggu,,,!" terik Ze yang tiba-tiba membuat semua orang terkejut,


dan Pak Anton pun dengan cepat langsung berhenti dan membalikkan badannya


"kenapa?!" tanya Kenan


"aku mau minum Kak,,?" menunjuk sebuah plastik yang ada di tangan Pak Anton. sambil tersenyum kikuk, karena melihat tatapan Kenan seperti sedang menginterogasi nya


"kirain mau apa, aku sampai kaget!!"


Pak Anton pun dengan cepat langsung memberikan minuman nya pada Kenan.


"nih,," dengan cepat Kenan langsung membuka dan menyodorkan botol minuman rasa jeruk pada Ze,


mengingat dari kemarin Ze selalu protes tidak enak jika meminum air putih, hingga memerintah Pak Anton untuk memberikan minuman lain.


dengan cepat Ze pun langsung meneguk nya.


sampai habis setengahnya.


"Ze pelan pelan sayang" ucap Maya heran melihat putrinya yang minum dengan buasnya.


wah segar sekali


"ini enak Bu" sahut Ze sambil tersenyum


"gak nyalahin air lagi sekarang??" ledek Kenan dengan tersenyum kecil. melihat Ze yang menikmati minuman nya, tanpa merasakan mual seperti kemarin.


"kalau ini segera Kak,, gak kayak air putih, yang terasa sangat hambar"


ucap Ze merasa puasa bisa minum dengan sepuasnya.


"memang kenapa dengan air putih?" tanya Maya heran.


"dari kemarin Ze napsu makannya makin tinggi Bu, bawaannya mau makan terus, tapi pas udah minum air putih, makanan nya langsung di muntahin keluar semuanya".


jelas Kenan menceritakan


"terus ngeyel lagi, malah nyalahin air putihnya,, bilang nya tidak enak membuat nya jadi mual"


imbun Kenan lagi.


"dan ternyata,,,," timpal Surya menggantung membuat semua orang menatap ke arah Surya


" itu bukan karena air putih Ken, tapi itu semua karena ulah mu"


ucap Surya bicara enteng tanpa ekspresi ikut nembrong pembicaraan anaknya,


membuat Kenan langsung terbatuk batuk malu setengah mati,, lagi lagi di situasi apapun Ayahnya selalu saja bisa meledeknya,


haduh Ayah,,, apa aku ini bebar anak mu,, kenapa kau suka sekali menjatuhkan ku,,,


bikin malu saja,


"hahaha,," semua orang di sana tertawa puasa.


" ****** kau Kakak ipar,, kena sekak mati dia" bisik Pano pada Martin , dan mereka pun langsung tertawa cengengesan. mendengar perkataan Surya.


begitupun dengan yang lainnya mereka langsung cengengesan melihat wajah malu Kenan.


merasa belum puas, Surya lagi lagi meluncurkan kata pamungkas nya, membuat Kenan salah tingkah tidak bisa meladeni ledekan Ayahnya.


"Ze sayang,, nanti kalau kamu sampai mual muntah lagi, jangan nyalahin apa apa, tapi salahin saja suamimu, karena telah membuatmu seperti ini " seakan bicara pada Ze namun mata Surya melirik Kenan seolah sedang meledak anaknya.


merasa sudah puas mengerjainya


AYAH.....


batin Kenan kesal sambil menundukkan kepalanya di bahu Ze menahan malu lagi lagi kalah talek oleh Ayahnya


Ze pun langsung tersenyum kecil melihat tingkah malu malu suaminya.


"kenapa tersenyum?? kau pikir ini lucu" bisik Kenan di telinga Ze dengan suara ketusnya


"tidak" sahut enteng Ze sambil tangannya membelai lembut kepala Kenan yang menunduk di bahunya. merasa gemas melihat tingkah lucu suaminya.


"mati gaya keu Kenan hahaha" batin Martin puasa melihat ekspresi sahabat nya, yang biasanya menyeramkan kini malah seperti kucing jinak yang sedang gelendotan di kaki majikannya.


ceklek,,,


tiba-tiba suara pintu terbuka dari luar.


membuat semua mata langsung menoleh ke arah pintu.


ternyata itu Roni dan Sania yang berjalan beriringan masuk dan mendekati mereka,


"kuat juga mereka,! masih ada di sini, kenapa gak dari tadi aja masuknya saat mereka sedang berpelukan, kalau kalian melihatnya kalian benar benar akan gigit jari melihat kemesraan mereka" batin Pano,sambil menatap sinis ke arah mereka.

__ADS_1


Surya yang merasa kenal dengan wanita itu, dia terus saja menatap Sania,


merasa tidak asing melihat wajahnya.


"bukankah itu mantan nya Kenan,, kenapa dia juga ada di sini?" batin Surya kesal, saat menyadari kalau ternyata wanita itu mantan pacar anaknya.


"apa mereka juga teman Kampus Kenan,?? di lihat dari cara memandang nya, sepertinya dia masih mencintai anak ku, maaf Nono,, tapi tidak akan ku biarkan kau mendekati anakku, dan merusak hubungan mereka"


batin Surya dengan memasang seringai di bibirnya.


Sania dan Roni kini sudah bergabung berkumpul di samping Martin dan yang lainnya.


mata Sania tidak lepas memandang Kenan,


dan beralih menatap Ze yang di samping nya.


"Kenan apa aku benar benar tidak bisa berharap lagi pada mu?? rasanya aku tidak bisa menerima semua ini,," batin Sania lirih tanpa sadar sedari tadi terus menatap Kenan.


walaupun Kenan tidak menoleh sedikit pun ke arahnya.


membuat Ze merasa risi melihat Sania yang dari tadi terus saja menatap Suaminya.


dan dengan cepat langsung melingkarkan tangan nya di tangan Kenan, dan menyandarkan kepalanya di tangan Kenan.


"selamat ya untuk kalian" ucap Sania dengan senyuman palsu nya


namun sama sekali tidak di tanggapi oleh Kenan, begitupula dengan Ze, dia hanya memasang senyum yang di paksakan,


"hei bisa kau segera pergi dari sini,, jangan menatap suamiku seperti itu,, menyebalkan sekali" batin Ze kesal melihat Sania yang terus saja menatap Kenan. hingga membuat Ze makin mempererat pegangan tangan nya.


Pano yang menyadari kecemburuan Ze dia langsung tersenyum cengengesan.


"Ze,,, gak usah erat erat memegang Suamimu, walaupun gak di pegang erat pun dia tidak akan ke mana mana, iya kan Kakak ipar."


ujar Pano dengan senyuman jenakanya.


Kenan pun hanya tersenyum manis, menanggapi perkataan Pano, dan langsung memegang lembut kepada Ze. dan berakhir melabuhkan tangannya mengelus lembut perut Ze,


"mommy mu sekarang makin sensitif ya"


tersenyum kecil sambil terus mengelus perut Ze, namun tatapannya tidak lepas dari wajah cantik istrinya. yang sedang menatap sinis Sania.


"tidak kok" kilah Ze langsung memalingkan wajahnya menatap Kenan. dan langsung memegang punggung tangan Kenan yang sedang menempel di perutnya.


"bilang saja kalau cemburu,, tidak perlu memegang tangan ku sampai keras sekali,, jangankan pergi meninggalkan mu, bergerak saja aku tidak bisa,,"


ledek Kenan dengan berbisik jelas di telinga


Ze, hingga Ze bisa merasakan hembusan hangat nafas Kenan, yang terasa sangat harum masuk menyelusup ke dalam hidungnya.


membuat Ze langsung tertunduk malu dan melepaskan tangan nya.


"hei kau ini jangan ku bukan si,,??? dia suamiku kenapa si harus selalu deg deg an saat sedang berdekatan dengan nya,, bisa bisa aku pingsan lagi kalau kau terus berdebar kencang seperti ini" batin Ze terus menggerutu, tertunduk sampai merah merona malu


Kenan yang menyadari malu malu Ze hanya tersenyum keci melihatnya.


"kenapa kau selalu menggemaskan sekali si,,


sepertinya kita harus segera pulang sekarang , akan lebih nyaman bila istirahatnya di kamar saja" batin Kenan


Kini tangan Kenan mulai melingkar di pinggang Ze, dan menariknya ke pelukannya.


Sania yang melihat pasangan kekasih di depannya hanya bisa memalingkan pandangan nya kesal,


"memang benar ya kalau bawaan janin yang ada di kandungan ibunya itu, pasti menggambarkan kedua orang tua nya"


"memang kenapa?" tanya Angga


"gini Om ya,, ternyata anak gadis yang dulu suka nangis sesenggukan dia bisa marah juga Om. sampai dia dengan kerasnya menggebrak meja kantin,, dan yang lebih parah nya dia malah berdebat dengan laki laki yang sedang duduk di meja itu."


"lalu siapa yang menang?" tanya Kenan mulai meladeni pembicaraan Pano.


"jelas Ze lah,,, orang dia langsung nyiram wajah laki laki itu dengan air minum, ya pasti Ze yang puas lah hahaha"


Kenan pun langsung tersenyum cengengesan.


"beneran Ze???!" tanya Widi kaget


"habis mereka ngeselin si Bun, kalau aja Pano gak ngehalangin,,, aku lempar aja sekalian ama gelas nya, biar tau rasa dia" ucap Ze sewot masih mengingat kejadian tadi.


"heh,, anak gadis gak boleh gitu, apalagi sekarang kamu sedang hamil, harus menjaga perilaku mu," timpal Maya menasehati.


"iya Bu,, nanti aku minta maaf sama mereka,, "


ucap Ze mulai luluh


"emang apa yang mereka lakukan sampai kamu se marah itu?!"


tanya Kenan penasaran.


namun sebelum Ze menjawab, Pano dengan cepat menjawabnya ingin sekali menceritakan peristiwa yang menurut nya sangat mengesankan.


"tadi anak anak di Kampus, membicarakan tentang anak Om Surya, sampai mereka dengan seenaknya menjelekkan sosok orang yang menurut mereka sangat misterius,,,


karena di kampus tidak ada yang mengetahui kalau Kakak ipar anak nya Om,"


bicara sambil sedikit membungkuk melihat ke arah Surya


"dan jelas saja Ze langsung marah,,, karena ternyata yang mereka bicarakan adalah suaminya sendiri,, " ucap Pano menceritakan sambil tersenyum lebar


Kenan yang mendengar nya hanya bisa menggelengkan kepalanya,


"ternyata kau bisa menakutkan juga ya sampai semarah itu,," ledek Kenan sambil tersenyum keci.


"aku tidak marah,, hanya kesal saja Kak,!,,, mereka saja yang terlalu menjengkelkan"


ucap Ze masih sewot, merasa kesal jika mengingat kejadian tadi.


"kalau begitu jangan minta maaf pada mereka, biarkan mereka yang minta pada mu,, bukankah mereka yang salah,,"


ucap Kenan malah meladeni kekesalan istrinya.


membuat semua orang menggelengkan kepalanya melihat pasangan muda sama sama sedang menggeram kesal.


" mereka memang sangat cocok,,


kok aku jadi ngerasa yang marah tuh bukan Ze ya,, tapi junior Kakak ipar yang ada di perutnya,, hahaha"


canda Pano dengan senyuman jenakanya membuat suasana di sana jadi ramai.


"ya jelas lah,, anak ku tidak akan lemah" dengan tersenyum lebar Kenan malah meladeni obrolan Pano.


membuat Surya menepuk jidat nya melihat ke narsisan anaknya


"apa sudah lebih?? kalau sudah lebih baik kita pulang sekarang" ajak Kenan. pada Ze

__ADS_1


"iya Kak,, aku sudah tidak apa apa kok"


"baiklah Kita pulang saja sekarang" ajak Surya


mereka pun memutuskan untuk segera pulang ke Rumah.


*


keadaan di luar para wartawan sudah siap untuk memburu berita dari 2 keluarga konglomerat yang selalu menjadi bahan pembicaraan masyarakat di luar sana. karena mereka tau, 2 keluarga ini sedang ada di kelinik ini.


~" wah itu mereka sudah keluar"


~" ayo cepat siapkan kamera"


~" apa mungkin itu anak dari keluarga Wijaya"


pembicaraan para wartawan yang melihat Kenan dan yang lainnya mulai berjalan mendekat ke pintu keluar kelinik,


"Ze,,, tidak apa apa kan?" merasa khawatir takut Ze bakal kenapa napa, melihat wartawan yang sudah berkerumun di luar yang menghalangi jalan mereka.


Kenan pun Terus merangkul pinggang Ze, dan mempererat pegangan nya.


"tidak apa apa Kak"


mereka pun terus berjalan dengan perlahan.


Surya dan Widi sengaja berjalan di depan menghalangi Kenan dan Ze yang ada di tengah tengah mereka, sedangkan Angga dan Maya berjalan di samping Ze, begitupula Pano Martin dan Rani mereka berjalan di samping Kenan, sengaja mengelilingi mereka, supaya para wartawan tidak bisa langsung mengganggu mereka.


para pengawal Surya sudah sigap menghadang semua wartawan saat Tuan mereka mulai berjalan membelah kerumunan wartawan,


cekrek cekrek


beberapa jepretan foto bisa mereka dapatkan,


kini lontaral pertanyaan mulai mereka tanyakan. sambil terus mengikuti langkah mereka sebelum mereka masuk ke dalam mobil.


~" Tuan Surya,, apa dia anak tunggal anda yang selama ini di sembunyikan??"


~" kenapa keluarga Wijaya dan keluarga Nugraha bisa bersamaan dan begitu dekat??"


~" apa yang terjadi sampai kalian semua bisa ada di kelinik ini, apa ada yang sakit?!"


~" apa benar dia anak Tuan,,?? kenapa tidak menjawab Tuan,,?"


pertanyaan yang terus bertubi-tubi membuat Ze makin mempererat pegangan nya pada Kenan karena merasa risi mendengar semuanya.


Kenan yang menyadari nya langsung melirk ke arah Ze khawatir.


"kau tidak apa apa,,?" merasa khawatir sampai terus berdecak kesal.


"sial ,,, kenapa mereka mengganggu sekali si,,"


kegigihan para wartawan yang ingin mendapatkan berita dari dua keluarga itu,, membuat para pengawal kewalahan sampai tidak bisa berjalan dengan cepat menuju mobil untuk melindungi mereka.


membuat para wartawan bisa dengan jelas melihat kedekatan Ze dan Kenan, yang dari tadi terlihat dekat sekali karena Kenan tidak melepaskan rangkulan tangan tangannya dari badan Ze, malah makin mempererat pelukannya.


~" Tuan apa sebenarnya hubungan mereka kenapa terlihat dekat sekali,,?"


tanya salah satu Wartawan dan berhasil menerobos pertahanan para pengawal, dan kini berdiri persis di depan Surya, membuat Surya tidak bisa berjalan lagi.


"biarkan aku yang menjawab nya Yah,,!!"


ucap Kenan yang sudah geram pada semua wartawan itu karena tidak memberi jalan untuk mereka melangkah.


~" Ayah??? berarti benar dia anak Tuan Surya?"


ucap kaget sang wartawan sambil perlahan mendekat ke arah Kenan.


"saya akan menjawab semua pertanyaan kalian, tapi bisakah kalian tidak terlalu berisik dan menjaga jarak dengan kami,, tingkah kalian sangat mengganggu,, bisa saja kami menuntut kalian semua, karena mengganggu privasi keluarga kami."


bicara dengan keras sambil menatap tajam ke wartawan yang sudah berdiri di hadapan nya,, karena merasa kesal dengan tingkah wartawan itu yang telah melewati batasan mereka.


seketika membuat semua wartawan di sana langsung terdiam membungkam mulut nya, dan langsung memundurkan kaki mereka untuk menjaga jarak dari Kenan dan keluarga nya.merasa terkejut dengan perkataan Kenan.


"saya KENAN ARDI WIJAYA,, anak tunggal dari Keluarga Wijaya, Ayah saya,, sekaligus Menantu dari keluarga Nugraha,,


kami memang dekat,, karena kami suami istri,"


jelas Kenan to the point


"kami berada di sini karena istri saya tadi pingsan karena sedang hamil. maka dari itu saya minta kalian tidak mengganggu dan memberikan jalan untuk kami,, karena istri saya harus beristirahat,," tegas Kenan dengan terus memeluk Ze di sampingnya,


" aku harap jawaban ku memuaskan kalian, dan jangan mengganggu lagi, terimakasih" pamit Kenan sambil sedikit membungkukan kepalanya, dan langsung berjalan melangkah pergi dari kerumunan para wartawan mendekat ke arah mobil nya.


perkataan tegas Kenan membuat para wartawan langsung tercengang,


dan langsung meminggir kan badan mereka memberi jalan untuk 2 keluarga besar itu, untuk segera menuju mobil mereka.


Kenan dan Ze pun dengan cepat berjalan mendekati mobil, dan menyuruh Pak Anton untuk mengendarai mobil nya.


di susul yang lainnya langsung masuk ke mobil mereka dan segera pergi meninggalkan kelinik langsung melaju menuju ke Rumah.


~


kini Kenan dan Ze sudah berada di dalam mobil. duduk di kursi belakang, karena Pak Anton yang menjalankan mobil nya.


"maaf " ucap Ze lirih sambil tertunduk,


"kenapa minta maaf"


"gara gara aku semua nya jadi begini" sahut Ze


"tidak apa apa,, ini bukan salah mu,, tidak ada alasan untuk ku untuk terus menyembunyikan nya.,, lagipula sepertinya anak kita yang ingin menunjukkan ke semua orang siapa


Daddy-nya , sebenarnya" ucap Kenan menghibur Ze sambil tersenyum kecil melihat wajahnya istrinya yang sepertinya sedang merasa bersalah.


"baik baik di dalam perut mommy mu yah,,, cepat tumbuh besar,, jangan terus marah marah,, kasihan mommy mu"


berbisik di telinga Ze sambil memeluk Ze di samping nya dan melingkarkan tangannya dan ia tempelkan di perut datar Ze dan terus mengelus ngelus nya, seolah olah dia sedang berbicara dengan calon anaknya.


membuat Ze langsung tersenyum senang dan langsung memalingkan wajahnya menatap wajah Kenan di samping nya.


membuat jarak wajah mereka makin dekat membuat Kenan tidak tahan untuk tidak mendarat kan bibir nya, di bibir mungil istrinya.


tanpa mempedulikan Pak Anton, yang terus fokus menjalankan mobil nya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2