
Kini tinggal Kenan dan Ze berdua, duduk dengan posisi saling berhadapan,
Kenan tidak melepaskan pandangan nya sedikit pun menatap wajah cantik istrinya, yang tidak ia tatap semalaman, rasanya rindu nya belum juga terobati walaupun kini Ze di depan mata nya,
karena Ze yang dari tadi ia tatap tidak sekalipun menoleh ke arahnya.
"Ze...!" panggil Kenan dengan suara terendah nya,
namun Ze tetap diam dan tidak menoleh ke arah Kenan.
"Ze... pulang lah...! apa kau tidak merindukan ku??" mohon Kenan lagi dengan suara lemas nya.
Namun lagi lagi Ze tidak menghiraukan ocehan Kenan.
Saat Kenan ingin bicara lagi, tiba-tiba terdengar nada dering ponselnya, membuat Kenan berdecak kesal karena ada ada saja yang mengganggu nya, saat dia sedang merayu istrinya untuk segera pulang ke rumah.
"Ada apa lagi si....!" gerutu Kenan saat melihat panggilan masuk di telepon nya ternyata itu sekretaris nya.
Kenan pun langsung mengangkat telepon nya, dan saat itu lah Kenan mengalihkan pandangan nya dari Ze.
Ze yang menyadari pergerakan Kenan yang tidak lagi menatap nya, kini giliran Ze yang melihat ke arah Kenan, mencuri pandang dari Kenan, karena si empunya sedang fokus pada panggilan nya.
"Kenapa penampilan nya sangat kusut begitu, apa dia tidak menyisir rambutnya...? kenapa terlihat berantakan sekali...!"
batin Ze terus memperhatikan suaminya, Ze memang marah, namun sebenarnya hati kecilnya merasa tidak tega meninggalkan Kenan, namun Ze nya saja yang tidak menyadari itu, karena ketutup oleh ke egoisan nya dan belum menerima kenyataan.
Ze kini mengalihkan lagi pandangan nya dari Kenan.
"*Apa sih yang aku pikirkan...! " berusaha menghilangkan ke khawatir nya
"Hei mommy tuh lagi marah pada Daddy mu*...!" bicara sambil mengelus perut datar nya seolah sedang bicara pada calon anaknya.
"Jangan mengkhawatirkan Daddy , dia baik baik saja, Mommy hanya menghukum nya, biar Daddy mu merasakan apa yang Mommy rasakan saat di tinggalkan orang yang kita sayang....!" batin Ze seolah sedang menasehati anak dalam perut nya, sambil terus mengelus perut nya di balik bangku yang menghalangi badannya,
dia kira kekhawatiran nya pada Kenan adalah bawaan dari anak dalam kandungan nya.
Walaupun terus berdebat dengan rasa egonya, kekhawatiran Ze pada Kenan makin terasa saat melihat wajah Kenan yang terlihat sangat lemas, ingin rasanya dia menanyangka keadaan Kenan, namun bibirnya terus membungkam karena gengsinya.
Kenan kini mengakhiri panggilan nya,
karena Pak Anton hanya membicarakan kalau dia mengirimkan beberapa pesan yang harus Kenan periksa mengenai masalah di kantor.
Dengan cepat Kenan pun langsung memeriksa hpnya,
Kenan terus tertunduk fokus pada Hp nya,
dan itu menjadi kesempatan buat Ze untuk terus menatap suaminya, karena Kenan sama sekali tidak menyadari nya.
"Apa kau tidak sarapan...?!"
akhirnya kata itu lolos keluar dari mulut Ze, mungkin rasa khawatir nya saat melihat wajah Kenan yang terlihat lemas hingga tidak sadar sampai terucap kata itu.
Membuat Kenan terkejut, mendengar pertanyaan Ze, yang terdengar jelas dan Kenan langsung menafsirkan bahwa Ze sedang mengkhawatirkan.
serasa menemukan harta yang berharga, Kenan langsung tersenyum keci, namun terus tertunduk pada ponselnya.
Membuat nya berpikir pasti akan lucu kalau meladeni kemarahan istrinya, karena Kenan yakin kalau Ze marah sekalipun, pasti hati kecilnya akan selalu mengkhawatirkannya.
"Aku tidak sarapan karena tidak ada yang menyuapi ku...!"
jawab Kenan dengan suara datar nya, sambil terus tertunduk fokus pada ponselnya, berusaha so cool, untuk menarik perhatian Ze, sedikit berbohong padahal jelas jelas tadi Kenan di rumah sudah sarapan.
"Apa kau anak kecil sampai harus terus di suapi, kau kan bisa makan sendiri...!" gerutu Ze dengan suara ketusnya, seolah sedang menasehati Kenan.
Dan itu membuat Kenan makin senang saat mendengar ocehan dari istrinya.
"Emang nya kenapa kalau aku tidak makan, apa kau mengkhawatirkan ku....?" berucap dengan santai tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel, padahal Kenan sudah menahan keras tawanya ingin sekali dia melihat ekspresi Ze, yang dari tadi mengomeli nya.
"Aku hanya bertanya, jangan berharap lebih...!" timpal ketus Ze dan langsung mengalihkan pandangan nya dari Kenan.
__ADS_1
"Hahaha....! dari dulu kau paling tidak bisa berbohong soal perasaan mu Zepania, aku tau kau juga pasti mengkhawatirkan ku kan...?!"
batin Kenan tersenyum puas, dan kini hatinya makin lega, karena ternyata Ze walaupun mungkin masih marah pada nya, namun rasa sayang pada nya mungkin tidak akan hilang.
"Baiklah kalau kau tidak mengkhawatirkan ku, aku pergi saja...!" ucap Kenan dengan santai, langsung beranjak berdiri,
namun di sela sela berdiri nya Kenan dengan cepat membungkuk dan langsung mengecup puncak kepala Ze,
rasanya gemas sekali melihat tingkah dingin istrinya dan malah ingin terus menggoda nya.
Ze yang menerima kecupan lembut di kepalanya langsung membuka matanya lebar merasa kesel dengan tingkah Kenan yang tiba-tiba, jelas jelas dia sedang marah pada Kenan, namun Kenan terus saja berusaha menyentuh nya.
"Cepat pulang ya, kelinci kecil ku....!"
ucap Kenan santai sambil tersenyum keci menatap Ze yang sudah memelototi nya.
Langsung pergi tanpa rasa bersalah, tersenyum dengan penuh kemenangan.
"Hei....! siapa yang mengizinkan mu untuk menyentuh ku...!" ucap Ze kesal bicara dengan suara dinginnya,
sudah menggeram kesal namun Kenan tidak menghiraukan nya.
Kenan malah terus saja berjalan tidak menolehkan kepalanya, berjalan ke luar ruangan sambil melambaikan tangannya, lagi lagi menggoda istrinya.
"Akh.... kenapa dia menyebalkan sekali,
awas saja aku tidak akan bicara lagi dengan nya....?" gerutu Ze kesal, terus mengomeli kelakuan suaminya.
Bibirnya terus menggerutu namun hati kecilnya merasa senang, namun Ze tidak menyadari nya, karena yang ia rasakan, rasa sakit karena kelakuan Kenan yang telah merengut kehidupan Kakaknya.
Setelah Kenan pergi ke luar, terlihat Rani dan Pano menghampiri Ze, mereka Penasaran sekali apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka berdua,
terus saja bertanya, namun Ze tetap diam tidak mau menceritakan semuanya kepada mereka, karena dia sendiri saja belum menerima semuanya dan tidak akan mungkin Jika dia menceritakannya kepada orang lain.
Kenan kini sudah sampai di ruangan kelasnya,
kini giliran Martin yang menginterogasi Kenan, masa penasaran dengan dua pasangan muda itu.
membuat Kenan merasa risi mendengarkan nya.
"Kenapa kau berisik sekali hah...." gerutu Kenan kesal " Jangan terlalu kepo masalah rumah tangga orang PAMALI" ucap Kenan dengan santai nya membalikkan kata kata yang selalu di ucapkan Martin.
"Hahaha....! " membuat Martin langsung tertawa mendengar nya.
"Tapi...! kenapa kalian sampai bertengkar...? apa terjadi sesuatu....?" Martin terus heboh karena penasaran.
Sampai suaranya yang keras itu mengganggu Kenan dan ternyata di sana pun ada Roni yang mendengarkan pembicaraan Martin dan Kenan, karena merasa penasaran saat mendengar kata BERTENGKAR membuat Roni menjadi terusik , dan ingin tau apa yang di lakukan oleh Kenan pada Ze, hingga mereka sampai bertengkar.
"Diam lah jangan terus bicara, ini masalah kita..." tukas Kenan, mencoba meredakan ke penasaran Martin.
"Baiklah...? sepertinya itu serius sekali...!" Ucap patuh Martin kini dia mulai tenang dengan duduk nya.
Namun di sisi lain berbeda, Roni yang dari tadi mendengarkan pembicaraan Martin dan Kenan,
tanpa sadar sudah mengepalkan tangannya geram.
Makin penasaran apa yang sebenarnya nya terjadi, apa Kenan menyakiti Ze...? apa Kenan membuat Ze menangis...?
itulah yang terus terpikir di benak Roni, yang sampai sekarang hati kecilnya tidak bisa merelakan kalau Ze berada di sampai Kenan.
"Kalau kau sampai melukai Ze, aku tidak akan segan segan untuk melukai mu Kenan." ucap ancam Roni sambil menatap ke arah Kenan,
namun Kenan tidak menyadari saat Roni menatap nya dengan penuh kekesalan.
***
Kuliah kini telah selesai,
semua para mahasiswa mulai berhamburan keluar.
__ADS_1
Rasa ke penasaran Roni membuat nya ingin melihat secara langsung apa yang sebenarnya terjadi pada Ze dan Kenan,
hingga dia terus berdiri di satu sisi, agar dia bisa melihat Kenan dan Ze di saat mereka akan pulang.
Tidak membutuhkan waktu lama, terlihat Kenan dan Ze memasuki parkiran dari arah yang berbeda, membuat Roni menjadi yakin ada sesuatu yang terjadi di antara mereka, karena biasanya mereka terlihat selalu bersama.
~
Kenan kini mendekati Ze yang sedang berjalan mendekati mobil nya.
"Langsung pulang kan....?" tanya Kenan dan kini berjalan beriringan dengan Ze.
Namun Ze tidak menghiraukan keberadaan Kenan.
"eapa anak ku tidak merindukan ku....?" bertanya namun terdengar seperti berharap
"Dia baik baik saja kan...!?" terus bertanya karena ingin terus bersama Ze walaupun Ze tidak menjawabnya sekalipun.
"a2pa dia tidak merindukan makanan yang aku buatkan...?! " berharap "Inikan sudah waktunya makan siang, sepertinya akan enak sekali memakan omlet sosis yang di bumbui dengan saus tomat di atasnya...!" dengan tersenyum kecil Kenan berusaha merayu Ze sudah tau kelemahan istrinya, dia selalu akan menjinak kalau sudah mendengar makanan.
"Hei kau curang, kenapa membahas soal makanan di situasi seperti ini,...." batin Ze menggerutu kesal mendengar perkataan suaminya.
"Tahan lah, jangan terayu oleh obrolan Daddy mu ya, kita makan yang lain saja,...!" seakan bicara dengan calon anaknya, berusaha untuk tidak tergiurkan oleh makanan yang bisa di buatkan Kenan.
Kenan yang melihat reaksi Ze yang sepertinya mulai terpancing, Kenan langsung cengengesan sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Kenapa diam...? apa tidak mau,...?" berucap seolah membutuhkan jawaban padahal Kenan sedang memancing Ze agar mau mengikuti nya.
"Baiklah kalau tidak mau biar aku sendiri saja yang memakan nya....." berucap sambil mempercepat langkahnya.
lagi lagi perkataan Kenan membuat Ze semakin goyah karena nya.
"Hei....!kau ini mendukung Mommy atau Daddy si kita makan yang lain saja, makanan buatan Daddy tidak enak tau....! " batin terus menolak, namun lidahnya terus membayangkan kenikmatan makanan yang selalu di buatkan Kenan.
Hingga membuat pertahankan Ze pun tergoyahkan karena mendengar perkataan Kenan yang dari tadi menawarkan makanan buatannya dan itu terdengar sangat menggoda membuat Ze refleks menghentikan Kenan.
"Tunggu....!"
ucap Ze dengan tertunduk malu, sambil menarik baju kenan yang sudah berjalan lebih cepat di depan nya.
kini Ze menjauhkan gengsi nya, karena rasanya sudah membayangkan enaknya makanan yang di tawarkan Kenan dan memilih mengikuti Kenan.
membuat Kenan langsung menahan keras tawa nya akhirnya dia berhasil merayu Ze untuk mengikuti nya.
"Kenapa....!" tanya Kenan kini dia yang so jual mahal.
"Aku ikut dengan mu karena anakmu ingin memakan makanan buatan mu...!
tapi bukan berarti aku memaafkan mu, setelah makan aku pulang lagi ke rumah Ayah...!" tegas Ze.
Walaupun tidak bisa sepenuhnya membuat Ze bisa pulang ke rumah namun itu pun sudah membuat Kenan senang.
"Baiklah... apa mau ikut bersama di mobil ku...?" tanya Kenan menawarkan.
"Tidak....! tolak Ze.
"Ya... terserah kau saja,
kita bertemu di rumah ya istriku....!" goda Kenan dengan tersenyum kecil, Kenan pun langsung berjalan mendekati mobil nya, meninggal Ze.
Roni yang melihat mereka berdua dari kejauhan, semakin kesal karena melihat mereka malah seperti Kenan yang meninggalkan Ze,
dan Ze pun langsung masuk ke mobilnya.
.
.
.
__ADS_1
.