
Kenan dan Ze kini sedang dalam perjalanan pulang, setelah mereka makan bersama dengan teman teman Kenan, Ze meminta untuk pulang lebih awal yang beralasan tidak enak badan, langsung di turuti oleh Kenan,
karena memang Kenan juga tidak ingin berlama lama di sana.
Sepanjang perjalanan Ze terus diam, dalam pikiran masih terbayang pertemuan nya dengan Roni, yang membuat nya mengingat luka lama, saat Ze memutuskan hubungan dengan nya, karena permainan dari ayah Ze, untuk menjauhi laki laki lain karena dia sudah di jodohkan.
"Kenapa harus bertemu lagi dengan nya di saat aku akan memulai hidup baru ku, dan kenapa tatapan kak Roni masih sama seperti dulu! jika saja aku terus menatap nya mungkin aku akan terlena dan mengingat kembali masa masa itu,
huuuuuh
memang mengejutkan sekali.... "
batin Ze sambil menghembuskan napasnya mencoba menenangkan pikiran nya.
Namun seketika lamunan Ze di kaget kan oleh suara Kenan yang sedari tadi memperhatikan nya.
"Apa ada yang sakit...?"
Tanya Kenan yang mencemaskan Ze karena dari tadi Ze hanya diam dan menatap kosong ke arah depan.
"Tidak Kak...." jawab Ze singkat.
"Lalu kenapa kau terlihat lemas sekali....?"
tanya kenan yang merasa aneh dengan tingkah Ze yang tidak seperti biasanya.
"Aku hanya tidak enak badan saja Kak, di istirahat kan sebentar juga pasti langsung baikan....!"
jawab Ze agar Kenan tidak terlalu mengkhawatirkan nya.
"Kalau begitu kita pulang ke rumahku saja, agar aku bisa memastikan sampai kau benar-benar lebih baik...."
ucap Kenan dengan tegas.
"Tapi Kak...!"
kilah Ze ingin menolak namun dengan cepat Kenan memotong pembicaraan Ze.
"Jangan menolak....! turuti saja perkataanku...!"
ujar Kenan dengan suara ketusnya karena lagi lagi Ze berusaha untuk menolak kata kata nya.
"Baiklah karena memang kau lah Raja nya di sini jadi aku akan mematuhimu."
sahut Ze dengan bibir cemberut karena sudah mengerti bahwa Kenan tidak mau di bantah.
"Padahal aku kan cuma syok saja, aku tidak benar-benar tidak enak badan, dasar Tuan menyebalkan " ~batin Ze
Kenan yang mendengar kata kata Ze, apalagi saat melihat Ze yang manyun, membuat nya memasang senyum kecil di wajahnya.
Nah gitu dong, lebih patuh kan lebih manis di lihat ~batin kenan
Tidak membutuhkan waktu lama mereka pun sudah sampai di kediaman keluarga Wijaya.
Kenan langsung turun dan dengan cepat berjalan membukakan pintu untuk Ze.
"Apa aku harus menggendong mu...?"
ledekan Kenan dengan suara khas nya sambil memasang senyuman jahilnya membuat Ze bergidik kesal, dan langsung turun melangkah mendahului Kenan.
Hahaha kenapa dia selalu terlihat menggemaskan kalau sedang kesal seperti itu.
batin Kenan yang sudah cengengesan, melihat Ze yang berjalan mendahului nya masuk ke dalam rumah.
"Kak...! Kak Kenan....!"
panggil Ze yang sudah mendudukan badannya di sofa ruangan tengah, sambil nengok kiri kanan mencari sosok Widi namun ia tidak melihat nya sedikit pun.
"Hemmm..."
jawab Kenan sambil melangkah mendekati Ze, dan langsung duduk di sampingnya.
"Bunda ke mana Kak..? kok sepi banget...!"
tanya Ze yang sudah memposisikan duduk bersandar di sofa, dan kaki yang di selonjoran ke depan, menghembuskan napasnya melepaskan lelah.
"Apa kau benar-benar tidak tahu? mereka kan sedang sibuk menyiapkan persiapan untuk pernikahan kita."
jawab Kenan dengan suar datar, dengan tangan yang sibuk memainkan ponsel nya, memeriksa pesan masuk dari pak Anton, yang membicarakan masalah pekerjaan di hotel.
"Kenapa ibu tidak memberitahu ku? jangan bilang kamu juga yang menyuruh mereka untuk tidak memberitahu ku lagi, dan akan mengagetkan ku di pas hari H tiba."
ucap Ze kesal, lagi lagi dia tidak di beri tahu tentang semua yang bersangkutan dengan nya.
"Tidak...! mungkin sekarang mereka yang berinisiatif sendiri untuk mengerjaimu."
ujar Kenan dengan sedikit tertawa mengingat kejadian saat malam pertunangan mereka.
"Itu karena kamu yang mengajarkan nya....!"
sewot Ze karena kesal mengingat ide gila Kenan waktu itu.
"kau siap siap saja, kita akan menikah 3 hari lagi...!" ujar Kenan dengan datar, yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Waaa kenapa cepat sekali, aku kan belum siap Kak...?"
__ADS_1
teriak Ze saking terkejutnya Ze, dia langsung menegakkan duduknya dan langsung menghadap ke arah Kenan.
Kenan yang melihat keterkejutan Ze langsung bergerak cepat,
dia langsung menarik Ze dan menidurkan kepala Ze dipangkuan nya.
"Sudah jangan banyak bicara, bukannya tadi kau sedang tidak enak badan kan, jangan banyak bergerak, tidur saja...!"
seru Kenan sambil memasang senyum jahilnya dan terus memegang kepala Ze agar dia tidak bangun lagi.
"Kak Ken....! tapi tidak seperti ini juga...!"
protes Ze sambil meronta ronta ingin bangun dari tidur nya.
"Diamlah...! jangan banyak bergerak, aku sedang berbaik hati pada mu dan mengijinkan mu tidur di pangkuan ku."
ucap Kenan dengan suara ketusnya dia bicara, padahal batin nya sudah senyum cengengesan.
"Hei siapa juga yang ingin tidur di pangkuan mu, menyebalkan sekali."
batin Ze menggerutu kesal sudah berhenti meronta ronta, dan mulai memposisikan tidur nya, supaya lebih nyaman.
"Kak Ken...! 3 hari itu kan cepat sekali, itu sama saja kau mengerjaiku, dalam waktu secepat itu bagaimana aku bisa siapa siapa."
omel Ze yang masih belum menerima keputusan Kenan dengan posisi kepala membelakangi Kenan.
"Tenang saja kau tidak perlu melakukan apa apa orang tua kita sudah mengatur semuanya."
ucap kenan dengan santainya, dengan tangan nya mulai membeli pelan rambut Ze.
"kenapa rambutnya pendek sekali, tidak ada anggun anggunnya seperti wanita lain hahaha"
batin kenan yang terus membelai rambut Ze yang tergerai jatuh sampai bahunya.
Maksud ku tuh bukan belum menyiapkan segala keperluan nya, tapi aku belum menyimpan mental ku kalau harus secepat itu menikah dengan mu.
Ze yang terus menggerutu kesal, tidak menyadari bahwa Kenan sedari tadi terus membeli rambutnya.
" Istirahatlah, semua akan baik baik saja, jangan terlalu memikirkan pernikahan, kau hanya perlu bersiap siap menjadi istri ku."
ujar Kenan dengan suara terendahnya berusaha menenangkan Ze.
Ze yang mendengar kata kata Kenan kini mulai bisa lebih tentang, dan mulai merasa nyaman tidur di pangkuan Kenan.
Kenapa aku merasa seperti sedang tidur di pangkuan kak Klaudia nyaman sekali.
Ze langsung mengingat masa masa di saat klaudia selalu membeli lembut Ze saat tidur di pangkuannya.
"Kak Klaudia! apa kakak bisa mendengar ku?
Kak aku sudah besar sekarang, aku sekarang bisa menjaga diriku sendiri,
apa Kakak tau? aku akan segera menikah Kak.
lucu kan,? aku di jodohkan dengan anak sahabat ayah,
saat Kakak pergi untuk selamanya, saat itu selalu ada paman yang datang ke rumah, dia selalu baik pada ku,
saking seringnya ia berkunjung ke rumah, paman itu kini jadi sahabat dekat Ayah, sampai selang beberapa tahun Ayah mengatakan bahwa aku akan di jodohkan dengan anaknya paman itu, dan ini dia anaknya.
ini orangnya Kak, dialah calon suami ku.
Lelaki yang ayah pilihan kan untuk menjaga ku seumur hidupku, jadi Kakak harus bahagia di sana, karena sekarang akan ada orang yang mengganti kan Kakak yang selalu menjaga ku,
entah kenapa saat aku di samping nya aku merasakan kenyamanan seperti saat aku bersama Kakak."
Batin Ze yang mengungkapkan curahan hati nya barharap Kakak nya bisa mendengar suara hati nya itu.
Ia merasa sedih karena tidur di pangkuan Kenan membuat nya jadi mengingat Kakak nya yang meninggal 7 tahun yang lalu.
flashback
Usia Ze berumur 11 tahun, saat itu Ze masih duduk di bangku SD. Sedangkan Klaudia kakak nya dia masih duduk di bangku SMA.
Siang hari itu seperti biasa Klaudia selalu menjemput Ze ke sekolah nya.
Klaudia berjalan tergesa-gesa karena terlambat menjemput Ze, dia tidak melihat sekitar jalanan, dia terus saja berjalan, karena menghawatirkan Ze yang sudah menunggunya terlalu lama di sekolah.
Saat itu jalanan tidak cukup ramai, ditambah di sekitar sana terlihat jarang bangunan rumah, namun tiba-tiba sebuah mobil mewah melintasi jalan yang juga di lintasi Klaudia.
Mobil itu terlihat oleng, sepertinya orang yang di dalam tidak bisa mengendalikan mobil nya hingga tanpa sengaja menabrak Klaudia yang juga berjalan di sana.
Kecelakaan itu tidak bisa di hindari, hingga sang pengemudi terlihat panik karena melihat orang yang ia tabrak sudah tergeletak di jalan dengan berlumuran darah yang keluar dari kepalanya karena terbentur keras ke aspal jalan.
Saat itu memang tidak ada orang yang melihat kejadian itu karena area yang jarang penghuni dan tidak ada yang melewati jalanan sana.
Sang pengemudi mobil itu pun panik dan langsung menghubungi keluarganya.
"Ayah..., aku menabrak seseorang Yah...! cepatlah kemari, aku sangat takut,"
Suara seorang laki-laki yang gemetar ketakutan mencoba menjelaskan apa yang telah terjadi, dan menceritakan pada Ayah nya.
"Bukan kah Ayah sudah memperingati mu...! jangan berani berani mengemudi mobil apalagi sampai ke jalan raya, kau masih belum lancar mengemudi, kau masih kecil Nak.
Kini kamu yang kana masalah nya kan, dasar anak pembangkang,
__ADS_1
tunggu di sana Ayah akan segera ke sana...!
seru sang Ayah, dan segera bergegas menuju tempat dimana anak semata wayang nya itu mengalami kecelakaan.
Hingga tidak membutuhkan waktu lama sang Ayah langsung datang ke tempat kejadian dan membereskan semuanya.
Namun nasib berkata lain, ternyata Klaudia meninggal dunia saat di perjalanan menuju rumah sakit.
Ze kecil yang mendengar kabar tentang kecelakaan Kakak kesayangan nya itu, langsung menangis histeris, sampai menyalah kan diri sendiri, karena merasa bahwa kecelakaan itu di sebabkan karena nya.
flashback off
Kini Ze yang berada di pangkuan Kenan tidak menyadari bahwa airmata nya mengalir mulai menetes hingga membasahi kaki Kenan, karena mengingat kejadian pahit dulu.
Kak kenan walaupun selalu menyebalkan tapi sebenarnya di sangat perhatian.
Ze merasa nyaman bisa bersandar di pangkuan kenan kini mulai mengalihkan posisi tidur nya, mulai membalikkan kepalanya, membuat Kenan menjauhkan tangan nya yang masih membeli rambut Ze, karena terkejut dengan pergerakan Ze yang tiba-tiba.
Dan langsung bisa melihat jelas wajah Ze karena dia kini memposisikan tidur dengan wajah menghadap ke atas.
Hingga terlihat jelas bahwa Ze seperti habis menangis karena ada buihan air mata yang tersisa di sekitar mata nya.
"Kau menangis...?"
tanya Kenan dengan refleks langsung mengusap lembut bekas air mata di sekitar mata Ze,
hingga membuat Ze kaget atas perlakuan Kenan pada nya.
"Bagaimana bisa aku tidak menyukai mu, kalau kau terus bersikap manis pada ku."
batin Ze yang hati nya mulai luluh, karena sentuhan lembut dari tangan Kenan.
Dengan mata terus menatap sendu Kenan, Kenan yang melihat tatapan Ze, membuat nya tidak bisa untuk tidak menatapnya, hingga akhirnya mereka terhipnotis dengan tatapan mereka masing-masing.
"Apa aku terlalu serakah jika aku ingin mencium nya sekarang? akahh aku bisa gila kalau harus terus menahan nya..."
batin Kenan kini mulai mendekatkan wajahnya membungkuk ingin rasanya ia mencium bibir mungil Ze.
Ze yang mulai tersadar akan kondisi saat ini, dia mulai gugup karena wajah Kenan yang mulai mendekat ke arahnya.
"Maaf Kak...! sepertinya aku sudah lebih baik, aku akan pulang sekarang...!"
kenan yang merasa kaget dengan kata kata Ze, dia langsung menegakkan lagi duduk nya.
"Akhhhh apa yang aku lakukan...?" ~batin Kenan
Ze pun langsung membangun kan badan nya, merasa canggung dengan keadaan yang terjadi.
"Kau ingin pulang sekarang....?"
tanya Kenan dengan so cool, padahal dia sudah malu setengah mati.
Ze yang masih merasa canggung hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Baiklah ayo...!"
ajak Kenan sambil mulai berdiri dan melangkah keluar, dan di ikuti Ze di belakang nya.
*
Kini mereka sedang di perjalanan pulang menuju rumah Ze, keadaan di dalam mobil sangat sunyi, hanya ada kecanggungan di antara mereka.
Kenan hanya terus fokus mengemudi mobil tanpa bersuara apapun,
tanpa tersadar bahwa mereka kini sudah sampai di kediaman keluarga Nugraha.
Ze pun langsung turun dan di ikuti kenan di belakang nya.
"Aku mengantar mu sampai sini saja, aku harus menemui sekertaris ku, dia sudah menunggu ku dari tadi...!"
perkataan Kenan membuat Ze menghentikan langkahnya dan langsung menoleh ke arah Kenan.
"Jagalah kesehatan mu,
kau jangan pergi ke mana mana, tetap lah di rumah sebelum acara pernikahan kita tiba,
kau mengerti...?"
ujar Kenan mulia menceramahi Ze.
Namun kali ini Ze langsung mengangguk mengerti.
"Aku pulang dulu, sampai ketemu nanti di acara pernikahan kita...!"
pamit Kenan sambil mengecup singkat kening Ze langsung masuk mobil, dan pergi melambaikan tangannya, sambil memasang senyum kecil di wajah nya.
.
.
.
.
.
__ADS_1